Chapter 123
Tampak seluruh angkasa penuh dengan letupan bunga api, persis seperti pesta kembang api di malam tahun baru. Beberapa pohon segera termakan oleh panah berapi sehingga menimbulkan kebakaran hebat. Begitu kebakaran melanda pepohonan, suasana di seluruh lembah pun berubah menjadi terang benderang; semua keadaan yang sedang berlangsung di situ dapat diikuti dengan nyata.
Di bawah kobaran api yang membara, naga aneh itu tak kelihatan bengis lagi sebab sepasang matanya telah terbidik oleh panah api. Tubuhnya yang panjang melingkar kini telah ditarik ke atas tebing sambil bergeleparan tiada hentinya. Ekornya yang panjang menghantam batuan berpasir di atas tebing; hancuran karang dan potongan kayu berguguran ke bawah dengan menimbulkan suara yang amat memekakkan telinga. Ditambah lagi angin puyuh berhembus kencang, membuat keadaan di lembah tersebut benar-benar menggidikkan hati.
Agaknya kawanan makhluk aneh serta binatang buas itu sudah tak mampu lagi mempertahankan diri. Serentak mereka mengundurkan diri ke depan gua sambil tiada hentinya melepaskan panah berapi serta garpu tajam. Sesudah berlangsung pertarungan sekian lama, agaknya naga itu sudah tak mampu lagi bertahan; semburan kabut beracunnya makin tipis, sementara napasnya mulai tersengal-senggal. Mendadak, sepucuk panah berapi membidik perut bagian mematikan dari naga itu secara telak. Akibatnya, naga itu makin tak berdaya.
Tiba-tiba naga itu mengangkat kepalanya ke udara, menarik ekornya ke tengah udara, kemudian menjatuhkannya ke bawah sambil melakukan sapuan kuat-kuat. Getaran akibat sapuan itu betul-betul menggidikkan hati; bumi serasa bergoncang terkena gempa, batu cadas berguguran dengan hebatnya, dan suara yang menggelegar bagaikan dunia mau kiamat. Raja Setan Kepala Botak yang bersembunyi di balik semak belukar menjadi ketakutan setengah mati, lalu pingsan tak sadarkan diri.
Entah berapa saat telah lewat, ketika sadar kembali, ia baru teringat bahwa tempat itu tak aman dan sebaiknya lekas-lekas angkat kaki dari situ. Begitu teringat untuk kabur, ia teringat kembali dengan keenam iblis serta anak buahnya yang lain. Tanpa terasa, ia melayangkan pandangannya sejenak ke sekeliling tempat itu. Hutan yang semula membentang di bawah tebing kini sudah hilang wujud aslinya; yang tampak hanya batang-batang pohon serta ranting-ranting yang berserakan di mana-mana. Sementara itu, kawanan makhluk aneh, manusia berbaju merah, serta kawanan harimau ganas telah hilang dari pandangan. Di tengah lapangan hanya tertinggal kuali besi besar serta api yang masih menyala di bawahnya.
Suasana terasa begitu sepi, hening, dan tak kedengaran suara sedikit pun. Kegelapan telah menyelimuti angkasa, yang tertinggal kini hanya bau amis yang amat menusuk hidung. Ia merasa seperti mendapat mimpi buruk, tetapi mimpi tersebut benar-benar menakutkan. Kelima puluh anggota Istana Iblis beserta keenam rekannya sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya. Tanpa terasa ia berpikir, "Jangan-jangan mereka telah melarikan diri." Berpikir demikian, ia bermaksud untuk bangun dan melakukan pencarian di sekeliling tempat itu, siapa tahu sepasang kakinya justru seakan-akan berakar dan sedikit pun tak mau bergerak.
Sinar fajar telah menyingsing, langit telah menjadi terang, embun di atas pohon pun meleleh ke bawah. Raja Setan Kepala Botak merasakan pakaian yang dikenakannya telah basah, apalagi tatkala terhembus angin, dinginnya serasa menggigilkan badan. Matahari makin meninggi, seluruh pemandangan dalam lembah itu pun tampak semakin nyata. Tampak olehnya suasana di sekeliling sana telah hancur total dan porak-poranda tak karuan. Kepala naga yang besar dan aneh dengan mulut terpentang lebar-lebar tergantung di atas pohon dan meneteskan air liur. Sementara itu, tubuhnya yang besar telah menindih pepohonan rimbun di bawah tebing.
Raja Setan Kepala Botak segera mengatur pernapasan untuk memperlancar jalannya peredaran darah dalam tubuhnya, kemudian merangkak bangun dari balik semak belukar bermaksud hendak mencari rekan-rekannya. Belum lagi ia menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar seseorang membentak, "Berhenti!" Bagi pendengaran orang lain, suara bentakan tersebut kedengaran merdu merayu, tetapi bagi pendengaran Raja Setan Kepala Botak yang belum hilang rasa kagetnya, suara itu justru ibarat guntur yang membelah bumi di siang bolong. Dia semakin tak berkutik lagi. Entah sejak kapan, di belakang tubuhnya telah muncul seorang perempuan berbaju merah.
Terdengar perempuan berbaju merah itu berkata dengan suara dingin, "Aku tahu kau adalah Raja Setan Kepala Botak, pemimpin dari tujuh iblis. Meninjau dari perbuatanmu yang berani memasuki tebing Mo Im Gay kami secara sembarangan, dosa tersebut harus ditebus dengan kematian. Namun, berhubung kau masih bermanfaat bagi kami sebagai penyampai berita bagi Pangeran Serigala, maka kami ampuni jiwamu untuk kali ini. Katakan kepada Pangeran Serigala bahwa tuan putri kami menantikan kedatangannya di tepi Telaga Gi Liong Oh."
Dalam keadaan seperti itu, Raja Setan Kepala Botak hanya tahu menyelamatkan diri terlebih dahulu; cepat-cepat ia mengiakan berulang kali. Tiba-tiba perempuan berbaju merah itu berkata lagi sambil tertawa dingin, "Aku dengar orang-orang dari gedung iblis kalian paling tak bisa dipercaya, tapi aku tak khawatir kau tak akan menyampaikan pesanku ini. Sebab, sekarang kau telah menderita luka kabut beracun yang amat parah, karena itu kau harus secepatnya menemukan Pangeran Serigala dan suruh ia datang untuk meminta obat demi menolongmu, mengerti?"
Raja Setan Kepala Botak terkesiap setelah mendengar perkataan itu. Dengan memberanikan diri, ia bertanya lagi, "Bagaimana pula dengan nasib rekan-rekanku?"
"Sebagian besar telah ditelan oleh naga aneh itu, sedangkan sisa tiga orang yang masih tertolong telah kami bawa ke Telaga Gi Liong Oh. Asalkan kau sampaikan pesanku itu, dengan sendirinya mereka pun akan kubebaskan."
Raja Setan Kepala Botak ingin bertanya siapakah ketiga orang itu, tapi perempuan berbaju merah itu sudah habis kesabarannya dan dengan cepat ia menukas, "Ayo cepat berangkat! Jangan menunggu sampai luka racunmu mulai bekerja, kau bisa tersesat di tebing Mo Im Gay ini."
Mendengar ucapan tersebut, Raja Setan Kepala Botak tak berani berayal lagi; cepat-cepat ia membalikkan badan dan kabur meninggalkan tempat itu. Ternyata perkataan perempuan berbaju merah itu bukan cuma gertak sambal belaka. Baru saja ia melewati Siu Pi Cong, sepasang kakinya sudah tak mau menuruti perintah. Ketika dengan susah payah mencapai Sam Kang Ko, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap, tenggorokannya terasa anyir dan memuntahkan darah segar; tak ampun tubuhnya segera roboh terjerembap ke atas tanah. Kebetulan sekali Si Kalajengking Kecil Siu Cing serta Sim Cui lewat di situ. Dengan perkataan yang terbata-bata, ia pun meminta pertolongan kepada mereka agar membantunya mencarikan Pangeran Serigala.
Dalam pada itu, Sik Tiong Giok menarik napas dingin setelah mendengar penuturan dari Raja Setan Kepala Botak itu. Setelah lama sekali termenung, ia baru berkata, "Baiklah, akan kutemui Gi Liong Kuncu, tapi sebelum itu kalian harus mencari tempat persembunyian dahulu."
"Pangeran cilik, soal ini tak perlu kau risaukan, jarak dari sini sampai Sin Peng Cay tidak terlalu jauh. Bagaimana kalau kami menanti kabarmu di situ saja?"
"Baiklah," sahut Sik Tiong Giok sambil manggut-manggut, "paling lama tiga hari lagi aku tentu sudah kembali."
"Engkoh Sik, kau mesti berhati-hati," seru Siu Cing penuh rasa khawatir. "Lima puluh orang anggota Mo Hu dan tujuh iblis pun mengalami musibah, aku khawatir sekali membiarkan kau pergi seorang diri."
Sik Tiong Giok segera tertawa, "Bukankah naga itu sudah terbunuh? Apalagi yang mesti ditakuti?"
"Tapi di sana kan masih ada harimau-harimau ganas serta belasan kawanan makhluk aneh?"
"Harimau itu bisa diperintah oleh perempuan berbaju merah itu, masa aku tak bisa memerintahnya pula?" Walaupun Siu Cing masih merasa keberatan, ia tak berdaya untuk mencegah Sik Tiong Giok menyerempet bahaya. Akhirnya, dengan perasaan apa boleh buat, ia berkata, "Bagaimanapun juga, aku tetap merasa khawatir, lebih baik aku pergi bersamamu saja."
"Adik Cing, kau tak usah khawatir," kata Sik Tiong Giok kemudian sambil tertawa, "aku rasa Gi Liong Kuncu tak bakal menggunakan kekerasan terhadapku sebab ia mengundangku sebagai tamu agung." Tanpa memberi kesempatan lagi kepada Siu Cing untuk berkata, ia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Ketika tiba di Sam Kang Ko, hari sudah mulai senja. Kegelapan malam mulai menyelimuti perjalanan pemuda itu sampai lupa kalau perutnya belum diisi, apalagi berada di tengah pegunungan yang terpencil, bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk mencari makanan. Sementara ia masih berdiri di tepi sungai sambil mengawasi ombak yang menggulung-gulung, tiba-tiba tampak sebuah sampan bergerak mendekat tanpa arah tujuan tertentu.
Sebagai seorang yang dibesarkan di tepi sungai, dalam sekilas pandangan saja ia telah mengetahui bahwa perahu tersebut tak ada orangnya. Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya; dengan gerakan "Burung Nuri Menembusi Awan" lalu dirubah menjadi gerakan "Burung Manyar Menerjang Ombak", ia meluncur ke arah sampan tersebut. Di saat ujung kakinya hampir menempel di ujung sampan, perahu tersebut berputar kencang lalu meluncur ke arah lain. Dengan begitu, Sik Tiong Giok pun menginjak tempat kosong; tubuhnya segera meluncur ke dalam sungai dengan cepatnya. Andaikata ia tidak menghimpun hawa murninya, niscaya sekujur badannya akan tercebur ke dalam sungai.