Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 133

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 133

Dia berlari terus melewati dua tebing terjal sebelum akhirnya menghentikan langkahnya.

Saat ini, anak itu merasakan tubuhnya sangat lelah dan kehabisan tenaga. Ia terpaksa mencari tempat tersembunyi untuk duduk bersemedi demi memulihkan kembali kekuatannya.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, ketika ia membuka mata kembali, matahari sudah berada di atas kepala. Pemuda itu segera melompat bangun, tetapi saat itu pula perutnya tiba-tiba berbunyi keras. Baru sekarang ia teringat bahwa ia belum mengisi perut selama dua hari. Tidak heran jika rasa lapar menggerogoti perutnya.

Terdorong oleh naluri untuk bertahan hidup, tanpa sadar ia mengalihkan pandangan dan melihat ke sekeliling tempat itu dengan maksud mencari buah-buahan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Sayangnya, pepohonan yang tumbuh di sekitar tempat itu hanyalah pohon siong; tak sebatang pun pohon yang berbuah.

Di tengah kegelisahannya, mendadak dari balik pepohonan di depan sana tampak asap mengepul ke angkasa. Kelihatannya asap tersebut berasal dari suatu tempat yang tidak terlalu jauh. Dalam keterkejutan dan kegembiraannya, ia segera melompat naik ke atas sebatang pohon dan mengamati keadaan dari sana.

Benar saja, kurang lebih satu *li* dari situ terdapat sebuah gubuk. Asap yang terlihat tadi berasal dari gubuk tersebut. Munculnya asap menandakan adanya kehidupan di sekitar sana. Terdorong oleh rasa gembira tanpa berpikir panjang lagi, ia berangkat ke sana.

Tampaknya ia sudah lupa bahwa tempat tersebut letaknya sangat dekat dengan Telaga Gi Liong Oh. Sebagai daerah musuh, ancaman bahaya bisa datang setiap saat. Di setiap jengkal tanah kemungkinan besar terdapat perangkap; dari mana datangnya pemukiman rakyat? Namun, dapat dimaklumi bahwa saat seseorang dicekam rasa lapar yang luar biasa, ingatan pertama yang melintas di benaknya adalah mengisi perut sekenyang mungkin.

Orang dahulu mengatakan: Manusia adalah besi, adalah baja. Namun, lelaki yang terbuat dari baja pun tak akan mampu bertahan selama tiga hari jika diserang kelaparan. Dalam keadaan lapar itulah Sik Tiong Giok tidak sempat memikirkan hal lain dan segera berlari menuruni bukit.

Memang aneh, saat seseorang sedang lapar, kondisi fisiknya pun ikut merosot. Jika pada hari biasa perjalanan sejauh satu *li* paling lama ditempuh dalam beberapa kali lompatan saja, kini ia harus berlari hingga bermandi keringat sebelum akhirnya tiba di tempat tujuan.

Ternyata tempat tersebut merupakan sebuah gubuk tanpa dinding di sekelilingnya; hanya berupa gubuk penjaga belaka. Di bagian belakang gubuk itu terdapat sebuah anglo yang terbuat dari tumpukan tiga batu bata. Di atasnya terletak sebuah kuali yang sudah retak. Seorang perempuan tua berbaju biru sedang menambah kayu api di bawah kuali tersebut. Tampaknya perempuan tua itu tidak menyadari kedatangan seseorang; ia tidak berpaling bahkan tidak menggubris sama sekali.

Sik Tiong Giok memperhatikan sejenak keadaan di sekeliling tempat itu. Ia benar-benar tidak mampu menahan rasa lapar yang terus melilit perutnya. Apalagi, dari balik kuali tersebut tercium aroma harum semerbak yang membuat rasa laparnya semakin menjadi-jadi. Akhirnya ia tidak mampu menahan diri lagi. Sambil berjalan masuk ke dalam gubuk, ia berseru lantang, "Nenek yang budiman, aku adalah seorang pengembara yang sedang kelaparan. Sudikah Nenek membagikan semangkuk nasi untukku?"

Mendengar teguran itu, si nenek segera berpaling dan memperhatikan wajah Sik Tiong Giok sejenak, kemudian menyahut ketus, "Di atas bukit yang terpencil tidak terdapat hidangan yang lezat. Apa yang bisa kuhidangkan untukmu?"

"Hidangan macam apa pun boleh, yang penting bagiku adalah mengisi perut. Ketahuilah, sudah dua hari aku belum makan."

Nenek itu termenung sebentar. Dengan pandangan ragu ia mengamati beberapa biji singkong yang sedang dibakar, tetapi akhirnya ia menyodorkan hidangan tersebut ke hadapan Sik Tiong Giok sambil berujar, "Kalau begitu, ambillah beberapa biji singkong itu untuk mengisi perutmu. Tapi kau tidak boleh makan di sini. Jika sampai ketahuan putraku yang sebentar lagi pulang, kau bisa celaka."

"Aku mengerti, aku mengerti," sahut Sik Tiong Giok cepat. "Tetapi ke mana perginya putramu itu?"

"Ia sedang pergi berburu. Ah...!" Ketika berbicara sampai di situ, ia seakan teringat sesuatu. Dengan cepat ia membalikkan badan dan berjalan menuju ke balik sebuah batu besar. Selang beberapa saat kemudian ia muncul kembali lalu berkata kepada Sik Tiong Giok sambil tertawa, "Aku masih menyimpan sisa sepotong daging menjangan asap. Ambillah sekalian untuk mengisi perutmu. Sebagai orang muda, biasanya porsi makanmu sangat besar, bukan? Tapi kau harus ingat, jangan sampai ketahuan putraku, dia bisa menghajarmu habis-habisan."

Setelah berbicara demikian, ia segera berjalan kembali ke sisi tungku dan asyik mengurusi tanakan nasinya. Sik Tiong Giok memandang beberapa biji singkong dan sepotong daging asap di tangannya. Setelah menghela napas, ia pun berjalan keluar dari gubuk itu. Sambil berjalan, ia melahap hidangan tersebut. Ketika daging menjangan itu habis, ia pun melahap biji-biji singkongnya. Belum sampai setengah *li*, semua hidangan tersebut sudah habis disantap olehnya.

Perut yang lapar kini sudah teratasi dan pikirannya menjadi lebih jernih. Tiba-tiba sebuah pemikiran melintas di benaknya, "Sungguh aneh, mengapa di sekitar Telaga Gi Liong Oh terdapat seorang penduduk berupa nenek tua renta? Jangan-jangan di balik semua ini ada hal yang tidak beres?"

Belum tuntas pikiran tersebut, perutnya mulai terasa aneh. Tiba-tiba muncul ribuan gelombang hawa hangat yang dengan cepat menyusup ke seluruh perutnya. Menyusul kemudian, ia merasa sangat lelah dan matanya terasa berat karena mengantuk; ia ingin tidur senyenyak-nyenyaknya di atas tanah.

Mendadak dari belakang tubuhnya bergema suara gelak tawa seseorang, "Hahaha! Orang bermarga Sik, agaknya kau tidak akan mampu melewati pos penjagaan yang kujaga."

Sik Tiong Giok sangat terkejut mendengar perkataan itu. Dengan cepat ia berpaling. Ternyata nenek berbaju biru tadi telah berdiri di belakangnya. Saat itu, si nenek sama sekali tidak tampak renta. Sebaliknya, senyuman mengejek menghiasi bibirnya saat ia mengawasi wajah Sik Tiong Giok lekat-lekat.

Rasa ngeri timbul di dalam tubuh Sik Tiong Giok. Sesudah tertegun sejenak, ia berseru, "Hei, mengapa bisa kau?"

"Bagaimana dengan daging menjangan itu? Apakah sudah kau makan sampai habis? Bagaimana dengan rasa laparmu? Apakah sudah merasa kenyang?"

"Aku memang sangat lapar. Semuanya sudah kumakan habis, tapi itu pun hanya bisa menahan sedikit rasa laparku."

Mendadak nenek berbaju biru itu tertawa terbahak-bahak, "Hahaha! Bagus sekali kalau memang sudah kau makan... bagus sekali!"

Dari balik gelak tawa lawan, Sik Tiong Giok menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki nenek tersebut sangat sempurna. Ia berpikir, "Oh, rupanya nenek ini sengaja berlagak demikian untuk membohongiku!"

Seketika ia berseru, "Oh, jadi kau sengaja menyamar sebagai nenek tua untuk menipuku?"

Perempuan berbaju biru itu segera melepaskan rambut palsu serta topeng kulit manusia yang dikenakannya. Dengan cepat muncul wajah yang cantik jelita. Ternyata perempuan itu adalah seorang gadis muda yang berparas sangat cantik.

Ia menjawab sambil tertawa merdu, "Tebakanmu tepat sekali. Coba lihat, apakah dandananku bagus?"

"Ehm... dandananku memang sangat mirip. Buktinya aku berhasil kau kelabui."

"Tahukah kau siapa aku sebenarnya?"

Sik Tiong Giok menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu!"

"Kalau begitu aku perlu memberimu penjelasan. Aku adalah anak buah Penguasa Gi Liong. Orang menyebutku Ketua Barisan Iblis Selaksa Racun, Perempuan Beracun Berbaju Biru. Pernahkah kau mendengar nama itu?"

Sik Tiong Giok sangat terkejut. "Apa? Kau dijuluki Perempuan Beracun? Kalau begitu, hidangan yang kumakan tadi telah kau bubuhi racun keji?"

Perempuan Beracun Berbaju Biru itu tertawa geli. "Tentu saja. Namaku saja Perempuan Beracun, mana mungkin benda yang melalui tanganku tidak kupolesi dengan racun?"

Tak terlukiskan rasa gusar Sik Tiong Giok. "Padahal antara aku dan dirimu tidak ada dendam ataupun sakit hati, mengapa kau meracuniku secara licik? Apa sebenarnya maksudmu?"

"Maksudku? Aku hanya mendapat perintah dari Tuan Putri untuk menaklukkanmu. Asalkan kau bersedia menyerah kepada pihak Gi Liong Oh, tentu saja racun yang mengeram di tubuhmu akan kupunahkan."

Sik Tiong Giok segera menghimpun tenaga dalam secara diam-diam sambil berujar, "Sik Tiong Giok sebagai seorang lelaki sejati tidak sudi tunduk kepada siapa pun seumur hidupnya."

"Tapi kali ini kau tidak punya pilihan lain." Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba Perempuan Beracun Berbaju Biru telah mengayunkan telapak tangannya dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment