Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 149

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 149

Setelah memandang wajah perempuan buruk rupa itu, dalam benak Sik Tiong Giok segera muncul bayangan tubuh Li Peng. Kesadaran pikirannya pulih kembali seperti sedia kala. Tanpa terasa ia berpikir, "Apa yang telah kulakukan selama ini?" Baru saja ingatan tersebut melintas, dari sisi telinganya terdengar suara parau dan kasar berseru, "Hei, si burung dungu, ayo cepat jalan! Kenapa masih berdiri saja di sana?" Mendadak Sik Tiong Giok merasakan hatinya bergetar keras. Satu ingatan melintas di benaknya, kemudian sambil tersenyum, ia berjalan ke depan.

Beberapa langkah setelah mengikuti perempuan buruk rupa itu, secara diam-diam ia menggerakkan jarinya secepat kilat untuk menotok jalan darah di bawah iga perempuan tersebut. Seketika itu juga perempuan bertubuh kekar itu berdiri kaku di tempat semula seperti patung batu.

Tanpa memedulikan sekejap pun, Sik Tiong Giok segera membalikkan badan dan berlari ke muka. Dalam waktu singkat, ia berhasil menyusul nona berbaju kuning itu. Hawa nafsu membunuhnya kini berkobar. Dengan gerakan yang amat cepat, ia menyelinap ke belakang tubuh gadis tersebut kemudian mencengkeram lengannya. Dalam kagetnya, nona berbaju kuning itu bermaksud berpaling, tapi Sik Tiong Giok mengayunkan kembali jari tangannya menotok jalan darah nona tadi. Gadis itu tidak mampu bergerak maupun berbicara, hanya sepasang matanya terbelalak dengan pandangan tertegun.

Sambil menggertakkan gigi, Sik Tiong Giok melemparkan tubuh itu ke udara. Bagaikan kelereng, tubuh nona berbaju kuning itu terpental ke atas atap rumah, kemudian terbanting kembali ke bawah dengan kepala lebih dulu. "Praaaakk!" Batok kepalanya hancur berantakan dan jiwanya melayang meninggalkan raga.

Sik Tiong Giok tidak berhenti lama setelah melakukan perbuatan tersebut. Dengan gerakan cepat, ia kembali ke sisi perempuan buruk rupa tadi kemudian menepuk punggungnya. Perempuan itu segera memperoleh kembali kesadarannya dan meneruskan perjalanan ke depan. Oleh karena gerakan tangan Sik Tiong Giok yang lincah dan waktu yang teramat singkat, perempuan bermuka buruk itu hanya merasa sedikit tertegun lalu sadar kembali; ia sama sekali tidak curiga kalau jalan darahnya baru saja ditotok. Tanpa rasa curiga sedikit pun, ia meneruskan perjalanan membawa Sik Tiong Giok menuju ke ruang batu.

Baru saja tiba di depan ruang batu, Li Peng sudah berseru girang, "Engkoh Giok, akhirnya kau kembali juga! Saking tak sabarnya, hampir saja aku hendak menerjang keluar dari sini."

"Mengapa kau tidak berbuat begitu?" tanya Sik Tiong Giok dengan perasaan heran.

Li Peng tertawa. "Aku percaya kau pasti punya akal untuk kembali ke sini. Aku takut mengganggu rencana besarmu sehingga urusannya jadi terbengkalai. Dan sekarang..."

"Sekarang kenapa?"

"Sekarang aku berharap mempunyai banyak waktu untuk berkumpul bersama dirimu..." Ketika berbicara sampai di sini, tiba-tiba sepasang pipinya berubah merah semu. Setelah tersenyum malu-malu, ia menundukkan kepala.

Cepat-cepat Sik Tiong Giok mengalihkan pembicaraan, katanya sambil tertawa, "Keadaanku hari ini sungguh amat berbahaya. Andaikata suara genta tidak bergema pada saat yang tepat, mungkin aku sudah terjerumus ke dalam neraka dan tak bisa menolong diri lagi."

"Ooooh... apa yang telah kau jumpai? Cepat ceritakan kepadaku..."

Sik Tiong Giok tertawa hambar. "Aku tak akan berani mengelabui mu, tentu saja apa yang kualami akan kuceritakan semua." Secara ringkas, ia menceritakan apa yang dialaminya. Setelah mendengar kisah tersebut, Li Peng menjadi marah dan mendongkol. Dengan kening berkerut, ia berseru seraya mendengus, "Hmmm, benar-benar tak tahu malu! Menggunakan paras cantik untuk menyesatkan orang, terhitung orang macam apakah dia itu?"

Sementara mereka berbincang, mendadak dari luar terdengar suara gaduh. Dengan perasaan heran, mereka mendekati pintu dan melongok ke luar. Di luar gedung tampak lima orang nona berbaju kuning sedang melarikan diri terbirit-birit, sedangkan di belakang mereka nampak dua sosok bayangan manusia mengejar dengan ketat. Dalam waktu singkat, kedua belah pihak telah saling susul-menyusul.

"Hmmm, habis sudah riwayat hidup beberapa orang budak sialan itu," dengus Li Peng tiba-tiba.

Dengan perasaan tercengang, Sik Tiong Giok berseru, "Semenjak Telaga Gi Liong dihuni, konon selama tiga puluh tahun belum pernah ada lelaki yang masuk ke mari. Siapakah kedua orang itu? Nyata sekali mereka berhasil menerobos Istana Gi Liong Kiong." Belum habis perkataan itu diutarakan, dari kejauhan terdengar dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati. Dua gadis berbaju kuning roboh terjengkang ke tanah dalam keadaan tak bernyawa.

Berhasil dengan serangan mautnya, kedua sosok bayangan manusia itu tidak berhenti di situ saja. Dengan kecepatan luar biasa, mereka menyusul kembali ke arah keempat korban lainnya. Gerakan tubuh mereka berdua memang sangat hebat. Dalam sekejap mata, para korban berhasil disusul. Ketika keempat kepalan tangan mereka diayunkan ke depan, di antara deruan angin pukulan yang kuat, jeritan ngeri kembali bergema saling susul-menyusul. Tahu-tahu keempat gadis berbaju kuning itu sudah roboh terjungkal ke tanah. Setelah semua korbannya tewas, kedua pengejar itu menghentikan langkah dan celingukan memperhatikan keadaan di sekeliling.

Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok, benar-benar dibuat tercengang oleh adegan yang baru saja berlangsung. Apalagi dalam beberapa gebrakan saja, kedua orang tersebut berhasil membunuh para budak berbaju kuning. Pikirnya, "Aku dengar selama tiga puluh tahun terakhir ini belum pernah ada seorang lelaki pun yang pernah memasuki Istana Gi Liong Kiong, lalu siapakah kedua orang itu?"

Setelah kedua orang pembunuh itu berhenti, keadaan mereka terlihat lebih jelas. Ternyata mereka adalah lelaki berusia pertengahan yang berpakaian ringkas dan menyoren senjata di punggungnya. Yang seorang berwajah tampan, sebaliknya yang lain berwajah buruk. Setelah memeriksa sekejap keadaan di sekeliling, lelaki bermuka buruk itu memandang ke arah ruang batu tempat Sik Tiong Giok disekap, serunya kemudian dengan lantang, "Apabila kalian adalah tawanan yang disekap Gi Liong Kuncu di sana, cepatlah manfaatkan kesempatan ini untuk meninggalkan tempat tersebut..."

Baru saja Li Peng hendak menjawab, Sik Tiong Giok menghalangi niatnya sambil berbisik, "Jangan bergerak dulu, sebentar lagi akan ada keramaian untuk ditonton."

Benar juga, baru saja ia selesai berbicara, suara genta bergema di seluruh Istana Gi Liong Kiong. Menyusul kemudian serentetan suara musik yang lembut berkumandang membelah angkasa. Pada saat yang bersamaan, dari balik lapangan telah muncul sejumlah manusia. Begitu melihat kemunculan orang-orang itu, Li Peng segera berseru lirih, "Coba kau lihat, banyak juga yang datang! Ada jago-jago dari Siau Lim Pay, Go Bi Pay, Hoa San Pay..."

"Coba kau lihat, pihak Bu Tong Pay pun turut hadir," seru Sik Tiong Giok sambil tertawa.

"Ya, mereka benar-benar punya kemampuan. Nyatanya semua jago berhasil menyerbu masuk ke dalam Istana Gi Liong Kiong ini."

"Aku tebak mereka bukan menyerbu masuk dengan kekerasan, tapi dijemput oleh orang-orang yang diutus Gi Liong Kiong."

"Ah, mana mungkin? Aku tidak percaya!"

Sik Tiong Giok tertawa. "Apakah kau tidak melihat sederet bangunan rumah kayu di sisi tanah lapang itu?" ujarnya.

"Maksudmu mereka adalah orang-orang yang semula disekap dalam rumah kayu itu?"

"Ya, aku rasa memang begitu," sahut Sik Tiong Giok sambil mengangguk. "Hanya entah siapa yang telah membebaskan mereka semua?"

Sementara mereka masih berbincang, situasi dalam arena telah terjadi perubahan. Jago-jago dari pihak Gi Liong Kiong bermunculan dari segala penjuru lapangan sehingga kedua belah pihak saling berhadapan. Di satu pihak, jagonya terdiri dari lelaki semua, sedangkan di pihak lain jago-jagonya terdiri dari perempuan semua. Di pihak kaum perempuan tentu saja dipimpin oleh Gi Liong Kuncu; tampak ia duduk di balik sebuah kelambu dan lamat-lamat masih terlihat bayangan tubuhnya. Sedangkan di pihak kaum lelaki, ada yang berdandan hwesio, pendeta, maupun orang preman namun tak ada pentolannya. Mereka sedang menanti dengan perasaan gelisah.

Tiba-tiba dari balik tirai kelambu berkumandang suara teguran yang dingin dan kaku, "Siapa yang telah membebaskan kalian semua? Siapa pemimpin kalian? Ayo suruh keluar untuk menjawab!" Biarpun nada suaranya sangat halus dan lembut, namun setiap patah katanya serasa menusuk pendengaran.

Dari kelompok kaum lelaki, berjalan keluar seorang kakek ceking yang bertubuh kerdil. Sahutnya sambil tertawa terkekeh-kekeh, "Heeeehh... heeehhh... heeehhhh..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment