Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 132

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 132

"Inikah barisan api kalian yang dibangga-banggakan? Kenapa aku tidak merasakan apa pun?" Mendadak manusia berbaju merah itu menarik kembali pedangnya, lalu berkata dengan suara dingin, "Ehm, tampaknya kau si bocah keparat memang benar-benar mempunyai ilmu simpanan. Tapi, beranikah kau merasakan lagi kelihayan dari jilatan api sakti kami?"

Sik Tiong Giok tertawa, "Belum tentu aku akan bertemu lagi dengan kesempatan sebaik ini. Tentu saja aku akan merasakan semua kemampuan yang kau miliki itu."

"Baik!" sahut manusia berbaju merah itu dingin, disusul bentakannya yang keras, "Api Langit Membakar Iblis!"

Begitu perintah diberikan, keenam orang manusia berbaju merah lainnya segera menyemburkan pula enam gulung lidah api yang masing-masing panjangnya mencapai tujuh depa lebih. Serentak mereka menyerang tubuh Sik Tiong Giok dari atas, tengah, dan bawah.

Sambil tertawa, Sik Tiong Giok mengejek, "Wah, kelihatannya sih hebat, cuma sayang tetap tak mempan untuk membakar tubuhku."

"Kenapa bisa begitu?" tanya manusia berbaju merah itu dingin. "Aku tak percaya kalau kau memiliki kemampuan kebal terhadap api."

"Bukankah kepandaian yang kalian pergunakan barusan bernama 'Api Langit Membakar Iblis'? Justru karena aku bukan iblis, bagaimana mungkin api kalian bisa membakarku?"

Manusia berbaju merah itu mendengus dingin. Mendadak ia memantangkan mulutnya dan menyemburkan segumpal api yang langsung menyerang wajah anak muda tersebut. Hebat sekali datangnya semburan api itu. Begitu cahaya api berkobar, rumput kering di sekitar radius tiga kaki segera terbakar dan mengepulkan asap berwarna hijau.

Sik Tiong Giok sama sekali acuh tak acuh. Tangan kirinya segera digerakkan melakukan gerakan melingkar di depan tubuhnya. Dalam waktu singkat, muncul segumpal kabut putih yang membumbung tinggi hingga mencapai ketinggian satu kaki lebih, lalu menyebar ke mana-mana. Kabut putih yang dilapisi embun itu dengan cepat melindungi seluruh badan Sik Tiong Giok. Tatkala ketujuh lidah api itu menerjang masuk ke dalam lapisan kabut putih, cahaya yang membara itu hilang lenyap tak berbekas.

Sik Tiong Giok masih duduk di tempat semula dengan tenang, bahkan ujarnya kemudian sambil tersenyum, "Huh, api semacam ini pun kalian sebut sebagai api sakti? Hee... hee... bila dibiarkan berkelanjutan, niscaya aku bakal menjadi kaku lantaran kedinginan."

Agaknya manusia berbaju merah itu dibuat sangat gusar. Ia membentak dengan suara dingin, "Bocah keparat, kau jangan keburu merasa bangga dulu. Biarpun kau memiliki ilmu tahan api, jangan harap kau bisa lolos dari barisan Jit Sat Liatwe Tin-ku dalam keadaan selamat."

Berbicara sampai di situ, tiba-tiba ia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung lalu menggosokkan sepasang tangannya. Seketika itu juga menyembur keluar berpuluh-puluh jalur cahaya biru yang gemerlapan, diikuti bau busuk yang sangat menyengat, langsung menyerang si anak muda itu. Keenam orang lainnya segera meniru gerakan pemimpin mereka. Dalam waktu singkat, berpuluh-puluh kilatan cahaya berwarna biru telah mengurung seluruh tubuh Sik Tiong Giok rapat-rapat.

Sik Tiong Giok tetap duduk di atas tanah dengan senyuman terkulum. Walaupun sekilas ia tampak tenang, secara diam-diam segenap hawa murni yang dimilikinya telah dihimpun menjadi satu untuk mendesak lencana kumala itu agar memancarkan kabut putih yang lebih tebal. Sesungguhnya kabut itulah yang berfungsi sebagai penangkis serangan hawa panas lawan.

Makin lama, bau busuk yang memancar keluar semakin tebal dan keras. Kini hampir semua tumbuhan di sekitar lokasi itu telah terbakar hebat, bahkan batang-batang pohon yang tumbuh di atas tebing banyak yang terbakar hangus. Sementara itu, Sik Tiong Giok mulai merasa kepanasan. Meskipun masih duduk bersila, wajahnya sudah kehilangan senyum semula.

Keadaan ini berlangsung hampir satu jam. Kemudian, Sik Tiong Giok berkata, "Masih berapa banyak lagi ilmu kepandaian kobaran api sakti kalian yang belum dikeluarkan? Ayo, kerahkan semua!"

"Hmm, cukup dengan keadaan semacam ini pun aku bisa mengurungmu selama tujuh hari lamanya. Aku percaya tujuh hari kemudian, kau, si Pangeran Serigala Langit, akan berubah menjadi abu."

"Huuh! Belum tentu..."

"Lalu mengapa kau tidak mencoba untuk menerjang keluar dari kurungan kami?"

Sik Tiong Giok mendengus gusar, "Hmm, andaikata aku sampai berusaha menerjang keluar dari kurungan ini, sudah dapat dipastikan kalian tentu akan lari tunggang-langgang. Kalau sampai terjadi keadaan begitu, kan jelas akan merusak pemandangan indah?"

"Aku tidak percaya!"

"Ooh, jadi kalian berharap dapat mendengarkan alasanku?"

"Coba kau katakan!"

"Pertama, jika aku berniat untuk menerjang keluar dari barisan api ini, aku yakin ilmu berasap api sesat yang kalian andalkan itu tak akan bisa menghalangi kepergianku. Tapi, akibatnya pakaian yang kukenakan niscaya hancur berantakan dan tak berwujud lagi, bukankah begitu?"

Manusia berbaju merah itu mendengus dingin, "Hmm, jangan lagi pakaian, bahkan badan serta dagingmu pun akan turut terbakar musnah."

"Aaah, belum tentu begini. Bayangkan saja kobaran api kalian yang begitu ganas pun tak mampu melukaiku, apa pula susahnya menerjang keluar dari kepungan ini? Selain itu..."

"Selain itu kenapa?"

"Bila dugaanku tak salah, kalian semuanya tentu kaum wanita, bukan?" kata Sik Tiong Giok.

"Atas dasar apa kau berkata demikian?"

"Ditinjau dari potongan badan, gerak-gerik, nada pembicaraan, serta kekejian kalian semua, dapat kuduga kalian adalah kaum wanita."

Manusia berbaju merah itu mendengus dingin, "Hmm, belum tentu hanya kaum wanita saja yang berhati keji, buas, dan tidak berperasaan. Kau tak usah mengada-ada."

"Masa aku salah bicara? Pernahkah kau dengar orang berkata bahwa senjata lebah terletak di ujung ekornya, dan hati perempuan adalah yang paling keji? Oleh sebab itu, aku yakin kalau kalian semua adalah kaum wanita."

Begitu perkataan tersebut diucapkan, ketujuh orang manusia berbaju merah itu terbungkam. Agaknya apa yang diduga anak muda tersebut memang benar.

Sik Tiong Giok kembali berkata, "Coba kalian bayangkan sendiri, andaikata aku sampai menerjang keluar dari barisan kalian dalam keadaan bugil, apakah kalian tak akan menjadi ketakutan hingga membubarkan barisan ini?"

Ketujuh orang manusia berbaju merah itu membungkam diri. Serentak mereka pun menghentikan serangan kobaran api. Demikianlah, selanjutnya kira-kira setengah jam lamanya kedua belah pihak sama-sama bertahan dalam diam.

Akhirnya Sik Tiong Giok tak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit berdiri lalu berseru lantang, "Hey, perhatikan baik-baik, aku segera akan menerjang keluar dari barisan ini!"

"Apakah kau tak khawatir menjadi bugil karenanya?" seru manusia berbaju merah itu keras.

Sik Tiong Giok tertawa, "Apa yang mesti kutakuti? Paling banter keadaanku saja yang nampak jelek karena mirip bayi tua lagi berlarian. Kalau toh kalian tidak merasa keberatan, sekarang juga aku akan menerjang keluar."

"Kau berani?" tiba-tiba manusia berbaju merah itu membentak.

Sik Tiong Giok tertawa, "Ya, apa boleh buat. Aku toh tak bisa membiarkan diriku terkurung terus di tempat ini. Kau mesti tahu, sudah sehari semalam aku belum bersantap."

"Justru tugas kami adalah mengurungmu di sini."

"Tapi sayang, aku pun tak dapat menuruti perkataanmu itu dengan begitu saja."

Di tengah pembicaraan, mendadak ia menggerakkan pedangnya seraya membentak, "Hati-hati!"

Menyusul kemudian, suara pekikan nyaring bergema memecahkan keheningan. Pedangnya dengan jurus "Hujan Angin dari Delapan Penjuru" secara beruntun melancarkan tujuh-delapan serangan berantai. Begitu kobaran api berhasil dihalau oleh deruan angin pedang, anak muda itu segera memanfaatkan kesempatan untuk meloncat keluar dari kurungan.

Menyaksikan kejadian ini, manusia berbaju merah tersebut segera menggerakkan kembali barisannya. Tujuh bilah pedang serentak mengepung kembali. Lalu, dengan tangan kiri memainkan dua belas ilmu cacad, sementara pedang di tangan kanan menyerang dengan ilmu Tay Coa Cap Pwee Ta.

Begitu dua macam ilmu yang mahadahsyat itu dikeluarkan bersama, ditambah pula dengan ilmu kelitan serigala, terkaman serigala, serta gigitan yang merupakan ilmu simpanannya, bisa dibayangkan betapa sengit dan hebatnya pertarungan itu. Dalam keadaan demikian, kendati ketujuh orang manusia berbaju merah itu memiliki ilmu silat yang hebat, tak urung mereka jadi kelabakan dan terdesak mundur berulang kali.

Menjumpai hal ini, sekali lagi Sik Tiong Giok mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak. Di tengah gelak tawa tersebut, tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan ilmu lari serigala dan melejit sejauh tiga kaki lebih dari posisi semula.

Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang dilakukan anak muda itu kontan mengejutkan ketujuh orang manusia berbaju merah tersebut hingga mereka tertegun.

Sambil tertawa, Sik Tiong Giok berkata, "Nona bertujuh, aku telah merasakan kehebatan dari ilmu barisan api Ji Sat Hwee Tin kalian. Sampai ketemu lagi di Telaga Gi Liong nanti."

Selesai berkata, ia membalikkan badan dan melanjutkan kembali perjalanannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment