Chapter 131
"Kenapa? Apakah kalian telah menyiapkan sebuah barisan tempur untuk menghadapiku?"
"Hmm," manusia berbaju merah itu mendengus dingin, "semenjak Telaga Gi Liong Oh berada dalam kekuasaan kami, belum pernah ada orang yang berhasil memasuki Pantai Mo Im Au dalam keadaan selamat. Kau boleh dibilang merupakan orang yang pertama."
"Wah, kalau begitu peristiwa ini merupakan suatu kebanggaan bagiku!" ucap pemuda itu sambil tertawa.
"Tapi kau jangan telanjur senang. Sekarang kau mesti menembus lebih dulu Barisan Jit Sat Liat Hwee Tin (Barisan Tujuh Iblis Bara Api)."
"Kalian tahu aku datang ke mari atas undangan Tuan Putri kalian. Apakah kalian tidak merasa bahwa menyambut tamu dengan cara begini merupakan suatu perbuatan yang tidak sopan?"
"Justru inilah peraturan dari Gi Liong Oh kami dalam menyambut tamu. Semua tamu diwajibkan menembus lima pos penjagaan dan tiga medan berbahaya sebelum dia berhak menjadi tamu agung kami."
"Bagaimana seandainya tak sanggup menembus lima pos penjagaan dan tiga medan berbahaya itu? Apa yang hendak kalian lakukan?"
"Kecuali dia bersedia takluk untuk menjadi budak, jalan yang terakhir adalah mati secara mengenaskan di sini."
Sik Tiong Giok segera mendengus dingin. "Hmm, kalian kelewat sombong dan tak tahu diri. Apakah kalian tidak merasa kalau perbuatan itu terlalu keji?"
"Untuk menyeleksi orang-orang pintar dari dunia persilatan, jika tidak berbuat begitu, bagaimana mungkin dalam dunia persilatan bisa muncul manusia yang benar-benar luar biasa?"
"Boleh aku bertanya, sebelum kedatanganku hari ini, sudah berapa banyak orang yang kalian celakai?"
"Oh... belum seberapa orang, paling banter baru dua ratusan lebih."
Sik Tiong Giok tertegun setelah mendengar perkataan itu. Segera ia berpikir, "Betul-betul angkuh mereka. Dua ratus jiwa dalam pandangan mereka tak lebih hanya semut-semut yang tak ada harganya. Hmm, bila manusia-manusia sesat semacam ini tidak dibasmi dari muka bumi, sudah pasti akan lebih banyak jago persilatan yang menjadi korban keganasan mereka."
Berpikir sampai di situ, ia pun segera berkata dengan suara dingin, "Bolehkah aku tahu juga, bagaimana cara mereka menemui ajalnya?"
"Yang mati tenggelam di Sungai Goan Kang karena sampan kosong melintasi angkasa saja sudah mencapai dua puluh orang."
Dalam benak Sik Tiong Giok segera melintas bayangan sampan kosong yang dijumpai di Sungai Goan Kang waktu itu. Hatinya menjadi tercekat, tanpa terasa ia membatin, "Wah, sungguh berbahaya!"
Sementara itu, terdengar manusia berbaju merah itu berkata kembali, "Yang kehilangan nyawa di kuil kosong mencapai lima puluh orang."
Sekali lagi Sik Tiong Giok merasa terkesiap. Ia teringat dengan Hu Hau Siansu dan para jago dari sembilan partai besar yang tewas secara mengenaskan di Kuil Cukat Bio. Tanpa terasa ia mendengus dingin.
Manusia berbaju merah itu berkata lebih jauh, "Di Hutan Berceceran Darah, yaitu hutan lebat sebelum memasuki lembah, ada sekitar tiga puluh orang yang mampus di situ. Apalagi setelah berada di daerah dingin yang menusuk tulang, orang yang mati di situ lebih banyak lagi jumlahnya, tetapi kebanyakan mati menjadi mangsa siluman naga tersebut."
"Hmm, berapa pula yang terkurung dalam gua itu?" Sik Tiong Giok mendengus dingin.
"Orang yang bisa memasuki Gua Yamani Menuju ke Alam Baka kebanyakan merupakan orang-orang yang sudah memiliki ilmu silat yang sempurna. Di antara sekian banyak orang, hanya keempat orang yang kau jumpai tadi yang selamat, tetapi mereka pun harus berdiam selama tiga puluh enam bulan lamanya sebelum memperoleh kebebasan."
"Mengapa mereka harus dikurung begitu lama?"
Manusia berbaju merah itu tertawa. "Aku mesti membunuh dahulu jiwa kegagahan mereka. Kalau tidak, mana mungkin mereka bersedia menjadi budak?"
Tiba-tiba Sik Tiong Giok mengernyitkan kening dengan hati dongkol, lalu katanya dingin, "Hmm, sungguh tidak menyangka hati kalian sedemikian kejinya. Lantas, berapa orang pula yang mendapat musibah di dalam Barisan Jit Sat Liat Hwee Tin kalian?"
"Kalau dibicarakan sungguh amat menyesal. Semenjak barisan ini diciptakan hingga kini, belum satu kali pun dicoba. Dan hari ini, kau adalah orang pertama yang akan mencoba keampuhan barisan ini."
Sik Tiong Giok segera tertawa tergelak. "Ha... ha... ha... setelah bertemu aku hari ini, bisa jadi Barisan Jit Sat Liat Hwee Tin akan hancur berantakan."
Dengan marah, manusia berbaju merah itu membentak keras, "Apa gunanya hanya bicara? Kenapa tidak segera mencoba untuk memasuki barisan?"
Sembari berkata, ia meloloskan pedangnya dan dikebaskan ke udara. Serentak, keenam manusia berbaju merah itu menyebarkan diri ke sekeliling arena.
Dengan sorot mata yang tajam, Sik Tiong Giok memperhatikan sekejap posisi dari ketujuh orang itu. Ketika tidak menjumpai sesuatu yang aneh, ia pun berkata sambil tertawa dingin, "He... he... he... aku memang berhasrat untuk menjajal kehebatan ilmu silat dari Telaga Gi Liong Oh."
Kemudian, sambil memekik nyaring, ia menerjang masuk ke dalam arena barisan. Tampaknya manusia berbaju merah tadi merupakan pemimpin dari Barisan Jit Sat Liat Hwee Tin. Sementara dia melakukan gerakan pertama untuk melakukan pengejaran, keenam orang lainnya bergerak mengikuti perubahan barisan. Dalam waktu singkat, cahaya pedang memancar ke mana-mana.
Sesungguhnya Jit Sat Liat Hwee Tin ini hanya terdiri dari tujuh bilah pedang, tetapi setelah barisan itu berputar, segera tercipta berpuluh-puluh bilah pedang yang menyerang Sik Tiong Giok dari delapan arah empat penjuru.
Sik Tiong Giok sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap datangnya ancaman tersebut. Dari suara desingan angin yang menyambar, dia segera mematahkan semua serangan yang datang mengancamnya. Lalu sambil tertawa nyaring katanya, "Huh... rupanya Barisan Jit Sat Liat Hwee Tin cuma begitu-begitu saja. Kalau begini, bukan terhitung suatu kepandaian yang luar biasa."
"Orang bermarga Sik, kau jangan takabur!" bentak manusia berbaju merah itu gusar. "Coba kau rasakan kehebatan kami ini!"
Diiringi bentakan nyaring, pedangnya segera ditudingkan ke depan. Dari ujung pedang tersebut segera terpancar keluar serentetan cahaya api yang menyembur di sekeliling tubuh anak muda tersebut. Begitu menyentuh tanah, sambaran api itu segera berubah menjadi kobaran api yang dahsyat dan melejit setinggi dua hingga tiga depa lebih.
Sik Tiong Giok terkejut setelah menyaksikan kejadian ini. Sekarang dia baru tahu bahwa yang dimaksud sebagai Jit Sat Liat Hwee Tin adalah sebuah gerakan barisan yang berdasar pada Jit Sat Tin dengan mengandalkan api sebagai senjata serangan otomatisnya.
Tanpa terasa ia pun berpikir, "Andaikata aku harus bertarung dengan mengandalkan kepandaian silat, tak ada yang perlu ditakuti. Tapi untuk menghadapi kobaran api sedahsyat ini, sudah jelas aku tak sanggup untuk mengatasi."
Berpikir sampai di sini, ia pun segera memutar pedang sambil diayunkan ke depan. Namun tiba-tiba saja barisan itu berubah, enam bilah pedang menyerang secara acak dan semrawut.
Seketika itu juga Sik Tiong Giok merasakan daya tekanan yang muncul bertambah besar. Ia gagal untuk menembus barisan tersebut. Biarpun sepintas lalu keenam bilah pedang tersebut seolah-olah menyerang tak beraturan, sebentar membabat dari timur sebentar menyerang dari barat, padahal kalau digabungkan justru bagaikan jago berilmu silat tinggi yang menyerang dengan mempergunakan jurus-jurus serangan yang dahsyat. Kehebatan mereka di dalam kerja sama benar-benar amat mengagumkan.
Dengan susah payah Sik Tiong Giok harus bertarung sampai lima atau enam jurus lebih. Menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan, terpaksa ia bergerak mundur ke belakang dan lambat laun terjerumus ke dalam arena kobaran api.
Sementara itu, pancaran garis merah yang menyembur keluar dari ujung pedang manusia berbaju merah itu masih berlangsung tiada hentinya. Dalam sekejap mata, dia telah menciptakan segulung tanggul api di sekeliling badan pemuda itu.
Menanti keenam orang lainnya melihat tanggul api itu sudah terbentuk, masing-masing orang pun segera mengundurkan diri ke posisi semula dan bersiap-siap dengan senjata terhunus, khawatir kalau Sik Tiong Giok mencoba untuk menerjang keluar dari kepungan api.
Kobaran api makin lama mendesak makin dekat, hawa panas yang memancar keluar pun terasa amat menyengat badan. Sik Tiong Giok yang menghadapi kejadian tersebut, di samping merasa heran menyaksikan kelihaian manusia berbaju merah itu, ia pun merasa agak tercengang.
Ternyata di saat ia merasakan sekujur badannya kepanasan hingga tak tertahankan, tiba-tiba dari seputar dadanya terasa muncul hawa dingin yang menyegarkan badan. Sebuah ingatan segera melintas dalam benaknya. Ia berpikir, "Jangan-jangan di antara keempat benda mustika pemberian keempat penghuni gua tadi terdapat sebuah mustika yang berkhasiat menahan api."
Berpikir begitu, ia pun segera merogoh ke dalam sakunya. Mula-mula ia meraba mutiara itu, lalu meraba kedua belah papan kayu, dan setelah itu meraba gelang tembaga, tetapi semuanya tidak menunjukkan gejala apa pun.
Sampai akhirnya ketika ia meraba lencana pualam tersebut, secara ajaib mendadak sekujur badannya menjadi dingin dan segar. Kontan saja dia menjadi sangat bingung.
Serunya kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, "Ha... ha... ha...!"