Chapter 148
"Tahukah kau, antara lelaki dan perempuan dipisahkan oleh batas-batas moral tertentu?" Sebagaimana kau ketahui, semua penghuni Gi Liong Kiong adalah anak gadis. Selain kau seorang laki-laki, tak ada pria di sini. Padahal kau sedang mabuk, apa salahnya bila kuambil tindakan pengamanan sebelum terjadi sesuatu yang melanggar susila?"
"Huuh, kau betul-betul kelewat memandang hina aku!"
"Tapi, bukankah dalam ruangan batu itu terdapat juga seorang nona?"
"Dia itu dayang kami yang kabur, tentu saja lain ceritanya."
"Baik, kita jangan membicarakan soal semacam itu lagi. Sekarang sampaikan kepadaku, ada urusan apa kau mengundangku kemari?"
"Sejak keraton kami didirikan tiga puluh tahun silam, selama ini hanya kau seorang yang berhasil masuk kemari. Tahukah kau akan peraturan yang berlaku di sini?"
"Peraturan yang berlaku di sini kelewat banyak, membuat aku mengingatnya pun menjadi segan," sahut Sik Tiong Giok sambil tertawa.
"Bagi setiap lelaki yang memasuki daerah terlarang istana kami, maka dia hanya mempunyai dua pilihan saja." Mendadak Sik Tiong Giok tertawa tergelak, "Hahahaha... aku mengerti, bukankah kau hendak mencari menantu? Sayang sekali, pangeranmu tak punya minat dalam hal ini."
Paras muka Gi Liong Kuncu segera berubah hebat, serunya dingin, "Apabila kau masih saja berbicara semaunya sendiri, jangan salahkan kalau aku tak akan bersikap sungkan lagi kepadamu."
"Sejak permulaan dulu kalian tak pernah bersikap sungkan kepadaku. Kalau memang tak senang, mari kita melangsungkan pertarungan lagi."
Untuk sesaat, Gi Liong Kuncu jadi tertegun, bisiknya kemudian, "Kau memang sangat... sangat..."
"Kau tak usah mengumpat diri lagi."
"Kau pun sombong!"
"Aku, orang she Sik, lebih suka mati daripada dihina."
"Apakah kau beranggapan ilmu silatku tak mampu melebihi dirimu?"
"Dalam ilmu silat terdapat dua aliran yang berbeda, yaitu aliran keras dan aliran lunak. Masing-masing aliran pun mempunyai kelebihan yang tersendiri. Apakah Nona berhasrat untuk melangsungkan suatu pertarungan lagi denganku?" Sembari berkata, dia segera bangkit berdiri.
Tiba-tiba kedelapan orang gadis berbaju ringkas yang berdiri di kedua belah sisi ruangan bertindak cepat dengan mengepung di sekelilingnya, sementara kedelapan bilah pedang mereka mengancam dari delapan penjuru serta menempelkan ujung pedangnya di depan tubuh Sik Tiong Giok.
Menyaksikan kejadian tersebut, Sik Tiong Giok segera tertawa terbahak-bahak, "Hahaha... apakah kalian hendak mengandalkan jumlah yang banyak? Tapi sayang, ancaman semacam ini tak akan membuatku takut."
Gi Liong Kuncu termenung beberapa saat lamanya, kemudian sambil mengulapkan tangannya pelan-pelan dia berkata, "Kalian boleh mengundurkan diri dari ruangan ini. Aku percaya dia tak akan berani bertindak kasar kepadaku."
"Budak terima perintah," sahut kawanan gadis berpakaian ringkas itu serentak.
Kembali Gi Liong Kuncu berkata, "Bila kau bertarung melawanku, aku percaya dengan kepandaian silat yang sekarang kau miliki, kita dapat bertarung seimbang tanpa ada yang menang dan tak ada yang kalah. Tetapi kau harus mengerti, di dalam istana Gi Liong Kiong-ku ini masih terdapat ratusan orang jago lihai yang berilmu tinggi; kau tak akan mampu menandingi mereka semua."
"Lebih baik hancur sebagai permata daripada utuh sebagai genteng. Aku punya semangat untuk bertarung hingga titik darah penghabisan."
"Ehmm, kegagahanmu memang sangat mengagumkan," seru Gi Liong Kuncu tertawa. Setelah mengucapkan perkataan itu, tiba-tiba saja dia tutup mulut dan tidak berbicara lagi. Untuk beberapa saat lamanya, suasana dalam ruangan itu menjadi sunyi senyap dan tak kedengaran sedikit suara pun.
Secara diam-diam, Sik Tiong Giok segera menghimpun seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Asal pihak musuh menyerang lebih dulu, maka dia pun akan melancarkan serangan balasan dengan sekuat tenaga.
Siapa tahu suasana tetap berlalu dalam keheningan dan tak tampak suatu gerakan pun; malah suara napas pun seakan-akan tak terdengar lagi. Lama-kelamaan, Sik Tiong Giok jadi keheranan. Dengan cepat dia mengangkat kepalanya dan memandang sekejap ke arah Gi Liong Kuncu.
Ternyata Gi Liong Kuncu sedang berdiri tak bergerak di tempat semula, persis seperti sebuah patung batu. Selisih jarak di antara mereka berdua boleh dibilang dekat sekali, lagipula Gi Liong Kuncu telah melepaskan kain hitam pelindung badannya. Hal ini membuat Sik Tiong Giok dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas sekali. Rambutnya yang panjang terurai sepanjang bahu, alis matanya panjang dan melentik, sepasang matanya bulat besar, bibirnya kecil mungil, dan saat itu sedang menyunggingkan sekulum senyuman.
Tiba-tiba Sik Tiong Giok merasakan wajahnya berubah jadi merah padam. Buru-buru dia melengos ke arah lain, sementara dalam hati kecilnya dia memuji, "Benar-benar seorang perempuan yang amat cantik!"
Mendadak terdengar suara teguran lembut menggema di sisi telinganya, "Mengapa sih kamu tak berani menengokku?"
Sik Tiong Giok segera mendengus, "Hmmm, mengapa aku tak berani menengokmu?"
"Kalau begitu, berpalinglah dan coba tengok wajahku dengan saksama."
Sik Tiong Giok benar-benar berpaling serta mengamati wajah perempuan itu dengan saksama. Tapi begitu dia memandang dengan serius, tiba-tiba saja pemuda itu merasakan peredaran darah di dalam tubuhnya mengalir dengan cepatnya, bahkan denyut jantungnya terasa bertambah keras. Ia merasa Gi Liong Kuncu yang cantik itu memancarkan semacam rangsangan nafsu birahi yang membuat perasaan orang jadi bergolak keras dan pikirannya jadi kalut.
Dalam keadaan seperti inilah, terdengar Gi Liong Kuncu berkata lagi dengan lembut, "Sekarang ikutilah aku, mari..." Suara halus itu, lembut dan amat manis, bahkan secara lamat-lamat mengandung daya rangsangan yang dapat membetot sukma.
Sik Tiong Giok merasakan hatinya bergetar keras. Tanpa terasa dia berjalan mengikuti di belakang nona tersebut. Ia tak tahu ke mana mereka telah pergi dan menempuh perjalanan berapa jauh. Lebih kurang seperminum teh kemudian, tiba-tiba pandangan matanya jadi silau. Ternyata mereka telah memasuki sebuah kamar tidur yang sangat indah dan menawan.
Mendadak kesadaran Sik Tiong Giok seperti menjadi jernih kembali. Ia membalikkan badan dan siap berlalu dari situ. Tiba-tiba segulung bau harum semerbak berhembus lewat, kemudian pandangan matanya jadi silau; wajah yang cantik molek itu tahu-tahu sudah menghadang di hadapannya.
Terdengar nona itu berkata sambil tertawa, "Setelah kemari, kenapa harus pergi lagi? Kau hendak pergi ke mana...?"
Sik Tiong Giok segera berpaling. Sorot matanya persis saling beradu dengan sinar mata perempuan itu. Dari balik matanya yang jeli, terasa pancaran daya pengaruh yang kuat membuat perasaan Sik Tiong Giok segera bergolak kembali dengan hebatnya. Sebuah tangan yang putih dan lembut diulurkan ke depan dan menggenggam pergelangan tangan kanannya. Di balik telapak tangannya yang halus dan lembut itu, seakan-akan membawa aliran listrik yang sangat kuat, membakar api birahi di dalam tubuh Sik Tiong Giok sehingga berkobar dengan hebatnya. Terutama sekali di bawah kerdipan matanya yang jeli, seperti ada dua buah pisau tajam yang menembusi lubuk hati pemuda itu. Kesemuanya ini membuat orang tak berani membangkang juga tak berani membantah.
Untung juga Sik Tiong Giok mempunyai bakat yang baik. Dengan sekuat tenaga dia berusaha mengendalikan gejolak perasaannya dengan mengibaskan tangannya keras-keras, lalu sambil mendengus ujarnya, "Cepat lepaskan aku..." Sayang sekali, genggaman tangannya yang halus lembut itu seperti susah untuk dilepaskan.
Saat itulah terdengar suara yang halus lembut itu kembali berbisik dengan pelan, "Apa sih yang kau takuti? Aku toh tak akan menelanmu."
Sik Tiong Giok tak sanggup mempertahankan diri lagi, napasnya jadi tersengal-sengal. Mendadak dia menyambar pinggang orang yang langsing dengan tangan kirinya kemudian dipeluknya kencang-kencang, bibirnya digerakkan mendekati bibir perempuan itu sambil bergumam, entah apa saja yang dikatakan olehnya.
Dalam keadaan kritis dan sangat berbahaya inilah, mendadak terdengar suara genta dibunyikan bertalu-talu. Gi Liong Kuncu kelihatan sangat terkejut, paras mukanya segera berubah hebat dan sikapnya pulih kembali jadi dingin dan kaku. Mendadak dia mendorong tubuh Sik Tiong Giok yang berada di dalam pelukannya lalu bertepuk tangan keras.
Seorang nona berbaju kuning segera memunculkan diri sambil berseru, "Budak menanti perintah!"
"Bawa kembali orang ini ke ruang batu!" perintah Gi Liong Kuncu dingin.
Nona berbaju kuning itu mengiakan, dia segera berpaling ke arah Sik Tiong Giok sambil katanya, "Mari ikut aku!"
Dalam pada itu, Sik Tiong Giok masih tetap berdiri termangu sambil mengawasi Gi Liong Kuncu tanpa berkedip; tampaknya dia seperti berat hati untuk meninggalkan tempat tersebut.
Sambil tersenyum, Gi Liong Kuncu segera berkata, "Pergilah bersamanya!"
Sik Tiong Giok menyahut dan membalikkan badan, lalu berjalan keluar dari ruangan dengan langkah lebar. Nona berbaju kuning itu membawa Sik Tiong Giok melalui dua buah gedung besar sebelum akhirnya tiba di sebuah ruangan. Di sana terlihat ada beberapa orang perempuan berwajah kaku sedang melakukan penjagaan. Setelah menyerahkan Sik Tiong Giok kepada perempuan-perempuan itu, nona berbaju kuning tadi berbalik badan dan beranjak pergi dari situ.