Chapter 122
Mendadak mereka mendongakkan kepala memandang keadaan cuaca, lalu dengan tergopoh-gopoh berlari masuk ke dalam gua.
Tak selang beberapa saat kemudian, mereka muncul kembali dengan masing-masing menggotong benda yang tampaknya sangat berat, lalu menumpukkannya di bawah pohon dekat sungai.
Kedelapan makhluk aneh itu segera turun tangan bersama-sama memindahkan kuali besar ke lapangan kosong, mengganjalnya dengan batu besar, lalu menyulut api di bawahnya.
Kemudian, beberapa makhluk aneh tersebut memindahkan barang-barang yang semula ditaruh di bawah pohon ke sisi kuali dan memasukkan suatu benda ke dalam kuali.
Api yang berkobar di bawah kuali makin lama semakin besar sampai akhirnya seluruh angkasa menjadi merah membara.
Ketika uap panas mulai mengepul, mereka pun buru-buru memasukkan senjata sebangsa garpu yang semula diletakkan di sisi kuali ke dalam api.
Tampaknya cairan yang berada dalam kuali itu adalah sejenis minyak. Ketika angin berembus, terenduslah bau harum yang semerbak.
Pada saat inilah satu makhluk aneh memasukkan suatu benda ke dalam kuali.
Seketika itu juga bunyi minyak yang mendidih bergema sangat keras, bau harum semerbak pun memancar ke seluruh lembah.
Tindak-tanduk makhluk aneh itu sangat mencekam hati ketujuh iblis. Mereka tidak mengira setelah habis makan daging keledai, kawanan makhluk aneh tersebut kembali mempersiapkan hidangan lain yang harum baunya.
Namun, dugaan mereka keliru besar. Sesudah memasukkan sekantong benda ke dalam minyak, mendadak kawanan makhluk aneh itu terlihat sangat tegang. Serentak mereka melompat bangun dan celingukan ke sekeliling tempat itu dengan mata melotot.
Sementara itu, bau minyak mendidih yang harum semerbak sudah menyebar ke seluruh lembah. Kayu bakar di bawah kuali segera ditambah sehingga kobaran api pun semakin besar.
Tiba-tiba terjadi angin ribut yang sangat deras. Pasir dan debu beterbangan ke mana-mana seakan-akan terdapat ribuan prajurit yang sedang bergerak menunggang kuda.
Sejak angin ribut melanda, kawanan makhluk aneh itu membungkam diri. Serentak mereka berjongkok di belakang kuali sambil menambah kayu bakar, tak henti-hentinya mereka mengawasi senjata garpu dalam api.
Waktu itu, ujung garpu yang berada dalam gorengan api telah membara merah menyala. Jika dilihat dari banyaknya garpu dalam api tersebut, bisa diperkirakan jumlahnya mencapai tujuh puluh batang lebih.
Menyaksikan kejadian ini, ketujuh iblis tersebut menjadi semakin keheranan. Mereka tak tahu apa yang sedang diperbuat kawanan makhluk aneh itu, kecurigaan segera menyelimuti perasaan mereka semua.
Ketika angin puyuh telah berembus lewat, semua jago segera mengendus semacam bau amis yang sangat menusuk penciuman, begitu tajam hingga membuat orang merasa pusing dan mual.
Thian Mo Tongcu tidak dapat menahan diri lagi, ia segera berbisik, "Aah! Aneh benar, bau apaan ini? Kok begitu tak sedap?" Belum habis dia berkata, dari atas puncak tebing sebelah sana telah memancar dua buah sinar yang aneh sekali.
Agaknya kedua sinar aneh itu membawa pula deruan angin puyuh yang sangat kuat sebab tampak pasir dan debu beterbangan di kejauhan sana, semua pepohonan tampak bergoncang keras. Bau busuk yang sangat menusuk hidung pun makin lama makin bertambah tebal.
Ketujuh iblis itu rata-rata adalah jago persilatan yang berilmu tinggi, merasa memiliki ketajaman mata yang luar biasa. Dalam sekilas pandangan saja, mereka sudah mengetahui bahwa dari balik puncak tebing tempat sinar tajam itu berasal, telah muncul sebuah kepala yang aneh bentuknya.
Kepala itu besar seperti gentong. Kalau dibilang sebagai kepala ular, di bawah mulutnya terdapat jenggot yang panjang; kalau dibilang dagu, justru mempunyai sebuah kaki tunggal. Kedua sinar tajam tadi tak lain adalah sepasang matanya yang besar sekali.
Bergidik hati si Raja Setan Kepala Botak setelah menyaksikan peristiwa ini. Segera pikirnya dalam hati, "Aduh celaka, nampaknya naga yang menghebohkan itu telah muncul kembali." Sementara dia masih berpikir, bau amis itu makin lama semakin bertambah tebal, kepala naga pun semakin dekat.
Dalam waktu singkat, kepala naga itu sudah muncul di atas pohon di seberang sana, sedangkan tubuhnya yang besar lagi panjang masih melintang di tengah udara bagaikan sebuah jembatan gantung, kulitnya bersisik hijau tampak berkilap menyilaukan mata.
Sementara itu, tujuh iblis yang berada begitu dekat telah melihat dengan jelas kepala aneh yang besar dan menakutkan itu. Dari mulutnya yang lebar, kabut beracun berwarna putih menyembur keluar tiada hentinya, lidah merah membara yang melintas bagai halilintar menambah seramnya makhluk tersebut.
Berada dalam keadaan seperti ini, sekalipun tujuh iblis dikenal sebagai jago nekat yang angkuh, saat ini mereka ketakutan hingga tak berani bergerak sedikit pun.
Tiba-tiba kepala naga itu berpaling dan mengalihkan sorot matanya ke atas sebatang pohon yang tumbuh di dekatnya. Menyusul kemudian, terdengar jeritan ngeri bergema dari sana. Sesosok bayangan hitam terpental dari pohon tersebut, lalu secepat panah yang terlepas dari busurnya meluncur masuk ke mulut naga tersebut.
Thian Mo Tongcu dapat mengenali bahwa bayangan hitam yang tersedot masuk ke dalam mulut naga itu tak lain adalah seorang anak buahnya. Dalam terkejutnya dia tak sempat berpikir panjang lagi, segera teriaknya keras-keras, "Lepaskan anak panah!" Begitu bentakan bergema, panah beracun yang telah disiapkan sejak tadi segera dibidikkan ke arah naga itu.
Raja Setan Kepala Botak sekalian beserta anak buahnya tak berani angkuh lagi. Dengan tekad berupaya menyelamatkan diri, serentak mereka turun tangan bersama. Dalam waktu singkat, anak panah serta berbagai macam senjata rahasia berhamburan ke arah naga tersebut.
Si naga sama sekali tak ambil peduli. Sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menyemburkan kabut beracun yang segera menyelimuti seluruh angkasa. Semua senjata yang tertuju ke arahnya tahu-tahu lenyap begitu saja setelah masuk ke dalam lapisan kabut putih itu, sama sekali tidak memberi manfaat apa pun.
Raja Setan Kepala Botak semakin ketakutan, terutama setelah melihat senjata mereka tak mempan, apalagi anak buahnya satu per satu dilalap oleh binatang aneh itu. Mendadak terdengar lagi beberapa kali jeritan ngeri bergema dari pohon yang berada tak jauh darinya, lalu terlihat sebatang tongkat besi terjatuh dari tengah udara. Kalau ditinjau dari bentuk senjata itu, kemungkinan besar Ang Lou Hujin telah mendapat musibah.
Mendadak terdengar Pat Huang Sin Mo menjerit kaget, "Hati-hati, Jit Moay!" Belum habis jeritan itu, dari atas pohon kembali terdengar jeritan keras, disusul raungan kalap, agaknya Jit Moay pun sudah mendapat musibah.
Apa yang disaksikan dan didengar oleh Raja Setan Kepala Botak sekarang adalah suatu pemandangan yang betul-betul menggidikkan hati, jerit-jeritan menyeramkan masih saja berkumandang tiada hentinya. Akibatnya, ia merasakan sepasang kakinya menjadi lemas tak bertenaga. Suatu ketika ia menginjak tempat kosong, tanpa ampun tubuhnya segera terjatuh dari atas pohon.
Masih untung ia tidak terjatuh ke tanah, melainkan tercebur ke dalam air. Sungai tersebut lebar lagi dalam. Begitu terjatuh, ia segera berenang untuk berusaha memunculkan diri kembali ke atas permukaan air. Untung saja dia mengerti ilmu berenang, sehingga biarpun meneguk air sungai, pikirannya dapat segera ditenangkan kembali. Ia sadar mara bahaya masih mengancam, dan yang terpenting sekarang adalah berusaha untuk menyelamatkan diri.
Diam-diam ia berenang ke tepi sungai, kemudian menyembunyikan diri di balik semak belukar. Meski begitu, ia tak tertahan untuk berpaling ke tepi seberang. Kalau tidak melihat musuh lebih baik, tetapi begitu memandang, hatinya semakin bergidik.
Rupanya makhluk-makhluk aneh yang mirip manusia namun bukan manusia itu telah mulai melancarkan serangan. Tampak mereka berebut mencabut senjata garpu yang digarang di atas api itu, kemudian sambil berteriak keras bersama-sama mendekati naga dan melontarkan senjata garpu yang membara ke arah kepala naga tersebut.
Waktu itu angin puyuh masih menderu-deru dengan hebatnya, banyak pohon yang tumbang, pasir serta debu beterbangan menyelimuti seluruh angkasa. Ditambah pula teriakan makhluk-makhluk aneh serta suara auman harimau, menambah suasana di situ bertambah mengerikan.
Senjata-senjata garpu yang merah membara itu menghantam tubuh naga secara telak, tapi berhubung tubuh naga itu terlindung oleh sisik-sisik yang tebal, nyatanya tak sebatang pun yang berhasil melukainya.
Mendadak dari arah gua muncul kembali cahaya api yang amat terang, disusul kemudian tampak belasan manusia aneh berwajah buas dan bertubuh tinggi besar memunculkan diri. Di antara rombongan manusia aneh itu terlihat ada dua di antaranya menggotong sebuah tandu bambu. Di atas tandu duduk seorang manusia berbaju merah yang bertubuh kecil mungil; anehnya, dia mengenakan topeng berwarna merah.
Begitu memunculkan diri dari dalam gua, manusia berbaju merah itu segera membentak nyaring. Suaranya halus dan merdu, menandakan bahwa dia seorang wanita. Di tengah bentakan, tubuhnya melejit setinggi dua tiga kaki ke tengah udara, lalu dengan jurus "burung walet melintasi pohon liu" ia meluncur ke arah kuali besi itu.
Menyaksikan kemunculan manusia berbaju merah, kawanan makhluk aneh itu makin bersemangat. Sambil berteriak, mereka menyerang naga tersebut makin gencar. Menyusul kemudian tampak beberapa batang panah berapi yang ujungnya berkobar cahaya biru dibidikkan ke arah kabut putih. Begitu panah berapi meluncur, dua sinar hijau di balik kabut beracun itu segera lenyap, sementara serangan senjata garpu yang membara dari arah bawah semakin gencar dan menghebat.