Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 152

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 152

Raja setan kepala botak yang berdiri di sisi Gi Liong Kuncu segera berseru sambil tertawa, "Bocah cilik, hitung-hitung umurmu memang masih panjang."

"Bukankah kau pernah mengatakan sambil menangis bahwa beberapa orang saudaramu sudah mati dicaplok naga siluman?" seru Siu Cing lagi dengan penasaran.

"Benar! Aku berani bersumpah tak membohongi dirimu."

"Lalu mengapa mereka masih hidup segar bugar hingga sekarang?" Si Raja setan kepala botak segera tertawa. "Kami orang-orang dari istana iblis memang memiliki ilmu sakti pelindung badan, bagaimana mungkin siluman naga bisa mencaplok kami semua?"

"Huuh, kentut busuk," seru Siu Cing sambil menarik muka, "aku tebak kalian pasti sedang bermain gila."

Mendadak si kakek cebol Kongsun Swan menyela, "Anak muda, kau tak usah bertanya lagi, bahkan aku sendiri pun bisa sampai kemari karena ditelan siluman naga."

Siu Cing segera membelalakkan matanya lebar-lebar, kemudian berdiri tertegun. Sementara itu, di sisi Gi Liong Kuncu telah bertambah lagi empat orang manusia. Ketika si kakek Naga Langit, Sin Bun, melihat kehadiran orang-orang itu, mendadak paras mukanya berubah hebat. Ia segera berseru dengan suara dingin, "Ehm, tampaknya tidak sia-sia aku datang menghadiri pertemuan puncak ini. Tak nyana bisa bersua dengan sobat lama yang telah berpisah banyak tahun, kejadian seperti ini benar-benar pantas dirayakan dengan sebaik-baiknya."

Ku Tiok Lojin berjalan mendekat sehabis membuyarkan kerubutan sembilan orang perempuan seruni kuning itu. Ketika mendengar perkataan tersebut, ia segera berujar sambil tertawa, "Hei Ular Panjang, mungkin kau sudah bertemu dengan seteru lamamu, kalau tidak masa mukamu jadi hijau membesi? Hayo katakan dulu, manusia macam apa sih dirinya?"

"Itu dia, keempat cecunguk yang baru datang itu," seru Kakek Naga Langit sambil menuding ke muka.

Ku Tiok Lojin memperhatikan orang-orang itu sesaat, lalu katanya sambil menggelengkan kepala, "Teramat asing bagiku, belum pernah rasanya bersua dengan mereka..."

"Biarpun asing bagi pandanganmu, pasti tak bagi pendengaranmu. Pernah kau dengar tentang empat siluman dari gurun pasir?"

Mendengar nama tersebut, tiba-tiba saja sekujur badan Ku Tiok Lojin bergetar keras. Cepat-cepat ia berseru, "Oooh, kau maksudkan sisa-sisa pelarian dari gurun pasir dulu? Masa mereka belum mampus?"

Si kakek yang bersenjata tombak pendek segera menyela dengan suara lantang, "Kami bersaudara telah berhasil melatih ilmu kebal, hidup kami masih cukup panjang."

Kakek Naga Langit segera menjelaskan, "Orang ini adalah si Siluman Tombak Baja, Un Piau!"

"Dan aku bernama Siluman Martil Emas, Beng Sah," sambung seorang kakek berwajah merah dengan suara nyaring. Menyusul kemudian pedang To Hong dan siluman kepalan Lu Bong turut memperkenalkan namanya.

Sambil mendengus, Kakek Naga Langit segera berkata, "Setelah jiwa kalian pernah kuampuni sewaktu berada di tepi telaga Tah Sim Oh tempo hari, kini kalian berani membuat onar pula di tepi telaga Gi Liong Oh. Hmm, manusia semacam kalian ini tak dapat diampuni lagi."

"Hei manusia she Sin, kau jangan sombong dulu," bentak siluman kepalan To Hong dengan suara keras, "kedatangan kami hari ini tak lain adalah hendak membuat perhitungan dengan dirimu."

"Bagus sekali, kita memang sudah seharusnya memperhitungkan kembali hutang-hutang lama. Tapi apakah kalian hendak maju bersama-sama ataukah maju seorang demi seorang?"

"Haa... haa... haa...," Siluman Tombak Baja tertawa seram, "biarpun harus satu lawan satu, loyamu tak bakal takut. Sambut dulu sebuah tusukan tombakku ini!"

Seraya berseru, sepasang tombak pendeknya segera diputar sambil menyerbu ke dalam arena.

"Bagus sekali," bentak Kakek Naga Langit pula, "biar kukirim dulu dirimu ke neraka." Tongkat penakluk naganya digetarkan, lalu menciptakan selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata.

Suasana di sekeliling arena waktu itu amat hening dan tak kedengaran sedikit suara pun. Semua orang sedang memperhatikan jalannya pertarungan antara jago-jago golongan lurus dengan sesat ini; mereka ingin tahu sampai di manakah taraf kepandaian silat yang mereka miliki.

Tiba-tiba terdengar Li Peng yang berada dalam ruangan batu berkata sambil menghela napas panjang, "Aku kuatir Kakek Sin masih bukan tandingan lawan."

"Tapi aku tebak yang kalah nanti pasti keempat siluman dari gurun pasir!" sambung Sik Tiong Giok dingin.

"Dari mana kau bisa mengatakan begitu?" tanya Li Peng sambil melotot besar.

"Sejak dulu hingga sekarang, kaum sesat tak akan menang melawan kaum lurus, apa lagi yang mesti dikatakan?"

Li Peng segera tertawa, "Menurut pendapatku, untuk bisa menaklukkan keempat siluman itu, guruku harus turut serta juga dalam pertarungan itu."

Tiba-tiba dari luar arena situ terdengar seseorang berteriak dengan suara keras seperti geledek, "Hei bocah tolol, kau benar-benar tidak penurut, mengapa kau boleh menyerah sesuka hati?"

Ketika semua orang berpaling, dapat dilihat orang yang barusan berteriak adalah si Lengan Baja Ciu Siang. Sik Tiong Giok jadi tercengang, segera pikirnya, "Bukankah dia sudah pergi mengikuti Huan Li Ji? Mengapa bisa muncul juga di sini?"

Belum habis ingatan tersebut melintas, kembali terdengar seseorang berseru keras, "Hei bocah gede, rupanya kau pun ikut datang." Yang berteriak barusan adalah si Tendangan Geledek A Poo.

Tanpa rasa jeri, mereka berdua langsung berjalan menuju ke tengah lapangan.

Sementara itu, permainan tongkat penakluk naga dari Kakek Naga Langit sudah mencapai puncaknya. Jurus-jurus yang mematikan dilancarkan berulang kali, tapi Siluman Tombak Baja pun bukan manusia lemah; jurus-jurus serangan ilmu tombaknya dapat menghadapi setiap ancaman secara mantap. Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertarung dua puluhan gebrakan lebih.

Kakek Naga Langit dengan mengandalkan pengalamannya yang luas, jurus serangannya yang matang, serta tenaga dalamnya yang sempurna, secara paksa berhasil menempati posisi setingkat lebih atas. Sebaliknya, Siluman Tombak Baja menderita rugi akibat wataknya yang berangasan dan kasar. Ketika melihat serangannya sekian lama belum juga dapat mengalahkan Kakek Naga Langit, emosinya jadi meledak; jurus-jurus mematikan pun dilontarkan berulang kali.

Mendadak ia berteriak keras, "Roboh kau!" Menyusul bentakan ini, senjata tombaknya langsung disodokkan ke depan.

Cepat-cepat Kakek Naga Langit menarik lambungnya ke belakang sambil mengeluarkan ilmu langkah *To Cay Jit Seng Poh*. Dengan suatu gerakan yang manis, ia berhasil meloloskan diri dari ancaman tersebut. Dengan gerakan itu, nampaknya serangan tombak itu akan mengenai sasaran yang kosong karena jelas panjang senjata itu tidak cukup untuk mencapai sasarannya.

Siapa tahu, pada saat itulah tombak besi yang panjangnya hanya tiga depa itu tiba-tiba memanjang satu depa lebih panjang daripada keadaan normal. Tentu saja kejadian yang sama sekali tak terduga ini sangat mengejutkan para jago lainnya yang menonton jalannya pertarungan itu. Tak heran jeritan kaget bergema dari sana-sini.

"Aah...!"

Namun sayangnya, Kakek Naga Langit justru telah mengetahui keistimewaan dari senjata lawan. Tiba-tiba saja dia memutar badannya sambil mundur sejauh lima langkah. Agaknya permainan busuk dari senjata tombak Siluman Tombak Baja bukan hanya sampai di situ saja. Begitu melihat Kakek Naga Langit melangkah mundur, tiba-tiba ia membentak lagi, "Kena!"

Tiba-tiba saja dari balik senjata tombak di tangan kanannya yang sedang menyodok ke depan, memancar keluar segumpal cahaya bintang yang amat menyilaukan mata. Menyusul kemudian tangan kirinya diayunkan, lagi-lagi sebatang tombak pendek yang berantai melesat ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Digencet oleh dua buah serangan maut yang datang dari dua arah yang berbeda, Kakek Naga Langit betul-betul tiada jalan lain untuk menghindarkan diri. Terpaksa dia harus memutar tongkatnya kencang-kencang untuk menghadapi ancaman itu.

Pada saat inilah, dari tengah udara melayang turun sesosok bayangan manusia yang langsung menghadang di muka Kakek Naga Langit. Lalu terdengarlah suara benturan keras yang bergema silih berganti diakhiri dengan suara gemerincingan yang sangat keras.

Kilauan cahaya bintang itu semuanya menyambar ke tubuh orang tersebut, sementara tombak pendek berantai itu pun berhasil membelenggu sepasang kakinya. Namun anehnya, orang itu justru bersikap acuh tak acuh, malah berdiri di sana sambil tertawa terkekeh-kekeh; badannya sama sekali tak bergerak.

Tapi orang yang paling terkejut adalah Ban Biau Siankoh, Lu Yong Poo. Dia menjerit melengking dengan suara yang amat kaget, lalu roboh tak sadarkan diri.

Sebaliknya, Sik Tiong Giok yang berada dalam ruangan batu justru merasa tak terlukiskan gembiranya setelah melihat kemunculan orang itu, bahkan Li Peng pun turut berseru tertahan, "Aaah, dia!"

"Ya, aku yakin telaga Gi Liong Oh bakal tumpas sama sekali kali ini," seru Sik Tiong Giok tertawa.

"Kau kenal dengan dia?"

"Tentu saja kenal, kami kan sahabat lama," sahut pemuda itu sambil tertawa lagi.

"Kau mengetahui siapakah dia?"

"Rase Sakti Li Keng Kiu, bukankah begitu?"

"Hanya betul separuh!" Sik Tiong Giok segera mengerdipkan sepasang matanya yang jeli. Kemudian, setelah tertegun sejenak, katanya, "Perkataanku hanya benar separuh? Coba kau terangkan lebih jelas lagi!"

"Dia adalah ayah kandungku."

Bagaikan baru memahami akan sesuatu, Sik Tiong Giok segera berseru, "Oooh... mengerti aku sekarang, tak heran kalau wajahmu dengan Huan Li Ji bisa mirip sekali. Kalau begitu, ibu kandungmu pastilah Ban Biau Siankoh."

Tiba-tiba saja paras muka Li Peng berubah menjadi amat sedih. Dia menggelengkan kepalanya pelan-pelan. "Bukan, ibuku bernama Chin Soat Hong... aduh..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment