Chapter 129
"Benar," sambung Si Hun Kek, "kami ingin mencari kematian di tanganmu agar bisa terbebas dari kehidupan di alam kegelapan ini. Oleh karena itu, janganlah kau berbelas kasihan saat melancarkan serangan nanti," sambung si hweesio liar.
Kembali Hu To Siu berkata, "Jika kau dapat mengungguli kami, tentu saja tak ada yang perlu dikatakan lagi."
"Sebaiknya, kalau tidak mampu menandingi kami," sambung si hweesio liar, "kemungkinan besar kau akan mengorbankan selembar jiwamu."
"Aku punya satu permintaan," sela Si Hun Kek.
"Kalau ingin berbicara, cepat katakan!" seru si tosu setan, "kami sudah tak punya banyak waktu."
Sik Tiong Giok tidak mengerti apa yang dimaksud dengan 'tak punya banyak waktu'. Sementara ia masih tercengang, Si Hun Kek telah berkata sambil menghela napas panjang, "Ya benar, sedikit waktu pun amat berharga, apalagi saat yang kita hadapi saat ini."
"Hei, ucapanmu tak ada artinya. Apakah dalam keadaan seperti ini pun kau masih belum dapat menghilangkan watakmu yang aneh itu?" tegur si hweesio liar.
Sesudah tertawa getir, Si Hun Kek berkata, "Maklumlah, aku benar-benar tak dapat mengendalikan diri setelah mengetahui bahwa kesempatan baik yang kuimpi-impikan akhirnya datang juga, sehingga aku pun tak bisa menahan diri untuk berbicara banyak."
Tampaknya Hu To Siu juga sudah habis kesabarannya, segera serunya, "Kalau ingin bicara, katakan secepatnya, jangan membelokkan persoalan lagi!"
Sik Tiong Giok yang menghadapi kejadian semacam ini segera berbicara pula sambil tertawa, "Bila kalian memang ada persoalan, katakan saja dengan berterus terang."
"Baiklah," ucap Si Hun Kek kemudian, "aku hanya meminta di saat bertarung nanti, harap kau gunakan kedua belas ilmu cacad tersebut tanpa ada yang ketinggalan."
Sik Tiong Giok amat terkejut setelah mendengar permintaan tersebut. Ia segera berpikir, "Dari kedua belas ilmu cacad tersebut, walaupun ketujuh jurus pertama terhitung ganas, toh masih bisa dilawan, tapi keempat jurus berikutnya sangat keji dan bila digunakan tentu mengakibatkan kematian, terutama sekali pada gerakan terakhir, 'Thian Long Eng'."
"Selain bisa dipakai untuk menolong orang, dapat juga digunakan untuk melukai musuh. Daya kemampuannya luar biasa, mana boleh kugunakan secara sembarangan?"
Sementara ia masih termenung, Si Hun Kek telah berkata lagi, "Bocah serigala kecil, kau tak perlu banyak curiga. Bertahun-tahun kami berharap bisa menyaksikan serta merasakan kehebatan dari kedua belas ilmu cacad tersebut. Bila tidak diberi kesempatan untuk menikmati seutuhnya, tentu akan membuat kami mati penasaran."
Sik Tiong Giok benar-benar tidak habis mengerti. Ia tidak tahu apa maksud yang sebenarnya dari keempat orang itu sehingga untuk sesaat ia pun tak dapat mengambil keputusan apakah harus mengeluarkan kedua belas ilmu cacad tersebut atau tidak. Tanpa terasa ia pun berdiri termangu-mangu.
Tiba-tiba terdengar si hweesio liar berkata sambil menghela napas panjang, "Dengan risiko yang amat besar serta mempertaruhkan selembar jiwaku, benda ini kuperoleh dari kedalaman Goan Kang. Padahal aku tak bisa menyimpan benda ini lebih jauh, agaknya mesti terpaksa kuserahkan benda ini kepadamu, si bocah serigala kecil. Semoga kau bisa menyimpannya secara baik-baik."
Sementara Sik Tiong Giok masih mengira-ngira arti dari perkataan si hweesio liar itu dan menduga benda apa yang ditemukan dalam Goan Kang, tahu-tahu segulung desiran angin tajam telah menyambar tiba.
Cepat-cepat ia menyambar benda yang meluncur datang itu, yang ternyata sebuah bungkusan kecil. Angin desiran itu menyambar datang dengan kekuatan yang amat lembut, sudah jelas si hweesio liar tidak bermaksud jahat terhadapnya.
Atas kejadian ini, Sik Tiong Giok semakin bingung. Sekalipun dia dapat menduga bahwa isi bungkusan itu adalah semacam benda mustika, tapi apa sebabnya diberikan kepadanya? Dengan perasaan keheranan pemuda itu berpikir, "Apa yang kulakukan sekarang?"
Belum habis ingatan tersebut melintas, si tosu setan telah berkata pula, "Betul, di saat pertarungan telah berlangsung nanti, nasibku menjadi tak menentu, bahkan kemungkinan besar bakal mati di sini. Tampaknya benda milikku ini pun harus kuserahkan kepadamu."
Menyusul perkataan itu, kembali terasa segulung desiran angin tajam meluncur ke hadapan pemuda itu. Ketika Sik Tiong Giok menyambutnya, terasa benda itu berbentuk lebar seperti telapak tangan dengan tebal satu inci, beratnya tidak seberapa, dan tak diketahui benda apakah itu. Secara beruntun, Hu To Siu dan Si Hun Kek masing-masing menyerahkan pula sebuah benda kepada anak muda itu.
Setelah suasana menjadi hening sejenak, tiba-tiba Hu To Siu berkata, "Sekarang waktu kita sudah tak banyak lagi, mari segera mulai menyerang!"
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Sik Tiong Giok, cepat-cepat ia berseru, "Kalau memang kalian berempat ingin bertarung, tentu saja keinginan kalian akan kupenuhi. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya, apakah pertarungan ini juga merupakan ujian sebelum memasuki telaga Gi Liong Oh?"
Si Hun Kek segera mendehem pelan, lalu jawabnya, "Persoalan ini merupakan urusan pribadi kami berempat, jadi pertarungan ini hanya bersifat membebaskan kami dari kesulitan, tidak terhitung sebagai pos penjagaan."
"Hei, serigala kecil, bersikaplah lebih terbuka. Untuk mencapai pos penjagaan ketiga kau harus keluar dulu dari gua ini."
Menyusul kemudian si tosu setan berpesan pula, "Andaikata kau ingin berhasil menembus pos ketiga secara lancar, jangan lupa dengan benda yang kuberikan kepadamu itu."
"Sudahlah!" tukas Hu To Siu, "kita harus segera turun tangan."
Begitu ucapan tersebut selesai diutarakan, tiba-tiba terasa desingan angin tajam menyambar. Ternyata dua orang di antaranya telah maju menyerang dengan kecepatan luar biasa. Sik Tiong Giok segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi seluruh badan, sementara tangannya bergerak melakukan perlawanan.
Dari desiran angin serangan lawan, ia sudah mengetahui bahwa senjata yang sedang menyerangnya adalah sebilah pedang serta dua batang senjata Poan Koan Pit. Cepat-cepat ia mengeluarkan jurus 'Kuda Langit Melintas Lewat'. Hawa serangan yang terpancar keluar dari kelima jarinya mencengkeram senjata pedang Hu To Siu dari kejauhan, kemudian dengan meminjam kekuatan tersebut, ia menyapu senjata Poan Koan Pit lawan.
Jurus serangan yang dipergunakannya saat ini memang aneh sekali. Kekuatan yang terpancar keluar memiliki keistimewaan yang luar biasa; sebentar lurus, sebentar lagi aneh, membuat orang tak bisa menduga secara pasti. Dengan membawa kekuatan yang luar biasa, sambaran pedang itu langsung membacok di atas sepasang Poan Koan Pit tersebut. Ternyata kedua belah pihak sama-sama tak mampu mengendalikan kekuatannya.
Berhasil dengan serangan pertamanya, Sik Tiong Giok segera menyusulkan jurus serangan kedua dengan gerakan 'Hati Budha Serigala', sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan.
"Wess!" Diiringi desiran angin tajam, angin serangan itu menyergap sisi kiri lawan. Sementara itu, pedang panjang Hu To Siu telah saling beradu dengan sepasang senjata Poan Koan Pit dari Si Hun Kek sehingga menimbulkan suara bentrokan keras yang amat memekakkan telinga.
Tatkala kedua belah pihak sama-sama berusaha untuk menahan senjata masing-masing, sergapan kilat dari Sik Tiong Giok telah menyambar tiba. Akibatnya, kedua orang itu tak sempat lagi untuk melindungi diri.
"Aduh!" Di tengah jeritan ngeri yang memilukan hati, Si Hun Kek jatuh terjerembap di atas tanah, sedangkan Hu To Siu mundur sejauh beberapa langkah hingga punggungnya menumbuk dinding gua. Akibatnya ia menjadi sempoyongan dan akhirnya dengan kaki yang lemas ia jatuh terduduk di atas tanah.
"Trang!" Pedang dan Poan Koan Pit sama-sama terjatuh ke atas tanah sehingga menimbulkan suara gemerincing yang nyaring. Sik Tiong Giok benar-benar merasa tertegun setelah melihat kejadian ini. Ia tidak menyangka kalau kedua jurus serangannya sedemikian hebat sehingga melukai kedua jago tersebut.
Dengan napas terengah-engah Si Hun Kek berkata, "Saudara sekalian, tampaknya aku akan berangkat duluan, tapi... hei, bocah serigala kecil, dapatkah kau katakan jurus apa yang baru kau gunakan?"
"Kedua jurus itu adalah jurus keenam dan ketujuh dari dua belas ilmu cacad. Maaf, locianpwee, kalau aku telah salah tangan sehingga melukaimu."
Namun, tiada jawaban yang terdengar, sebab Si Hun Kek telah menghembuskan napas penghabisannya. Selang sejenak kemudian, Hu To Siu berkata, "Si Hun Kek telah berangkat duluan, sedang aku pun tak punya waktu lagi. Bocah serigala, semoga kau bisa menyimpan benda yang kuberikan kepadamu itu secara baik-baik. Aku... akan berangkat dulu."
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terdengar suara dengusan tertahan. Agaknya Hu To Siu juga ikut menghembuskan napas penghabisannya. Semua peristiwa ini terjadi dalam waktu singkat. Tanpa terasa Sik Tiong Giok menghela napas sedih.
Pada saat inilah tiba-tiba terasa desingan angin tajam menyambar di atas kepala, disusul kemudian segulung desiran angin totokan mengancam iga kanannya. Dalam keadaan demikian, pada hakikatnya tidak terlintas dalam ingatan Sik Tiong Giok untuk menghindarkan diri. Tampaknya dia segera tewas termakan oleh kedua gulung desiran tajam tadi.
Di saat yang amat kritis itulah, tenaga dalamnya tiba-tiba bergolak keras. Tanpa sadar ia menggerakkan telapak tangannya dan mendayung ke atas sementara tangan yang lain mengayun ke bawah. Hembusan angin yang muncul kemudian segera menerjang ke muka serta mendobrak hawa serangan yang menggencet tiba itu. Bersamaan waktunya, ia memutar badan dan menghindarkan diri dari angin serangan yang mengancam iga kanannya.
Benturan dahsyat akibat bertemunya kekuatan besar itu segera menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Batuan cadas berguguran dari tepi dinding gua dan berhamburan ke mana-mana.