Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 141

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 141

Namun, sungguh aneh sekali. Biarpun Sik Tiong Giok telah bergerak dengan kecepatan luar biasa, pemeriksaannya atas pohon besar itu membuahkan hasil nihil. Tak sesosok bayangan manusia pun ditemukan. Hal ini membuatnya membatin, "Sungguh memalukan!"

Pada saat itulah, terdengar kembali seseorang berbicara dengan suara dingin dan beku, "Telaga Gi Liong Oh merupakan wilayah terlarang bagi umat persilatan. Kau anggap tempat ini bisa didatangi setiap orang dengan seenak hatinya sendiri?"

Sik Tiong Giok melayang turun dari atas pohon, lalu memandang ke depan. Di bawah sebatang pohon besar, dua kaki di hadapannya berdirilah seorang manusia berbaju hitam.

Sambil tertawa dingin, pemuda itu berseru, "Heeh... heeh... heeh... Sobat, cepat amat gerakan tubuhmu!"

"Hmm, ilmu silat dari Gi Liong Oh tiada tandingannya di kolong langit. Apa yang kumiliki sekarang tak pantas untuk dibicarakan."

"Huuh, siapa pula yang bermaksud memuji? Padahal aku sendiri pun tidak memandang sekejap mata pun terhadap kemampuanmu. Aku hanya berniat memuji saja, siapa tahu kau lantas menganggapnya sungguh-sungguh... Tak tahu malu!"

"Silakan saja mencoba sendiri kalau kurang percaya. Cukup dengan hutan lebat ini pun sudah mampu membuatmu mampus karena keletihan."

"Aku tidak percaya." Seraya berkata, bahunya bergerak dan tiba-tiba saja ia menerjang maju ke muka. Kali ini dia bergerak dengan menggunakan ilmu kelitan serigala; gerakan tubuhnya amat cepat bagaikan sambaran kilat. Saat tangan kirinya berkelebat, ia sudah mencengkeram bahu manusia berbaju hitam itu.

Dengan cepat manusia berbaju hitam itu membalikkan tangannya. Dengan kelima jari yang dipentangkan bagaikan kaitan, dia balas mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kiri Sik Tiong Giok.

Tak terlukiskan rasa kaget Sik Tiong Giok menghadapi peristiwa ini. Cepat-cepat dia melompat mundur sejauh lima depa lebih, kemudian dengan terkejut bercampur keheranan ia berseru, "Kau... kau juga bisa menggunakan ilmu Long San Ki Na Jiu?"

"Hmm, cuma ilmu Ki Na Jiu yang begitu sederhana, apanya yang aneh dan luar biasa?" jengek manusia berbaju hitam itu dingin.

"Bagus, ingin kulihat kepandaian aneh apalagi yang kau miliki. Kenapa tidak sekalian kau pergunakan semua?"

"Asal kau berani memasuki hutan ini sedalam tiga kaki, akan kusuruh kau pergi mampus terkapar di tengah hutan."

Sik Tiong Giok segera tertawa, "Gertak sambalmu itu tak akan membuatku ketakutan dan mundur dari sini..."

"Kalau begitu, coba saja untuk menerjangnya!" Selesai berkata, dia segera berkelebat dan menyembunyikan diri kembali.

Sik Tiong Giok termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dengan pedang terhunus maju ke depan. Tiga kaki kemudian merupakan sebuah tanah kosong di tengah kurungan pepohonan, luasnya kurang lebih tiga sampai lima kaki persegi. Sinar rembulan menerobos masuk lewat celah-celah dedaunan dan secara lamat-lamat pemandangan di sekitar sana terlihat jelas. Dedaunan yang rimbun dan rerumputan nan hijau membuat suasana di sekitar sana terasa segar.

Sik Tiong Giok memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian meneruskan perjalanannya ke depan. Di saat dia mulai melalui tanah berumput inilah, tiba-tiba suara yang dingin dan kaku itu berkumandang lagi.

"Bocah keparat she Sik, saat ini kau sudah berada di tempat yang berbahaya. Hanya ada dua jalan yang bisa kau pilih."

"Dua jalan yang manakah itu?" tanya Sik Tiong Giok sambil menahan diri.

"Jalan pertama, kau harus menyerah kepada pihak Gi Liong Oh kami...!"

"Lebih baik cepat-cepat bunuh diri saja daripada mendatangkan banyak penderitaan bagimu."

Mendadak Sik Tiong Giok mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, "Haa... haa... haa... Sobat, apakah kau bermaksud menyampaikan dua patah kata tersebut dengan mengajakku masuk kemari? Terus terang kukatakan kepadamu, aku sudah mempunyai jalan pilihanku sendiri."

"Apa rencanamu?"

"Aku harus menyerbu ke dalam Gi Liong Oh dan bertemu dengan Gi Liong Kuncu. Ingin kuketahui siluman macam apakah dirinya itu."

Mendadak orang itu membentak dengan suara sedingin es, "Berhati-hatilah kau kalau berbicara."

Sik Tiong Giok tertawa, "Apa pula yang mesti kutakuti?" jengeknya.

Dengan penuh amarah orang itu membentak, "Hmm, jika kau berani sembarangan memperolok-olok dan mencemooh tuan putri kami, hati-hati kalau kucabut lidah dan gigimu."

"Huuh, aku rasa kalian tak akan memiliki kemampuan untuk berbuat demikian."

Orang itu semakin marah, "Hmm, sekarang kau sudah berada di tengah kepungan kami, berani betul berbicara macam itu?"

"Bila kau memang berkepandaian, lebih baik turun tangan saja selekasnya. Apa gunanya banyak berbicara yang tak berguna?" Sembari berkata, sorot matanya yang tajam segera memperhatikan sekejap sekitar tempat itu, tapi dengan cepat hatinya menjadi terperanjat. Ternyata di sekeliling tanah lapang berumput itu telah berdiri tiga puluh orang lelaki berbaju hitam. Mereka sedang bergerak menuju ke tengah arena dengan langkah pelan.

Di bawah sebatang pohon di kejauhan sana, berdirilah manusia berbaju hitam yang menyiratnya dengan tali tadi. Terdengar orang itu berseru sambil tertawa dingin, "Heeh... heeh... heeh... Aku lihat kau sedang mencari kematian buat diri sendiri."

Sik Tiong Giok segera tertawa, "Lebih baik jangan main gertak sambal yang tak ada gunanya. Kalau memang ingin menyelesaikan persoalan ini secepatnya, lebih baik turun tangan saja. Mari kita tentukan siapa yang lebih unggul di antara kita berdua."

Manusia berbaju hitam itu mendengus dingin. Dia segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melompat maju ke muka, bentaknya keras-keras, "Sambut dulu sebuah pukulanku ini!"

Menyusul bentakan itu, sebuah pukulan maha dahsyat yang disertai dengan desingan angin dingin langsung menerjang ke dada Sik Tiong Giok. Dalam pada itu, kawanan manusia berbaju hitam yang mengurung di sekeliling arena telah mengundurkan diri selangkah. Begitu melihat pertarungan telah berlangsung, terbukalah sebuah lapangan yang cukup luas.

Sik Tiong Giok tertawa dingin. Dia mengayunkan tangannya dan menyambut serangan tersebut dengan jurus keras lawan keras. Menyusul kemudian, tubuhnya berkelebat maju ke depan dan mendesak lebih jauh. Tangan kirinya diayunkan langsung menyambar kain kerudung hitam yang menutupi wajah orang itu.

Serta-merta manusia berbaju hitam itu menggerakkan tangan kirinya untuk menangkis, sementara jari tangan kanannya menotok jalan darah penting pada pergelangan tangan Sik Tiong Giok. Cepat-cepat Sik Tiong Giok menarik kembali tangan kirinya, sedang pedang di tangannya disapu ke muka dengan jurus "Menembusi Awan Memetik Rembulan". Ia langsung menyerang dada manusia berbaju hitam itu.

Menghadapi ancaman itu, cepat-cepat manusia berbaju hitam itu menggerakkan lengannya sambil menyapu ke bawah. Dia balas mencengkeram pergelangan tangan kanan Sik Tiong Giok yang menggenggam pedang itu. Kecepatan serangannya mengagumkan; perubahan jurusnya di luar dugaan lawan.

Mendadak Sik Tiong Giok merendahkan pergelangan tangan kanannya ke bawah untuk menghindarkan diri dari cengkeraman lawan, menyusul pedangnya menusuk dari samping dengan jurus "Mencuri Tirai Menjahit Pakaian". Di antara berkelebatnya cahaya tajam, muncul empat-lima kuntum bunga pedang yang secara langsung menyambar pergelangan tangan kiri lawan.

Ketajaman pendengaran manusia berbaju hitam itu benar-benar mengagumkan. Baru saja Sik Tiong Giok mengubah gerakan serangannya, tahu-tahu dia sudah menarik kembali tangan kirinya ke belakang.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Sik Tiong Giok, pikirnya, "Gerak-gerik dari orang ini terasa amat kukenal. Heran, kenapa dia pun bisa melakukan gerakan dengan ilmu silat aliran dari Bukit Serigala?"

Berpikir demikian, tiba-tiba saja pedangnya berubah gerakan. Secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan secara berantai. Dalam waktu singkat, cahaya pedang berkilauan di seluruh angkasa dan membiaskan selapis bunga pedang yang secara terpisah menyergap beberapa buah jalan darah penting di tubuh manusia berbaju hitam itu.

Tampak manusia berbaju hitam itu menggerakkan tubuhnya dengan suatu gerakan yang aneh sekali. Ternyata secara mudah sekali dia berhasil meloloskan diri dari ketiga serangan berantai dari Sik Tiong Giok. Bersamaan waktunya, telapak tangan kiri dan jari tangan kanannya menyerang bersama-sama.

Kedua orang itu sama-sama bertarung dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu singkat, tujuh-delapan gebrakan sudah lewat, namun menang-kalah masih susah ditentukan. Sementara itu, makin menyaksikan gerak-gerik lawannya, Sik Tiong Giok merasa semakin keheranan. Mendadak satu ingatan melintas di dalam benaknya; ia teringat akan seseorang, hal mana membuat hawa amarahnya langsung saja berkobar.

"Cu Bu Ki!" segera bentaknya keras-keras. "Rupanya kau telah berpihak kepada Gi Liong Kuncu. Hmm, setelah bertemu kembali hari ini, aku tak dapat mengampuni dirimu lagi."

Di tengah bentakan, tiba-tiba permainan pedangnya berubah. Dalam sekejap mata, cahaya tajam berkilauan di seluruh angkasa, hawa pedang menyelimuti angkasa, segulung tenaga serangan yang maha dahsyat langsung saja menerjang ke depan.

Ketika mendengar suara bentakan Sik Tiong Giok tadi, manusia berbaju hitam itu kelihatan agak tertegun, dengan cepat dia kehilangan peluang baiknya. Berhasil dengan serangan pedangnya, Sik Tiong Giok segera menyusul dengan serangkaian serangan lainnya. Di tengah berkuntum-kuntum bunga pedang yang beterbangan di angkasa, mendadak muncul sekilas cahaya tajam yang langsung mengancam sembilan buah jalan darah penting di tiga bagian tubuh manusia berbaju hitam itu.

Apa yang diduga oleh Sik Tiong Giok memang benar, manusia berbaju hitam itu bukan lain adalah si Rasul Serigala Langit, Cu Bu Ki. Setelah identitasnya berhasil diketahui lawannya, dia jadi tertegun dan segera terjerumus ke dalam posisi yang berbahaya sekali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment