Chapter 125
Setelah menghela napas panjang, Sik Tiong Giok berkata, "Toa suhu, bila ingin menyampaikan sesuatu, silakan segera diutarakan."
Pendeta tua itu mendongakkan kepala dan memandang sekejap ke arah pemuda tersebut. Setelah menghela napas panjang, ia berkata pelan, "Aku adalah Ci Hoat dari Siau Lim Pay."
Sik Tiong Giok terperanjat mendengar pengakuan itu. Pikirnya, "Aah! Pendeta penakluk harimau, Ci Hoat dari Siau Lim Pay, adalah jago yang disegani orang. Mengapa ia bisa mengalami nasib setragis ini? Tampaknya si penyerang memiliki kepandaian silat yang amat lihai."
Sik Tiong Giok segera bertanya, "Toa suhu, mengapa kau bisa sampai di sini? Siapa yang telah melukaimu?"
"Semua yang hadir di dalam ruangan ini sekarang adalah anggota dari sembilan partai besar. Mereka datang kemari karena Kelabang Langit akan muncul di Bukit Pay Lau San. Kami khawatir mustika yang langka itu jatuh ke tangan kaum laknat sehingga merugikan dunia persilatan. Sayang sekali..."
Ketika berbicara sampai di situ, ia terpengaruh oleh gejolak emosi sehingga napasnya tersengal-sengal. Dengan sigap, Sik Tiong Giok menempelkan telapak tangannya ke punggung sang hwesio dan menyalurkan tenaga dalam.
Hu Hau Siansu (Pendeta Penakluk Harimau) terbatuk sejenak, lalu melanjutkan, "Sayang... sayang sekali Bukit Pay Lau San belum tercapai, kami semua sudah harus menemui ajal di pegunungan terpencil ini. Ah... biar matipun, aku tak akan tenang..."
Setelah batuk beberapa kali, suaranya menjadi semakin lirih hingga sulit ditangkap. Sekali lagi Sik Tiong Giok mengerahkan tenaga dalam dan bertanya, "Toa suhu, kalian dilukai oleh siapa?"
Di bawah dorongan tenaga dalam Sik Tiong Giok, denyut nadi Hu Hau Siansu yang melemah seakan mendapat dorongan kuat. Ia menjawab, "Gi Liong Kuncu... dari... Telaga Gi Liong..."
Setelah berkata demikian, sepasang matanya terpejam rapat dan jiwanya meninggalkan raga. Sik Tiong Giok mencoba beberapa kali membantu denyut jantung Hu Hau Siansu dengan tenaga dalamnya, namun usahanya tidak membuahkan hasil.
Di bawah sinar lentera yang redup, tampak sekitar tiga puluh sosok mayat duduk kaku di dalam ruangan itu. Dalam keheningan yang mencekam, suasana di sekeliling mayat yang berserakan terasa menyeramkan. Apalagi saat angin malam berembus lewat dan menerbangkan dedaunan, Sik Tiong Giok merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Tempat ini bukan tempat yang aman, lebih baik aku pergi secepatnya," pikirnya.
Baru saja hendak beranjak, ia melihat Hu Hau Siansu mati dengan mata melotot ke arahnya. Sambil menghela napas, Sik Tiong Giok menjura dan berkata, "Thaysu, beristirahatlah dengan tenang. Bila kujumpai Gi Liong Kuncu, dendam sakit hati kalian tentu akan kubalaskan."
Ajaib, sesaat setelah ia berucap, sepasang mata Hu Hau Siansu terpejam kembali. Pada saat itulah terdengar seseorang berujar dengan nada lembut namun dingin bagaikan es, "Saat berjumpa dengan Gi Liong Kuncu, saat itulah ajalmu akan tiba. Humm, ingin membalaskan dendam? Jangan bermimpi di siang bolong!"
Sik Tiong Giok terperanjat. Ia segera membalikkan badan, melayang keluar dari ruangan tersebut, dan membentak keras, "Siapa di sana?"
Bersamaan dengan gema bentakan itu, terdengar suara gemerisik dari atas pohon. Sesosok bayangan hitam meluncur turun bagaikan burung walet.
Dengan suara dingin, orang itu menyahut, "Hek Bo Tan dari Telaga Gi Liong."
Sik Tiong Giok mengalihkan pandangan. Sekitar dua tiga kaki di hadapannya berdiri seorang gadis mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam. Ia membawa kantung kulit di bawah ketiak, rambutnya dibungkus kain, dan memegang sepasang senjata kaitan, Yan Yang Kou. Wajahnya berbentuk oval dan berkulit gelap.
Sambil mendengus dingin, Sik Tiong Giok berseru, "Hmm, tentunya kau adalah anak buah dari Gi Liong Kuncu?"
"Betul!" sahut Hek Bo Tan ketus. "Aku memang anak buah dari Gi Liong Kuncu, dan kuterka kau pastilah Pangeran Serigala."
"Kaukah yang membinasakan semua orang di dalam ruangan ini?"
"Kalau memang aku yang membunuh, mau apa kau? Setiap orang yang berani membangkang perintah dari Istana Gi Ling Kiong, nyawanya tak bisa diampuni lagi."
Sik Tiong Giok gusar. Sambil mencabut pedang, ia membentak, "Hari ini, aku orang bermarga Sik justru mau menantang kalian. Mau apa kau?"
"Huuh, sama saja! Kau pun akan mampus!"
"Aku khawatir kau tak memiliki kemampuan sebesar itu!"
Di tengah bentakan, Sik Tiong Giok menjejakkan kaki ke tanah dan menerjang dengan jurus 'Bianglala Menutupi Sang Surya'. Pedangnya meluncur secepat kilat ke arah dada lawan.
Hek Bo Tan tidak gugup. Ia membentak, "Anak muda, kau berani menantang aku secara terang-terangan?" Tubuhnya meliuk ke samping, lalu dengan senjata kaitan di tangan kanan, ia menangkis serangan pedang tersebut. Tanpa membalas, ia justru mendesak maju.
Setelah melirik sekejap ke wajah pemuda itu sambil tertawa genit, ia berkata, "Anak muda, biarpun ingin beradu jiwa, tidak perlu terburu nafsu." Mendadak kaitan di tangan kanannya disodorkan ke arah kiri, lalu dengan secepat kilat ia menowel pipi pemuda itu.
Sik Tiong Giok tertegun karena serangannya meleset. Tahu-tahu hembusan napas harum telah lewat dan pipinya telah disentuh. Rasa dongkol memuncak, ia membentak, "Kau benar-benar budak tak tahu malu!"
Pergelangan tangannya bergetar, pedangnya bagaikan ular sakti menusuk ke muka.
"Bocah keparat," Hek Bo Tan membentak nyaring, "diberi muka tak mau! Baiklah, hari ini akan kusuruh kau rasakan kelihayan ilmu silat Gi Liong!"
Bayangan senjata kaitan disertai deruan angin tajam menggulung ke muka. Sik Tiong Giok tidak tinggal diam; ia mengerahkan ilmu 'Tay Cou Cao Pwe Ta' untuk melayani serangan. Pedangnya diputar sedemikian kencang hingga air hujan pun sulit menembus lapisan cahaya yang dihasilkan.
Dalam waktu singkat, pertarungan seru terjadi. Ilmu 'Tay Cou Cao Pwe Ta' dari Sik Tiong Giok merupakan warisan langsung dari Gao Hui Siani yang berkelas tinggi. Sebaliknya, senjata kaitan 'Yen Yang Kou' milik Hek Bo Tan juga merupakan ilmu silat kelas satu dari Telaga Gi Liong.
Namun, kepandaian Sik Tiong Giok masih setingkat lebih tinggi. Dua puluh gebrakan kemudian, Hek Bo Tan mulai terdesak.
Gadis berkulit hitam itu menggertakkan gigi dan mengubah jurus serangannya. Tiba-tiba ia mengeluarkan jurus 'Belalang Mempersembahkan Sakar', lalu dengan cepat berganti menjadi 'Bangau Putih Menentang Sayap'. Sambil melompat mundur beberapa kaki, ia merapatkan sepasang senjata kaitannya dan tangan kanannya merogoh ke dalam saku, bermaksud mengambil senjata rahasia.
Sik Tiong Giok bertindak lebih cepat. Dengan gerakan bagaikan serigala, ia menyusup maju dan mencengkeram pergelangan tangan perempuan itu sebelum ia sempat mengambil senjata rahasianya.
"Hey Nona Hitam, tak perlu kau pamerkan besi rongsokanmu itu di hadapanku. Simpan saja, kalau ingin kauperlihatkan, sebaiknya lain kali saja."
Sudah tentu Hek Bo Tan tak sudi dibekuk begitu saja. Senjata kaitan di tangan kirinya segera diayunkan, membacok batok kepala Sik Tiong Giok.