Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 14

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 14

Namun, sungguh aneh, betapapun ia berusaha mengerahkan segenap kekuatannya, perahu itu tidak bergerak sedikit pun. Tampaknya, jika kemudi perahu gagal dibelokkan, perahu tersebut akan segera menabrak karang. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika hal itu sampai terjadi.

Si tukang perahu bisa dibilang sangat berpengalaman dalam mengemudikan perahu. Namun, setelah menghadapi kejadian aneh itu, hatinya pun bergidik hebat hingga berkeringat dingin.

Ki Beng, yang menyaksikan kejadian tersebut, segera mendekati si tukang perahu dan berusaha membantunya mengendalikan perahu. Di tengah gulungan arus sungai yang deras, perahu itu meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu singkat, jaraknya dengan karang hanya tersisa dua puluh kaki.

Ki Beng segera mengangkat kepalanya. Namun, setelah melihat orang yang berada di atas karang sedang mengawasinya dengan sorot mata tajam, ia merasa bergidik. Akan tetapi, ia tidak sempat berpikir banyak. Mengingat perahu itu akan segera menabrak karang, tanpa berpikir panjang, ia menyambar kemudi dan membantingnya ke arah kiri.

Perlu diketahui, Ki Beng adalah keturunan keluarga persilatan. Sejak kecil, ia sudah berlatih ilmu silat. Baik tenaga dalam maupun tenaga luar, keduanya telah mencapai tingkatan yang luar biasa. Kekuatan lengannya boleh dikatakan mencapai ratusan kati. Namun, sungguh aneh, biarpun ia telah menggerakkan kemudi perahu itu dengan segenap tenaga, usahanya gagal total.

Kejadian ini dengan cepat menimbulkan rasa ingin menang di dalam hatinya. Tiba-tiba, ia membentak. Kekuatannya dikerahkan hingga mencapai dua belas bagian. "Kraaakkk!" Diiringi suara keras, kemudi perahu itu bukan berhasil dikembalikan arahnya, melainkan tertarik oleh kekuatannya hingga patah menjadi dua bagian. Dengan patahnya kemudi perahu, perahu itu oleng keras dan menerjang ke arah karang dengan kecepatan luar biasa.

Di tengah kepanikannya, Ki Beng seolah mendengar orang yang berada di atas karang itu tertawa dingin. Namun, ia tidak sempat berpikir lagi. Begitu teringat akan adiknya yang berada di dalam ruangan perahu, segera ia berteriak keras. "Adikku, cepat...!" Teriakan itu belum selesai ketika segulung ombak besar menenggelamkan perahu itu dan menyeretnya mengikuti arus.

Si tukang perahu terlihat bergerak-gerak muncul dari permukaan air, tetapi segulung ombak besar segera menyeretnya dan membawanya mengikuti arus. Sementara si nelayan kecil tadi lenyap entah ke mana, mungkin jenazahnya telah tenggelam ke dalam air.

Untung saja Ki Beng pernah belajar ilmu berenang. Meski tidak begitu sempurna, dikombinasikan dengan ilmu silat yang dimilikinya, ia menggunakan ilmu bobot seribu untuk memantapkan kedua kakinya di lantai perahu. Untuk beberapa saat di permulaan, hal ini memang mendatangkan manfaat sehingga tubuhnya tidak terseret oleh arus. Namun, lama-kelamaan, perahu yang sudah pecah itu semakin tenggelam ke dasar sungai. Dalam waktu singkat, air sudah meninggi sebatas pinggang. Dalam keadaan demikian, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tiba-tiba, dari atas batuan karang, ia kembali mendengar suara lolongan serigala yang panjang. Kemudian, seorang manusia aneh berkepala serigala melompat turun dari atas batu karang dan menerjang ke arah Ki Beng. Berkobar amarah Ki Beng menyaksikan hal tersebut. Ia segera bersiap-siap untuk beradu jiwa dengan musuhnya.

Siapa tahu ketika manusia aneh berkepala serigala itu sedang meluncur ke tengah sungai dengan jurus kecapung menutul air, entah apa yang terjadi. Tiba-tiba hawa murninya buyar dan tubuhnya segera terjun ke dalam air. Ki Beng tertegun menyaksikan kejadian tersebut. Sementara ia masih ragu, seluruh perahu itu sudah tenggelam ke dalam sungai, otomatis tubuhnya ikut tenggelam.

Pada dasarnya, ilmu berenang yang dimilikinya sudah mempunyai dasar yang sangat baik, hanya kurang matang saja. Itulah sebabnya, meskipun arus sungai deras, untuk sesaat tubuhnya tidak sampai terseret. Tiba-tiba ia teringat kembali dengan adiknya yang masih tertinggal dalam ruangan perahu. Dengan hati terkesiap, cepat-cepat ia menutup napasnya sambil menyusup ke dalam air. Dari sana, ia membuka matanya dan mencoba memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Segala sesuatunya terlihat agak samar, apalagi arus sungai begitu deras membuat pasir berterbangan di mana-mana. Dalam keremangan suasana, ia seperti melihat bangkai perahu itu terselip di antara batuan karang. Seketika itu juga ia menyusup ke dalam air dan berenang mendekati perahu tersebut. Dalam kegelisahannya, ia lupa bahwa sedang berada di air. Maksudnya, ia hendak berteriak memanggil adiknya. Siapa sangka, begitu mulutnya dibuka, air sungai segera menyusup masuk ke dalam perut.

Berada dalam keadaan begini, Ki Beng sungguh merasa amat sedih. Dalam hatinya, ia hanya berharap bisa menemukan adiknya sehingga mereka berdua bisa bersama-sama kembali. Begitulah, dengan tekad yang membara, ia lantas mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk berjuang menentang arus. Akhirnya, dengan susah payah, ia berhasil mendekati sebuah batu karang yang amat besar. Batu karang tersebut entah sudah berapa zaman berada di situ. Lumutnya tebal sekali dan sukar untuk dipegang. Namun, Ki Beng mencengkeramnya mati-matian. Dengan mempergunakan sisa tenaga yang dimilikinya, sejengkal demi sejengkal ia berusaha mendekati perahu yang tenggelam itu.

Setelah bersusah payah dan entah berapa besar tenaga yang telah dikeluarkan, akhirnya pemuda itu berhasil mendekati perahu tersebut. Dalam sekilas pandangan saja, ia telah menangkap pedangnya yang bersinar keemasan. Setelah memperoleh kembali pedangnya, pemuda itu meneruskan pencariannya ke dalam ruang perahu. Pencarian dilakukan dengan teliti sekali. Entah berapa saat kemudian, tiba-tiba ia melihat ada rambut manusia yang terombang-ambing arus. Penemuan ini membuat hatinya bergetar. Cepat-cepat ia mendekatinya. Ternyata Ki Soat Ji masih terkapar di ruang perahu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Buru-buru Ki Beng menyisipkan pedangnya ke pinggang, kemudian sambil menyeret Ki Soat Ji, selangkah demi selangkah ia bergerak meninggalkan dasar sungai.

Begitu muncul di atas permukaan, ia lantas melontarkan tubuh Ki Soat Ji ke darat, menyusul ia melompat pula keluar dari sungai. Tampak ombak sungai menggulung-gulung dengan derasnya, membuat siapa saja yang memandangnya merasa berdebar. Namun, setelah ia berhasil menyeka air dari wajah dan menengok ke arah darat, bayangan Ki Soat Ji ternyata lenyap tak berbekas.

Dengan hati terkesiap ia segera berteriak, "Adik Soat... adik Soat..." Ia berteriak berulang kali, namun tidak juga terdengar suara sahutan. Diam-diam pikirnya kemudian, "Jangan-jangan ia terjatuh kembali ke dalam air?" Berpikir demikian, ia bersiap-siap akan terjun kembali ke dalam air melakukan pencarian. Namun, sebelum sempat melakukan sesuatu, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang tertawa dingin, kemudian menegur dengan parau: "Bocah keparat, di mana adikmu?"

Bersamaan waktunya, ia mendengar pula ada suara orang sedang muntah-muntah, lalu samar-samar ada orang berseru: "Koko... koko..." Dengan cepat Ki Beng menghentikan langkahnya seraya berpaling. Ia menyaksikan adiknya sudah dicengkeram oleh seorang kakek kurus kecil. Tanpa berpikir panjang lagi, Ki Beng meloloskan pedangnya, kemudian membentak: "Ayo cepat lepaskan adikku!" Cahaya pedang berkilauan. Sebuah bacokan kilat langsung diarahkan ke tubuh kakek ceking tersebut.

Si kakek ceking itu mendengus dingin. Dengan cekatan ia menggeser ke samping, lalu berseru: "Bocah keparat, kau hendak bertarung?" Ki Beng sama sekali tidak menyahut. Gagal dengan serangannya, dengan cepat ia merubah gerakan pedangnya dan menyodok lagi ke muka dengan jurus membuat si tukang kayu. Kakek ceking itu sama sekali tidak gugup. Tangan kirinya diayunkan ke muka, langsung mencengkeram pedang yang mengancam tiba. "Jumawa amat kakek ini," pikir Ki Beng kemudian.

"Hmm, aku tidak percaya kalau telapak tanganmu itu bisa menandingi ketajaman mata pedangku!" Berpikir demikian, ia mengerahkan segenap kekuatannya ke dalam lengan, lalu sambil membentak keras, pedang tersebut digetarkan membentuk kuntum-kuntum bunga pedang yang langsung ditusukkan ke tubuh si kakek ceking itu. Sekali lagi kakek ceking itu tertawa dingin. Tangannya segera diayunkan ke muka, mengetuk ujung senjata tersebut. "Traaang!" Seketika itu juga Ki Beng merasakan seluruh lengannya menjadi linu dan kaku. Segulung kekuatan yang maha besar tiba-tiba menerjang ke arah dadanya, membuat napasnya menjadi sesak.

Tak ampun lagi, cengkeramannya pada gagang pedang mengendor dan, "Traaang!" Pedangnya terlepas dari cekalan. Sementara badannya mundur beberapa langkah, karena menginjak tempat kosong, tubuhnya langsung tercebur lagi ke dalam air. Mungkin lantaran kaget, Ki Beng tidak sempat menutup napasnya ketika tercebur. Bisa dibayangkan air sungai kontan saja meluncur masuk ke dalam mulutnya. Masih beruntung ia tidak sampai gugup menghadapi keadaan begini. Cepat-cepat ia menutup napas lalu mengaitkan kakinya pada batu cadas di dasar sungai tersebut. Dengan begitu, tubuhnya baru tidak sampai terseret oleh arus.

Tak selang berapa saat kemudian, ia kembali muncul di atas permukaan air. Namun, waktu itu tubuhnya sudah tergulung sejauh tiga empat kaki dari posisi semula. Dari kejauhan sana, ia mendengar jerit kesakitan dari Ki Soat Ji yang membuat seluruh tubuhnya mengejang keras. Mendadak ia membentak keras, lalu dengan sekuat tenaga berenang ke tepi sungai. Dalam beberapa lompatan saja, ia sudah tiba di depan kakek ceking itu dan menyodokkan tinjunya ke muka. Kakek ceking itu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment