Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 126

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 126

Pemuda itu tertawa menyeringai, sementara tangan kirinya mencengkeram erat. Pedang di tangan kanannya digunakan untuk menangkis. Ia kemudian mengejek, "Wah, sayang sekali, Nona. Seranganmu yang ini masih kelewat ringan, belum cukup sempurna untuk menghadapiku. Lain kali, berlatihlah dengan lebih tekun." Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, terdengar benturan yang sangat keras: "Trang!" Di tengah bentakan tersebut, sepasang senjata kaitan itu tergetar lepas dan jatuh ke tanah. Pada saat yang sama, ujung jari tangan kanan Sik Tiong Giok mengayun ke depan kantong kulit tempat menyimpan senjata rahasia milik Hek Bo Tan hingga talinya lepas dan kantong itu pun jatuh ke tanah.

Bisa dibayangkan betapa paniknya Hek Bo Tan menghadapi kejadian seperti ini. Dengan sepasang mata terbelalak lebar, ia mengawasi wajah Sik Tiong Giok dengan pandangan melotot.

"Hei, Nona hitam manis, mengapa kau pelototi diriku?" ejek Sik Tiong Giok sambil tertawa. "Apakah kau tidak puas? Baiklah kalau begitu, mari kita beradu kepandaian lagi." Sambil berkata, ia mengendurkan cengkeramannya pada urat nadi pergelangan tangan Hek Bo Tan.

Hek Bo Tan mengerling sekejap ke arah Sik Tiong Giok dengan pandangan mata yang jeli, lalu membungkukkan badan bermaksud hendak memungut kembali kantong kulit miliknya.

Namun, Sik Tiong Giok bertindak cepat. Sambil menginjak kantong itu, ia berkata, "Kalau dugaanku tidak keliru, isi kantong ini pasti obat-obatan atau benda-benda yang amat beracun, bukan? Maaf, aku tak bisa membiarkanmu mendapatkan kembali barang-barang itu karena di kemudian hari tentu akan kau pakai untuk mencelakai orang lain."

"Hmm, atas dasar apa kau berkata begitu?" seru Hek Bo Tan dengan suara dingin.

"Kau tidak memungut sepasang senjata kaitan itu lebih dulu, sebaliknya malah mengambil kantong ini duluan. Hal ini menunjukkan bahwa benda ini sangat penting bagimu. Kalau isinya bukan benda beracun, lantas apa?"

"Huh, kau pikir aku benar-benar berhasrat mendapatkan kembali benda itu? Kalau toh kau mau, ambil saja..." Setelah berkata demikian, ia membungkukkan badan lagi untuk memungut kembali sepasang senjata kaitannya, kemudian menyisipkannya ke belakang punggung. Ia tidak memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri, sebaliknya dengan pandangan tak berkedip, ia terus mengawasi wajah pemuda itu.

Dilihat dari sorot matanya, tampak betapa seram dan buasnya wanita itu, terutama rasa benci yang kentara menghiasi wajahnya.

Sik Tiong Giok segera tersenyum dan berkata, "Mengapa kau belum melarikan diri dari sini? Apa yang kau nantikan? Benarkah kau merasa berat hati karena harus kehilangan senjata rahasia beracun yang berada di dalam kantong ini?"

"Hm, dari mana kau tahu kalau senjata rahasia itu beracun?" seru Hek Bo Tan dingin.

"Cukup memandang sorot matamu, aku sudah dapat menduga semuanya. Ehem, bila kau ingin memperoleh kembali isi kantong ini, boleh saja. Cuma, kau harus menyambut tiga buah pukulanku terlebih dahulu."

Tiba-tiba saja Hek Bo Tan merasakan semangatnya bangkit kembali. Sambil tertawa dingin, ia berseru, "Heh, heh, heh! Jangan kau anggap setelah berhasil mengungguli aku dalam ilmu pedang, lantas kau ingin meraih kemenangan lagi dalam ilmu pukulan. Hmmm, belum tentu aku akan menderita kekalahan di tanganmu."

"Apakah kau berniat untuk mencoba?" tanya pemuda itu cepat.

Semula Hek Bo Tan agak ragu-ragu, lalu setelah mundur sejauh satu kaki, ia berkata, "Kalau hendak kau lancarkan seranganmu, silakan saja. Aku akan menyambut ketiga seranganmu itu."

"Baik, kalau begitu bersiap-siaplah!"

Walaupun dalam hati Hek Bo Tan tidak percaya bahwa lawannya memiliki tenaga dalam yang jauh melampaui dirinya, ia tidak berani bertindak gegabah. Begitu mendengar perkataan tersebut, ia segera mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi badan, setelah itu baru mengangguk.

Sik Tiong Giok tetap berdiri tegak di tempat semula. Pelan-pelan telapak tangan kanannya diangkat ke udara lalu didorong ke depan ke arah Hek Bo Tan dari jarak jauh.

Melihat datangnya ancaman tersebut, Hek Bo Tan segera mendorong sepasang telapak tangannya ke muka untuk menahan serangan itu dengan adu tenaga.

"Blaaaam!" Di tengah benturan keras yang terjadi, tubuhnya tampak bergetar hebat kemudian secara beruntun mundur sejauh tujuh sampai delapan langkah.

Sambil tersenyum, Sik Tiong Giok mengejek lagi, "Bagaimana? Apakah kau masih mampu untuk melanjutkan pertarungan? Kalau memang sanggup, bersiap-siaplah untuk menerima seranganku yang kedua."

"Cuih," sahut Hek Bo Tan dingin.

Kali ini ia tidak berani bertindak gegabah lagi. Segenap tenaga dalam yang dimilikinya segera dikerahkan dan dihimpun ke dalam sepasang telapak tangannya.

Jarak antara kedua orang itu sekarang hanya berselisih dua kaki, namun Sik Tiong Giok sama sekali tidak ambil pusing soal jarak tersebut. Malah, sesuka hatinya ia mengangkat tangan kanan dari kejauhan lalu melepaskan sebuah pukulan.

Hek Bo Tan segera membentak nyaring. Dengan mengerahkan tenaga murni, ia melepaskan sebuah pukulan untuk menyambut ancaman tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki perempuan itu sebenarnya sangat hebat dan luar biasa. Andaikata musuh yang dihadapi bukan Sik Tiong Giok, melainkan kawanan jago silat lainnya, rasanya tak banyak orang yang mampu menandinginya. Begitu sepasang telapak tangannya didorong ke muka, terasa gulungan angin puyuh yang mahadahsyat bagaikan amukan gelombang raksasa di tengah samudra luas. Pasir dan debu pun beterbangan memenuhi angkasa.

Pangeran Serigala pun bukan manusia sembarangan; ia telah mewarisi segenap kepandaian silat dari Kakek Serigala Langit. Di samping itu, tenaga dalam milik Kakek Serigala Langit hasil latihan selama enam puluh tahun telah disalurkan pula ke tubuh anak muda itu. Tak heran jika serangan dahsyat yang dilancarkan pemuda itu luar biasa kehebatannya.

Begitu serangan dilancarkan, seketika itu juga terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga bergema memecahkan keheningan. Tatkala kedua gulung kekuatan itu saling bertemu, sekali lagi sekujur badan Hek Bo Tan bergetar keras, sampai-sampai ujung bajunya pun turut berkibar kencang. Namun kali ini Hek Bo Tan tidak sampai tergetar mundur dari posisinya semula; ia tetap berdiri teguh bagaikan batu karang.

Sambil tersenyum, Sik Tiong Giok berkata, "Kau hanya mampu menerima seranganku yang kedua ini. Jika kulepaskan serangan yang ketiga, niscaya kau akan tewas."

Hek Bo Tan membungkam diri dalam seribu bahasa; agaknya ia sedang mengatur pernapasan.

Kembali Sik Tiong Giok berkata, "Sudahlah, kau tak perlu memaksakan diri lagi. Sesudah kau sambut seranganku tadi dengan kekerasan, isi perutmu telah menderita luka dalam yang cukup parah. Apabila tidak secepatnya mengatur pernapasan, sekalipun jiwamu tidak melayang, segenap kepandaian silat yang kau miliki bakal punah."

Hek Bo Tan tertegun setelah mendengar perkataan itu. Tiba-tiba sepasang lututnya menjadi lemas dan ia roboh terjungkal ke atas tanah. Pada saat itulah, mendadak terdengar seseorang membentak keras dari belakangnya.

"Bagus sekali perbuatanmu, Pangeran Serigala! Rupanya kau cuma bisa menganiaya seorang wanita saja, huh! Terhitung orang gagah macam apa kau ini?"

Bersamaan dengan suara bentakan ini, terasa segulung angin pukulan yang sangat kuat menghantam bahunya, sementara segulung desiran dingin lainnya menyergap iga kirinya. Merasakan datangnya ancaman tersebut, tanpa berpaling, Sik Tiong Giok melontarkan sebuah bacokan ke belakang tubuhnya lalu menyahut, "Ehem, aku pun ingin mengetahui manusia macam apa dirimu!"

Serangan dahsyat yang dilancarkan orang itu segera terbendung oleh tenaga serangan Sik Tiong Giok. Detik itu juga, orang tersebut merasakan daya serangannya seakan-akan terbendung oleh selapis dinding tak berwujud sehingga badannya terpental sejauh enam sampai tujuh depa dari posisi semula. Kepalanya terasa amat pening dan matanya berkunang-kunang; hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak.

Begitu ia berhasil berdiri tegak, Sik Tiong Giok telah berpaling sambil membentak nyaring, "Bagaimana sih kau ini, Sobat? Masa hanya sebuah pukulan pun tidak bisa kau hadapi?"

Orang itu berbaju hitam dan berusia empat puluhan. Dengan tangan kanan memegang sebilah golok, ia mengawasi wajah Sik Tiong Giok dengan perasaan terkesiap, lalu berseru, "Aah! Kau benar-benar adalah Pangeran Serigala." Begitu selesai berkata, gumpalan darah menerjang tenggorokannya dan menyembur ke mana-mana.

Sik Tiong Giok tertawa dingin, ejeknya, "Kalau ingin memperhatikan, perhatikanlah dengan saksama. Dijamin aku bukan barang tiruan."

Dengan segala kemampuan yang dimiliki, lelaki berbaju hitam itu berusaha mengendalikan gejolak darah di dalam dadanya, lalu menjawab, "Kalau memang yang asli, ya sudahlah. Tuan Putri kami sudah lama menunggu kedatanganmu."

"Bagus sekali!" seru Sik Tiong Giok tertawa. "Aku pun sudah lama ingin bersua dengannya. Ingin kulihat manusia macam apakah dirinya itu; apakah benar-benar manusia berkepala tiga dan berlengan enam."

"Baik, kita bersua lagi di Telaga Gi Liong Oh!" Sembari berkata, ia segera melejit ke tengah udara dan mengundurkan diri dari situ.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak pemuda itu. Segera ia berpikir, "Mengapa tidak kubekuk orang ini dan memaksanya untuk menghantarku menuju Telaga Gi Liong Oh?" Berpikir demikian, ia segera membentak keras, "Berhenti!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment