Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 13

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 13

"Oooh ayah..." Nona Bun Un tak sanggup menahan diri. Ia menjerit kaget sekeras-kerasnya, sementara para jago yang hadir di arena turut menjadi tegang dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Tidak ketinggalan pula beberapa orang manusia aneh berkepala serigala. Serentak mereka meloloskan senjata guna menghadapi ancaman yang tiba. Agaknya suatu pertarungan massal bakal berlangsung.

Dalam pada itu, telapak tangan Rasul Serigala sudah semakin turun ke bawah, satu inci demi satu inci semakin mendekati jalan darah Njuang Hiat di atas kepala Bun Su Khi. Detik-detik demikian ini jelas merupakan detik penentuan antara mati dan hidup. Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba Sik Tiong Giok mengayunkan telapak tangannya ke bawah untuk meraup segenggam pasir, kemudian melemparkannya ke wajah Rasul Serigala.

Gerakan ini dilakukan Sik Tiong Giok dengan kecepatan luar biasa. Banyak orang yang tak sempat melihat dengan jelas darimana datangnya pasir tersebut. Tahu-tahu segumpal pasir sudah menyebar ke udara dan menimpa wajah si Rasul Serigala.

Mimpi pun Rasul Serigala tak mengira Sik Tiong Giok bakal menyerang dengan cara begini. Untuk sesaat ia menjadi bingung dan tak tahu bagaimana caranya mengatasi serangan tersebut. Sementara dia masih tertegun, hujan pasir yang menyambar datang dari arah depan tahu-tahu sudah tiba di depan mata.

Berada dalam keadaan begitu, sudah barang tentu ia lebih mementingkan keselamatan sendiri. Buru-buru tangan kirinya didorong ke muka untuk melemparkan Bun Su Khi, menyusul kemudian pukulan yang kuat dilepaskan untuk membuyarkan serangan hujan pasir.

Memanfaatkan kesempatan tersebut, ketua Ngo Oh Pang, Bun Su Khi, segera menjatuhkan diri dan menggelinding di atas tanah. Dalam beberapa gelindingan saja ia sudah terlepas dari cengkeraman si Rasul Serigala. Kendatipun demikian, tekanan tangan kiri dari Rasul Serigala tadi sempat membuat isi perutnya terluka. Darah segar segera muntah keluar tiada hentinya.

Ketika angin pukulan berbenturan dengan pasir yang menyambar datang, suatu ledakan keras terjadi, disusul munculnya gulungan debu kuning yang membumbung di angkasa. Tiba-tiba Rasul Serigala melolong panjang.

Mendengar kode rahasia ini, beberapa manusia yang berkepala serigala serta mata-mata yang membaurkan diri dalam kelompok para jago segera bergerak. Dalam waktu singkat perang massal telah meletus.

Sementara itu, Sik Tiong Giok telah memanfaatkan situasi yang remang oleh pasir untuk menyerang Rasul Serigala. Bayangan manusia berkelebat lewat. Tiba-tiba ia kehilangan jejak si Rasul Serigala itu.

Sementara masih tertegun, tiba-tiba ia mendengar Nona Bun Un menjerit lengking dengan nada yang memilukan. Sik Tiong Giok segera sadar kalau dirinya tertipu. Buru-buru ia menyusul ke arah mana berasal suara tersebut. Tapi sayang, ia menabrak sasaran yang kosong.

Di tengah keributan yang tak menentu itulah, tiba-tiba semua lampu yang ada di darat maupun di perahu padam serentak, sehingga suasana bertambah gelap dan kalut. Atas peristiwa ini, para jago yang bertarung semakin kacau dan kalut tak karuan. Jeritan ngeri, teriakan keras bercampur baur tak karuan wujudnya.

Untunglah dalam suasana begini, tiba-tiba terdengar Ngo Ci Kay San (si lima jari pembelah bukit), Ho Kong Seng berteriak keras: "Harap semua orang jangan kalut, semua lentera harap disulut kembali." Namun pertarungan tak kunjung berhenti. Kilatan golok, cahaya pedang masih saling menyambar tiada hentinya, malah jeritan ngeri bergema susul-menyusul.

Menanti hamburan pasir sudah mereda, lampu pun mulai disulut kembali. Keadaan menjadi terang kembali, para jago yang sedang bertarung pun turut menjadi tenang kembali. Tapi setelah melihat keadaan dalam arena pertempuran, semuanya menjadi tertegun dan berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Ternyata di atas tanah sudah tergeletak dua tiga puluh orang. Ada yang sudah tewas, ada pula yang merintih kesakitan. Yang aneh, ternyata tidak nampak seorang pun dari kelompok Rasul Serigala. Kini, semua orang baru sadar. Rupanya pertarungan massal yang barusan berlangsung terjadi di antara kawan sendiri, sedang musuh memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri.

Yang lebih aneh lagi adalah si nelayan kecil Sik Tiong Giok tidak nampak pula batang hidungnya, sedang putri ketua Ngo Oh Pang, Bun Un, juga turut lenyap. Masih untung Bun Su Ki sendiri berhasil menyelamatkan selembar jiwanya. Betul, isi perutnya terluka, namun tidak begitu parah. Justru lenyapnya Bun Un, putri kesayangannya, yang membuat dia menjadi amat risau.

Setitik cahaya emas sudah mulai timbul di ujung langit. Pertemuan besar para jago pun bubar berantakan dengan begitu saja. Para jago yang semula datang mengikuti pertemuan dengan penuh semangat, kini membubarkan diri dengan wajah tertunduk lesu. Suasana di pantai pesisir Sah Cui pun pulih kembali dalam ketenangan.

Tidak sampai beberapa hari, peristiwa ini sudah tersebar luas dalam dunia persilatan. Setiap jago hampir mengetahui kalau pertemuan para jago telah dikacaukan oleh Rasul Serigala. Tapi semua orang pun merasa kagum atas kemampuan seorang nelayan kecil yang berhasil mengalahkan Rasul Serigala itu. Berita tersebut tersebar dengan cepat ke mana-mana. Hampir semua orang membicarakan kasus tersebut.

Tapi bagi pendengaran sepasang muda-mudi, hati mereka segera berdebar keras. Kedua orang itu adalah sepasang putra-putri dari Ki Thian Bin, yaitu Ki Beng dan Ki Soat Ji. Untuk mencari jejak ayah mereka, boleh dibilang mereka telah menjelajahi seantero dunia persilatan, namun tak sedikit kabar pun yang terdengar. Yang membuat hati mereka kuatir ialah jejak ibu mereka, Bau Jin Hui Cha atau Tusuk Konde Terbang Ki Siu Ling, pun lenyap tak berbekas.

Sementara mereka masih kebingungan dan tak tahu bagaimana mesti menghadapinya, kabar yang mereka dengar tersebut tak ubahnya bagaikan setitik sinar di balik kegelapan. Waktu itu mereka sedang mengembara di sekitar wilayah Juan Tang. Begitu mendapat kabar, ia lantas berangkat ke arah timur untuk melakukan pencarian.

Pagi ini sinar matahari memancarkan cahaya yang berwarna keemasan ke empat penjuru. Udara amat cerah. Sebuah perahu kecil bergerak dari arah timur menuju kemari. Penumpangnya hanya berdua, mereka adalah Ki Beng bersaudara.

Dalam perjalanan tersebut, tiba-tiba di hadapan mereka muncul sebuah bukit. Melihat ini, Soat Ji segera bertanya: "Koko, coba kau lihat tempat apakah itu? Jangan-jangan kita telah tiba di suatu selat?" "Benar," Ki Beng tertawa, "tempat tersebut memang sebuah selat. Orang persilatan menyebutnya sebagai Selat Kitab Perang Pedang Mestika, mengerti?" "Aduh, perjalanan melalui sungai ini sungguh amat sulit. Sudah sebuah selat, sebuah selat lagi mesti dilalui!" Ki Soat Ji menghela napas panjang. Kembali Ki Beng tertawa. "Perjalanan dalam dunia persilatan memang sukar dilewati, apa sih artinya dari perjalanan yang berbahaya ini?" "Tapi aneh, mengapa hatiku menjadi takut secara tiba-tiba?" "Jangan khawatir!" Ki Beng menghibur, "sesudah turun dari Selat Say Leng Sia, kita akan tiba di Kota Peng Yang."

Sementara mereka sedang berbicara, perahu itu sudah melingkari kaki bukit batu karang yang menonjol ke arah sungai mencuat di sana sini. Ombak besar menggulung kian kemari, memecah di tepian, suara yang amat gemuruh serasa memekikkan telinga. Tiba-tiba si tukang perahu berseru: "Toa Siangkong, perahu kita akan memasuki Pantai Darah yang merupakan daerah paling berbahaya, harap kalian berdua duduk dengan tenang di tempat semula!"

Ki Beng mengiyakan dan segera mengalihkan sorot matanya ke arah depan. Benar juga, situasi yang mereka hadapi lebih mengerikan lagi. Jalan air begitu sempit dengan batuan cadas berserakan di mana-mana. Siapa saja yang tak berhati-hati sewaktu melewati tempat tersebut, sudah jelas kepalanya akan pecah. Si tukang perahu segera ambil alat dayungnya dan mendayung perahu tersebut kian kemari mengikuti arus sungai yang deras.

Mendadak.... Dari arah depan sana berkumandang suara lolongan serigala yang memanjang dan amat tak sedap didengar. Paras muka Ki Soat Ji segera berubah hebat. Dengan nada kaget ia berseru: "Koko... coba kau dengar, serigala...."

Ki Beng memang mendengar juga suara serigala tersebut, tapi untuk menenangkan hati adiknya, ia berusaha menguasai diri sambil berkata: "Adikku, kau jangan takut. Di sekitar pegunungan sini memang sering kedengaran suara serigala..." Belum habis ia berkata, si nelayan kecil yang membawa bambu panjang di buritan perahu telah menukas sambil tertawa: "Toa Siangkong, mungkin kau salah ingat. Di sini hanya ada jeritan monyet, mana mungkin ada suara lolongan serigala?" "Hei, lebih baik kau memegang kemudi perahumu secara baik-baik!" seru Ki Beng marah, "hati-hati jangan sampai menabrak batu. Kau tahu tentang jeritan monyet dan lolongan serigala?"

Nelayan kecil itu tertawa. Dia menutulkan bambu panjangnya ke atas batu karang dan membelokkan perahu mengikuti arus, setelah itu senandungnya lirih: "Matahari terbit, awan putih membuyar. Menempuh jalan air seribu li dalam sehari. Hanya lolongan serigala di sebuah tepi...." Ia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam: "Aduh celaka, lebih baik kalau suara jeritan monyet di kedua sisi tepi perahu akan selamat sampai di tepi bukit Ban Tiong San."

Ki Beng menjadi tercengang sekali. Diam-diam pikirnya: "Sungguh tak nyana kalau nelayan kecil ini pandai juga bersenandung." Belum habis ingatan itu melintas lewat, tiba-tiba Ki Soat Ji menjerit kaget. "Aah, koko, coba lihat, di sana ada orang!" Ki Beng segera mendongakkan kepalanya sambil memandang ke arah depan. Betul juga, di atas batu karang tak jauh di depan mereka benar-benar berdiri seseorang yang celingukan ke sana kemari.

Kejadian mana kontan saja membuat pemuda ini tertegun saking kagetnya. Dalam waktu singkat perahu kecil itu sudah meluncur mendekati batu karang tersebut. Buru-buru si tukang perahu berusaha menghindar dengan sekuat tenaga mendayung perahunya membelok ke arah kiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment