Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 138

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 138

Li Peng segera tertawa cekikikan, kemudian berseru, "Sudahlah, aku tidak berani menerima penghormatanmu sebesar ini. Asal kau tidak menuduhku sedang merebut mustikamu, hal ini sudah lebih dari cukup."

"Aaaaah, mana mungkin. Persoalan itu kan cuma salah paham," kata Sik Tiong Giok sambil tertawa, "masa berani aku menuduhmu sebagai pencuri? Tapi... bagaimana ceritanya sampai kau berhasil meloloskan diri dari bahaya maut?"

Li Peng tertawa. "Kau anggap muridnya Siong He Lojin adalah manusia yang gampang dipermainkan orang? Cukup dengan menggunakan akal sederhana, siapa pun tak bakal mampu mengurungku, malah ada di antara mereka yang tewas di ujung pedangku."

"Jadi, kau telah membunuh Gi Liong Kuncu?" seru Sik Tiong Giok terperanjat.

"Aku sih tidak mempunyai kemampuan sebesar itu, aku hanya membunuh kawanan siluman perempuan yang memutarbalikkan kenyataan itu..."

"Semuanya telah kau bunuh?"

"Ya, tidak seorang pun yang berhasil meloloskan diri dari ujung pedangku!"

Sik Tiong Giok segera menghela napas panjang, "Buat apa sih kau membunuh mereka secara kejam? Toh diberi hukuman pun sudah cukup."

"Kenapa? Jadi kau masih rindu dengan kemesraan mereka?" hardik Li Peng tiba-tiba sambil mendelik.

Cepat-cepat Sik Tiong Giok menggoyangkan tangannya berulang kali. "Bukan, bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir kau telah salah membunuh orang baik."

Seperti memahami akan sesuatu, Li Peng segera berkata, "Ooooh, kau maksudkan Nona Huan? Jangan khawatir, saat ini dia sudah berada di Tebing Ci Im Gay di Bukit Pay Lau San!"

"Apa? Apakah dia tidak tertawan?" tanya Sik Tiong Giok keheranan.

"Tentu saja tidak. Secara diam-diam dia dilindungi oleh seorang rase hitam. Lagi pula, dia mempunyai seorang kekasih yang sangat memperhatikan nasibnya; dia memang jauh lebih berbahagia daripada aku." Ketika berbicara sampai di situ, suaranya segera berubah, bahkan terdengar amat sedih.

Sebagai seorang pemuda yang cerdik, sudah barang tentu Sik Tiong Giok memahami maksud perkataan Li Peng. Maka, sambil tertawa paksa, katanya, "Kulihat kalian berdua sama-sama cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, siapa pun tak ada yang lebih jelek daripada yang lain..."

"Apa?" seru Li Peng tertegun, "jadi kau tidak mengatakan aku jelek?"

Sik Tiong Giok segera tertawa. "Siapa bilang kau jelek? Dalam pandanganku, kau lebih hebat daripada Cu Siau Hong, bukankah begitu?"

Tiba-tiba saja Li Peng merasakan tubuhnya bergetar keras, kemudian sambil tertawa ia berseru, "Bagus sekali, rupanya kau telah berhasil menyelidiki keadaanku sejelas-jelasnya. Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?"

"Aaah, aku pun baru saja mengetahuinya. Andaikata tidak disinggung orang, mungkin sampai sekarang pun aku masih kena dikibuli."

"Cepat katakan, siapa yang begitu cerewet? Aaah, mungkin si Kalajengking Kecil. Baik, bila bertemu dengannya lagi pasti akan kujewer telinganya sampai merah."

"Kau jangan sembarangan menuduh orang baik. Siu Cing tidak pernah membicarakan persoalan tersebut denganku."

"Kalau begitu siapa yang memberitahukan soal ini kepadamu? Cepat katakan!"

"Kau," jawab Sik Tiong Giok sambil tertawa.

Tiba-tiba saja Li Peng melompat ke depan seraya berteriak, "Omong kosong, kenapa sih aku memberitahukan soal ini kepadamu?"

"Bukankah barusan kau mengumpat kawanan siluman perempuan itu memutarbalikkan kenyataan? Seandainya bukan Cu Siau Hong, lantas apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu?"

Seketika itu juga Li Peng terbungkam seribu bahasa. Terpaksa dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain. "Baiklah, anggap saja kau memang pintar. Mari kita segera berangkat, tempat ini bukan tempat yang aman." Sambil berkata, dia segera membalikkan badan dan berlari menelusuri sungai.

Sik Tiong Giok segera mempercepat larinya menyusul gadis itu, lalu bertanya sambil tertawa, "Adik Peng, kau belum bercerita kepadaku, bagaimana caramu meloloskan diri dari kurungan?"

"Sesudah berhasil menawanku, mereka telah memaksaku untuk menelan obat pembingung sukma buatan mereka."

"Waah, obat bius itu tidak boleh ditelan, sebab akibatnya orang bisa jadi linglung sehingga tidak akan mengenali sanak saudara sendiri," seru Sik Tiong Giok dengan gelisah.

Li Peng segera tertawa. "Tapi aku toh sudah menelan obat tersebut tanpa melawan!" katanya.

"Lalu mengapa kau tak terpengaruh oleh obat pembingung sukma itu?" tanya Sik Tiong Giok keheranan.

"Ya, aku berhasil menyelamatkan diri dari pengaruh obat tersebut berkat jasa bubuk obat Cau Hua San bikinan guruku. Obat itu memang khusus berkhasiat untuk melawan pengaruh obat pembingung sukma, mengerti?"

"Aku mengerti, kau pasti telah menelan bubuk Cau Hua San tersebut setelah dicekoki obat pembingung sukma itu hingga sama sekali tak terpengaruh, bukankah begitu?"

"Keliru besar," kata Li Peng sambil tertawa, "kalau seseorang sudah kehilangan kesadaran pikirannya, mana mungkin masih teringat untuk menelan obat penawarnya? Aku justru telah menelan obat penawar racun itu lebih dulu, kemudian baru berlagak keracunan, dan aku pun dikirim ke loteng kecil tersebut serta berdiam di sini."

"Lalu apa sebabnya kau bunuh habis mereka semua?"

"Merekalah yang datang kemari serta mengusirku pergi. Aku dengar mereka sedang mempersiapkan perangkap untuk menangkap kau, si serigala liar. Coba bayangkan saja, mana mungkin aku bisa berpangku tangan belaka setelah mengetahui akan hal ini?"

Sik Tiong Giok segera tertawa. "Untung saja ada kau yang menolongku, coba kalau kau benar-benar kehilangan pikiran serta tidak membunuh habis mereka semua, niscaya aku sudah mereka tangkap dalam keadaan hidup-hidup."

"Tapi apa jeleknya kalau sampai terpeleset dan terjatuh ke dalam pelukan mereka yang hangat?" goda Li Peng sambil tertawa.

"Nikmatnya sih memang nikmat, tapi kalau sampai merugikan nama baikku serta menggagalkan usaha besarku, kan rugi namanya."

Begitulah, sambil berbicara dan bergurau mereka berdua meneruskan perjalanannya ke depan. Entah berapa saat kemudian, ternyata mereka telah sampai di tengah sebuah hutan yang lebat.

Mendadak tampak bayangan kuning berkelebat lewat. Tahu-tahu dua orang lelaki berbaju kuning dan memakai topi berwarna kuning pula, dilengkapi sekuntum bunga menghiasi sisi rambutnya, telah memunculkan diri dari tempat persembunyiannya serta menghadang perjalanan mereka.

"Mau apa kalian?" bentak Sik Tiong Giok sambil memutar pedangnya, menciptakan sekilas cahaya perak yang menyelimuti udara.

"Kami dua bersaudara mendapat perintah untuk menyambut kedatangan Pangeran," jawab lelaki berbaju kuning yang berada di sebelah kanan.

Sik Tiong Giok segera mendengus dingin. "Hmm, andaikata aku tak mampu menembus kelima pos penjagaan kalian, tak mungkin kalian mau datang kemari untuk menyambut kedatanganku."

Sedangkan Li Peng yang berada di sisinya berseru pula sambil tertawa merdu, "Huuh... dua orang lelaki masa memakai bunga di sisi rambutnya? Tampang kalian macam banci itu hanya membuat orang geli saja."

Sik Tiong Giok segera berkata lagi, "Ehm, di dalam suratnya, Gi Liong Kuncu memang telah mengatakan: bunga merah menghiasi rambut, monyet raksasa menyambut tamu agung."

"Tapi mereka toh bukan monyet, mengapa ikut pula menyambut kita?" bantah Li Peng.

Lelaki berbaju kuning yang berada di sebelah kanan itu memperhatikan sekejap senjata yang digenggam kedua orang itu, lalu ujarnya dengan dingin, "Menurut peraturan yang berlaku di dalam Istana Gi Liong, barang siapa ingin menghadap maka tidak diperkenankan membawa secuil besi pun."

"Tapi kami berdua kan bukan anggota Gi Liong Kiong?"

"Tak terkecuali siapa pun, semua orang tak dapat melanggar ketentuan tersebut."

Sik Tiong Giok segera tertawa dingin. "Hmm, kalau aku tidak bersedia melepaskan senjata, mau apa kau?"

Lelaki berbaju kuning yang berada di sebelah kanan itu segera mendengus dingin, "Kuharap kalian berdua sedikitlah tahu diri. Kami telah mempersiapkan pengepungan yang sangat kuat di sekeliling hutan ini. Apabila kalian berani membangkang, itu berarti kalian ingin mati dengan bermandikan darah di atas tanah."

Tiba-tiba Sik Tiong Giok mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring, "Hahaha... kalau hanya persiapan semacam itu sih belum cukup untuk memecahkan nyaliku, huh! Kelima penjagaan kalian saja tak sanggup membendung terjanganku, apalagi cuma hutan kecil ini. Jangan sok main gertak sambal!"

Li Peng yang berada di sisinya segera menyambung pula, "Seandainya benar-benar ada jebakan di sekeliling ini, maka pertama-tama pedangku ini akan memenggal batok kepala kalian berdua terlebih dahulu."

Mendengar perkataan ini, kedua orang lelaki berbaju kuning itu segera bertukar pandangan sekejap, kemudian dengan nada suara yang berubah, mereka berkata, "Baiklah kalau toh kalian berkata begini, kami berdua pun tak akan memaksa lebih jauh. Ikutilah kami berdua, cuma... jangan menyesal nantinya..."

"Kalian cukup menjadi penunjuk jalan saja," sahut Sik Tiong Giok sambil tertawa, "sebagai seorang lelaki sejati, aku orang bermarga Sik berani berbuat, berani bertanggung jawab. Apa sih artinya menyesal itu?"

Kedua orang lelaki berbaju kuning itu tidak berbicara lagi. Mereka berempat pun berjalan menelusuri hutan, tapi anehnya justru hanya berputar-putar di sekeliling tempat itu saja. Hal ini segera menimbulkan kecurigaan dalam hati Sik Tiong Giok.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment