Chapter 15
"Bocah keparat! Rupanya kau ingin mencari penyakit untuk dirimu sendiri. Di hadapan Thi Jiu Hi In (Pertapa Nelayan Bertangan Baja) pun berani menggunakan kekerasan!" Mendengar nama tersebut, Ki Beng segera menarik kembali serangannya sambil melompat, lalu mengawasi tajam si kakek ceking itu dengan agak tertegun.
"Jadi kau adalah Pertapa Nelayan Bertangan Baja Siau Kun, Siau Locianpwe!"
"Hahahaha... Kenapa? Kau tidak percaya?"
"Aku memang agak kurang percaya. Bayangkan saja, Siau Locianpwe adalah seorang pendekar besar yang mengutamakan keadilan dan kebenaran. Bagaimana mungkin dia akan membantu Rasul Serigala untuk melakukan kejahatan? Apalagi menggunakan cara yang begitu rendah dan keji untuk menghadapi kami dua bersaudara!"
Pertapa Nelayan Bertangan Baja Siau Kun mendengus dingin, "Hmmm, itu urusan pribadiku. Mengapa kau harus mencampurinya?"
"Sebenarnya apa tujuanmu menghadapi kami dua bersaudara dengan cara begini?"
"Aku mendapat perintah dari Thian Long Bun untuk mencari gadis cantik, dan adikmu merupakan salah seorang pilihan. Apakah kau berniat melawan perintah..." Belum habis dia berbicara, tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang berkata nyaring, "Walaupun orang lain tak berani membangkang perintah, tetapi aku si nelayan kecil justru jemu melihatnya."
Ucapan yang bergema secara tiba-tiba ini kontan saja membuat dua orang yang sedang bersitegang di tengah arena menjadi terkejut. Serentak mereka berpaling. Seorang nelayan kecil berusia lima belas tahunan tahu-tahu sudah muncul di belakang si Pertapa Nelayan Bertangan Baja Siau Kun. Sambil memicingkan mata, dia mengawasi dua orang itu dengan senyum simpul.
Siau Kun segera mendengus dingin, "Hmmm, lagi-lagi kau bocah keparat yang datang mencari gara-gara..."
"Wah, kalau begitu kau kenal aku..." ejek nelayan cilik itu sambil tertawa cekikikan.
Ki Beng juga segera mengenali orang itu sebagai nelayan cilik dari perahunya. Hatinya lantas terkejut, tetapi sebagai bocah yang pintar, dengan cepat dia tahu bahwa ini adalah kesempatan baik baginya untuk segera bertindak. Ketika Siau Kun masih berbicara, dengan cepat dia memungut pedangnya dari atas tanah, lalu dengan jurus Wan Hong Liau Im (Burung Hong Terbang di Awan) menusuk sepasang lengan Si Tangan Baja Sian Kun.
Bagaimanapun juga, Pertapa Nelayan Bertangan Baja Sian Kun merupakan jagoan yang ternama. Ia sanggup mendengar ke empat arah delapan penjuru dengan jelas. Begitu melihat datangnya serangan, ia tersenyum. Ditunggunya sampai mata pedang itu hampir menyapu di atas tubuhnya, tahu-tahu ia berputar sambil menyeret tangan Soat Ji.
Dalam pada itu, Ki Soat Ji telah sadar kembali, tetapi berhubung jalan darahnya dicengkeram lawan, maka begitu tersentak, otomatis badannya maju sempoyongan menyongsong datangnya tusukan pedang dari Ki Beng.
Jeritan kaget segera berkumandang memecahkan keheningan. Padahal Ki Beng melepaskan serangannya tersebut dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya. Kalau dapat, dia ingin membacok tubuh Siau Kun sehingga putus menjadi dua bagian. Siapa tahu pandangan matanya tiba-tiba menjadi kabur, menyusul kemudian terdengar jeritan melengking. Ternyata pedangnya sedang membacok ke arah tubuh saudaranya sendiri.
Berada dalam keadaan begini, terpaksa dia harus membatalkan serangannya untuk menolong Ki Soat Ji dari kematian. Namun, dia pun cukup mengerti bila dia membatalkan serangan, maka pertahanan tubuhnya akan terbuka dan kesempatan tersebut tentu akan dimanfaatkan lawannya dengan sebaik-baiknya. Kendatipun demikian, dia lebih suka dirinya yang terluka daripada adiknya yang harus menjadi korban. Cepat pedangnya dibuang keluar sementara tubuhnya berputar mundur ke belakang. Siapa tahu karena menggunakan tenaganya terlalu besar, nyaris saja dia terjerumus kembali ke tengah sungai.
Pada saat itulah, ia mendengar Ki Soat Ji menjerit kaget. "Kakak...!" katanya.
Dengan perasaan terkejut Ki Beng bersiap-siap membalikkan badannya, tetapi serentetan suara dingin telah berkumandang lebih dulu. "Jangan berkutik! Asal kukerahkan tenagaku, maka kau akan kukirim ke neraka!" katanya mengancam.
Ki Beng benar-benar tak berani berkutik lagi. Dia dapat merasakan bagaimana jalan darahnya sendiri sudah diancam orang. Asal musuhnya mengerahkan tenaga, jiwanya pasti akan melayang. Dalam keadaan begini, terpaksa dia hanya bisa menghela napas panjang.
Mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara yang nyaring, "Hei, kakek ceking! Bersiaplah, kau harus tahu selembar nyawamu sudah jatuh ke dalam cengkeramanku!"
Pertapa Nelayan Bertangan Baja Sian Kun tertawa keras, "Bocah keparat, kau anggap punya kemampuan untuk membinasakan aku?"
Nelayan cilik itu tersenyum, "Kalau aku mau, tak perlu lagi bersusah payah. Aku pun yakin kau pasti merasa jalan darah apa yang sekarang kutekan dengan jari tanganku ini."
"Aku tahu, jalan darah Pat Hong Hiat."
"Tentunya kau mengetahui kelihayan dari Hong Bong Ji Tong (Burung Hong Masuk Gua), bukan?"
Sian Kun terkesiap setelah mendengar ucapan ini, tetapi ia berusaha keras untuk menenteramkan hatinya. Lalu katanya, "Sebelum kau sempat turun tangan keji, aku akan menghabisi dulu nyawa keparat marga Ki ini!"
"Jika kau berani berbuat demikian, aku bersumpah akan menyuruhmu merasakan betapa enaknya disiksa dengan dua belas tangan cacat!" kata nelayan kecil itu mengancam.
Sementara pembicaraan berlangsung, tiba-tiba tangan kirinya diayunkan ke muka dan secara beruntun menotok empat jalan darah penting di keempat anggota badan Siau Kun. Setelah itu, ia berujar sambil tertawa terkekeh-kekeh, "Kau telah menyia-nyiakan kesempatan yang baik untuk membunuh orang. Sekarang yang terkuasai adalah dirimu sendiri. Nah, katakanlah siapa yang bakal mampus?" katanya sinis.
Pertapa Nelayan Bertangan Baja Sian Kun dapat merasakan sepasang lengannya menjadi kaku. Tiba-tiba saja semua kekuatan badannya lenyap tak berbekas. Telapak tangan kanan yang semula ditempelkan di atas punggung Ki Beng pun sekarang terkulai ke bawah. Dengan begitu, Ki Beng dua bersaudara berhasil lolos dari lubang kematian. Dengan perasaan terkejut, mereka hanya bisa mengawasi si nelayan cilik itu dengan termangu.
Sebaliknya, si Pertapa Nelayan Bertangan Baja Sian Kun sendiri kelihatan kuyu. Pelan-pelan ia duduk di atas batu dan memandang sekejap ke arah nelayan kecil tersebut dengan pandangan benci. Katanya dengan suara dingin, "Bocah keparat, berulang kali kau berani memusuhi Rasul Serigala. Suatu ketika kau pasti akan menyesal sendiri!"
"Hahahaha... yang bakal menyesal di kemudian hari bisa jadi bukan aku," nelayan cilik itu tertawa terkekeh-kekeh.
Sementara mereka masih berbincang-bincang, lima atau enam orang manusia aneh berkepala serigala yang berjaga-jaga di seputar sana melihat pemimpin mereka sudah jatuh ke tangan musuh. Serentak mereka membentak keras, kemudian bersama-sama menerjang ke muka.
Ki Soat Ji belum hilang rasa kagetnya. Melihat kejadian tersebut, segera ia menjerit, "Kakak... lihat, ada orang datang!"
Ki Beng menjadi gusar sekali. Dengan mata melotot dan pedang digenggam erat-erat, ia siap menyongsong datangnya ancaman tersebut.
"Toa Siangkong!" nelayan cilik itu segera tertawa terkekeh-kekeh. "Untuk menghadapi manusia seperti itu lebih baik aku saja yang maju, sedang kau sendiri silakan melindungi adikmu!"
Tubuhnya sama sekali tidak bergeser dari posisi semula. Dengan senyum dikulum, dilihatnya keenam manusia aneh berkepala serigala itu datang menerkam ke arahnya. Dengan pedang terhunus, sebenarnya Ki Beng sudah bersiap-siap maju ke muka. Namun, setelah menyaksikan keadaan adiknya, dia merasa tak tega meninggalkannya seorang diri. Untuk sesaat dia tertegun dan tak tahu harus maju atau mundur; keadaan sangat mengenaskan.
Dalam waktu singkat, keenam manusia aneh berkepala serigala itu sudah berlompatan turun dari atas batu karang. Masing-masing orang segera menggerakkan senjatanya dan bersama-sama menerjang ke arah nelayan kecil itu. Mendadak nelayan cilik itu berpekik nyaring. Tubuhnya mengelak ke samping lalu menyongsong datangnya ancaman itu. Tidak terlihat gerak serangan apa yang dipergunakan olehnya, hanya tampak lengannya bergerak kian kemari dan jeritan kaget pun bergema memecahkan keheningan. Keenam orang itu secara bergiliran sudah terlempar ke dalam sungai.
Jangan lagi Ki Beng bersaudara dibuat termangu, bahkan si Pertapa Nelayan Bertangan Baja Sian Kun yang tergeletak di atas tanah pun kagetnya bukan kepalang. Buru-buru dia bertanya, "Saudara cilik, kepandaian apa yang kau latih?"
"Aku dapat menguasai tujuh puluh dua cara ilmu melempar serigala. Yang baru kugunakan hanya dua di antaranya!"
Sian Kun semakin terkejut lagi. Buru-buru dia berkata kembali, "Apakah kau benar-benar adalah anak murid dari Manusia Serigala?"
Nelayan cilik itu menggeleng. "Dia adalah ayahku, sedang namaku Sik Tiong Giok."
Siau Kun menjerit tertahan, "Ah, kau adalah putra Si Kakek Serigala? Si Pangeran Serigala? Tak heran kalau kepandaian silatmu sangat hebat. Lantas... siapakah Rasul Serigala itu?"
"Dia adalah seorang murid murtad dari Perguruan Serigala Langit. Ia bernama Giok Bun To Juang (Si Penjegal Berwajah Kemala), Cu Bu Ki. Selama ini dia hanya mencatut nama ayahku untuk melakukan kejahatan di mana-mana!"
"Ahai, aku memang sudah curiga sedari permulaan," Sian Kun menghela napas panjang.