Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 155

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 155

"Krak!" Percikan darah segar menyembur ke mana-mana. Ternyata, lengan kanan korban telah dibetot oleh Sastrawan Bisu Tuli itu hingga putus menjadi dua bagian.

Saking kesakitannya, ia menjerit ngeri, kemudian roboh tak sadarkan diri.

Ketiga orang siluman lainnya menjadi marah setelah melihat adegan tersebut. Serentak mereka membentak nyaring sambil menerkam ke depan dengan buasnya.

Sastrawan Bisu Tuli sedikit pun tidak merasa gentar meskipun harus menghadapi serangan dari tiga arah yang berlawanan. Mendadak tubuhnya berjongkok, lalu secepat kilat sepasang kakinya melancarkan serangan sapuan berantai.

Siluman Martil Emas dan Siluman Pedang cepat menghindarkan diri ke samping. Kasihan Siluman Baja yang terlambat menghindar; tubuhnya segera tersapu telak sehingga badannya terguling ke atas tanah dan tak bergerak lagi.

Agaknya Siluman Pedang menjadi nekat setelah kejadian tersebut. Badannya segera melejit ke udara dan pedangnya melancarkan serangkaian serangan gencar yang semuanya menggunakan jurus-jurus mematikan.

Cahaya tajam berkilauan membelah angkasa. Belasan tusukan yang dilancarkan semuanya menggunakan jurus mematikan. Betapa pun hebat dan tingginya kepandaian yang dimiliki Sastrawan Bisu Tuli, ia agak kewalahan juga dibuatnya setelah menghadapi serangan tersebut.

Tampak ujung bajunya berkibar tertiup angin. Di antara kilauan pedang yang menyambar-nyambar, ia berusaha untuk menghindarkan diri dari ancaman, tetapi nyatanya sulit juga baginya untuk meloloskan diri dalam waktu singkat.

Pada saat itulah, tiba-tiba Sik Tiong Giok mengendus berulang kali ke sisi ruangan, lalu berseru, "Adik Peng, coba enduslah, bau apakah itu?"

Li Peng mencoba untuk mengendus sekeliling, kemudian menyahut dengan agak tercengang, "Ehm, tampaknya seperti bau belerang, jangan-jangan..."

Belum habis perkataan itu diucapkan, satu ingatan sudah melintas di dalam benak Sik Tiong Giok. Buru-buru ia berseru, "Aduh, celaka!"

Ia segera menerjang keluar dari ruangan batu dan berteriak dengan suara lantang, "Kalian segera berusaha untuk kabur dari Istana Gi Liong Kiong ini! Bila terlambat, kalian akan mati terkubur semua di sini."

Selesai berteriak, ia segera menarik tangan Li Peng sambil berteriak pula, "Cepat kabur!"

Tampaknya si Rase Sakti Li Keng Kiu juga telah mengendus bau belerang yang amat keras itu, segera ia berteriak pula, "Benar, pihak Gi Liong Kiong telah menyulut sumbu mesinnya... kita harus segera kabur dari sini!"

Begitu ia berteriak, kawanan jago persilatan yang berada di sekitar tanah lapang menjadi gugup sekali. Serentak mereka kabur menuju ke arah jalan keluar bukit.

Dalam pada itu, pertarungan antara Sastrawan Bisu Tuli dengan sepasang siluman masih berlangsung amat seru. Kedua belah pihak sama-sama tidak mau menyudahi pertarungan itu sampai di situ saja.

Walaupun kedua orang siluman itu mengerti bahwa bahan mesiu telah disulut dan mereka ingin cepat-cepat kabur dari sana, akan tetapi menghadapi serangkaian serangan yang gencar dari Sastrawan Bisu Tuli, pada hakikatnya sulit bagi mereka untuk meloloskan diri.

Dalam waktu singkat, di tengah lapangan tinggal mereka bertiga saja yang masih terlibat dalam pertarungan sengit.

Dari kejauhan, tampak asap hijau telah mengepul ke angkasa. Menyusul kemudian terdengarlah ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh permukaan tanah.

Berubah hebat paras muka Siluman Martil Emas dan Siluman Pedang. Gara-gara pikiran terpecah, otomatis serangan mereka pun menjadi lamban. Akibatnya, hal ini memberi peluang baik bagi Sastrawan Bisu Tuli untuk melancarkan serangan dahsyatnya.

Mendadak sebuah pukulan dahsyat dilontarkan menghantam tubuh Siluman Pedang, To Hong, disusul kemudian sebuah tendangan dahsyat menghajar Siluman Martil Emas hingga jatuh terguling di atas tanah. Menanti keempat siluman dari gurun pasir tewas semua di tangannya, ia baru mengembuskan napas lega.

"Blaam!" Kembali sebuah ledakan dahsyat menggelegar membelah angkasa, lalu muncul jilatan api setinggi beberapa kaki yang membumbung tinggi ke udara.

Sastrawan Bisu Tuli benar-benar menderita karena keterbatasan pendengarannya. Meski ia mendengar suara secara lamat-lamat, ia tak terlalu jelas sehingga dengan ragu ia berpaling. Walaupun kemudian ia dapat melihat kobaran api yang membumbung ke langit, ia juga melihat ada beberapa orang perempuan sedang lari dengan gugup ketakutan.

Orang ini memang tak boleh melihat wanita. Begitu bertemu perempuan yang berparas cantik, maka segala persoalan menjadi lupa. Sambil tertawa lebar, ia segera menyusul di belakang perempuan-perempuan itu.

Dalam pada itu, kawanan jago persilatan yang mengikuti di belakang Sik Tiong Giok telah berada di mulut bukit. Tiba-tiba saja mereka berseru keras, "Aduh celaka, bagaimana ini?"

Ternyata Istana Gi Liong Kiong terletak di puncak bukit di tengah pulau yang ada di tengah telaga. Waktu itu tak tampak sebuah sampan pun yang tertambat di situ; bagaimana mungkin mereka bisa menyeberang meninggalkan tempat tersebut?

Berada dalam keadaan begini, si Rase Sakti Li Keng Kiu segera memberikan usulnya yang cerdik setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu. Ia berseru, "Harap kalian yang bisa berenang segera terjun ke air! Yang tak bisa berenang, carilah tongkat atau kayu, pokoknya semua barang yang dapat terapung. Mari kita terjun ke air bersama dan bergerak menuju ke pantai seberang."

Begitu idenya diutarakan, mereka yang bisa berenang segera terjun ke air, sedangkan yang tak bisa berenang segera mencari kayu untuk tempat berpegangan. Dalam waktu singkat, di tengah Telaga Gi Liong Oh itu sudah dipenuhi dengan kayu dan manusia yang terapung di air.

Dalam pada itu, di tepi telaga dekat semak belukar yang lebat, tampak tujuh iblis sedang mengejar si tolol A Poo, sedangkan Ciu Siang mengejar di belakang tujuh iblis.

Walaupun pada mulanya di balik semak belukar itu telah dipersiapkan jago-jago lihai yang siap menyergap, saat ini kawanan jago tersebut sudah menyelamatkan diri semua. Namun, buat si tolol A Poo, keadaan seperti ini justru menguntungkan, sebab dengan tanah berlumpur itu ia akan menyergap para pengejarnya dengan hebat. Suasana di seluruh Telaga Gi Liong Oh telah berubah menjadi kacau balau tak keruan.

Mendadak di tepi bukit telaga di bawah Istana Gi Liong Kiong muncul seorang sastrawan setengah umur. Ia sedang mendatangi kawanan manusia yang menunggu di telaga dengan termangu. Orang itu tak lain adalah Sastrawan Bisu Tuli. Perempuan gagal dikejar, ia justru tiba di bawah bukit di tepi telaga. Dasar sudah tuli lagi tolol, ketika menyaksikan begitu banyak orang berenang menuju ke tepian, ia hanya bisa memandang saja dengan pandangan kebingungan.

Suara teriakan dan bentakan keras bergema dari tepi seberang. Rupanya kawanan jago lihai yang berhasil mendarat di pantai seberang telah bertemu dengan musuh yang telah dipersiapkan di sana, sehingga terjadilah pertarungan sengit.

Di pihak lain, tujuh iblis juga sedang mengejar si tolol A Poo secara ketat. Dasar sudah tolol, ketika merasa dirinya dikejar musuh, ia malah kegirangan setengah mati sambil berlarian dengan kencang. Ia berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Hahaha... rupanya kalian hendak merebut perempuanku. Hayo kemari, kejar dulu diriku sampai dapat!"

Ketujuh orang iblis itu benar-benar sangat berang, tapi apa mau dikata, mereka harus melalui jalan berlumpur yang amat tebal; mati kutu mereka semua dibuatnya. Lain ceritanya dengan Ciu Siang yang berada di belakang; dengan mengandalkan kakinya yang panjang, ia berhasil mengejar dengan cepat. Belum sempat ketujuh iblis itu menyusul si tolol A Poo, ia justru telah berhasil mengejar ketujuh iblis tersebut.

Sambil tertawa terbahak-bahak ia berseru, "Hahaha... apakah cuma kalian beberapa orang?"

Waktu itu ketujuh iblis memang sedang mendongkol sekali dan tak bisa dilampiaskan. Maka, baru saja Ciu Siang memunculkan diri, tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka segera menyerang secara gencar dan dahsyat.

Dengan berkobarnya pertarungan, tinggal si tolol A Poo yang berada di sisi arena menonton pertarungan sambil membopong Gi Liong Kuncu yang bugil. Angin pukulan tampak menderu-deru, air lumpur berhamburan ke mana-mana di tengah suara bentakan dan teriakan gusar, terselip juga gelak tertawa dari Ciu Siang.

Sementara itu, pertempuran di balik hutan di tepi telaga pun berlangsung tak kalah serunya. Tampak cahaya golok dan bayangan pedang berkilauan di angkasa, percikan darah dan hancuran daging memancar ke empat penjuru. Jeritan ngeri dan teriakan keras menciptakan suatu perpaduan suara yang menggidikkan hati.

Sastrawan Bisu Tuli yang menonton jalannya pertarungan itu jadi amat kegirangan; ia segera bertepuk tangan sambil melompat-lompat macam orang gila saja.

Pada saat itulah dari puncak bukit telah menyembur keluar kilatan cahaya api, disusul kemudian beberapa kali ledakan dahsyat menggelegar di angkasa.

"Blaam... blaam!"

Asap tebal menyembur keluar meliputi angkasa, hancuran batu dan pasir berhamburan ke tengah telaga. Gelombang dahsyat pun mengguncangkan air telaga, membuat keadaan bertambah mengerikan. Akibat dari peristiwa tersebut, pertarungan antara kedua belah pihak segera terhenti sama sekali; mereka sama-sama menonton jalannya peristiwa yang mahadahsyat itu.

Secara lamat-lamat dapat didengar pula beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan hati bergema tiba. Menyaksikan keadaan tersebut, si Rase Sakti Li Keng Kiu segera menghela napas panjang, gumamnya, "Tampaknya Sastrawan Bisu Tuli tak akan lolos dari musibah ini, jiwanya mungkin tak tertolong lagi."

"Ya, dia memang tak pernah bisa mengekang diri, apalagi jika bertemu perempuan cantik. Manusia macam begini memang harus mendapat balasan yang setimpal," sambung kakek cebol yang berjalan di bawah tanah sambil tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment