Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 137

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 137

Sik Tiong Giok melompat naik ke atas ruangan dengan tergesa-gesa. Dilihatnya dinding ruangan itu kosong melompong, hanya dekat dinding bagian belakang terletak sebuah pembaringan yang terbuat dari bambu.

Suasana di sekeliling tempat itu amat hening, sementara di atas pembaringan terdapat dua orang gadis yang berbaring dalam keadaan telanjang bulat.

Sik Tiong Giok segera membuang muka ke arah lain.

Mendadak terdengar salah seorang di antara kedua gadis itu berseru dengan suara gemetar, "Oh, Engkoh Giok, ternyata kau benar-benar telah datang. Setelah menghadapi kejadian seperti ini, mengapa kau masih risau? Cepatlah datang menolong kami." Nada suaranya amat lirih dan memilukan hati, mendatangkan perasaan pilu bagi siapa pun yang mendengarnya.

Tanpa terasa, Sik Tiong Giok berpaling lagi sambil bertanya, "Siapakah kau?"

Gadis yang berada di bagian luar bangun duduk dan mengambil selembar selimut untuk menutupi bagian bawah tubuh mereka berdua. Setelah itu, ia berkata, "Aku adalah Cu Siau Hong, sedangkan dia adalah si gadis jelek Li Peng. Apakah kau sudah tidak mengenal kami lagi?"

"Lalu, siapa pula dia?"

"Dia adalah kekasih hatimu, Enci Li. Kasihan, dia sudah menderita luka yang amat parah dan kini berada dalam keadaan tak sadarkan diri."

Mendengar perkataan tersebut, Sik Tiong Giok segera maju mendekati pembaringan kemudian memeriksanya dengan saksama. Tampak Huan Li Ji berada dalam keadaan tak sadarkan diri; ia berbaring di situ tanpa bergerak sedikit pun. Ketika memperhatikan keadaan Li Peng, tampak sepasang keningnya berkerut dan air mata membasahi wajahnya. Keadaannya sangat mengenaskan.

Sebelum anak muda itu sempat bertanya, Li Peng berkata lagi, "Aku dan Enci Li harus merasakan tiga kali siksaan berat dari Putri Gi Liong setiap harinya. Sekarang, tubuh kami sudah tidak ada yang utuh."

"Kalau dilihat dari keadaan tubuh kalian, aku tidak menjumpai luka apa pun. Siksaan apakah yang dipergunakan olehnya?" tanya Sik Tiong Giok keheranan.

Li Peng menghela napas panjang. "Entah dari mana ia mendapat ide tersebut. Alat siksaan yang digunakan adalah semacam jarum emas yang khusus digunakan untuk menusuk jalan darah. Setiap kali ditusukkan, rasanya sakit sekali seperti tulang yang dihancurkan."

Mendadak Sik Tiong Giok melotot, lalu dengan penuh rasa benci ia berkata, "Suatu saat nanti, aku pasti akan mencarinya untuk membalas dendam."

"Soal itu dibicarakan lain kali saja. Mengapa kau tidak berusaha menyelamatkan kami lebih dulu?" keluh Li Peng dengan suara gemetar.

"Baik, sekarang juga aku akan mengajak kalian keluar dari tempat ini."

"Tapi seluruh tulang-belulang kami serasa sudah hancur semua. Bagaimana mungkin kami dapat menggerakkan tubuh untuk berjalan?"

"Lantas, bagaimana jadinya?" seru Sik Tiong Giok makin gelagapan.

"Untung saja aku menyimpan sebotol obat *Liuleng Leng Hiang Liok* dari perguruan kami. Botol obat itu berada dalam bajuku dekat pintu. Cepat ambil dan poleskan ke tubuh kami; siapa tahu hal ini dapat membantu menyembuhkan kami dari kesulitan ini."

Saat selesai berkata, ia kembali merintih dengan keadaan yang mengenaskan, hal ini membuat Sik Tiong Giok menjadi sangat iba. Dalam kebingungan, ia segera mendekati baju yang dimaksud dan mengambil sebuah botol kecil terbuat dari porselen putih.

Setelah kembali ke depan pembaringan, ia berkata kepada Li Peng, "Adik Peng, dapatkah kau turun tangan menggosoknya sendiri?"

"Bagaimana sih kau ini..." seru Li Peng dengan perasaan gemas, "setelah berada dalam keadaan begini, nyawa pun sudah berada di ujung tanduk, mengapa kau masih memikirkan lelaki dan perempuan?"

Berbicara sampai di situ, kembali ia merintih sambil memejamkan mata. Butiran air mata jatuh bercucuran dengan deras; ia tampak semakin melemah. Sik Tiong Giok merasa sangat iba, lalu segera membuka tutup botol itu. Isi botol tersebut berupa cairan putih yang harum semerbak.

Ia menuang sedikit ke atas telapak tangannya, kemudian digosokkan ke atas bahu Li Peng. Ternyata obat itu memang sangat mustajab. Jalan darah Li Peng yang semula terlihat setitik bintik hitam, begitu digosok dengan obat tersebut, bintik hitam itu segera lenyap tanpa bekas.

Maka ia pun menggosok kedua lengan nona itu, lalu perlahan bergerak ke arah dada. Setelah sepasang payudaranya digosok, pemuda itu mulai menggosok pinggul dan sepasang kakinya. Tak selang berapa saat kemudian, seluruh tubuh nona itu sudah digosok; bau harum yang amat pekat pun menyelimuti seluruh ruangan tersebut.

Waktu itu, meskipun Li Peng masih memejamkan mata rapat-rapat, keningnya sudah tidak berkerut lagi. Senyuman menghiasi ujung bibirnya; jelas rasa sakit telah lenyap dari badannya.

Sik Tiong Giok bukan seorang lelaki yang tidak berperasaan. Berada di hadapan gadis cantik dalam keadaan telanjang, meski tidak terlintas pikiran jahat dalam benaknya, ia sempat memperhatikan tubuh si nona. Waktu itu Li Peng berbaring lurus di atas pembaringan. Di samping kulit tubuhnya yang mulus dengan payudara yang montok, hanya terlihat sisa bekas merah pada jalan darahnya. Payudara si nona yang bulat, putih, dan montok dengan sepasang anggur merah di ujungnya itu benar-benar pemandangan yang menggairahkan. Apalagi saat sepasang bukit dagingnya turut bergetar naik-turun tiada hentinya.

Menyaksikan pemandangan yang begitu menggiurkan, biarpun Sik Tiong Giok berhati sekeras baja, hatinya berdebar keras. Untuk beberapa saat, ia berdiri termangu-mangu sambil memegang botol porselen itu.

Pada saat inilah, tiba-tiba dari bawah loteng berkumandang irama musik yang aneh. Suara musik itu membawa daya rangsang yang sangat kuat, seakan-akan suara keluhan seorang gadis yang menginginkan sesuatu. Bersamaan dengan itu, ia mencium bau harum semerbak yang sangat merangsang. Bau itu seperti bau bunga, namun menimbulkan reaksi pada salah satu bagian tubuhnya.

Yang lebih aneh lagi, justru pada saat itulah Li Peng menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya, kemudian mengangkat tinggi kedua belah kakinya, sehingga bagian tubuhnya yang paling rahasia terlihat jelas. Sik Tiong Giok bukan patung; ia bukan manusia berdarah dingin. Menghadapi daya rangsangan semacam ini, mampukah ia mempertahankan diri?

Pada saat itu juga, tiba-tiba Li Peng membuka matanya serta menatapnya dengan pancaran sinar merayu. Sik Tiong Giok merasakan hatinya gatal seperti ada ulat yang merambat. Ia tertawa bodoh, kemudian bagaikan harimau kelaparan, ia menubruk tubuh si nona dan menungganginya secara ganas. Tampaknya suatu pertempuran sengit segera akan berlangsung di situ.

Di saat yang amat kritis itulah, mendadak dari bawah loteng sana berkumandang jeritan ngeri yang memilukan hati. Serta-merta Sik Tiong Giok tersentak kaget dan buru-buru melompat turun dari atas badan perempuan itu. Namun, kobaran api birahi masih membakar hatinya. Dengan termangu-mangu, pemuda itu mengawasi korbannya, seakan-akan setiap saat akan menungganginya kembali.

Untung saja tenaga dalam yang dimilikinya sangat sempurna, ditambah bakatnya memang hebat. Cepat-cepat ia mengeluarkan mutiara penolak racun dan segera dihisap dalam mulutnya. Memang aneh, tiba-tiba saja Sik Tiong Giok menjadi sadar sepenuhnya, seperti kepalanya diguyur dengan sebaskom air dingin; semua api nafsu birahinya lenyap tak berbekas.

Begitu mengetahui apa yang barusan hampir terjadi, ia segera membentak gusar, "Perempuan rendah yang tidak tahu malu, hampir saja aku terperangkap oleh tipu muslihat kalian."

Kemudian, sambil mendengus dingin, ia melompat turun dari atas loteng. Dilihatnya si gadis suci sudah tergeletak dengan kepala terpisah dari badannya. Dengan perasaan keheranan, pemuda itu berpikir, "Siapa yang telah melakukan kesemuanya ini? Andaikata perempuan ini tidak terbunuh, mungkin aku sudah terjebak oleh siasat musuh."

Sementara ia masih termenung, tiba-tiba dari atas loteng terdengar suara bentrokan senjata yang sangat ramai. Sik Tiong Giok semakin keheranan, lalu segera melompat kembali ke atas loteng.

Baru saja ia hendak melompat masuk lewat jendela, mendadak sesosok bayangan hitam menerjang keluar dari balik ruangan tersebut. Dalam keadaan tidak menduga, mereka berdua saling bertumbukan, lalu dengan seruan kaget, masing-masing terjatuh ke atas tanah.

Ketika Sik Tiong Giok mengalihkan sorot matanya ke arah lawan, ia kembali menjerit kaget, "Hey, rupanya kau..."

Ternyata pihak lawan adalah si gadis jelek Li Peng yang asli. Di atas wajahnya yang bersemu emas, masih kelihatan raut yang menakutkan dan pucat pasi. Sambil mendengus dingin, Li Peng berseru, "Kenapa dengan aku?"

"Lagi-lagi kau telah menolongku," sahut Sik Tiong Giok dengan wajah tersipu-sipu.

"Hmm, berhubung aku merasa sangat muak menyaksikan perbuatan cabulmu itu, terpaksa aku harus turun tangan. Coba kalau tidak, siapa yang sudi membantumu?"

"Tapi aku datang untuk memenuhi janji demi menolongmu. Rupanya kau telah berhasil lolos dari kurungan."

"Terima kasih banyak," suara Li Peng masih terdengar dingin, kaku, dan amat tidak sedap didengar, "tak disangka, bukan kau yang menolongku, justru akulah yang telah menolongmu, bukan demikian?"

"Ya, benar!" Sik Tiong Giok tertawa, "karena itu, aku harus berterima kasih kepadamu..." Sembari berkata, ia merangkapkan tangannya dan menjura dalam-dalam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment