Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 142

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 142

Tampaknya dia sadar bahwa sukar baginya untuk menghindarkan diri dari serangan lawan. Dalam kegelisahannya, tiba-tiba dia melakukan gerakan mendayung dengan lengan kanannya, lalu menerobos masuk ke balik kabut pedang yang berkilauan itu.

Jurus serangan ini tidak lain adalah jurus ketiga dari dua belas ilmu cacat yang disebut "Bidikan Busur Menembusi Langit", suatu jurus serangan yang khusus dipakai untuk merampas senjata lawan dalam keadaan bahaya. Tujuannya untuk mengubah posisi berbahaya menjadi menguntungkan.

Sayang sekali dia bertemu dengan seorang ahli dalam ilmu dua belas cacat tersebut, ditambah lagi jurus serangan dari ilmu *Tay Cou Cap Pwee Ta* justru merupakan tandingan dari ilmu tersebut.

Bayangkan saja, bagaimana mungkin dia bisa berhasil? Mendadak saja cahaya pedang yang menyelimuti angkasa lenyap tak berbekas, disusul kemudian percikan darah segar berhamburan ke mana-mana.

Terdengar Cu Bu Ki menjerit kesakitan. Tiba-tiba tubuhnya melejit sejauh delapan depa lebih dari posisi semula, badannya sempoyongan, kemudian roboh terjungkal ke atas tanah.

Semua jago yang berada di sekeliling arena dapat mengikuti kejadian tersebut dengan amat jelas. Mereka melihat bahwa salah satu lengan Cu Bu Ki telah terpapas buntung. Kini orangnya tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah dengan bermandikan darah segar.

Namun, tak seorang pun di antara mereka yang berusaha menolongnya. Semua orang berdiri dengan sikap acuh tak acuh, seolah-olah tidak pernah melihat terjadinya peristiwa itu. Posisi mereka tetap mengurung Sik Tiong Giok di tengah arena.

Dengan pandangan mata yang tajam, Sik Tiong Giok memandang sekejap wajah kawanan jago itu. Katanya sambil tertawa nyaring, "Ular tanpa kepala tak akan berjalan. Kalian telah kehilangan pemimpin. Bila sampai bertarung nanti, jangan harap kalian semua mampu membendung ketajaman pedangku ini."

Kawanan lelaki berbaju hitam itu tetap membungkam seribu bahasa, tetapi mereka tetap maju selangkah demi selangkah menuju ke tengah arena. Mendadak Sik Tiong Giok mengerutkan kening, lalu sambil berpekik nyaring, ia memutar pedangnya dan menerjang maju ke depan.

Apa yang diduga ternyata benar. Setelah Cu Bu Ki menderita luka parah, kawanan manusia berbaju hitam itu kehilangan pemimpin sehingga barisan mereka pun tak mampu lagi memperlihatkan daya pengaruh yang diharapkan.

Di saat Sik Tiong Giok melancarkan serangkaian serangan yang gencar itulah, barisan lawan segera kocar-kacir tak karuan. Selama beberapa hari belakangan ini, Sik Tiong Giok sudah banyak menghadapi ancaman berbahaya. Ia tahu untuk menghadapi kawanan manusia tersebut, ia tak perlu berbelas kasihan.

Mendadak ia membentak dengan suara keras, "Siapa yang berani menghalangiku, mampus!" Di tengah bentakan, gerakan pedangnya segera berubah. Tampak selapis cahaya tajam yang berkilauan menyapu ke depan, langsung melancarkan serangan yang mematikan.

Sesungguhnya barisan dari kawanan lelaki berbaju hitam itu sudah kalah sedari tadi. Ditambah pula dengan gertakan Sik Tiong Giok yang cukup meluluhkan semangat, tak heran kalau mereka semua jadi gugup dan gelagapan.

Terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang silih berganti. Percikan darah segar pun berhamburan di mana-mana, menodai seluruh permukaan tanah. Tampaknya sepasang mata Sik Tiong Giok sudah merah karena nafsu membunuh. Cahaya tajam berkilauan di mana-mana, pedangnya diayunkan berulang kali, percikan darah segar dan hancuran daging tubuh segera berhamburan.

Dalam waktu singkat, belasan orang lelaki berbaju hitam itu telah dibantainya secara kejam dan terbukalah sebuah jalan berdarah yang membuat pemuda itu lolos dari kepungan.

Dengan berlangsungnya pertarungan sengit ini, tampaknya Sik Tiong Giok telah melampiaskan pula rasa mangkel dan mendongkol yang telah ditahan selama beberapa hari. Menyaksikan korban yang bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan mengerikan itu, dia malah merasa tak tega sendiri, sehingga tak kuasa lagi dia mengembuskan napas panjang.

Belum habis embusan napas itu lewat, mendadak terdengar seseorang berseru sambil tertawa nyaring, "Tak heran kalau namamu bisa menggemparkan seluruh dunia persilatan begitu muncul. Tampaknya kau, si Pangeran Serigala, memang bukan orang bodoh."

Dengan perasaan terkejut, cepat-cepat Sik Tiong Giok membentak, "Siapakah kau?"

"Aku hanya seorang anggota Gi Liong Oh. Buat apa kau tanyakan soal ini lagi?" sahut orang itu sambil tertawa.

Menyusul perkataan itu, dari balik sebatang pohon besar muncul seorang sastrawan berusia pertengahan yang berwajah tampan dan melangkah lembut. Pelan-pelan dia berjalan menuju ke hadapan Sik Tiong Giok. Berada dalam keadaan begini, tentu saja si anak muda tersebut tidak membiarkan orang itu mendekatinya, apalagi status musuh atau teman belum jelas.

Dengan suara keras, tiba-tiba saja pemuda itu membentak, "Berhenti! Bila kau berani mendekat lagi, jangan salahkan kalau aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi kepadamu."

Sastrawan berusia pertengahan itu maju lagi sejauh lima depa sebelum menghentikan langkahnya. Sambil tertawa dia berkata, "Buat apa kau merasa takut..."

"Aku sama sekali tidak takut, cuma aku perlu waspada dan berjaga-jaga terhadap orang-orang Gi Liong Oh. Bukankah kalian semua licik dan tidak bisa dipercaya?"

Sastrawan berusia pertengahan itu tertawa. "Sejak memasuki wilayah Gi Liong Oh, kau berhasil menembusi lima pos penjagaan dan tiga tempat berbahaya kami. Kemampuan yang telah kau perlihatkan ini benar-benar membuat orang merasa amat kagum."

"Ah, kepandaianku tidak seberapa, belum terhitung apa-apa," jawab Sik Tiong Giok tertawa.

Mendadak sikap si sastrawan berusia pertengahan itu berubah menjadi kaku. Nada suaranya juga berubah menjadi dingin. Sambil menuding ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan di atas tanah lapang itu, serunya, "Apakah orang-orang itu mati di tanganmu?"

"Dalam suatu pertarungan, senjata tak bermata. Tentu saja di satu pihak akan jatuh korban. Apa sih yang kau herankan dengan situasi semacam ini?"

"Tahukah kau dengan peraturan dari Gi Liong Oh kami?"

"Aku tidak perlu tahu, tapi aku tebak di bawah pimpinan kaum iblis, tak mungkin mempunyai peraturan yang baik."

Sastrawan berusia pertengahan itu segera tertawa dingin. "Apakah kau bermaksud untuk bertemu dengan tuan putri kami?"

"Aku datang untuk memenuhi janji, sudah barang tentu harus bertemu dengannya."

"Tapi kau telah membunuh para busu pelindung hukum dari Gi Liong Oh. Aku rasa tidak gampang bagimu untuk bertemu dengan tuan putri kami."

Sik Tiong Giok tertawa dingin, serunya, "Semua persoalan yang telah kuputuskan biasanya jarang sekali berubah kembali."

"Kalau begitu, kau harus memenangkan diriku lebih dahulu."

"Apa yang harus kita pertandingkan?"

"Baik ilmu silat maupun ilmu sastra, main khim, main catur, melukis, dan membaca syair, terserah pilihanmu sendiri. Pokoknya aku akan mengiringi semua keinginanmu itu."

"Wah, tampaknya besar juga bacotmu itu!" jengek Sik Tiong Giok sambil tertawa dingin.

"Kau pun tidak usah kelewat sombong dengan kemampuan yang kau miliki itu."

Sik Tiong Giok tertawa. "Buat apa kita mesti membuang waktu dengan berbicara yang tidak-tidak? Aku ingin sekali mencoba kehebatan dari ilmu silatmu itu."

"Bagus sekali, kalau begitu turun tanganlah lebih dulu!" kata sang sastrawan sambil tertawa.

"Seorang tamu yang baik tak akan mendahului tuan rumah. Lebih baik kau keluarkan senjatamu lebih dulu!"

Sastrawan berusia pertengahan itu segera tertawa dingin, "He-he-he... semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah aku menggunakan secuwil besi pun. Biar kupergunakan sepasang tanganku ini untuk bertarung dengan ilmu pedangmu itu."

"Kalau toh Saudara enggan menggunakan senjata, aku tebak dalam permainan ilmu pukulan pasti memiliki kelebihan yang luar biasa. Baiklah, kalau begitu aku pun tak akan sungkan-sungkan lagi."

"Mengapa tidak menyerang saja secara langsung?"

"Baik!" sahut Sik Tiong Giok.

Dengan cepat pedangnya digetarkan ke depan lalu menusuk dengan jurus "Burung Bangau Merentangkan Sayap". Sastrawan berusia pertengahan itu segera menggerakkan tangannya secara berantai. Tangan kirinya berputar sambil menyerang, sementara tangan kanannya melepaskan pukulan tanpa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Jelas dia memandang enteng lawannya dan tidak memandang sebelah mata pun terhadap kemampuan anak muda tersebut.

Sik Tiong Giok mendengus dingin. Mendadak permainan pedangnya dipercepat. Selapis cahaya tajam segera menyelimuti seluruh angkasa dan mengurung tubuh si sastrawan berusia pertengahan itu rapat-rapat.

Agaknya sastrawan berusia pertengahan itu sama sekali tidak menyangka kalau gerak serangan pedang dari Sik Tiong Giok dapat bergerak secepat itu. Cepat-cepat dia melompat mundur ke belakang, tangan kanannya melakukan gerakan melingkar di depan dada, lalu didorong ke depan.

Seketika itu juga Sik Tiong Giok merasakan segulung tenaga pukulan yang mahadahsyat meluncur ke muka dengan hebatnya membendung gerakan pedangnya. Bukan cuma begitu, hal ini membuatnya amat terkesiap. Cepat-cepat dia menghimpun hawa murninya dan secara berantai pedangnya melakukan sapuan ke depan.

Waktu itu, dia telah menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke dalam ujung pedang. Dengan begitu, di saat pedangnya melancarkan serangan, teriringlah selapis angin pedang yang tajam dan kuat menyapu ke muka.

Setelah mengetahui akan kehebatan lawannya, si sastrawan berusia pertengahan tak berani lagi memandang enteng lawannya. Sorot matanya segera berkilat dan memancarkan sinar tajam. Sudah jelas dia telah meningkatkan kewaspadaan hatinya.

Bukan cuma begitu, jurus-jurus serangan yang kemudian dipergunakan juga dilancarkan dengan lebih berhati-hati serta saksama.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment