Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 153

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 153

"Kita jangan membicarakan soal ini lagi, pokoknya utang piutang harus dituntut balas..." Dalam pada itu, Siluman Tombak Baja tampak terperanjat setelah menyaksikan kemunculan Si Rase Sakti.

Sebagai manusia yang licik dan banyak tipu muslihatnya, meski kaget, pikirannya tidak sempat kalut. Buru-buru ia menarik kembali serangannya, lalu berniat mengendalikan kekuatan lengannya yang mencapai seribu kati itu untuk membetot Si Rase Sakti hingga roboh terjungkal.

Siapa sangka, pada saat itulah dari tengah udara melayang turun seorang sastrawan berusia pertengahan. Orang itu mendarat persis di lantai. Kontan saja Siluman Tombak Baja merasakan pergelangan tangannya sakit sekali; tahu-tahu rantai pada tombak pendek tersebut sudah terlepas dari genggamannya. Kejadian ini tentu saja amat mengejutkan ketiga orang siluman lainnya. Sambil membentak keras, serentak mereka terjun ke dalam arena dan mengelilingi tubuh Siluman Tombak Baja.

Kemudian Siluman Pedang To Hong menjura seraya berkata, "Kami benar-benar kagum dengan kepandaian silat Anda, bolehkah aku tahu siapa namamu?"

Sastrawan itu bersikap seakan-akan tidak mendengar. Ia hanya mengawasi keempat siluman itu sambil tertawa terkekeh-kekeh dan sama sekali tidak menggubris. Melihat orang itu bersikap acuh tak acuh, sorot mata keempat siluman itu pun bersama-sama tertuju ke arah lawan.

"Apakah kau tak berani menyebutkan namamu?" jengek Siluman Pedang dengan suara dingin.

Namun, sastrawan berusia pertengahan itu masih saja tertawa bodoh tanpa menjawab. Bahkan, sinar matanya sudah dialihkan dari wajah para jago ke arah wajah Gi Liong Kuncu. Tiba-tiba ia tidak tertawa lagi, dengan pandangan mendelong ia mengawasi wajah cantik Gi Liong Kuncu tanpa berkedip.

Si Rase Sakti Li Keng Kiu segera tertawa, katanya, "Menyinggung tentang orang ini, sebenarnya dia bukan termasuk manusia sembarangan."

"Kalau memang seorang ternama, mengapa ia justru bersikap tuli dan bisu serta tak berani menyebutkan nama sendiri?"

Kembali Si Rase Sakti tertawa, "Ucapanmu benar. Dia memang seorang tokoh yang bisu lagi tuli. Tiga puluh tahun berselang, setiap orang tentu akan bergidik bila mendengar nama Sastrawan Bisu Tuli!"

"Sastrawan Bisu Tuli? Dia..." Siluman Pedang To Hong menjerit kaget. Saking terkejutnya, paras muka keempat siluman itu seketika berubah hebat.

Li Peng yang menyaksikan hal ini segera berbisik, "Engkoh Giok, apa hebatnya Sastrawan Bisu Tuli itu? Coba lihat, mereka sudah ketakutan setengah mati."

Sik Tiong Giok termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya, "Aku memang pernah mendengar Ayah Angkat membicarakan tentang persoalan ini. Memang ada manusia bernama begitu, konon ilmu silat yang dimilikinya sangat hebat."

"Dia itu termasuk orang baik atau orang jahat?"

"Posisinya terletak di antara lurus dan sesat. Lagi pula, ia sudah bisu dan tuli sejak dilahirkan. Ada kalanya dia melakukan kebaikan, tapi kadangkala sikapnya kelewat sesat. Paling buruk, dia gemar main perempuan dan pantang melihat wanita cantik."

Berbicara sampai di situ, dia membungkam. Sorot matanya dialihkan kembali ke wajah Sastrawan Bisu Tuli. Mengikuti arah pandangan pemuda itu, Li Peng ikut pula memandang. Ternyata Sastrawan Bisu Tuli sudah berdiri dua kaki di hadapan Gi Liong Kuncu, mengawasi nona itu dengan senyum dikulum dan terus menggapai-gapai.

Sejak memunculkan diri di dunia persilatan, Gi Liong Kuncu boleh dibilang merupakan seorang tokoh misterius. Setiap perintahnya sanggup membuat suasana dunia persilatan menjadi kalut. Banyak sekali jago persilatan yang sudah roboh dipecundangi sebelum sempat bertemu wajahnya. Terutama beberapa tahun belakangan ini, kekuatan mereka tumbuh dan daya pengaruhnya makin luas. Boleh dibilang, kebuasan dan kekejian mereka telah merambat ke seluruh dunia persilatan.

Kali ini, dengan segala akal muslihatnya, dia bermaksud meringkus semua jago kenamaan dari dunia persilatan kemudian menguasai seluruh dunia. Dia menganggap jika dunia sudah jatuh di tangannya, maka siapa pun tak berani membangkang perintahnya lagi. Selain itu, dia pun punya rencana hendak mendapatkan Kelabang Langit berusia seribu tahun yang tak lama lagi akan muncul.

Siapa tahu dalam saat seperti ini justru muncul raja penggoda perempuan, Sastrawan Bisu Tuli. Amarahnya segera memuncak setelah melihat sikap yang kurang ajar itu, segera ia membentak keras, "Cepat kalian bunuh bajingan itu!"

Bersamaan dengan menggemanya bentakan itu, dalam waktu singkat bayangan manusia saling berkelebat. Sembilan perempuan Seruni Kuning, sepuluh tusuk konde Anggrek Putih, ditambah empat puluh orang Botan Hitam dan Anyelir Merah, semuanya turun tangan bersama-sama. Dalam waktu singkat, kawanan jago perempuan itu sudah mengurung Sastrawan Bisu Tuli serta mengepungnya rapat-rapat.

Sikap Sastrawan Bisu Tuli masih tetap tenang seakan-akan tak terjadi sesuatu apa pun; ia hanya tertawa bodoh. Mendadak suara bentakan bergema silih berganti. Puluhan bilah pedang segera membentuk selapis kabut cahaya yang serentak menyerang tubuh Sastrawan Bisu Tuli. Bentakan marah menggelegar pula di angkasa, tiba-tiba muncul segulung desingan angin tajam yang menyapu, membuat pedang-pedang itu saling membentur dan menimbulkan suara desingan yang amat nyaring. Lalu terdengar jeritan kaget dan teriakan yang menusuk pendengaran; suasana waktu itu benar-benar mengerikan.

Menanti sorot mata semua orang dialihkan kembali ke arah Sastrawan Bisu Tuli, entah bagaimana ternyata ia telah berhasil memeluk tubuh Gi Liong Kuncu. Agaknya perempuan itu sudah kehilangan tenaganya sama sekali, dengan lemas ia bersandar dalam pelukan Sastrawan Bisu Tuli.

Sikap Sastrawan Bisu Tuli waktu itu tak ubahnya seperti kucing kelaparan. Dia memeluk tubuh Gi Liong Kuncu dengan kencang sementara mulutnya menciumi sekujur tubuh perempuan itu, sepasang tangannya juga mulai meraba dan menggerayangi bagian rahasia nona itu.

Akibatnya, para jago perempuan seperti Seruni Kuning, Anggrek Putih, Anyelir Merah, dan Boan Hitam dibuat terkejut, gusar, malu, dan gemas. Malah ada di antara mereka yang jadi nekat dan melupakan keselamatan jiwa sendiri; dengan bentakan keras tubuh mereka langsung menerjang ke muka.

Sastrawan Bisu Tuli sama sekali tidak mendongakkan kepala. Mendadak dia mengayunkan tangannya berulang kali. Dalam waktu singkat, seluruh angkasa telah diliputi hawa serangan yang luar biasa.

"Blaaammm... blaaammm... blaaammmm." Suara benturan bergema berulang kali. Perempuan-perempuan yang tak takut mati itu terhajar oleh pukulan yang maha dahsyat sehingga mencelat ke belakang, menjerit kesakitan, kemudian jatuh terguling di tanah.

"Breet..." Tiba-tiba terdengar suara baju yang dirobek orang.

Ternyata Sastrawan Bisu Tuli telah merobek pakaian yang dikenakan Gi Liong Kuncu sehingga terlihatlah sepasang payudara yang putih, montok, dan kenyal. Dengan begitu, Gi Liong Kuncu kehilangan kewibawaannya setelah terungkap kemisteriusannya; ternyata ia tak jauh berbeda seperti perempuan lainnya. Rasa malu, cemas, gelisah, dan marah membuat perempuan itu tak mampu mengendalikan diri lagi. Dia menjerit melengking, kemudian roboh tak sadarkan diri.

Sementara itu, ketujuh iblis dari Kota Ci Sia sama sekali tidak melakukan tindakan apa pun. Sekalipun sudah meloloskan senjata masing-masing, namun tiada gerakan yang dilakukan. Sebaliknya, Sik Tiong Giok yang berada dalam ruangan dibuat tertegun. Ia tak habis mengerti mengapa Sastrawan Bisu Tuli bisa memiliki ilmu silat yang begitu hebat dengan tenaga dalam yang begitu sempurna.

Li Peng menjadi amat gusar setelah melihat kejadian di luar, apalagi setelah melihat tampang Sik Tiong Giok. Ia segera mendengus dingin seraya berseru, "Kalian kaum pria memang paling jahat, paling suka mempermainkan kaum wanita."

"Hey, atas dasar apa kau berkata begitu?" seru Sik Tiong Giok tertegun.

"Hatimu tentu kegirangan bukan setelah menyaksikan ada lelaki sedang mempermainkan perempuan?"

"Siapa yang telah mempermainkan siapa? Kenapa aku tidak melihat?" kata pemuda itu kebingungan.

"Kau tidak melihatnya? Hmm, siapa yang lagi kau bohongi?" bentak Li Peng makin mendongkol.

Dibentak-bentak seperti ini, Sik Tiong Giok semakin kebingungan sampai ia menggaruk kepala sendiri yang tak gatal. Tapi dengan cepat ia telah melihat perbuatan Sastrawan Bisu Tuli yang sedang memeluk tubuh Gi Liong Kuncu. Satu ingatan segera melintas di dalam benaknya, sambil menuding ke muka katanya kemudian, "Apakah dia yang kau maksud?"

Merah padam wajah Li Peng setelah mendengar ucapan itu, tiba-tiba ia menjerit kaget lagi, "Aduh... sungguh memalukan, apa lagi yang harus dilihat?"

Ketika Sik Tiong Giok turut berpaling lagi, wajahnya pun segera berubah merah padam, umpatnya segera, "Huuuuh, benar-benar bukan perbuatan manusia!"

Rupanya Sastrawan Bisu Tuli telah melepaskan seluruh pakaian dalam Gi Liong Kuncu sehingga kini ia sedang memeluk sebuah tubuh yang putih dan bugil. Bukan cuma begitu, malah sastrawan tersebut sedang menghisap puting susu si nona dengan penuh bernafsu.

Sementara itu, keempat siluman melihat kejadian ini pun menjadi amat gusar hingga berkaok-kaok tiada hentinya. Siluman Kepalan Lu Bong segera menyerbu ke depan sambil melepaskan sebuah pukulan. Deruan angin sebuan yang membuat debu dan pasir beterbangan langsung menerjang ke tubuh Sastrawan Bisu Tuli. Tampaknya seluruh perhatian Sastrawan Bisu Tuli telah tertuju ke tubuh Gi Liong Kuncu, ditambah pula ia kelewat percaya dengan kehebatan ilmu silatnya, sehingga ia sama sekali tak ambil peduli terhadap ancaman yang datang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment