Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 124

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 124

Pangeran Serigala memang seorang yang hebat. Ia sama sekali tidak gugup atau panik menghadapi kejadian tersebut. Dengan cepat, kaki kirinya menjejak di atas kaki kanannya, lalu dengan meminjam tenaga pantulan tersebut, tiba-tiba saja tubuhnya berjumpalitan di tengah udara. Kemudian, dengan gerakan Elang Sakti menubruk Kelinci, ia menyambar sampan tersebut.

Dengan akal ini, ia pun berhasil mencengkeram pinggiran sampan itu.

Lalu tubuhnya melejit ke atas dan melompat naik ke perahu tersebut. Namun, begitu menyaksikan keadaan dasar sampan itu, tanpa terasa pemuda itu berseru tertahan, "Aduh, celaka!" Ternyata sampan itu kosong tanpa alat pendayung maupun alat kemudi. Tak heran kalau sampan itu terbawa arus tanpa bisa dikendalikan lagi.

Diam-diam Sik Tiong Giok menggertak gigi sambil memutar otak. Dengan cepat, ia memperoleh sebuah akal bagus. Sepasang kakinya segera diluruskan ke depan, kemudian setelah menarik napas panjang, ia mendorong telapak tangannya ke arah pantai.

Nyata sekali cara tersebut memberikan hasil yang mustajab; sampan yang semula bergerak tanpa arah tujuan itu sekarang menerjang ke arah pantai seberang.

Baru saja Sik Tiong Giok bergembira karena akalnya memberikan hasil dan sampan tersebut hampir mencapai pantai, mendadak perahu tersebut berhenti tak bergerak, disusul kemudian perlahan-lahan bergerak mundur ke belakang.

Sik Tiong Giok tahu bahwa di dalam air tentu ada sesuatu, maka ia pun tak mau menyerah begitu saja. Sambil mengerahkan segenap tenaganya, ia membawa sampan itu pelan-pelan maju lagi ke muka. Akan tetapi, begitu ia mengatur pernapasan, sampan tersebut kembali bergerak mundur.

Kejadian semacam ini berlangsung hampir setengah jam lamanya. Lama-kelamaan Sik Tiong Giok jadi berang sendiri. Tiba-tiba ia mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya sembari memutar badan, lalu sepasang telapak tangannya bersama-sama didorong ke belakang.

"Blaam!" Terjadi benturan keras yang mengakibatkan timbulnya gulungan air setinggi dua hingga tiga kaki, kemudian memercik ke empat penjuru. Menggunakan tenaga getaran inilah sampan tersebut langsung menerjang ke pantai.

"Blaaam!" Kembali terjadi benturan yang mahadahsyat. Sampan yang menerjang di atas batu karang itu segera hancur berantakan menjadi berkeping-keping. Sik Tiong Giok tak sanggup berdiri tegak lagi; tubuhnya segera tercebur ke dalam sungai.

Untungnya, ia pandai sekali dalam ilmu berenang. Begitu tercebur ke air, ia segera memunculkan diri di atas permukaan sambil memperhatikan sekejap ke sekeliling tempat itu, namun tak sesosok bayangan manusia pun yang tampak.

"Aneh! Benar-benar sangat aneh," pekiknya di dalam hati, "sebenarnya apakah yang telah beradu tenaga dalam denganku?" Di balik kegelapan yang mulai mencekam seluruh jagat, hancuran sampan itu terbawa ombak dan berhamburan ke mana-mana.

Setelah lama sekali berdiri tertegun, Sik Tiong Giok melompat naik ke daratan sambil melepaskan pakaiannya yang basah. Kemudian, setelah kering kembali dengan membawa perasaan kaget bercampur keheranan, ia melanjutkan kembali perjalanannya.

Setelah melalui Siu Pi Ciong, tanah pegunungan yang dilalui makin lama semakin tinggi, perjalanan makin sukar ditempuh, ditambah pula angin berhembus kencang, membuat Sik Tiong Giok merasakan tubuhnya menggigil.

Dengan hati yang mendongkol, Sik Tiong Giok mulai mengumpat sambil bersumpah serapah, namun selain bunyi burung-burung yang berkicau, sama sekali tak terdengar suara jawaban apa pun. Lama-kelamaan ia menjadi lelah sendiri, perutnya yang belum diisi pun mulai keroncongan.

Tiba-tiba ia merasa ada kunang-kunang sedang lewat, tapi setelah diawasi dengan lebih seksama, ternyata cahaya tersebut adalah setitik cahaya lentera. Tanpa terasa semangatnya kembali berkobar, pikirnya, "Bisa jadi cahaya lentera itu berasal dari rumah penduduk suku Biau. Lebih baik aku mengisi perut di situ sambil menunggu pakaianku menjadi kering. Tepi hutan ini akan kutagih pada Gi Liong Kuncu setelah bertemu nanti." Berpikir demikian, ia pun meneruskan perjalanannya menuju ke arah mana berasalnya sinar lentera tersebut.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah kuil Cu Kat Bio yang dibangun di tengah bukit terpencil. Sik Tiong Giok keheranan sekali melihat hal tersebut; ia tak bisa mengerti mengapa di gunung yang terpencil pun terdapat sebuah kuil. Darimana ia tahu kalau bangunan kuil di wilayah In-lam memang sama sekali berbeda dengan bentuk kuil di provinsi lain? Boleh dikata semua kuil di sini merupakan kuil Cu Kat Bio.

Sebagaimana diketahui, tatkala Khong Beng berperang ke wilayah selatan dulu, ia pernah tujuh kali membekuk Beng Hu di wilayah In-lam sehingga peristiwa ini meninggalkan kesan yang amat mendalam di masyarakat suku Biau. Untuk memperingati kehebatannya itulah, rakyat suku Biau khusus membangun kuil baginya.

Sik Tiong Giok tidak mengetahui hal tersebut, tidak heran kalau dia merasa keheranan sekali setelah menyaksikan bentuk kuil itu. Begitu menaruh curiga terhadap bangunan kuil itu, Sik Tiong Giok pun tak berani memasuki secara gegabah. Lama sekali ia berdiri di depan kuil sambil termenung, kemudian pikirnya, "Masa di tengah pegunungan yang sepi dan terpencil bisa terdapat sebuah bangunan kuil sebesar ini? Jelas hal ini sangat aneh, jangan-jangan tempat ini adalah salah satu markas dari Gi Liong Kuncu?" Berpikir demikian, ia pun langsung menerjang masuk ke dalam kuil.

Setelah melalui pintu kuil, tempat itu merupakan sebuah halaman yang sangat luas. Sepanjang jalan berbatu tumbuh dua deret pepohonan siong yang amat rindang, gelap, dan lebat, sehingga mendatangkan perasaan bergidik bagi siapa pun yang berada di sana. Biarpun Sik Tiong Giok terhitung seorang pemuda yang bernyali besar, tak urung hatinya berdebar juga setelah menghadapi keadaan seperti ini.

Untuk sesaat lamanya ia berdiri ragu di depan pintu, kemudian sambil menghimpun tenaga dalamnya bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, pelan-pelan ia berjalan maju ke depan. Habis melalui jalan berbatu, ia menembusi ruang tengah, namun anehnya tak sesosok bayangan manusia pun yang kelihatan.

Di belakang gedung utama kembali terdapat sebuah halaman; di sisi kiri dan kanannya merupakan ruang serambi. Di depan situ terdapat ruang belakang, tampak setitik cahaya lentera memancar dari sana. Sesudah termenung sejenak, akhirnya ia berteriak keras, "Adakah seorang di sana?" Tiada seorang pun yang menyahut, beberapa kali ia berteriak lagi namun belum juga terdengar suara jawaban.

Sik Tiong Giok semakin keheranan lagi menghadapi kejadian seperti ini. Tenaga murninya segera dihimpun ke dalam telapak tangannya, kemudian sambil mendorong pintu ruangan ia berseru kembali, "Bila kalian sama sekali tidak mengacuhkan kedatanganku ini, jangan salahkan kalau aku akan bertindak kasar." Berbicara sampai di situ, ia segera mengerahkan tenaga dalamnya sambil mendorong ke muka.

"Braaak!" Mendadak pintu ruangan terbuka lebar, menyusul kemudian segulung angin kencang berhembus lewat. Lentera yang berada di dalam ruangan itu segera terhembus angin hingga padam. Dengan padamnya lentera, suasana dalam ruangan itu pun menjadi gelap gulita sehingga sukar untuk melihat keadaan di sekeliling sana.

Sik Tiong Giok berdiri sejenak lagi di depan pintu, setelah yakin kalau tidak terdapat sesuatu yang mencurigakan, ia baru melanjutkan perjalanannya memasuki ruangan. "Andaikata aku membawa alat pembuat api, ah, betapa bagusnya!" demikian ia berpikir dalam hati.

Sementara ia masih berpikir, mendadak terdengar suara helaan napas yang amat berat. Ia terperanjat dan cepat-cepat mundur dua langkah ke belakang, kemudian membentak keras-keras, "Siapa di situ?" Seraya membentak, sorot matanya segera dialihkan pula ke sekeliling tempat itu, namun apa yang dilihatnya kontan saja membuatnya terkesiap sehingga mundur selangkah lagi.

Ternyata di sekeliling ruangan duduk berjajar banyak orang, sehingga ruangan tersebut boleh dibilang hampir terisi penuh. Biarpun Sik Tiong Giok bernyali besar, tak urung ia dibuat terkesiap juga setelah menyaksikan peristiwa itu, tanpa terasa bulu kuduknya berdiri.

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata lagi dengan suara yang lemah, "Kau tak usah takut, di atas meja ada lampu lentera dan batu api, sulutlah lampu itu lebih dulu." Kalau didengar dari suaranya yang tersendat-sendat dan amat lemah, jelas sudah bahwa si pembicara itu telah menderita luka dalam yang cukup parah.

Dengan cepat ia berusaha untuk menenteramkan hatinya, kemudian pelan-pelan berjalan menuju ke meja altar; di sana ia temukan sebuah batu api. Sesudah menyulut lentera, suasana di sekeliling tempat itu pun menjadi terang-benderang. Pemuda tersebut baru bisa menyaksikan pemandangan di sana dengan lebih jelas lagi, tapi apa yang terlihat segera membuatnya berdiri terbelalak dengan mulut melongo saking kagetnya.

Ternyata di dalam ruangan itu duduk dua puluh hingga tiga puluh orang yang semuanya duduk kaku di situ tanpa bergerak sedikit pun juga. Kalau dilihat dari dandanannya, sudah jelas orang-orang itu adalah jago-jago persilatan dari daratan Tiong-goan, bahkan di antaranya terdapat juga kaum pendeta dan rahib.

Di antara mereka, hanya seorang pendeta tua berjubah kuning yang nampak masih menggerakkan sepasang matanya. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu, mulutnya berkemak-kemik, namun tak sepatah kata pun yang dapat diutarakan keluar. Cepat-cepat Sik Tiong Giok berjalan mendekati dan menempelkan telapak tangannya di punggung pendeta itu.

Dengan bantuan tenaga dalam yang disalurkan Sik Tiong Giok ke dalam tubuhnya, peredaran darahnya yang semula sudah tersendat-sendat, tiba-tiba menjadi lancar kembali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment