Chapter 145
Pintu ruangan terbuka dan berdirilah seorang nona berbaju merah di muka pintu. Dengan suara dingin, ia berseru, "Hei orang bermarga Sik, cepat ikuti aku." Meski hanya beberapa patah kata yang singkat, ucapan itu disampaikan dengan nada dingin dan kaku bagaikan es, sehingga menimbulkan perasaan bergidik bagi siapa pun yang mendengarnya.
Sik Tiong Giok tersenyum dan beranjak keluar dari ruangan itu, lalu berlalu mengikuti nona berbaju merah tersebut.
Setelah melewati sebuah halaman besar, tiba-tiba terlihat seorang nona berbaju kuning berdiri di sisi pintu.
Nona berbaju merah itu segera mengulurkan tangannya seraya berseru, "Seng Leng, budak dari Gedung Soh Ciu Piat Wan mendapat perintah untuk menjemput Pangeran Serigala. Kini kuserahkan dia kepadamu!"
"Baik, kau boleh pergi dari sini," jawab nona berbaju kuning itu sambil mendengus. Menyusul kemudian, ia mengawasi wajah Sik Tiong Giok dengan pandangan terkejut bercampur keheranan, lalu memperhatikannya beberapa kejap dari atas hingga ke bawah.
Sambil bersedekap, Sik Tiong Giok segera menegur, "Heran, mengapa kalian orang-orang dari Gi Liong Oh hampir semuanya tak berperasaan? Aku toh tamu agung yang diundang oleh tuan putri kalian, mengapa kalian justru memperlakukan diriku seperti seorang tawanan?"
"Memang beginilah peraturan kami, kau tak bakal mengerti," sahut nona berbaju kuning itu.
Kembali Sik Tiong Giok mendengus. "Hmm, aku tidak mengerti dengan peraturan konyol kalian ini. Apakah kalian tidak merasa bahwa sikap semacam ini terlalu sombong dan tidak tahu aturan? Kau harus mengerti, aku orang bermarga Sik, bukan manusia yang bisa dipermainkan begitu saja!"
"Aku tahu bahwa ilmu silat yang kau miliki memang hebat, tapi kau tak akan bisa melepaskan diri dari borgol tersebut."
"Huh, borgol sekecil itu mana mungkin bisa membelengguku terus-menerus? Aku tak percaya!"
"Jika kau tak percaya, mengapa tidak kau coba mengerahkan tenaga dalammu? Lihat, dapatkah kau menggetarkan borgol tersebut hingga terlepas?" ejek nona berbaju kuning itu sambil tertawa.
"Aku tak ingin berbuat begitu. Tuan putri kalian yang harus membukakan borgol tersebut bagiku."
Nona berbaju kuning itu kembali tertawa. "Terus terang saja kukatakan kepadamu, borgol ini terbuat dari besi baja Tee Sim Han Shi. Golok atau pedang pusaka pun tak akan dapat mematahkannya, kecuali kau mempunyai lapisan kayu Leng Lo Hol dari Kang Sim!"
Tiba-tiba saja satu ingatan melintas dalam benak Sik Tiong Giok setelah mendengar perkataan itu. Ia teringat kembali dengan lapisan kayu yang berada dalam sakunya sekarang. Pikirnya kemudian, "Ah, tidak kusangka kedua lempengan kayu yang begitu sederhana ternyata mampu mematahkan besi baja." Berpikir sampai di situ, ia pun mulai memutar otak mencari akal bagaimana caranya mengambil kedua lempengan kayu tersebut dari sakunya.
Ketika menyaksikan anak muda itu terdiam, sambil tersenyum nona berbaju kuning itu menegur, "Hei, apa yang sedang kau pikirkan? Ayo cepat ikuti aku!"
"Tapi aku tak bisa berjalan lagi sekarang," sahut Sik Tiong Giok dengan kening berkerut.
"Kenapa?"
"Desakan dari dalam perut tiba-tiba saja mau menyambar keluar. Aku khawatir bila bergerak kelewat cepat, kotoranku bakal menyemprot keluar dalam celana. Coba bayangkan, bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan tuan putri kalian?"
Begitu mendengar perkataan tersebut, nona berbaju kuning itu seakan-akan sudah mengendus bau busuk yang menusuk hidung. Cepat-cepat ia menutup hidungnya sambil membentak, "Aduh, baunya! Bagaimana sih kamu ini? Benar-benar menjengkelkan."
"Ya, apa boleh buat. Aku toh tak bisa menahan lebih lanjut. Tapi kesemuanya ini kesalahan si nona berbaju merah bercelana hijau tadi. Sudah berulang kali kuajukan permintaan kepadanya, tapi dia tak pernah memenuhi keinginanku dengan lega hati. Ya, apalagi yang bisa kuperbuat?"
"Wah, mereka memang keterlaluan, tapi aku pun tak lega membiarkan kau masuk kakus seorang diri..."
"Waduh, celaka!" kembali Sik Tiong Giok berteriak secara tiba-tiba. "Aku benar-benar sudah tak mampu menahan diri lagi. Oh, Nona, berbuatlah kebaikan bagiku, cukup kau bebaskan sebuah tanganku saja."
"Tapi aku harus menotok jalan darah Seng Hu dan Yang Leng Hiat-mu..."
"Dengan kaki sebelah, bagaimana caraku untuk berjalan?" sahut Sik Tiong Giok kemudian sambil mengeluh.
Nona berbaju kuning itu segera mengerling sekejap ke arahnya, lalu menjawab, "Kau jangan kelewat mendesak diriku, sedikitlah tahu diri. Kalau tidak, aku pun tidak akan mempedulikan dirimu lagi."
"Baiklah," ujar Sik Tiong Giok kemudian sambil menghela napas panjang, "bila berada di bawah atap rumah orang, memang mesti menundukkan kepala."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, si nona berbaju kuning itu sudah mengajak Sik Tiong Giok menuju ke sebuah kakus. Mula-mula ia menotok dulu jalan darah Sik Tiong Giok, kemudian baru melepaskan borgolnya dan menyingkir jauh.
Padahal Sik Tiong Giok sama sekali tidak merasa ada desakan yang hebat dari perutnya. Ia justru menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk mengeluarkan kedua lembar kayu tersebut serta menyisipkannya ke balik ujung bajunya. Lalu, dengan lagak membuang hajat, sekian saat kemudian dengan melompat-lompat memakai kaki sebelah, ia muncul kembali.
Nona berbaju kuning itu segera tersenyum melihat tingkah laku pemuda tersebut. Dengan cepat ia mengenakan borgolnya kembali, setelah itu baru membebaskan jalan darahnya.
Sambil tertawa, Sik Tiong Giok berseru, "Nona, kau memang baik hati, di kemudian hari pasti akan mendapat seorang suami yang ideal."
"Hei, lebih baik jangan berbicara sembarangan," bentak nona berbaju kuning itu. "Sekarang, ayo cepat ikut aku..." Selesai berkata, ia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi. Terpaksa Sik Tiong Giok mengikuti di belakangnya.
Setelah menelusuri sebuah serambi yang panjang, akhirnya mereka tiba di dalam sebuah halaman gedung. Dalam halaman tersebut tak ada tanaman bunga atau pepohonan, hal ini membuat suasana di sekitar situ terasa seram dan menggigilkan hati. Di depan adalah halaman besar; dari undak-undakan hingga ke serambi panjang, masing-masing berdiri dua puluh empat orang gadis tanpa bergerak sedikit pun. Semuanya memakai baju ringkas dengan pedang tersoren di punggungnya.
Nona berbaju kuning itu mengajak Sik Tiong Giok berjalan di antara kerumunan gadis-gadis berpakaian ringkas itu. Sik Tiong Giok sendiri menunjukkan sikap yang aneh; ia tersenyum dan mengangguk pada setiap gadis yang dijumpainya. Sebaliknya, kawanan nona berbaju ringkas itu pun diam-diam memuji dalam hati, "Ehm, bocah muda ini memang ganteng sekali wajahnya."
Di bagian tengah ruangan terletak sebuah kursi kebesaran. Di kedua sisinya berderet dua puluh empat buah tungku api, dan di sisi setiap tungku terletak sebuah alat penjepit besi. Yang aneh, ternyata ruangan tersebut kosong melompong dan tak tampak sesosok bayangan manusia pun.
Nona berbaju kuning itu langsung menyembah ke arah kursi kebesaran yang kosong itu sambil berseru, "Budak telah membawa kemari Pangeran Serigala!"
"Tinggalkan dia di sini, dan kau segera kembali ke posmu semula..." perintah seseorang dengan suara sedingin es. Nona berbaju kuning itu mengiakan dan segera bangkit berdiri. Tanpa memandang sekejap pun terhadap Sik Tiong Giok, ia membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Sik Tiong Giok memperhatikan sekeliling tempat itu. Ketika tidak dijumpai sesosok bayangan manusia pun, tanpa terasa ia mendengus dingin, "Hmm, tampaknya pihak Gi Liong Oh tak mampu memperlihatkan kemampuan yang lain selain segala macam permainan busuk. Meskipun begitu, Sik Tiong Giok tak akan menjadi takut."
"Huh, sekalipun tak menakutkan dirimu, sayang sekali kau sudah tidak memiliki tenaga perlawanan lagi."
"Belum tentu begitu. Sekalipun kau persiapkan bukit golok atau kuali berisi minyak mendidih, takkan sanggup kau mengurung aku, orang bermarga Sik, di tempat ini."
"Hmm, kau tak usah takabur lebih dulu. Buktinya kau sudah terbelenggu sekarang. Aku tak percaya kalau kau memiliki kepandaian yang begitu hebat hingga mampu melepaskan diri dari borgol tersebut."
"Oh, kau anggap borgol kecil ini dapat membuat diriku mati kutu?"
Suara yang dingin dan kaku itu kembali kedengaran, "Aku lihat bacotmu memang besar sekali. Ingin kulihat dengan cara apakah kau hendak membuka borgol itu?"
"Akan kugunakan tenaga dalam yang kumiliki untuk mematahkan borgol ini. Aku yakin biarpun borgol tersebut dibuat dari besi baja sekalipun, tak akan mampu menahan terjangan hawa murniku."
"Bagus sekali. Kalau begitu, cobalah untuk melepaskan diri dari belenggu. Ingin kulihat sampai di manakah kemampuan yang kau miliki itu..."
Sik Tiong Giok segera tertawa. "Tentu saja borgol ini akan kulepaskan, tapi sebelumnya kau harus memberitahukan kepada diriku, siapakah kau?"
"Gi Liong Kuncu!"
"Hmm, aku tidak percaya kalau kau adalah Gi Liong Kuncu. Bayangkan saja, Gi Liong Kuncu menyebut dirinya sebagai penguasa di Telaga Gi Liong Oh, namanya juga cukup menggetarkan dunia persilatan. Biasanya manusia semacam ini kalau bukan seorang jagoan dari golongan iblis, tentulah seorang pendekar gagah dari dunia persilatan. Mana mungkin manusia sehebat ini cuma main sembunyi-sembunyi dan tak berani bertemu orang?"
"Hal ini cuma bisa menyalahkan ketajaman matamu yang belum mencapai tingkat kesempurnaan, karena itu orang yang berdiri di hadapanmu pun tak sempat kau lihat."
Sik Tiong Giok segera menghimpun ketajaman matanya untuk memperhatikan keadaan di sekitar situ. Benar juga, di belakang kursi kebesaran berdiri seorang bayangan hitam yang ramping lagi tinggi. Kecuali sepasang matanya, hampir seluruh badannya disembunyikan di balik kain hitam.