Chapter 157
"Ah, kau tidak tahu maka bisa berkata begitu. Padahal, kursi ini sudah diduduki empat orang secara beruntun dalam sepuluh tahun terakhir. Bahkan putri kandung guruku sendiri, yaitu toa suci ku It Ling, kini juga disekap dalam Lembah Aek Sui Kok. Apalagi kedua orang lainnya; boleh dibilang mereka telah disiksa hingga mati—tak bisa hidup pun menderita. Ah, kali ini mungkin giliranku yang akan mengalami nasib yang sama." Ketika berbicara sampai di situ, tiba-tiba ia membungkam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Kejut dan tercengang, Li Peng bertanya, "Lihaykah ilmu silat yang dimilikinya? Apakah tiada orang yang berani menghadapinya?" Ketika mendengar pertanyaan itu, Liong Siau Huan mengangkat kepalanya. Lalu, dengan sepasang mata berkaca-kaca, dia berpaling ke arah Sik Tiong Giok dan berkata lagi, "Sepanjang hidupnya, dia hanya takut dengan seseorang, yaitu si Kakek Serigala Langit. Terhadap kepandaian silat yang dimiliki Kakek Serigala Langit, dia pun hanya paling takut dengan ilmu Thian Long Eng."
"Bagus sekali kalau begitu," seru Li Peng sambil tertawa. "Enci Liong tidak usah takut lagi. Engkoh Giok bukan lain adalah ahli waris Kakek Serigala Langit. Dia pun menguasai ilmu Thian Long Eng dari dua belas ilmu cacad tersebut."
Liong Siau Huan segera membelalakkan matanya lebar-lebar setelah mendengar ucapan itu. Lama sekali dia termangu-mangu, kemudian baru berujar, "Benarkah itu?"
"Sebagai seorang Pangeran Serigala Langit, jika ilmu Thian Long Eng saja tidak dikuasai, bagaimana mungkin ia bisa menguasai dunia persilatan?" sahut Li Peng sambil tertawa.
Sik Tiong Giok berkata pula seraya tertawa, "Entah bagaimana pun juga, aku sangat berminat untuk menjumpai gurumu. Tapi, di mana dia berdiam?"
"Ia berada di pesanggrahan Lei Hun Piat Sut dalam Lembah Soh Long Kok, lembah pengunci serigala yang terletak di bagian belakang Telaga Gi Liong Oh."
"Asal ada tempat tertentu, aku yakin pasti akan berhasil menemukan jejaknya." Menjelang senja, di belakang bukit Telaga Gi Liong Oh telah muncul empat sosok bayangan manusia. Mereka bukan lain adalah Sik Tiong Giok sekalian berempat yang menuju ke Lembah Soh Long Kok.
Dalam waktu singkat, sudah tiga buah bukit mereka lalui. Hari pun sudah gelap; di kejauhan terlihat mulut Lembah Soh Long Kok tersebut.
Di depan mulut lembah telah dipasang api unggun yang amat besar, dengan di sekelilingnya duduk sejumlah orang yang tampaknya sedang merundingkan sesuatu.
Dengan ketajaman matanya, dalam sekilas pandangan saja Sik Tiong Giok telah mengenali orang-orang itu sebagai Tujuh Iblis dari Kota Ci Sia.
Tanpa terasa dia berpikir, "Panjang amat usia kawanan iblis tersebut. Meskipun sudah terperosok ke dalam lumpur, ternyata tidak sampai menemui ajalnya." Agaknya si tolol A Poo sudah mengenali siapakah orang-orang itu. Dia ingin berteriak memanggil, tapi segera dicegah Liong Siau Huan yang berbisik lirih, "Jangan mengejutkan mereka."
"Wah, tampaknya mereka amat santai, malah datang ke tempat ini untuk menghangatkan tubuh," kata Li Peng sambil tertawa.
"Mereka pasti sengaja datang kemari untuk memberi laporan kepada guruku. Api unggun tersebut tujuannya tak lain adalah tanda kepada guruku, dan aku percaya suhuku tentu sudah melihat cahaya api tersebut." Maka mereka berempat pun segera menyembunyikan diri, kemudian pelan-pelan berjalan mendekati onggokan api itu.
'Duukk... duukk... duukkk...' Mendadak dari kejauhan sana berkumandang datang suara langkah kaki yang amat berat. Suara tersebut selangkah demi selangkah bergema mendekat; tampaknya perjalanan ditempuh dengan sangat lamban.
Akan tetapi, ketujuh orang iblis yang duduk di sekeliling api unggun justru menunjukkan sikap yang amat tegang. Tanpa sadar mereka mundur dua-tiga langkah ke belakang, kemudian berlutut dan menyembah di atas tanah.
"Hey, apa yang sedang mereka lakukan?" Li Peng segera bertanya dengan keheranan.
"Duplikat dari suhu telah datang. Nenek ini paling kejam dan buas. Aku rasa tujuh iblis pasti akan mengalami nasib yang tragis hari ini," kata Liong Siau Huan cepat.
"Apa? Duplikat dari Heng Thian Popo?" tanya Sik Tiong Giok keheranan.
"Ya, suhu mempunyai lima orang duplikat. Yang satu lebih keji daripada yang lain. Siapa pun yang bertemu dengan mereka tak akan ada yang lolos dengan selamat." Sementara pembicaraan berlangsung, suara langkah kaki itu makin lama bergema semakin mendekat. Dari balik kegelapan, muncul sesosok bayangan manusia.
Orang itu adalah seorang nenek gemuk yang bertubuh pendek. Rambutnya telah beruban semua atau lebih tepat sudah gundul separuh. Ia mengenakan jubah yang sangat lebar dan membawa sebuah tongkat kayu sepanjang satu kaki. Sambil berjalan mendekat, terdengar sesekali dengusan napasnya yang memburu.
Pelan-pelan dia berjalan ke samping api unggun, kemudian setelah menghela napas panjang, gumamnya, "Ehm, di tengah malam yang begini dingin dan membekukan badan, rasanya nikmat juga kalau dapat menghangatkan tubuh di sisi api unggun."
Dengan meminjam cahaya api yang memancar, Sik Tiong Giok dapat menyaksikan raut wajah nenek itu dengan jelas. Ternyata dia berwajah bulat seperti rembulan, senyum ramah selalu menghiasi ujung bibirnya, sedang nada pembicaraannya pun halus, ramah, dan penuh welas asih.
Kenyataan itu tentu saja amat mencengangkan pemuda kita. Tanpa terasa ia berpikir, "Benarkah nenek yang penuh welas asih dan baik hati ini sebetulnya adalah seorang iblis yang membunuh orang tanpa berkedip?" Walaupun nenek itu telah melihat kehadiran ketujuh orang iblis yang berlutut di atas tanah itu, namun lagaknya seakan-akan tidak melihat. Sambil menghela napas, dia pun duduk di tepi api unggun itu.
Tampaknya si Raja Setan Kepala Botak tidak bisa menahan diri lagi. Dengan napas tersengal, segera serunya, "Tujuh sobat dari Kota Ci Sia menjumpai lo hujin!"
Pelan-pelan nenek itu mengangkat kepalanya, kemudian sambil memicingkan matanya dan tertawa, ia berkata, "Aaaaa! Rupanya kalian. Coba lihat, aku si nenek benar-benar sudah pikun, sampai-sampai tidak kuketahui kalau di sini masih ada orang lain. Benar-benar harus dimaafkan. Jadi, kalian yang telah mempersiapkan api unggun ini?"
"Benar, kami mendapat perintah dari Perenda Ngo Lok di tepi telaga untuk memasang api unggun di sini," sahut si Raja Setan Kepala Botak dengan cepat.
Nenek itu segera tersenyum. "Kalau begitu tak bakal salah lagi. Apakah di Istana Gi Liong telah punah sama sekali? Tuan putri juga telah diculik orang, sementara semua dayang telah mendapat celaka..."
"Apakah empat siluman dari gurun pasir juga tewas?"
"Ya, mereka semua telah mati di tangan Sastrawan Bisu Tuli." Ketika mendengar nama Sastrawan Bisu Tuli disinggung, kelihatan sekali sekujur badan nenek itu gemetar keras. Tapi kemudian katanya lagi sambil tertawa, "Untung sekali kalian sudah datang memberi kabar. Cuma..."
Mendadak paras mukanya berubah, senyuman yang ramah pun hilang tak berbekas. Dengan suara dingin ia berkata, "Mengapa kalian semua tak ada yang mampus? Hmm, di balik kesemuanya ini tentu terselip tipu muslihat..." Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja tangan kirinya diayunkan ke depan melancarkan sebuah cengkeraman maut.
Si Raja Setan Kepala Botak sama sekali tidak menduga sampai di situ. Menanti dia siap untuk menghindar, sayang keadaan sudah terlambat.
Selisih jarak di antara kedua orang itu paling banter cuma dua kaki. Meski serangan yang dilancarkan itu sama sekali tidak menggeserkan tubuh si nenek, tapi gerakan lengannya cepat benar luar biasa sekali.
Tahu-tahu saja si Raja Setan Kepala Botak itu sudah menggelepar di atas tanah sambil berkelejotan, disusul kemudian jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan. Belum sampai beberapa gulingan, tubuhnya sudah tak bergerak lagi.
Sementara di atas tubuh si Raja Setan Kepala Botak telah bertambah lima buah lubang jari tangan yang mengucurkan darah segar.
Kejadian tersebut kontan saja mengejutkan orang yang mengintip dari balik tempat persembunyian. Rasa bergidik menyelimuti pula seluruh perasaannya.
Liong Siau Huan segera berbisik, "Itulah ilmu Siau Huan Jiu dari guruku. Konon tidak jauh berbeda dengan jurus Long Ya Hud Sim—gigi serigala berhati Buddha—dari dua belas ilmu cacad."
"Apakah dia gurumu, Heng Thian Popo?" tanya Li Peng dengan perasaan kaget bercampur tercengang.
Liong Siau Huan segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Bukan, dia adalah salah seorang duplikat dari guruku. Orang menyebutnya si wajah ramah Sie Toa Koh. Jangan dilihat wajahnya yang penuh welas asih, padahal kekejamannya luar biasa."
Sementara itu, keenam iblis lainnya yang melihat kematian toako mereka secara mengenaskan jadi tertegun saking kagetnya. Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja Pat Huang Sin Mo bangkit berdiri, kemudian bentaknya dengan penuh kegusaran, "Kau... apa maksudmu? Dengan niat baik kami datang memberi kabar, kenapa..."
"Jadi kau merasa tak puas?" kembali si wajah ramah Sie Toa Koh berkata penuh senyum. "Baiklah, aku akan memberitahukan kepadamu. Inilah peraturan lembah kami: siapa yang bisa menentukan apakah maksud kedatangan kalian ini baik atau jahat?"
"Apakah dengan membunuh satu orang maka kenyataan bisa diketahui?" Kembali Sie Toa Koh tertawa.