Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 128

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 128

Ternyata di atas batuan cadas tersebut telah berdiri beberapa orang berbaju putih. Wajah mereka dikerudungi pula dengan kain berwarna putih; bagaikan potongan batu, mereka berdiri di ujung batuan tersebut.

Semuanya berdiri membungkam seribu bahasa bagaikan belasan mayat; mereka berdiri tak bergerak dari sana.

Untuk beberapa saat, kedua belah pihak berdiri saling berhadapan dan saling berpandangan tanpa berkata-kata.

Tiba-tiba dari bawah batuan cadas itu muncul selapis kabut berwarna putih yang semakin membumbung ke atas. Dalam waktu singkat, seluruh hutan batu itu telah diselimuti rapat-rapat.

Makin berkembang kabut putih itu, semakin tebal wilayah yang diselimuti, dan areanya pun semakin bertambah luas. Berbarengan dengan itu, kawanan manusia berbaju putih yang semula berdiri di atas batuan cadas itu kini sudah duduk semua sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bunyi desingan angin tajam segera menderu-deru sehingga memekakkan telinga.

Sik Tiong Giok mengawasi kawanan manusia berbaju putih itu dengan keheranan. Ia berpikir, "Heran, sebenarnya permainan setan apakah yang sedang dilakukan kawanan manusia aneh itu?" Sementara ia masih berdiri dengan perasaan heran bercampur curiga, mendadak dari balik hutan berkumandang suara teguran seseorang yang amat dingin, "Apakah orang yang berdiri di depan sana adalah Pangeran Serigala? Mengapa kau tidak segera memasuki pos penjagaan yang kedua ini?"

Sik Tiong Giok segera berpaling setelah mendengar teguran itu. Di balik kabut putih yang tebal, tampak seorang gadis berbaju putih berdiri tegak di sana. Ujung bajunya yang berkibar tertiup angin membuat gadis itu kelihatan seperti bidadari yang turun dari kahyangan.

Dengan perasaan tertegun, cepat-cepat ia menegur, "Siapakah kau?"

"Pek Peng Bwee dari Telaga Gi Liong," jawab gadis berbaju putih itu dingin.

"Oooh, rupanya Nona Pek adalah pemimpin dari pos penjagaan yang kedua ini?"

"Tepat sekali! Keberhasilanmu menembusi pos penjagaan yang pertama menunjukkan bahwa kepandaian silat yang kau miliki memang sangat hebat. Beranikah kau menembusi pos penjagaan yang kedua ini?"

Sik Tiong Giok segera tertawa. "Kalau orang sudah berdiri di tepi sungai, otomatis dia akan memandang ke tengah sungai. Tentu saja aku akan menembusinya."

"Hee heeee heee... kalau begitu silakan memasuki barisan," kata Pek Peng Bwee sambil tertawa dingin.

Sambil tersenyum, Sik Tiong Giok segera melangkah masuk ke dalam hutan batu itu. Dalam pada itu, suara deruan angin tajam menggema makin lama semakin tinggi, bahkan sangat menusuk pendengaran. Sementara hawa dingin yang menyerang Sik Tiong Giok membuat sekujur badannya terasa dingin membeku dan susah ditahan; darah yang mengalir di dalam tubuhnya seakan-akan menjadi beku dan kaku.

Sik Tiong Giok menjadi sangat terkejut. Cepat-cepat ia menggerakkan tenaga dalamnya untuk melawan serangan hawa dingin yang maha dahsyat itu. Kian lama hawa dingin yang menyerang badan semakin menebal. Kabut putih yang menyelimuti wilayah di sekeliling tempat itu pun seolah-olah menjadi beku dan mengeras bagaikan bongkahan es yang melekat di antara batuan cadas tersebut.

Tiba-tiba terdengar Pek Peng Bwee berseru dari kejauhan, "Sik Tiong Giok, percayakah kau? Barangsiapa yang sudah memasuki barisan Han Li Tio ini, maka dalam satu jam saja bisa membuat orang mati karena darahnya membeku."

"Aku... aku... aku rada... kurang percaya..." sahut Sik Tiong Giok dengan suara gemetar.

Kembali Pek Peng Bwee tertawa dingin, "Heee... hehehe... dari nada pembicaraanmu itu, dapat kuketahui bahwa peredaran darahmu sudah mulai tidak lancar. Apa gunanya kau berkeras kepala terus? Lebih baik sedikitlah tahu diri dan segera menyerah kepada Gi Liong, kalau tidak... kau tak akan mampu bertahan selama satu jam lagi."

Sik Tiong Giok terkejut sekali setelah mendengar perkataan itu. Segera ia berpikir, "Aku tak boleh pasrah dibunuh dengan begitu saja. Biarpun harus mati, paling tidak aku harus mencari teman." Berpikir sampai di situ, dengan memaksakan diri, ia segera menghimpun hawa murninya dan berpekik nyaring.

Berhubung sedari tadi dia sudah mengerahkan tenaganya untuk melawan serangan hawa dingin, hal ini membuat peredaran darahnya menjadi kurang lancar. Otomatis suara pekikannya juga terdengar agak gemetar dan sama sekali tidak terasa bersemangat. Namun, justru dengan perbuatannya itu, ia berhasil menembusi lapisan hawa dingin yang mencekam tersebut.

Begitu merasa timbulnya hawa hangat di dalam tubuh, Sik Tiong Giok tak berani berayal lagi. Tiba-tiba saja ia memutar telapak tangannya sambil melancarkan sebuah pukulan ke depan. Serangan tersebut dilancarkan dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, di mana angin serangannya menyambar hawa dingin yang mencekam itu hingga berhamburan ke mana-mana.

Berhasil dengan serangannya, Sik Tiong Giok merasakan semangatnya makin berkobar. Tanpa terasa, ia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring. Pekikannya kali ini berbeda sekali dengan pekikan yang pertama tadi; kali ini suaranya tinggi melengking, kuat, tajam, dan amat menusuk pendengaran. Menyusul kemudian, pedang di tangan kanan dan pukulan di tangan kiri, secepat kilat ia mendadak maju ke depan.

Blaamm, blaammmmm!

Di tengah benturan yang amat keras, batuan yang berada di sekeliling tempat itu beterbangan ke tanah dalam keadaan hancur. Sementara itu, kawanan manusia berbaju putih itu menjadi lemah kondisi badannya setelah mengerahkan tenaga dalamnya sekian lama. Di bawah serangan pedang dan telapak tangan berantai, pada hakikatnya mereka tidak memiliki tenaga lagi untuk melancarkan serangan balasan.

Setelah posisinya makin mantap, Sik Tiong Giok bertarung semakin bersemangat. Serangan demi serangan yang dilancarkan juga semakin ganas. Sesungguhnya hal ini merupakan kekuatan yang tumbuh dari balik kehangatan dengan hilangnya hawa dingin yang menggigilkan. Otomatis semangatnya pun berkobar kembali, serangan yang dilancarkan juga semakin lancar, sehingga kekuatan yang dihasilkan pun berlipat ganda lebih hebat.

Di tengah serangkaian serangan pedang dan pukulan, hutan batu itu menjadi berantakan sehingga muncul tanah datar seluas puluhan kaki, sementara manusia berbaju putih itu pun ada separuh di antaranya yang menggelepar di atas tanah. Pelan-pelan Sik Tiong Giok menarik kembali serangannya. Memandang tubuh-tubuh manusia yang berserakan di atas tanah itu, ia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan perjalanannya lagi ke muka.

Setelah melewati hutan batu, tibalah pemuda itu di tempat ketujuh iblis mengalami musibah. Saat itu kedua sisi sungai telah berubah menjadi sebidang hutan yang gundul, sedang permukaan tanah penuh dengan ceceran darah yang amis sekali baunya. Dengan kening berkerut, Sik Tiong Giok memandang sekejap ke arah gua batu di hadapannya, lalu setelah ragu sejenak, ia pun mengangkat kepalanya dan meneruskan langkahnya memasuki gua tersebut.

Suasana di dalam gua itu gelap gulita dan lembap, air menggenangi batas tungkai. Anehnya, permukaan di bawah air justru sangat datar sehingga kalau dipakai untuk berjalan mendatangkan perasaan yang amat nyaman. Walaupun demikian, Sik Tiong Giok tak berani bertindak gegabah. Selangkah demi selangkah, ia maju ke depan dengan berhati-hati sekali.

Sementara ia masih berjalan menelusuri gua itu, tiba-tiba terdengar suara helaan napas. Dengan perasaan tergetar, cepat-cepat pemuda itu menegur, "Siapa di situ?"

"Apakah yang datang adalah Pangeran Serigala, Sik Tiong Giok?" seorang tua bertanya.

"Benar, akulah Pangeran Serigala Sik Tiong Giok. Siapakah kau?"

"Kau tak perlu tahu siapakah kami, sebab setelah tahu malah tidak bermanfaat bagimu," jawab seseorang yang lain.

"Kalau dugaanku tak salah, semestinya orang yang berada di dalam gua ini bukan hanya berdua saja. Untuk bertanya jawab, seharusnya kalian punya nama sebutan, bukan?"

"Ehm, orang bilang serigala kecil lebih tangguh daripada serigala tua. Nyatanya hal ini memang benar," orang ketiga angkat bicara pula.

Orang keempat segera menyusul, "Yang berada di tempat ini memang semuanya berjumlah empat orang. Panggil saja kami semua setan-setan gentayangan."

Suara tua yang terdengar pertama kali tadi segera menyambung kembali, "Bagus sekali, sebuah nama yang sangat tepat. Aku adalah si kakek menyendiri, Hu To Siu."

"Kalau begitu, sebut saja aku sebagai Si Hun Kek (tamu yang kehilangan sukma)," sambung orang yang kedua.

"Dan aku si hweesio liar..." orang yang ketiga menambahkan.

Sedang orang yang keempat menyambung sambil tertawa terbahak-bahak, "Haa haaa haaa... kalau begitu, aku menjadi Si Tosu Setan."

Mendadak Hu To Siu berkata sambil menghela napas panjang, "Aaaai, pada dua puluh tahun berselang, kami pernah memiliki nama besar yang harum dan terkenal di seluruh dunia persilatan, tapi sekarang kami justru telah menjadi setan-setan gentayangan. Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu tragedi yang amat mengenaskan..."

"Lantas, apa maksud Locianpwee berempat menghalangi jalan pergiku?" tanya Sik Tiong Giok dengan perasaan kaget.

"Sudah banyak tahun kami disekap di dalam gua ini, jadi kami tidak bermaksud menghalangi jalan pergimu," jawab Tamu Kehilangan Sukma.

"Yaaa," sambung Hu To Siu sambil menghela napas, "kami disekap dalam gua yang tak kelihatan langit, benar-benar suatu kehidupan yang tidak menyenangkan, aaai..."

"Apa gunanya kita singgung kembali soal penyekapan itu," tukas si Hweesio Liar, "lebih baik kita cepat-cepat berkenalan dengan Bocah Serigala."

Walaupun perkataan "Bocah Serigala" tidak enak didengar bagi pendengaran orang lain, namun justru mendatangkan perasaan hangat dan akrab bagi Sik Tiong Giok. Cepat-cepat ia berseru, "Sebenarnya kalian berempat ada urusan apa?"

"Kami berempat akan bertarung melawan kau seorang, dan kau harus menghadapi kami berempat seorang diri," ujar si Tosu Setan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment