Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 156

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 156

"Aku lihat orang bodoh banyak rezekinya," kata Kutiok Lojin pula, "tak disangka si bodoh yang berhasil memungut keuntungan dari peristiwa ini." "Aku khawatir Gi Liong Kuncu takkan rela begitu saja menyerah," ujar kakek cebol sambil menunjukkan kekhawatirannya.

Si Rase Sakti segera tertawa, katanya, "Aku punya sebuah akal bagus yang bisa membuat budak itu rela mengawini si bodoh." Dengan menyinggung soal si bodoh, perhatian semua orang pun sama-sama tertuju ke arahnya.

Waktu itu, pertarungan di tengah semak belukar telah berhenti. Tujuh iblis samsam terbenam semua di tengah lumpur, hanya si bodoh Apo seorang diri yang tetap bersih dan berdiri di situ sambil memeluk tubuh Gi Liong Kuncu kencang-kencang.

"Hei bocah bodoh, apa yang kau tertawakan?" Tiba-tiba Ciu Siang menegur dengan marah.

"Aku menertawakanmu yang telah berubah menjadi patung tanah liat," sahut si bodoh Apo sambil tertawa.

"Huh, gara-gara kaulah aku berubah menjadi begini! Pokoknya perempuan itu harus dibagi separuh untukku." Belum habis perkataan itu diucapkan, di atas pantai telaga sudah kedengaran seseorang membentak keras, "Omong kosong! Siapa pemilik perempuan itu, dialah miliknya.

Bagaimana cara membaginya?" Ketika Ciu Siang berpaling dan melihat pembicaranya adalah Kutiok Lojin, gurunya, cepat-cepat sahutnya, "Tapi si bocah bodoh sendiri yang berkata begitu." "Hmm, apakah kau tak bisa mencari sendiri?" hardik Kutiok Lojin lagi.

Ciu Siang segera termenung sejenak setelah mendengar perkataan itu, mendadak ia menepuk kepala sendiri dan serunya sambil tertawa, "Tidak, aku tidak mau! Perempuan hanya pandai menganiaya lelaki, aku tidak ingin mereka mengurusi aku." "Bocah bodoh, kapan, sih, kau melihat ada perempuan menganiaya lelaki?" tegur kakek cebol sambil tertawa.

"Aku sering melihat Ibu Guru memukuli guruku," sahut Ciu Siang sambil tertawa.

Kontan saja Kutiok Lojin membentak keras, "Kentut busuk!" Namun akibatnya, semua orang terkejut dan segera tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, suara ledakan telah berhenti, asap hitam yang menyelimuti angkasa pun sudah hilang terbawa angin.

Tapi pada saat itu juga, si bodoh Apo telah hilang lenyap dari sana. Di samping Sik Tiong Giok dan Li Peng juga tak tampak lagi batang hidungnya.

Di tengah hutan, di atas sebuah tanah lapang, berbaring seseorang yang tertidur nyenyak.

Dia tidak lain adalah Gi Liong Kuncu. Entah dari mana diperolehnya pakaian, perempuan itu sudah mengenakan sebuah pakaian yang amat serasi dengan tubuhnya.

Setelah mengalami tekanan batin yang amat berat, kini ia tertidur nyenyak sekali.

Rambutnya yang hitam berkilat terurai ke bawah, bulu matanya yang indah, tubuhnya yang meliuk-liuk mencerminkan pula suatu potongan badan yang menarik.

Di sisi tubuhnya duduk tiga orang, dua pria dan seorang wanita.

Di antara ketiga orang itu, lelaki yang bertubuh kekar tampak gelisah dan memperhatikan perempuan yang berbaring itu sambil mendesah lirih.

Nona yang duduk di sampingnya segera mengerling sekejap ke arah pemuda yang berada di samping lain, kemudian berseru kepada lelaki kekar itu seraya tersenyum, "Suheng, apakah kau benar-benar hendak mengawininya?" "Heee...

Heee...

Heee...

"Aku takut dia tidak akan bersedia menjadi istrimu!" goda sang pemuda sambil tersenyum.

Lelaki kekar itu segera tertawa tergelak.

"Jika Apo sudah menyukai seorang perempuan, aku tak peduli dia mau atau tidak, pokoknya dia harus bersedia." Si Nona segera mengerling sekejap ke arah sang pemuda, lalu serunya, "Engkoh Giok, coba kau lihat, setelah Suheng bloon mendapat istri, orangnya juga ikut jadi pintar."

Pemuda tersebut tidak lain adalah Pangeran Serigala Sik Tiong Giok. Ia segera tersenyum setelah mendengar perkataan itu, katanya, "Hal ini sudah sepantasnya, tapi kalau main paksa seperti dirimu itu tidak mencerminkan sifat gagah seorang pendekar."

Si lelaki bodoh Apo jadi tertegun, mulutnya beberapa kali tergetar ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang diutarakan.

"Betul, Suheng!" terdengar Li Peng berseru pula sambil tertawa, "Kalau hanya sepihak datangnya cinta itu, maka perkawinan tidak bisa berlangsung secara langgeng."

"Lantas, apa yang harus kulakukan?" seru si bodoh Apo sambil mengangkat bahu.

"Turutilah perasaan," kata si Nona sambil tertawa, "Bila ia telah tersadar nanti, jangan sekali-sekali kau berbicara secara sembarangan.

Mengerti?" "Baik, aku akan menuruti nasihat darimu, si budak setan."

"Apa kau bilang?" Tiba-tiba Li Peng menghardik.

Cepat-cepat si bodoh Apo mengubah panggilannya itu, "Sumoi, aku akan menuruti perkataanmu."

Baru saja dia selesai berkata, Gi Liong Kuncu yang berbaring di atas tanah telah melompat bangun. Kemudian sambil memukul Apo, umpatnya, "Kau bajingan berhati keji, beraninya kau mempermalukan tuan putrimu!

Aku...

Aku akan beradu nyawa denganmu." Dengan suatu gerakan cepat, Sik Tiong Giok menyambar lengannya, kemudian berkata sambil tertawa, "Tuan Putriku, coba kau perhatikan dulu orangnya dengan jelas!"

Gi Liong Kuncu kelihatan agak tertegun setelah mendengar perkataan itu. Dia mengerdipkan matanya berulang kali, lalu katanya, "Kau adalah Pangeran Serigala Langit?"

"Benar, akulah orangnya," sahut Sik Tiong Giok sambil tertawa.

"Kau...

Kaukah yang telah menolongku?" "Keliru besar," sela Li Peng sambil tertawa, "orang yang telah menolongmu kau pukul sampai menangis."

"Si...

Siapakah kau? Siapa yang telah menolongku?" "Aku adalah Li Peng, masa kau tidak mengenalku lagi? Itu dia, orang yang menolongmu berada di sana." Sambil berkata, dia lantas menuding ke arah Si Tendangan Geledek Apo.

Si Apo hanya mengawasi orang-orang itu sambil tertawa bodoh, ia benar-benar bungkam dalam seribu bahasa.

Mendengar perkataan itu, hilang sudah kegagahan Gi Liong Kuncu. Tiba-tiba ia duduk di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.

Li Peng harus menghiburnya dengan berbagai cara sebelum dia berhenti menangis dan pelan-pelan mengangkat kepalanya kembali. Ujarnya kemudian, "Terima kasih banyak atas pertolonganmu. Aku pasti akan menyelenggarakan pesta perjamuan yang meriah di Istana Gi Liong Kiong untuk menghormati kalian."

"Istana Gi Liong Kiong sudah diledakkan sampai hancur dan rata dengan tanah. Aku lihat perjamuanmu tidak bisa diselenggarakan lagi," ucap Sik Tiong Giok.

Wajah Gi Liong Kuncu pucat pasi setelah mendengar perkataan itu. Dia termangu beberapa saat lamanya, kemudian mengeluh, "Oh, habis sudah! Habis sudah, apa yang harus kuperbuat sekarang?"

Li Peng sendiri pun tampak terkejut setelah menyaksikan keadaan Nona itu. Cepat-cepat dia berseru, "Tuan Putri..."

"Jangan memanggil Tuan Putri kepadaku lagi," tukas Gi Liong Kuncu cepat, "aku tidak lebih hanyalah seorang gadis suku Biau yang bernama Liong Siauhuan. Tak lama lagi Liong Siauhuan pun akan mati secara mengenaskan."

Sik Tiong Giok jadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya tercengang, "Aku tidak mengerti perkataan itu."

"Tuan...

Encik Liong, tidak usah khawatir," hibur Li Peng kemudian, "Asal kau berada bersama kami, tidak akan ada orang yang berani mencelakai dirimu."

Tiba-tiba si bodoh Apo melompat bangun lalu berteriak pula dengan mata melotot besar, "Barang siapa berani mengganggu istri Apo, biar kutendang dia sampai mampus!"

Sambil berkata, ia benar-benar melakukan sebuah tendangan keras sehingga menderulah segulung angin tendangan yang maha dahsyat dan kuat.

"Blaaammm...

Blaaammmm!" Saat angin menderu, dua ledakan keras menggelegar. Tampak batang pohon bertumbangan dan daun berguguran, keadaannya benar-benar mengerikan.

Sikap yang diperlihatkan si bodoh Apo tentu saja membuat Liong Siauhuan hanya melongo dan termangu-mangu.

"Suheng bodoh, mau apa kau?" tegur Li Peng segera, "Siapa, sih, yang hendak kau tuju dengan tendanganmu itu? Baik, jika kau begini terus, aku pun tidak akan turut campur."

Si bodoh Apo jadi gelagapan. Sambil tertawa bodoh, segera serunya cepat-cepat, "Su...

Sumoi, aku...

Aku akan menuruti perkataanmu itu." Li Peng mengerling sekejap ke arahnya lalu baru berkata kepada Liong Siauhuan, "Encik Liong, sebenarnya apa, sih, yang telah terjadi? Bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"

Liong Siauhuan menghela napas panjang, katanya kemudian, "Semua jago persilatan mengira Gi Liong O ini berada di bawah pimpinanku, padahal yang benar bukan."

"Apakah masih ada pemimpin lainnya? Siapakah dia?" tanya Sik Tiong Giok dengan perasaan kaget bercampur heran.

"Orang itu adalah Guruku, Hengtian Pocu."

"Wah, nenek itu bahkan membenci langit! Mungkin dia bukan manusia yang bisa diajak bicara," seru Li Peng tertawa.

"Sebetulnya guruku adalah orang yang ramah dan baik. Semua orang di wilayah Biau menghormatinya seperti malaikat. Hanya satu pantangannya, yaitu jangan sampai marah. Bila dia sudah marah besar, kekejamannya takkan terlukiskan lagi dengan kata-kata."

"Aku tidak takut," sela si bodoh Apo dengan suara keras.

Ketika dilihatnya Li Peng sedang mendelik ke arahnya, cepat-cepat dia menutup mulutnya kembali.

Terdengar Liong Siauhuan berkata lagi, "Dengan susah payah dia membangun istana di tepi Telaga Gi Liong O, tapi kini jerih payahnya hancur berantakan. Bayangkan saja, apakah dia tidak jadi gila saking marahnya?"

"Tapi apa sangkut pautnya denganmu? Lagi pula di antara kalian toh masih ada jalinan sebagai guru dan murid, apakah dia tidak berperasaan sama sekali?" seru Sik Tiong Giok.

Liong Siauhuan menghela napas panjang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment