Chapter 143
Tangan lawan bergerak lincah; sesekali memukul dengan jurus telapak tangan, sesekali menotok dengan jari. Semua serangan itu ditujukan ke arah urat nadi pada pergelangan tangan kanan Sik Tiong Giok yang sedang menggenggam pedang.
Begitu pertarungan berkobar, dalam waktu singkat tiga puluh jurus telah terlewati, namun siapa yang menang dan siapa yang kalah masih sukar ditentukan.
Sik Tiong Giok mendengus, lalu berkata tiba-tiba, "Hmm, ternyata kau memiliki ilmu silat yang cukup hebat dan luar biasa." Sastrawan berusia paruh baya itu tertawa dingin dan menyahut, "Terbukti kau mampu bertahan sebanyak tiga puluh gebrakan di tanganku tanpa menderita kalah. Nyata juga bahwa kemampuanmu setaraf dengan seorang jago kelas satu dalam dunia persilatan." Sik Tiong Giok tersenyum, "Apakah kau mempunyai keyakinan untuk menang?"
"Aku yakin kau pun tidak memiliki kemampuan untuk mengalahkan diriku."
"Hmm, aku justru akan mengalahkan kau dalam sepuluh jurus dan mencabut nyawamu dalam dua puluh jurus. Percayakah kau?"
"Perkataanmu itu sungguh membuat aku sukar untuk percaya," sahut sastrawan itu dingin.
Kembali Sik Tiong Giok tertawa. "Baik, kalau begitu bersiaplah untuk menerima serangan!" katanya. Sembari berbincang-bincang, pertarungan sama sekali tidak berhenti. Kedua orang itu bertarung lagi sebanyak belasan jurus tanpa diketahui siapa yang unggul.
Ketika Sik Tiong Giok selesai bicara, mendadak ia menarik kembali serangannya sambil mundur sejauh lima depa dari posisi semula. Begitu berdiri tegak, perlahan pedangnya diangkat ke atas. Dari pancaran sinar mata Sik Tiong Giok yang tajam dan berkilauan, sastrawan paruh baya itu dapat menyaksikan betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki anak muda tersebut. Hatinya terkesiap, pikirnya, "Tampaknya bocah ini benar-benar mampu mengalahkan aku dalam sepuluh gebrakan. Mungkin tiada manusia kedua di dunia ini yang mampu mengungguli dirinya lagi." Sementara ia masih berpikir, tampak olehnya Sik Tiong Giok telah menggerakkan pedang dengan jurus 'hawa ungu datang dari timur', langsung menusuk ke dadanya.
Sastrawan itu sudah waspada sedari tadi. Tentu saja ia tidak berani berayal lagi. Sambil bergeser selangkah ke samping, tangan kanannya diayunkan ke depan, mencengkeram pergelangan tangan kanan lawan. Tiba-tiba Sik Tiong Giok menggerakkan pergelangan tangan kanannya ke bawah, lalu secara mendadak pedangnya membalik ke atas sambil melancarkan tusukan. Rupanya ia sudah menaruh kewaspadaan terhadap kemampuan lawan; ia tahu jurus pedang biasa tak akan melukai sastrawan itu. Oleh sebab itu, saat pedangnya membalik, ia mengubah gerakan di tengah jalan.
Sebaliknya, sastrawan paruh baya itu merasa sangsi setelah menyaksikan gerakan aneh Sik Tiong Giok. Begitu melihat pedang lawan membalik ke atas, ia cepat-cepat mengundurkan diri untuk menghindar. Melihat musuhnya mundur, Sik Tiong Giok segera memanfaatkan kesempatan untuk mendesak maju; pedangnya ditusukkan dari kejauhan. Nyata sekali sastrawan itu belum melihat letak kehebatan jurus ini. Baru saja ia tertegun, Sik Tiong Giok sudah mendesak ke depan sambil melancarkan serangan.
Dalam keadaan terdesak, telapak tangan kanan sastrawan itu diayunkan ke depan melepaskan pukulan dahsyat, sedangkan tubuhnya berkelit ke sisi kiri. Siapa sangka, belum lagi kakinya berdiri tegak, pedang Sik Tiong Giok—tanpa bergeser sedikit pun dari posisinya—telah menempel di atas jalan darah penting di dadanya. Hal ini membuatnya amat terperanjat. Dengan cepat ia menghindar ke samping lalu membacokkan sepasang telapak tangannya berulang kali. Biarpun sudah mengayunkan tangan beruntun dan menghindar dengan gerakan cepat, pedang Sik Tiong Giok seperti besi sembrani; menempel terus di depan dadanya. Kejadian ini mengejutkan sastrawan itu. Di samping rasa ngeri, ia menggertakkan gigi dan mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia melancarkan dua puluh empat pukulan berantai dan menghindar ke dua belas posisi yang berbeda. Namun, ujung pedang Sik Tiong Giok seakan-akan sudah menempel dengan tubuhnya. Ke mana pun ia menggeser, ujung pedang tersebut tetap tak bergerak dari dadanya.
Lambat laun, keringat dingin membasahi wajah sastrawan itu. Sambil tersenyum, Sik Tiong Giok berkata, "Walaupun kau telah melancarkan dua puluh pukulan, jurus pedang yang kugunakan hanya lima gerakan saja. Tampaknya untuk mencabut nyawamu, aku tidak usah menunggu sampai dua puluh jurus lagi." Mendengar itu, sastrawan tersebut bergidik. Ia sadar apa yang dikatakan lawannya benar, namun ia tidak sudi mengaku kalah begitu saja. Sebab, kaum persilatan pada umumnya memiliki penyakit yang sama, yakni terobsesi pada 'nama besar'. Bagi mereka, lebih baik jiwa melayang daripada nama baik hancur. Itulah sebabnya sastrawan tersebut mendengus dingin.
Sambil tertawa, Sik Tiong Giok berkata, "Tampaknya sebelum melihat peti mati kau tak akan menangis. Nah, sambutlah seranganku ini!" Di tengah bentakan keras, pedangnya meluncur ke depan dengan jurus 'ikan terbang belut melompat'. Dalam waktu singkat, selapis cahaya hijau yang disertai bunga pedang memancar ke mana-mana. Kontan saja sastrawan itu dibuat kalang kabut. Dengan mengerahkan sisa kekuatan, ia melepaskan dua pukulan untuk membendung ancaman, sementara tubuhnya mundur. Cahaya tajam kembali berkilauan; mata pedang mendesak ke depan dan mengurung tubuhnya rapat-rapat.
Dalam terkejut dan ngeri, sastrawan itu menyodokkan tangan kanannya ke muka dengan jurus 'melukis naga membuat mata'. Dalam sekejap, serangan jarinya tergulung oleh hawa pedang si anak muda yang luar biasa itu. Dalam gugup dan takut, muncul ingatan untuk melarikan diri. Cepat-cepat ia menarik hawa murninya sambil menjatuhkan diri ke belakang, berniat kabur dari balik kabut pedang dengan gerakan 'ikan leihi melentik'. Siapa tahu, gerakan pedang Sik Tiong Giok jauh lebih cepat. Sebelum ia sempat menjatuhkan diri, cahaya tajam telah menyambar lewat. Sastrawan itu merasa hawa dingin menyambar di atas kepalanya. Ia menarik kepalanya ke bawah, namun batok kepalanya sudah terasa dingin. Untung saja Sik Tiong Giok masih punya welas asih; sambaran pedangnya hanya memapas rambutnya. Seandainya dua inci lebih ke bawah, niscaya kepala sastrawan itu sudah terbelah menjadi dua bagian.
Begitu berhasil, Sik Tiong Giok menarik serangannya dan tertawa, "Sampai sekarang aku hanya menggunakan lima jurus. Tahukah kau apa sebabnya aku berbelas kasih kepadamu?" Setelah rambutnya tersambar pedang hingga rontok, sastrawan itu merasa lemas. Rambutnya kusut, matanya terbelalak, dan ia mengawasi Sik Tiong Giok dengan tertegun tanpa bicara.
Sik Tiong Giok berkata lagi, "Maksudku tak lain agar kau bisa membawaku pergi menjumpai Gi Liong Kuncu."
Sastrawan itu menghela napas, "Nyata sekali kepandaian silat yang dimiliki pangeran cilik memang luar biasa. Baiklah, ikutilah aku!" Ia membalikkan badan dan beranjak pergi dengan langkah lebar. Sik Tiong Giok segera menyusul di belakangnya sambil tertawa, "Sebenarnya kepandaian silat yang kau miliki pun terhitung lumayan. Sayang sekali kau justru menggabungkan diri dengan kaum sesat. Patut disayangkan!" Sastrawan itu merasa amat mendongkol, ia tidak menggubris ocehan Sik Tiong Giok dan terus berjalan dengan langkah cepat.
Setelah menempuh perjalanan berliku sejauh beberapa li, mereka keluar dari hutan siong dan di depan mata terentang sebuah telaga yang sangat besar. Fajar telah menyingsing di ufuk timur; matahari yang memancarkan sinar keemasan memercikkan pantulan cahaya yang tajam di atas permukaan air. Di tengah telaga terdapat sebuah bukit kecil dengan beberapa bangunan rumah. Sambil menunjuk ke arah sana, Sik Tiong Giok berkata, "Istana Gi Liong Kiong tentu terletak di atas bukit di tengah telaga, bukan?"
Sastrawan itu membungkam, lalu tiba-tiba bersuit nyaring. Dengan bergemanya suara itu, muncul sebuah sampan yang bergerak cepat mendekati tepi pantai. Dengan suara dingin, sastrawan itu berseru, "Cepat bawa pangeran ini menyeberang telaga!" Di ujung sampan berdiri seorang nona cantik berbaju hijau. Ketika mendengar perintah tersebut, ia menyahut, "Budak mengerti!" Sastrawan itu membalikkan badan, "Silakan pangeran naik ke atas kapal!" Sik Tiong Giok ragu-ragu sejenak, tapi dengan cepat ia melompat naik ke atas sampan.