Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 144

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 144

Dengan cepat, nona berbaju hijau itu mendayung sampannya dan melaju ke tengah telaga, membelah gulungan ombak.

Sampan itu sudah bergerak puluhan kaki lebih, tetapi sikap nona berbaju hijau itu tetap acuh tak acuh, seakan-akan kehadiran Sik Tiong Giok di sana sama sekali tidak dianggap. Suasana hening mencekam menyelimuti tempat itu.

Sik Tiong Giok benar-benar tidak sabar. Tiba-tiba, ia berkata kepada nona berbaju hijau itu sambil tertawa, "Bolehkah aku tahu siapa namamu? Dan bangunan di atas bukit di tengah telaga itu, apakah benar Istana Gi Liong Kiong?" Nona berbaju hijau itu membungkam seribu bahasa. Ia hanya terus mengayuh sampan tanpa henti, jangankan menjawab pertanyaan Sik Tiong Giok, menoleh pun tidak.

Beberapa kali Sik Tiong Giok mengulangi pertanyaannya, tetapi setiap kali tidak memperoleh tanggapan sebagaimana mestinya. Lama-kelamaan, pemuda itu sadar bahwa lawannya memang sengaja tidak menggubris dirinya.

Setelah berpikir sejenak, mendadak ia menjerit kaget, "Hei, siapa pula nona berbaju merah itu?" Nona berbaju hijau itu tampak terkejut oleh teriakan tersebut. Cepat-cepat ia berpaling dan celingukan ke sana kemari, tetapi suasana di sekitar sana tetap hening, tidak ada sesosok bayangan manusia pun yang tampak.

Tak kuasa menahan diri, ia mendelik ke arah Sik Tiong Giok sambil menegur, "Hei, bersikaplah lebih jujur!"

"Kalau dugaanku tidak keliru, orang-orang yang mengenakan pakaian hijau seperti kau ini tentu mempunyai kedudukan yang paling rendah di dalam Istana Gi Liong Kiong. Selanjutnya urutannya pasti baju merah, baju kuning, dan Gi Liong Kuncu sendiri mengenakan pakaian berwarna hitam."

Nona berbaju hijau itu kelihatan amat terperanjat mendengar perkataan itu. Dengan suara dingin, ia segera berseru, "Dari mana kau dengar kesemuanya ini? Apakah pelindung hukum di tepi telaga yang memberitahukannya kepadamu? Hmm, aku lihat dia sudah hampir mampus."

"Eeeei, kau jangan menuduh orang baik-baik secara sembarangan," seru Sik Tiong Giok sambil tertawa. "Kesemuanya ini hanya hasil dugaanku sendiri."

"Ehmm, tak nyana kau secerdik itu!"

Kembali Sik Tiong Giok tertawa, "Terima kasih banyak atas pujianmu. Sesungguhnya aku bisa menduga kalau Gi Liong Kuncu pasti memakai baju hitam karena kunilai dia adalah seorang yang misterius dan berhati kejam; biasanya manusia yang hatinya hitam paling gemar memakai baju berwarna gelap."

"Lebih baik jangan berceloteh yang bukan-bukan. Hati-hati kalau ada halilintar yang akan memotong lidahmu. Jangan membuat Istana Gi Liong Kiong sebagai tempat kuburan untuk selamanya," kata nona berbaju hijau itu dingin.

"Setiap pesilat pasti mendambakan tempat kubur yang ideal dan indah baginya. Bila aku mesti mati di sini, hatiku pun amat puas, apalagi ditemani gadis-gadis cantik macam kalian..." Ketika berbicara sampai di situ, tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan, "Apakah Gi Liong Kuncu berwajah cantik?"

Mendadak nona berbaju hijau itu membentak nyaring, "Sekali lagi kuperingatkan kepadamu, hal-hal yang tak pantas dipertanyakan lebih baik jangan kau tanyakan."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak sampan itu bergetar keras. Ternyata sampan tersebut telah menumbuk sebuah batu karang.

Baru saja Sik Tiong Giok hendak bertanya lagi, nona berbaju hijau itu sudah membentak lebih dulu dengan suara dingin, "Silakan naik ke daratan!"

Sik Tiong Giok mengalihkan pandangan matanya dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu. Ternyata di hadapannya terbentang dinding batu karang yang amat terjal; pada hakikatnya tiada jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai puncak tebing itu.

Tanpa terasa ia bertanya dengan wajah keheranan, "Di sini sama sekali tidak tersedia jalanan, apa maksudmu menyuruh aku turun di sini?"

Tiba-tiba tersungging sekulum senyuman di wajah nona berbaju hijau itu setelah mendengar perkataan tadi. Akan tetapi, saat sorot matanya beradu dengan Sik Tiong Giok, mendadak mukanya berubah lagi menjadi dingin dan kaku seperti es. Ujarnya dingin, "Huuuh, katanya saja pintar, tak tahunya bodoh sekali. Mengapa kau lupa dengan ucapan yang berbunyi 'Merambat rotan naik ke tebing...'?"

Satu ingatan segera melintas dalam benak Sik Tiong Giok sehabis mendengar perkataan ini. Cepat ia melompat naik ke atas sebuah batu besar kemudian memeriksa dinding batu itu dengan saksama. Benar juga, di sepanjang dinding itu penuh ditumbuhi pepohonan rotan liar; daun yang lebat menutupi sebuah mulut gua di bawahnya.

Setelah berpikir sejenak, ia segera mengambil ancang-ancang dan melompat ke depan. Begitu masuk ke dalam gua, di sana terbentang undak-undakan dengan tiga huruf besar sekali: GI LIONG KIONG. Sik Tiong Giok mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian meneruskan perjalanannya dengan menaiki tangga batu tersebut.

Tatkala ia sudah mencapai anak tangga yang terakhir, mendadak kakinya terpeleset sehingga tanpa sadar tangannya segera menyambar dinding batu untuk berpegangan. Siapa sangka, begitu sepasang tangannya memegang dinding batu itu, tiba-tiba berkelebat sinar kuning yang menyilaukan mata dan langsung menjerat sepasang tangannya.

"Criiiing...!"

Ternyata benda kuning itu membelenggu pergelangan tangannya erat-erat; jelas merupakan sebuah alat borgol. Sementara Sik Tiong Giok masih terperanjat, tahu-tahu bahunya sudah dicengkeram sebuah tangan, disusul seseorang yang berkata dengan suara nyaring, "Setiap orang yang ingin memasuki Istana Gi Liong Kiong dilarang membawa senjata tajam. Tak nyana kau berani sekali melanggar peraturan yang berlaku di istana kami."

Di dalam kagetnya, Sik Tiong Giok segera merasakan tubuhnya menjadi lemas dan sama sekali tak mampu bergerak. Saat itulah ia merasa pedangnya diloloskan oleh orang tersebut, menyusul kemudian sepasang tangannya ditelikung ke belakang serta diborgol dengan borgol emas. Setelah itulah ia baru dilepaskan tanpa ditotok jalan darahnya.

Menanti Sik Tiong Giok berpaling, ia segera mengenali orang itu sebagai seorang nona berbaju merah. Saking jengkelnya, ia segera mendengus sambil berseru, "Beginikah cara kalian orang-orang Gi Liong Kiong dalam menyambut tamunya?"

Nona berbaju merah itu segera tersenyum, "Seandainya aku tidak berbuat begini, bagaimana mungkin kau akan menuruti perkataanku? Ayolah, ikuti diriku!"

"Kau hendak mengajakku ke mana?"

"Bukankah kau hendak berjumpa dengan tuan putriku?"

"Dia berada di mana?"

"Di atas Pagoda Tuan Hun Kek dalam Istana Gi Liong Kiong ini."

Sik Tiong Giok segera mendengus dingin, "Oooh, rupanya ia berdiam dalam Pagoda Pemutus Sukma. Nama ini betul-betul membuat hati orang bergidik. Aku tebak ia pasti seorang manusia latah yang sudah sedikit sinting!"

"Hey... kuanjurkan kepadamu, lebih baik berhati-hatilah kalau berbicara di tempat ini."

Sik Tiong Giok segera tertawa. "Sekarang mati hidupku sudah berada di tangan kalian. Tanpa berbicara pun aku tidak bisa mempertahankan hidupku, apa salahnya kalau aku berbicara sebanyak mungkin sebelum mati?"

Nona berbaju merah itu melotot sekejap ke arahnya, kemudian membalikkan badan dan sama sekali tidak menggubris lagi. Sik Tiong Giok sendiri pun mati kutu saat itu, terpaksa ia harus mengikuti di belakang nona itu dengan mulut membungkam.

Setelah menembusi hutan pohon siong, mereka membelok menelusuri jalan yang penuh dengan rerumputan batu. Menempuh jarak sejauh beberapa kaki, Sik Tiong Giok menemukan bahwa orang yang berjaga-jaga di sepanjang jalan makin lama semakin banyak jumlahnya. Waktu itu, si nona berbaju merah berjalan dengan wajah serius; apa pun yang dikatakan Sik Tiong Giok sama sekali tidak digubris dan ditanggapi olehnya.

Setelah terlepas dari jalanan berumput, pemandangan alam di sekelilingnya tiba-tiba berubah. Di depan sana terbentang sebuah kebun bunga dengan bangunan yang megah dan indah. Kemudian, setelah melewati kebun bunga itu dan membelok ke kanan berjalan sejauh puluhan kaki, di depan mata terbentang sebuah tanah lapang yang luas. Di tengah tanah lapang berdiri beberapa buah gedung; semua bangunan itu tampak kokoh dan luas.

Beberapa orang nona berpakaian ringkas berjalan mondar-mandir di muka bangunan tersebut, semuanya menyoren pedang dan kelihatan angker serta gagah. Tiba di depan tanah lapang, seorang nona berbaju ringkas segera maju mendekat. Setelah memberi hormat kepada gadis berbaju merah itu dan berlangsung tanya jawab secara ringkas, Sik Tiong Giok diajak menuju ke sebuah bangunan yang letaknya di sebelah kiri.

Dari tanya jawab yang berlangsung tadi, Sik Tiong Giok dapat mendengar kalau sudah banyak jago lihai yang ditawan serta disekap di dalam gedung sebelah kanan. Sambil menghela napas, Sik Tiong Giok mencoba memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu. Terasa ruangan itu sangat redup dan cuma terdapat sebuah jendela seluas satu depa yang diberi terali besi kuat.

Dengan ketajaman matanya, ia mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu. Tak lama kemudian, ia berhasil menemukan bahwa di luar jendela ada seseorang yang selalu mengawasi gerak-geriknya; ini berarti seandainya dia bermaksud melepaskan diri dari borgol pun, perbuatannya pasti ketahuan. Lambat laun, ia merasa di tempat itu dicekam oleh semacam suasana yang misterius. Lamat-lamat ia pun seperti mendengar suara rintihan yang dikumandangkan dari balik kepedihan hati. Tapi bersamaan waktunya, ia pun mendengar suara tertawa cekikikan dari sekawanan gadis muda.

Ia mulai bertanya pada diri sendiri, haruskah ia memutuskan borgol itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya, lalu mendobrak pintu dan menerjang keluar?

Pada saat itulah terdengar suara langkah kaki manusia bergema datang, disusul kemudian terdengar suara kunci di depan pintu dibuka orang.

Kraaaak...!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment