Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 146

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 146

Sambil tertawa dingin, Sik Tiong Giok berkata lagi, "Aku tetap tidak percaya kalau kau adalah Gi Liong Kuncu."

"Lalu bagaimana agar kau bisa percaya?"

"Kecuali kau bersedia menemuiku dengan wajah aslimu. Bayangkan sendiri, siapa yang sudi menganggap sesosok makhluk yang manusia bukan manusia, setan bukan setan sebagai Gi Liong Kuncu?"

"Mudah sekali bila kau ingin bertemu dengan wajah asliku, tapi kau mesti menggunakan langkah Bwee Hoa untuk memadamkan kedua puluh empat buah tungku api itu terlebih dahulu."

Sik Tiong Giok segera memperhatikan tungku-tungku api itu dengan saksama. Benar juga, semuanya memang diatur menurut langkah Bwee Hoa. Tanpa terasa ia berpikir, "Langkah Bwee Hoa tidak ada yang hebat dan perlu ditakuti. Biarpun diberi bambu atau pisau tajam, keadaan tersebut masih dapat diatasi dengan pengerahan tenaga dalam. Tapi kalau bentuknya berupa tungku api, wah... susah jadinya. Jangan lagi tenaga dalam tak bisa dipakai untuk menghadapi api, kalau kaki sampai terperosok, paling tidak bakal melepuh atau hangus."

Dengan perasaan ragu-ragu, ia mengawasi kedua puluh empat tungku api itu tanpa berbicara.

"Bagaimana? Kau sudah merasa takut?" jengek Gi Liong Kuncu sambil tertawa dingin. "Tapi bila kau bersedia menyerah kepada kami, aku pun bersedia menemuimu dengan wajah asliku."

Kontan saja Sik Tiong Giok tertawa dingin, "Oh, beginikah maksud tujuanmu mengirim surat ke tempat jauh dan sengaja mengundang kedatanganku ke Telaga Gi Liong Oh ini?"

"Ya, boleh juga dibilang begitu, tapi yang kuundang bukan hanya kau seorang."

"Masih ada siapa lagi?"

"Kecuali para ketua dari sembilan partai besar, banyak pula jago-jago kenamaan dari dunia persilatan."

"Oh, tampaknya kau memang berniat untuk menggulung semua jago silat yang ada di dunia persilatan. Kau benar-benar berhati kejam."

"Tapi aku sama sekali tak bermaksud hendak mencelakai mereka semua..."

"Biarpun begitu, dunia persilatan sudah dilanda oleh pembunuhan-pembunuhan berdarah gara-gara ulahmu itu."

"Siapa suruh mereka membangkang dan enggan takluk? Kau harus tahu, siapa menentang, dia harus mati. Itulah peraturan yang telah ditetapkan pihak kami."

"Aku tebak di dalam hatimu masih tetap jeri terhadap seseorang, bukan?"

Gi Liong Kuncu segera menghela napas panjang. "Ah, tebakanmu memang benar. Dapatkah kau jelaskan kepadaku, atas dasar apa kau berkata begitu?"

"Aku dapat berbicara demikian atas dasar kemunculan Cu Bu Ki di dalam kelompok Gi Liong Oh ini. Sudah jelas badai pembunuhan yang melanda dunia persilatan selama ini tak lain adalah atas perintah darimu, bukankah begitu?"

"Kau memang amat cerdik, tapi Cu Bu Ki bukan manusia yang bisa diandalkan. Hampir saja dia menghancurkan semua rencanaku."

"Aku tahu. Oleh karena dia adalah murid si Kakek Serigala Langit, maka kau membujuknya agar berkhianat. Lalu dengan mengenakan topeng si Rasul Serigala Langit, kau perintahkan dia melakukan pelbagai keonaran dan pembunuhan. Bukankah tujuanmu untuk memaksa si Kakek Serigala agar memunculkan diri, lalu kau manfaatkan kesempatan itu untuk melenyapkan duri dari pelupuk mata?"

Tiba-tiba Gi Liong Kuncu tertawa ringan. "Wah, apa yang kau katakan bagaikan melihat dengan mata kepala sendiri. Kau betul-betul amat cerdik."

"Oleh sebab itulah menurut pendapatku, kau paling takut dengan si Kakek Serigala Langit, bukankah begitu?"

Gi Liong Kuncu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata, "Kau hanya berhasil menebak benar separuhnya saja, karena terhadap si Kakek Serigala Langit aku cuma punya rasa benci, sama sekali tidak takut kepadanya."

"Jawabanmu itu tak sesuai dengan perasaan hatimu. Seandainya kau tidak takut kepadanya, mengapa kau selalu berdaya upaya untuk menipuku hingga memasuki Gi Liong Oh ini?"

"Sebab kau adalah anak angkatnya, juga merupakan ahli warisnya. Bila aku mampu melenyapkan kau dari muka bumi, berarti aku telah berhasil melampiaskan separuh dari rasa dendamku."

"Boleh aku tahu, dendam kesumat macam apakah yang telah terjalin di antara kalian?"

"Asal kau mampu memadamkan kedua puluh empat api dalam tungku-tungku tersebut dengan langkah Bwee Hoa Cun, tentu saja akan kuceritakan hal itu kepadamu."

Sik Tiong Giok segera tertawa. "Baiklah! Kalau begitu tolong buka dulu borgol di tanganku ini."

"Barusan bukankah kau mengatakan bahwa membuka borgol tersebut sama mudahnya seperti membalik tangan? Kenapa tidak kau buktikan di hadapanku sekarang?"

"Jikalau aku dapat melepaskan diri dari borgol ini, dapatkah kau membatalkan syarat untuk memadamkan api dalam kedua puluh empat buah tungku itu?"

"Ah, pertaruhan ini kelewat tinggi."

"Lalu apa maksudmu?"

"Akan kusambut dirimu dengan penghormatan seperti seorang tamu agung!"

"Eh, bukankah aku memang tamu agung yang kau undang? Aku tak mau kalau taruhannya terlalu enteng."

"Apa usulmu?"

"Seandainya aku mampu melepaskan diri dari borgol ini, bagaimana kalau kau mesti menjumpaiku dengan wajah aslimu?" kata Sik Tiong Giok sambil tertawa.

Gi Liong Kuncu termenung sejenak, kemudian baru berkata, "Boleh saja, cuma kau pun mesti memadamkan kedua puluh empat tungku berapi itu dengan langkah Bwee Hoa."

"Maaf, aku akan melakukan hal tersebut kecuali bila kau sanggup memaksaku naik dengan ilmu silatmu!"

"Bila kau tak berhasil membebaskan diri dari borgol tersebut?"

"Apalagi yang bisa kukatakan? Tentu saja aku bersedia menjadi budakmu untuk selamanya."

"Baik!" seru Gi Liong Kuncu kemudian.

Dengan sepasang mata yang tajam, ia mengawasi Sik Tiong Giok tanpa berkedip. Ia ingin melihat dengan cara apakah si anak muda tersebut akan membebaskan diri dari borgol itu.

Sik Tiong Giok segera berlagak seakan-akan sedang menghimpun tenaga dalamnya, padahal pada saat itulah secara diam-diam ia mengeluarkan lempengan kayu yang disembunyikan di balik ujung baju, kemudian diiriskan ke atas borgol tersebut.

Aneh sekali, borgol yang tak mempan dibacok dengan pedang maupun golok mestika ini ternyata tak berguna sama sekali setelah bertemu dengan kedua lempengan kayu itu. Seperti memotong tahu saja, borgol tersebut segera terpapas putus.

Namun, Sik Tiong Giok tidak langsung mencopotnya dari pergelangan tangan. Secara diam-diam ia sembunyikan lagi kedua lempeng kayu itu ke balik ujung bajunya. Setelah itu, barulah ujarnya sambil tertawa tergelak, "Nah, perhatikanlah secara baik-baik, kini hawa murniku telah kuhimpun semua, borgol tersebut segera akan kupatahkan..."

Berbicara sampai di situ, tiba-tiba ia membentak keras, "Lepas!"

"Cring!"

Diiringi suara gemerincingan nyaring, borgol itu segera jatuh ke atas tanah dan Sik Tiong Giok pun memperoleh kebebasannya kembali.

Kejadian ini kontan saja membuat Gi Liong Kuncu amat terperanjat. Sepasang matanya sampai terbelalak lebar dan mulutnya melongo. Sampai lama kemudian ia baru berkata, "Kepandaian silat apakah yang kau latih?"

Sik Tiong Giok tertawa, "Itu mah rahasia pribadiku, bagaimana mungkin dapat kusampaikan kepadamu? Tapi jika kau memaksaku naik ke atas tungku api itu..."

"Hmm, kau anggap aku tak mampu mendesakmu naik?"

Kembali Sik Tiong Giok tertawa, "Aku bisa berpendapat demikian lantaran menang-kalah masih susah untuk diduga, itu tergantung sampai di manakah taraf kepandaian silat yang kau miliki."

Gi Liong Kuncu mendengus dingin, menyusul kemudian ia memunculkan diri dari balik tirai di belakang kursi kebesaran. Dalam suasana yang lamat-lamat, samar-samar dapat terlihat selembar wajahnya yang cantik molek.

Terdengar Gi Liong Kuncu berkata, "Aku telah melepaskan kain kerudung mukaku dan telah kupenuhi janjiku tadi, sekarang kau pun harus naik ke atas tungku-tungku berapi itu!"

Sik Tiong Giok segera tertawa lagi, "Kepandaian silat aneh macam apa sih yang kau miliki? Tak ada salahnya bila kau keluarkan semua, mari kita buktikan bersama, sanggupkah kau memaksaku naik ke atas tungku-tungku berapi itu."

"Kalau begitu, berhati-hatilah kau..."

Tidak tampak bagaimana ia menggerakkan tubuhnya. Di antara kain hitam yang berkibar terhembus angin, tahu-tahu saja tubuhnya sudah berada di samping tungku api nomor satu. Dengan suatu gerakan yang amat cepat bagaikan sambaran kilat, tangannya menyambar penjepit besi yang berada di sisinya.

Sementara Sik Tiong Giok terperanjat, Gi Liong Kuncu telah mendesak datang dan menjojohkan alat besi yang membara itu ke wajah si anak muda tersebut. Hawa panas yang menyengat menerpa kulit wajah, mendatangkan perasaan yang tidak sedap. Sik Tiong Giok tidak berani beralah, cepat-cepat ia melepaskan sebuah pukulan ke muka, lalu menggeser ke samping.

Gi Liong Kuncu mengejar lebih jauh. Alat besi yang membara itu disodok dan dijojoh berulang kali, ia menekan si anak muda tersebut habis-habisan. Setelah terdesak hebat, Sik Tiong Giok baru menyesal karena tindakannya kelewat ceroboh. Dengan hilangnya pedang andalannya, berarti sulit baginya untuk menangkis sodokan alat besi lawan yang membara itu. Ini berarti hanya ada satu cara baginya untuk mengatasi kesulitan tersebut, yakni mengerahkan gerakan tubuhnya yang enteng untuk bermain petak umpet dengan lawan.

Begitulah, sambil mengitari tungku-tungku berapi itu mereka berdua saling berkejaran. Makin berputar, makin cepat saja gerakannya. Setiap kali menggerakkan tubuhnya mengejar, Gi Liong Kuncu selalu mengganti alat besinya dengan alat lain yang masih panas. Dalam waktu singkat, di dalam arena hanya tampak dua sosok bayangan manusia yang berkelebat tiada hentinya.

Lebih kurang setengah jam kemudian, mendadak Gi Liong Kuncu menghentikan gerakannya, kemudian dengan napas tersengal-sengal berseru, "Kau yang menang!"

Padahal Sik Tiong Giok sendiri pun sudah merasa kecapaian. Coba kalau Gi Liong Kuncu tidak segera berhenti dan pertarungan berlangsung seperminum teh lagi, niscaya pemuda itu akan terdesak hingga terpaksa melompat naik ke atas tungku api itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment