Chapter 154
Ketika Siluman Kepalan datang menerjang dengan kepalannya, dia tidak menanggapi sebagaimana mestinya.
Namun, Siluman Kepalan Lu Bong bukan manusia sembarangan. Sebagai jagoan yang disegani dalam dunia persilatan, kepandaian silat yang dimilikinya terhitung sangat hebat.
Angin pukulan yang menyapu tiba-tiba itu kontan saja menghantam tubuh Sastrawan Bisu Tuli hingga terhuyung mundur beberapa langkah.
Akibatnya, di atas puting susu sebelah kiri Gi Liong Kuncu muncul beberapa bekas gigitan yang berdarah.
Gi Liong Kuncu merintih kesakitan dan segera sadar kembali. Namun, begitu membuka matanya, ia menjerit keras, "Aduuuh..." Mengetahui bahwa dirinya berada dalam keadaan bugil, dalam rasa malu dan gelisahnya, nona itu lagi-lagi jatuh tak sadarkan diri.
Sementara itu, Sastrawan Bisu Tuli telah bangkit berdiri. Hawa amarah menyelimuti wajahnya, ia menatap Siluman Kepalan Lu Bong tanpa berkedip.
Mendadak, dia melemparkan tubuh Gi Liong Kuncu yang bugil itu ke tengah lapangan.
Dalam pada itu, di sudut lapangan yang lain tampak dua orang sedang dalam pertarungan.
Mereka adalah Si Tangan Baja Ciu Siang dan Tendangan Geledek A Poo. Sekalipun mereka saling memukul dan menendang, namun pada hakikatnya tak satu pun jurus serangan yang mereka gunakan.
Tiba-tiba terdengar Ciu Siang berseru, "Hei, bocah bodoh! Kau pandai sekali mencari kenikmatan. Apakah kedatanganmu ke sarang perempuan ada maksud mencari istri?" Si Tendangan Geledek A Poo tertawa tergelak, "Haaahh... haaahh... haaahh... Bocah besar, jangan kau singgung persoalan itu lagi."
"Perempuan di sini semuanya tak tahu aturan. Siapa yang mendapatkan mereka, siapa pula yang bakal sial melulu..." "Apakah kau pernah mendapat sial?" tanya Ciu Siang sambil tertawa.
"Tentu saja aku sudah dipermainkan habis-habisan." "Kalau begitu, kau mesti lebih berhati-hati di kemudian hari. Jangan sampai kena dipecundangi lagi," serunya penuh perhatian.
Baru selesai perkataan tersebut diutarakan, mendadak sesosok tubuh jatuh ke dalam pelukan A Poo.
Dengan cepat, si bodoh A Poo menyambut serta memeluknya. Lalu, sambil tertawa terbahak-bahak ia berkata, "Waah... seorang gadis besar, tetapi mengapa telanjang bulat?"
"Hei, bodoh! Siapa yang mendekati perempuan, dia bakal sial. Cepat buang perempuan itu..." buru-buru Ciu Siang berseru keras.
Si bodoh A Poo tertawa tergelak, "Haaah... haaah... haaah... Kalau yang ini sih tidak masuk hitungan."
Perempuan yang berada dalam pelukannya itu tentu saja Gi Liong Kuncu. Karena mendapat getaran keras tadi, ia segera sadar kembali. Namun, begitu merasakan tubuhnya masih berada dalam pelukan orang, dalam malu dan gusarnya, ia tak peduli siapakah itu, sebuah pukulan langsung ia sodorkan ke depan.
Sayangnya, dia baru siuman dari pingsannya, sedangkan si A Poo pun terkenal memiliki kulit tubuh yang tebal dan kebal pukulan. Oleh karena itu, serangan yang mengenai badannya hanya menghasilkan rasa gatal saja.
A Poo terpukul bukannya menjadi marah, dia malah tertawa terbahak-bahak.
Dengan penuh rasa khawatir, Ciu Siang segera berseru, "Coba kau lihat, belum apa-apa sudah sial, bukan?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, kembali Gi Liong Kuncu melepaskan sebuah pukulan yang bersarang di dadanya. Tapi si bodoh A Poo justru memeluk tubuh perempuan itu makin kencang dan gelak tertawanya juga makin nyaring, katanya, "Jangan bergerak, jangan bergerak! Kalau sampai jatuh, waah, bukan main sakit..."
Selama hidup, belum pernah Gi Liong Kuncu mendapat perlakuan seperti ini. Tapi hari ini, berulang kali dia harus menerima berbagai perlakuan yang tidak berkenan di hatinya. Mungkin saking tak tahan, mendadak ia mendengus tertahan lalu jatuh tak sadarkan diri lagi.
"Hei, bocah bodoh! Lebih baik jangan mencari kesialan buat diri sendiri," kembali Ciu Siang memperingatkan dengan perasaan khawatir.
"Kalau dari atas langit tiba-tiba jatuh seorang nona cantik yang cocok menjadi istriku, tentunya kejadian ini tak bisa dianggap suatu kesalahan, bukan?" Dalam pada itu, Siluman Pedang To Hong telah berteriak keras, "Hei, bocah bodoh! Ayo cepat serahkan kembali Tuan Putri kami!"
"Tidak bisa, nona ini sudah menjadi milikku," teriak si bodoh A Poo dengan mata mendelik.
Siluman Pedang yang mendengar ucapan tersebut segera menuding ke arah tujuh iblis dari kota Ci Sia, sambil membentak, "Hei, kenapa kalian cuma berdiri di situ? Ayo cepat rebut kembali Tuan Putri kita!"
"Baiklah," kata Raja Setan Kepala Botak kemudian sambil menggelengkan kepalanya yang besar, "memang inilah saat terbaik untuk membuat jasa... Hei, bocah bodoh, jangan pergi dulu!"
Dengan bertindak si Raja Setan Kepala Botak, keenam iblis lainnya serentak menggerakkan pula tubuh masing-masing.
Menyaksikan hal ini, si bodoh A Poo segera berteriak, "Hei, bocah besar! Cepat hadapi mereka, nanti akan kubagi separuh hadiahnya untukmu."
Seraya berkata, ia segera membalikkan badan dan lari meninggalkan tempat itu sambil tetap membopong tubuh Gi Liong Kuncu.
Ciu Siang agak tertegun. Tiba-tiba ia berteriak, "Hei, bocah bodoh! Kau betul-betul bodoh, masa istri sendiri juga akan dibagikan kepada orang lain."
Sementara dia masih berbicara, si bodoh A Poo sudah kabur jauh meninggalkan tempat itu, sedang ketujuh iblis dari kota Ci Sia pun telah melampaui Ciu Siang dan mengejar dari belakangnya.
Sekalipun si bodoh A Poo belum pernah belajar ilmu meringankan tubuh, namun kepandaiannya dalam ilmu tendangan terhitung nomor satu di seluruh dunia persilatan. Begitu dia lari, ternyata orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh pun tidak mudah untuk mengejarnya.
Ketika Ciu Siang menyaksikan ketujuh iblis itu mengejar A Poo dengan ketatnya, ia segera melotot sambil berteriak, "Hei, bocah bodoh! Kau tak usah takut, aku segera datang membantumu..."
Sambil berteriak, dia ikut mengejar pula dari belakang.
Dalam pada itu, si Sastrawan Bisu Tuli telah mengawasi keempat siluman dari gurun pasir dengan mata melotot. Pelan-pelan dia maju mendekatinya, suasana tegang pun mencekam seluruh angkasa.
Siluman Tombak Baja Un Piau dan Siluman Pedang To Hong bersama-sama menyerbu ke depan. Pedang dan sepasang tombak mereka menciptakan selapis cahaya tajam yang berkilauan di angkasa dan menyerang musuhnya secara gencar.
Kedua orang ini memang tak malu disebut jagoan-jagoan silat yang nama besarnya menggetarkan dunia persilatan. Ternyata jurus serangan yang digunakan segera berhasil menggulung dan mengurung tubuh Sastrawan Bisu Tuli.
Mendadak, Sastrawan Bisu Tuli meraung dengan suara rendah. Telapak tangannya diayunkan berulang kali melepaskan pukulan kanan dan kiri, sementara badannya berkelebat seperti bayangan setan, membuat orang sulit untuk merabanya.
'Criiinggg!' Tahu-tahu, sebuah sambaran tangan Sastrawan Bisu Tuli berhasil mencengkeram tombak berantai dari Siluman Tombak Besi. Maka, kedua orang itu pun saling tarik-menarik sehingga senjata itu tertarik menjadi amat menegang.
Kecuali Siluman Pukulan, Siluman Tombak Baja Un Piau terhitung memiliki kekuatan yang paling besar di antara empat bersaudara. Namun, ia tidak juga berhasil merebut kembali tombak pendeknya itu dari tangan lawan.
Sastrawan Bisu Tuli segera menggetarkan pergelangan tangannya lalu meraung dengan suara rendah. Sebuah tendangan kilat membuat rantai di ujung tombak itu terhajar putus.
Padahal waktu itu Siluman Tombak Besi sedang mempertahankan senjatanya dengan sepenuh tenaga. Dia tak menduga ke arah itu; di saat rantai senjata tombaknya putus, kakinya menjadi sempoyongan dan kehilangan keseimbangan badannya. Tak ayal lagi, ia mundur dua langkah dengan terhuyung-huyung...
Pada saat itulah, tusukan pedang dari Siluman Pedang telah menyambar datang.
Sastrawan Bisu Tuli tidak menjadi gentar. Tiba-tiba saja dia mengayunkan telapak tangan kirinya dan membabat mata pedang tersebut dengan tangan kosong.
Menangkis bacokan pedang dengan tangan telanjang, kejadian ini boleh dibilang luar biasa sekali dan belum pernah terlihat sebelumnya.
Siluman Tombak Baja yang mundur tadi kini mendesak maju kembali dengan gagah. Tombak di tangan kanannya dia balik membabat urat nadi di tangan kiri si Sastrawan Bisu Tuli.
Tergencet dari sisi kiri dan kanan, padahal kedua orang musuhnya terhitung jagoan tangguh dari dunia persilatan. Jelas, ia tak akan bisa lolos lagi dari ancaman tersebut.
Tapi Sastrawan Bisu Tuli memang tak malu disebut seorang tokoh silat yang namanya sempat menggetarkan seluruh dunia persilatan. Ternyata jurus serangan yang digunakan memang sangat hebat.
Tiba-tiba saja tangan kanannya disodorkan ke atas iga kanan sendiri hingga telapak tangan kirinya ikut terdorong naik ke atas. Dengan suatu gerakan yang sangat manis, ia meloloskan diri dari sodokan batang tombak itu, menyusul kemudian dengan potongan tombak beserta sebagian rantai hasil rampasannya tadi seperti seekor ular saja langsung melilit ke arah tombak pendek di tangan Siluman Tombak Baja...
Dengan gerakan tersebut, maka kedua siluman itu seketika terdesak hebat sehingga keduanya menjadi gugup dan kalang kabut.
Siluman Kepalan yang menyaksikan hal tersebut dengan cepat menggeser kaki dan memutar pinggangnya. Kepalanya menerobos di antara sepasang siluman dan langsung menyodok ke dada Sastrawan Bisu Tuli.
'Blaaamm!' Pukulan tersebut persis menghantam dada Sastrawan Bisu Tuli secara telak. Bentaknya, "Roboh kau!"
Siapa sangka, Sastrawan Bisu Tuli itu masih tetap berdiri tegak tanpa bergoncang sedikit pun. Dia malah tersenyum, lalu sepasang lengannya digetarkan menyingkirkan tubuh kedua siluman tersebut. Sementara tubuhnya mendesak maju lebih ke depan dan menyambar pergelangan tangan Siluman Kepalan sambil ditariknya kuat-kuat.
Siluman Kepalan sama sekali tak menyangka bahwa lawannya bertindak secepat itu. Baru saja ia merasa terkejut, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya.