Chapter 151
Dengan kerlingan mata yang tajam, ia memperhatikan sekejap orang-orang itu, kemudian ujarnya dingin, "Kau anggap aku tidak memiliki kemampuan untuk berbuat begitu?"
"Ya betul, aku menganggap kau memang tak mampu," jawab si kakek cebol sambil tertawa.
Gi Liong Kuncu segera tertawa dingin. Sambil mengulapkan tangannya, ia berseru, "Ui Kiok Kiu Li, segera turun ke arena dan bekuk mereka semua serta kembalikan ke kamar tahanan." Baru saja perintah diberikan, sembilan orang perempuan berbaju kuning yang berada di hadapannya menyahut sambil meloloskan pedang, serentak mereka menerjang ke arah para jago.
Kakek cebol segera berpaling seraya berseru, "Babak pertama ini seharusnya ditangani oleh kalian orang-orang Butong Pay. Coba beri pelajaran kepada mereka dengan ilmu pedang kalian yang hebat, jangan biarkan nama baik kalian rusak oleh budak-budak ingusan itu." Seorang tosu yang bercambang lebat segera menyahut dengan lantang, "Bu liang siuhud, biarpun darah kami harus berceceran di lantai Gi Liong Kiong, akan kami menangkan pertarungan babak ini!" Pedang yang telah diloloskan dari sarung segera digetarkan di tengah udara. Seketika itu juga delapan orang tosu sama-sama meloloskan senjata masing-masing dan menyongsong kedatangan kesembilan perempuan tersebut.
Dalam waktu singkat, pertarungan telah berlangsung dengan serunya. Cahaya pedang berkilauan memenuhi angkasa, bayangan manusia silih berganti saling menerjang.
Kalau di satu pihak lebih mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya, maka pihak yang lain lebih mengutamakan kelincahan jurus serangannya. Untuk beberapa saat, kekuatan mereka masih berimbang. Namun, setelah pertarungan berlangsung lebih lama, anggota perguruan Butong Pay mulai tak mampu menahan diri. Lambat laun mereka terdesak hebat.
Ilmu pedang yang dipergunakan Ui Kiok Kiu Li tersebut memang sangat hebat, barisan yang digunakan juga amat kuat, di mana sebuah serangan tertuju, delapan pedang lainnya menyusul secara beruntun. Biarpun murid-murid Butong Pay memiliki tenaga dalam yang jauh lebih sempurna, menghadapi tekanan yang datangnya dari empat penjuru, kemampuan mereka tidak dapat berkembang secara maksimal.
Sementara itu, barisan pedang dari kesembilan perempuan berbaju kuning mulai menyusut dan mengencang. Selapis badai hawa pedang yang amat dahsyat mengurung murid-murid Butong Pay dengan ketat. Berada dalam keadaan seperti ini, melawan terus berarti ada ancaman kematian. Dengan kata lain, kecuali menyerahkan diri, tiada jalan kedua lagi bagi mereka.
Sik Tiong Giok serta Li Peng yang mengikuti jalannya pertarungan itu dari balik ruangan batu merasa terkejut menyaksikan kejadian ini. Li Peng segera berseru, "Engkoh Giok, apakah kau punya cara yang baik untuk mematahkan barisan itu? Bila keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, sudah pasti anak murid Butong Pay terpaksa harus kembali ke dalam kamar tahanan!"
"Biarpun aku belum mempunyai cara terbaik untuk memecahkan barisan tersebut, aku rasa anak murid Butong Pay tak akan sebodoh itu. Mereka pasti lebih suka mati daripada dikembalikan ke penjara." Belum habis perkataan diutarakan, jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang dari arah arena; ternyata seorang murid Butong Pay telah tertusuk dadanya hingga tewas.
Saat itulah terdengar Gi Liong Kuncu berkata dengan suara dingin, "Apakah kalian akan melawan terus? Lebih baik cepat-cepat kembali ke kamar tahanan, kalau tidak, akan kusuruh kalian mati semua di dasar telaga Gi Liong Oh."
Si tosu bercambang yang agaknya merupakan pimpinan rombongan menyahut sambil membentak, "Anak murid Butong Pay bukan manusia pengecut yang takut mati! Apabila kau hendak menghadapi kami secara keji, silakan saja dilakukan, kami tak bakal gentar!"
Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari kejauhan berkumandang suara seseorang yang berseru sambil tertawa, "Hei Si Hian, si kerbau kecil, kau benar-benar tak becus. Masa menghadapi beberapa bocah perempuan saja tak berkutik? Apakah kau tidak khawatir membuat malu gurumu?"
Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, tampak sesosok bayangan abu-abu melayang turun di tengah arena. Ternyata dia adalah seorang kakek jangkung yang membawa tongkat bambu. Li Peng yang berada di dalam ruangan batu segera berseru, "Ah, ternyata Ong Susiok juga telah datang."
Mendengar itu, Sik Tiong Giok tertawa, "Kalau dugaanku tak salah, yang datang bukan cuma dia seorang. Siapa tahu ketiga sesepuh itu sudah datang semua." Ternyata yang baru saja muncul adalah Ku Tiok Lojin Ong Hian. Begitu melayang turun ke tengah arena, tongkat bambunya langsung disodokkan ke depan dan menerobos ke dalam barisan pedang dari sembilan perempuan berbaju kuning. Tampak tongkat bambunya sebentar menyodok ke kiri lalu menghantam ke barat; dalam waktu singkat barisan lawan dibuat kocar-kacir tak karuan.
Mendadak dari kejauhan berkumandang kembali suara pekikan yang amat nyaring, keras bagaikan pekikan naga yang menusuk pendengaran. Sambil tertawa, Sik Tiong Giok segera berkata, "Wah, rupanya toa supek-ku juga turut datang."
"Kau maksudkan Thian Liong Siu Sin lo cianpwee?"
"Benar. Bila kau mendengar pekikan bangau, itu berarti ji supek-ku yang datang."
"Kalau yang kudengar adalah suara lolongan serigala?" goda Li Peng sambil tertawa cekikikan.
Sik Tiong Giok tertawa geli, sahutnya, "Hei budak ingusan, sejak kapan kau belajar nakal? Berani amat kau menggoda ku?"
Sementara kedua orang itu masih bergurau, situasi dalam arena telah terjadi perubahan besar. Menghadapi sodokan tongkat bambu dari Ku Tiok Lojin, barisan sembilan perempuan berbaju kuning itu sudah kocar-kacir. Pada saat itulah kakek naga langit Siu Bun muncul pula di tengah arena.
Menyaksikan keadaan tersebut, Gi Liong Kuncu segera berseru dengan suara keras, "Cepat bunyikan genta emas dan kumpulkan segenap pengawal yang berada di sini!"
Dua orang gadis berbaju merah segera melejit ke udara dan langsung kabur menuju ke loteng genta di muka keraton. Namun, baru saja mereka tiba di bawah loteng, genta telah berbunyi bertalu-talu. "Trang... trang... trang..."
Dengan perasaan terkejut, dua orang perempuan itu mendongak. Sebelum mereka sempat menegur, dari atas loteng seseorang berseru sambil tertawa nyaring, "Haah... haah... haah... aku telah mewakili kalian berdua untuk membunyikan genta emas! Ingin kulihat sekarang siapa yang akan datang mengantar kematiannya!"
Di tengah gelak tawa yang amat keras, tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia dari atas loteng dan berkelebat lewat seringan asap. Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap. Untuk beberapa saat, kedua gadis berbaju merah itu tertegun dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Sementara itu, dari sekeliling tanah lapang telah berdatangan pula banyak orang aneh. Ternyata tujuh iblis dari kota Ci Sia yang mati ditelan naga kini muncul dalam keadaan segar bugar, bahkan menjadi pengawal pribadi Gi Liong Kuncu. Sik Tiong Giok keheranan setengah mati setelah menyaksikan kejadian tersebut, gumamnya dengan perasaan tercengang, "Betul-betul suatu kejadian yang sangat aneh, mengapa mereka utuh dan hidup segar?"
"Siapa sih yang kau maksudkan?" tanya Li Peng.
"Siapa lagi, tentu saja ketujuh iblis dari Ci Sia. Menurut si Raja Setan kepala botak, mereka telah ditelan semua oleh naga siluman, tapi mengapa semuanya utuh dan hadir di situ?"
Setelah mengerdipkan matanya berulang kali, Li Peng menjawab, "Aku rasa di balik kesemuanya ini pasti ada hal yang luar biasa, siapa tahu kita sudah terkena siasat busuk lawan."
Tiba-tiba saja Sik Tiong Giok merasakan hatinya tergerak. Tanpa terasa ia berpaling dan mengawasi wajah Li Peng lekat-lekat. Li Peng menjadi rikuh setelah dipandang seperti itu. Tiba-tiba saja paras mukanya berubah menjadi merah padam, segera bentaknya, "Hei, kenapa sih kau mengawasi diriku dengan cara seperti ini?"
Dengan suara dingin, Sik Tiong Giok segera berkata, "Aku dengar Gi Liong Oh mempunyai dua belas tusuk konde emas yang semuanya berwajah persis seperti kau, benarkah itu?"
"Ya, benar. Mereka telah mengubah wajah seseorang dengan menggunakan obat-obatan, tapi wajahnya tidak terlalu mirip. Ada apa sih?"
"Sepanjang perjalanan menuju kemari, aku telah berjumpa beberapa orang di antaranya. Ketika hampir terjerumus dalam neraka perempuan, aku pun bertemu lagi dengan beberapa orang di antaranya. Sulit rasanya untuk membedakan satu sama lainnya."
Li Peng tertawa cekikikan, "Hal ini disebabkan kau tidak teliti, padahal jika kau mau memperhatikan dengan saksama, maka tak sulit untuk membedakannya!"
"Aku tidak mengerti soal ini."
"Gaya maupun sikapnya kan berbeda..."
Tiba-tiba Sik Tiong Giok seperti memahami sesuatu, segera katanya, "Ah, ya... betul, betul, aku sudah mengerti sekarang..."
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara nyaring, "Hei setan berkepala botak! Kau benar-benar membuatku penasaran. Seandainya aku tidak bertemu dengan siluman rase hitam, mungkin saat ini aku telah bertemu dengan raja Giam!"
Sik Tiong Giok segera berpaling setelah mendengar perkataan itu. Tampak dua orang bocah kecil memunculkan diri dari kerumunan orang banyak; mereka adalah si nona kecil Sim Cui serta si Kalajengking Kecil, Siu Cing.