Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 147

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 147

Sik Tiong Giok segera tersenyum. Dengan berlagak seakan-akan tetap santai, ia berkata, "Kemenangan yang kuraih kali ini benar-benar tidak gampang, padahal aku sendiri pun sudah mulai lelah."

"Tak peduli bagaimana keadaanmu, yang pasti pertarungan ini berhasil kau menangkan. Maka, mulai sekarang kau telah menjadi tamu agungku."

Sik Tiong Giok merasa sedikit di luar dugaan setelah mendengar perkataan itu. Pikirnya, "Sungguh tak nyana kalau budak ini sangat tahu aturan."

Sementara ia masih berpikir, Gi Liong Kuncu telah bertepuk tangan sambil berseru, "Mana pengawal? Cepat ajak Sik Siangkong menuju ke kamar tamu untuk minum teh."

Muncul seorang gadis berbaju kuning dari balik pintu. Sambil memberi hormat kepada Sik Tiong Giok, ia berkata, "Silakan, Sik Siangkong!"

Menanti Sik Tiong Giok berpaling lagi ke arah Gi Liong Kuncu, ternyata tirai sudah diturunkan dan orangnya tidak kelihatan lagi. Terpaksa ia mengikuti di belakang nona berbaju kuning itu keluar dari ruangan tengah.

Di bagian belakang merupakan sebuah halaman luas. Meski tidak ada aneka bunga, pepohonan yang tumbuh di situ amat lebat sehingga mendatangkan suasana yang menyeramkan.

Di bagian depan gedung merupakan sebuah ruangan kecil yang indah. Dalam ruangan itu, berjejer rak-rak buku yang penuh dengan aneka kitab. Sik Tiong Giok melangkah masuk ke dalam ruangan itu sambil memperhatikan sekejap sekelilingnya. Lalu, setelah mengambil tempat duduk, nona berbaju kuning itu muncul menghidangkan air teh.

Terdengar nona itu berkata sambil tertawa, "Silakan mencicipi air teh dulu, sebentar sayur dan arak akan dihidangkan."

Sik Tiong Giok sama sekali tidak menggubris. Ia mengawasi terus sekeliling tempat itu sambil berpikir di hati, "Tak nyana kalau Gi Liong Kuncu gemar membaca buku, tapi mengapa sikapnya begitu kejam dan buas?"

Sementara ia masih berpikir, mendadak terdengar nona berbaju kuning itu berkata lagi, "Sayur dan arak telah dihidangkan, silakan Sik Siangkong ambil tempat duduk." Ketika Sik Tiong Giok berpaling, dilihatnya nona berbaju kuning itu sedang melangkah masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebaki hidangan lezat.

Dasar sudah lapar, pemuda itu segera beranjak menuju ke tempat duduk yang telah disediakan. Lalu, tidak menunggu sampai nona berbaju kuning itu selesai menghidangkan hidangan yang ada, ia sudah menyambar sepotong paha ayam dan memakannya dengan lahap.

"Sik Siangkong, nampaknya sudah lama kau tidak pernah bersantap?" goda nona berbaju kuning itu sambil tersenyum.

Sik Tiong Giok tertawa jengah. "Ya, sudah tiga hari aku tidak makan apa-apa. Sekali pun dalam perjalanan menuju ke Telaga Gi Liong, aku pernah makan daging menjangan, tapi berhubung ada racunnya, aku telah memuntahkannya kembali dengan mengerahkan tenaga dalam."

"Apakah kau tidak khawatir dalam hidangan ini telah diberi racun?" tiba-tiba nona berbaju kuning itu bertanya lagi sambil tertawa.

Mendadak Sik Tiong Giok mendelik besar, kemudian berkata dengan suara dingin, "Aku tidak percaya kalau tuan putrimu akan meracuni hidangan ini. Lagi pula, andaikata benar-benar hendak diracuni, aku pun tidak bakal takut."

Sekali lagi nona berbaju kuning itu tersenyum. Diambilnya poci perak dan memenuhi cawan Sik Tiong Giok dengan arak. Ujarnya, "Kalau memang tidak takut, silakan kau teguk arak ini sampai habis..."

"Minum ya minum, lihat saja sampai di mana pengaruh racun itu terhadap diriku," dengus Sik Tiong Giok dingin.

Sambil berkata, ia mengangkat cawan dan meneguk isinya sampai habis. Lalu, sambil meletakkan kembali cawan kosong itu ke atas meja, ia berseru, "Mari tuang secawan lagi..."

Belum habis ia berkata, tiba-tiba tubuhnya terasa ada sesuatu yang tidak beres. Dengan sepasang mata memancarkan sinar tajam menggidikkan hati, ia segera berseru, "Bagus sekali, ternyata dalam arak ini..." Belum habis perkataan itu diutarakan, tangannya sudah menyambar ke muka, siap mencengkeram tubuh si nona berbaju kuning itu.

Dengan cekatan, nona berbaju kuning itu berkelit ke samping kemudian serunya sambil tertawa, "Dugaanmu keliru! Di dalam sayur dan arak itu sama sekali tidak ada racunnya. Siapa suruh takaran arakmu kelewat jelek, sedang arak tadi kau teguk begitu cepat dan terburu-buru, tentu saja kepalamu jadi pening."

Ketika cengkeraman Sik Tiong Giok atas nona berbaju kuning itu mengenai sasaran yang kosong, hampir saja ia tidak mampu menahan tubuhnya yang sedang menerjang ke muka. Ia mesti maju empat-lima langkah dengan terhuyung-huyung lebih dulu sebelum akhirnya dapat mengendalikan keseimbangan badannya.

Saat ini, ia baru merasa kalau ia memang tidak kuat minum arak. Perutnya terasa panas seperti dibakar, matanya berkunang-kunang, dan tubuhnya terasa ringan. Akan tetapi, kesadaran pikirannya masih tetap jernih. Semua yang diucapkan nona berbaju kuning itu pun dapat didengarnya dengan jelas. Sambil maju dengan sempoyongan lalu berpegangan di tepi meja, ia berseru, "Arak apakah itu? Mengapa hanya secawan pun sudah memabukkan orang?"

"Arak itu dihasilkan dari wilayah Inlam, sama tersohornya seperti teh dari Phu Oh To. Namanya arak seratus buah, Pek Kok Sin Ciu. Bila sampai mabuk, maka empat jam kemudian baru akan sadar. Karena itu, kuanjurkan kepadamu untuk meneguk secawan lagi agar mabuk kepayang dan tidur senyenyaknya. Dengan begitu, semua kelelahan yang kau derita selama beberapa hari ini pun akan hilang lenyap tak berbekas."

Waktu itu Sik Tiong Giok memang sedang dipengaruhi oleh arak. Mendengar perkataan tersebut, ia pun bergumam, "Baik... baik... akan kuteguk secawan lagi biar betul-betul mabuk..."

Diangkatnya cawan araknya lalu meneguk isinya sampai habis. Ketika arak kedua sudah masuk ke dalam perut, ia pun jatuh tak sadarkan diri.

Menanti ia sadar kembali, pemandangan di sekeliling tempat itu sama sekali telah berubah. Kini ia sudah berada dalam sebuah ruangan batu yang gelap gulita tanpa cahaya lentera. Suasana hening dan gelap, namun secara lamat-lamat ia mengendus bau harum semerbak yang menusuk hidung.

"Aaaaaii..." Suara helaan napas panjang mendadak bergema dari sisi tubuhnya. Hal ini membuatnya cepat-cepat berpaling ke samping.

Pada jarak tiga kaki di sisinya, terdapat pula sebuah pembaringan. Dari balik kelambu, ia seperti melihat ada orang sedang duduk di situ. Apa yang terlihat tentu saja amat mencengangkan Sik Tiong Giok. Tanpa terasa, pikirnya, "Aaaai, siapa pula orang itu?"

Belum habis ingatan tersebut melintas, tiba-tiba dari balik kelambu sudah kedengaran seseorang berkata, "Kau sudah sadar dari mabuk? Gara-gara rakus minum, akibatnya urusan jadi terbengkalai. Akan kulihat bagaimana caramu menyelesaikan persoalan ini."

Nada suaranya halus dan lembut, sudah jelas berasal dari seorang perempuan.

"Siapakah kau? Mengapa kau pun bisa berada di sini?" tanya Sik Tiong Giok cepat.

"Aku adalah Li Peng, sudah tiga hari terkurung di tempat ini..."

Sik Tiong Giok menjadi girang sekali setelah mendengar perkataan itu. Cepat ia berseru, "Oooooh, Adik Peng, akhirnya aku berhasil juga menemukan dirimu..."

Li Peng menghela napas, "Aaaaai, sekalipun berhasil ditemukan, tapi apa gunanya? Paling tidak kau harus berusaha untuk melepaskan diri dari kurungan ini..."

"Baik, akan kuusahakan!"

Pada saat itulah pintu ruangan dibuka orang, kemudian muncul seorang perempuan jelek yang bertubuh kekar. Kepada si anak muda itu, ia segera berseru, "Hei bocah muda, cepat keluar! Tuan putri kami hendak bertemu denganmu."

Sik Tiong Giok segera mendengus dingin, "Hmmm, bagus sekali, kebetulan aku memang hendak berjumpa dengannya, hayo berangkat!"

Ia melompat bangun dari atas pembaringan lalu mengikuti di belakang perempuan jelek itu. Setelah melalui sebuah halaman, di sekitar situ tidak tampak gedung lain selain sebuah ruangan besar. Di tengah ruangan telah siap tiga buah meja yang diatur dalam posisi segitiga. Sik Tiong Giok dipersilakan duduk di meja sebelah kanan.

Suasana di sekeliling tempat itu amat hening. Selain Sik Tiong Giok seorang, pada kedua meja lainnya tampak kosong. Di kedua belah sisi meja berdiri dua belas gadis berbaju ringkas, semuanya memegang pedang yang terhunus, sikapnya seperti lagi menghadapi musuh besar.

Sik Tiong Giok memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu ujarnya dingin, "Di manakah tuan putrimu?"

"Kenapa sih kau mesti terburu nafsu? Sebentar toh akan datang juga..."

Belum habis perkataan itu diutarakan, mendadak terdengar suara irama musik bergema dari kejauhan di sana dan makin lama semakin mendekat. Mula-mula yang muncul lebih dulu adalah empat orang gadis berdandan keraton yang masing-masing membawa sebuah baki kemala berisi barang kebutuhan. Di belakangnya menyusul empat orang bocah perempuan yang membawa dupa, masing-masing meletakkan dupa tersebut di meja bagian tengah.

Dalam waktu singkat, bau dupa menyelimuti seluruh ruangan serta menyiarkan bau harum semerbak. Diam-diam Sik Tiong Giok mengumpat setelah menyaksikan kejadian tersebut, "Besar amat lagaknya..."

Mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dengan lantang, "Tuan putri tiba!"

Bersamaan dengan suara bentakan itu, tampak seorang nona cantik berbaju hitam pelan-pelan masuk ke dalam ruangan dan menduduki kursi utama. Sik Tiong Giok segera mendengus sambil mengomel, "Tak heran kalau Gi Liong Oh didirikan jauh di luar perbatasan, ternyata pengikutnya adalah sekawanan manusia yang belum berbudaya..."

"Atas dasar apa kau berkata begitu?"

"Tolong tanya apa kedudukanku sekarang?"

"Kenapa mesti ditanya lagi, tentu saja seorang tamu agung."

"Kalau memang seorang tamu agung, mengapa kau menyekapku dalam penjara batu? Beginikah cara Gi Liong Oh melayani tamu agungnya?"

Gi Liong Kuncu segera tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment