Chapter 158
"Dengan membunuh satu orang, maka aku bisa menilai dari perubahan mimik wajah kalian, apakah kalian bersungguh hati atau tidak."
"Hmm, pertarungan itu benar-benar terlalu keji!" Sie Toa Koh segera tertawa. "Hmm, berapa banyak sih orang yang telah mati terbunuh oleh kalian selama ini? Apakah baru hari ini kalian merasa bahwa perbuatan semacam ini termasuk keji? Betul-betul suatu kejadian yang aneh, padahal ditinjau dari sikap kalian ini pun, kamu sudah pantas mati."
Pat Huang Sin Mo menjadi amat terkesiap setelah mendengar perkataan itu. Sepasang matanya segera melotot besar penuh amarah, lalu ia membentak keras, "Hmm, kau anggap gampang membunuhku..."
Belum lagi perkataan tersebut selesai diucapkan, tiba-tiba saja Sie Toa Koh mengayunkan jari tangannya ke muka. Segulung desingan angin tajam segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.
"Kraaakk...!" Ia mengeluh tertahan, lalu tubuhnya terjungkal ke atas tanah dan tewas seketika.
Akibatnya, kelima orang iblis lainnya menjadi amat terperanjat. Sampai setengah harian lamanya, tak seorang pun di antara mereka yang berani bersuara.
Dengan sorot mata yang tajam, Sie Toa Koh memperhatikan sekejap wajah beberapa orang itu, kemudian setelah menghela napas lembut, ia kembali berkata, "Masuklah kalian berlima ke dalam lembah. Aai, padahal selama hidupku aku paling takut dengan darah, tapi hari ini aku telah membunuh orang lagi. Dosa... dosa..., benar-benar suatu dosa yang amat besar."
Berbicara sampai di situ, ia segera bangkit berdiri serta membalikkan badannya dan masuk kembali ke dalam lembah.
Memandang hingga bayangan tubuh Sie Toa Koh lenyap di kejauhan sana, Li Peng baru bergumam, "Kalau toh sudah tahu bahwa membunuh adalah dosa, mengapa pula dia harus membunuh orang lagi?"
Kelima iblis yang berhasil lolos dari lubang jarum itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Meski tidak ada yang berani berbicara, dalam benak setiap orang dicekam oleh rasa marah dan dendam yang tidak terkirakan.
Menanti rombongan tersebut berlalu, Sik Tiong Giok sekalian di bawah bimbingan Liong Siau Huan segera menuju pula ke lembah Soh Long Kok dengan mengambil jalan pintas.
Tak jauh setelah memasuki lembah terdapat sebuah tebing kecil. Sekeliling tempat itu merupakan batuan cadas yang berbentuk sangat aneh dan tak tampak tetumbuhan hidup di sekitar sana. Sekilas pandangan, bentuknya mirip sekali dengan beberapa ekor binatang buas yang siap hendak menerkam mangsanya.
Liong Siau Huan langsung mengajak Sik Tiong Giok sekalian berdiri di tengah sebuah tebing dan melongok ke bawah. Ternyata di sekitar tebing itu telah dipasang tujuh buah api unggun. Api yang membara itu berwarna biru dan membumbung sampai ketinggian tiga depa. Anehnya, di bawahnya tidak tampak kayu atau bahan untuk pembakaran.
Di tengah-tengah kobaran api itu, duduklah seorang nenek berambut putih.
Li Peng yang menjumpai keadaan tersebut segera saja berbisik di sisi telinga Liong Siau Huan, "Cici, cepat amat gerakan langkah Sie Toa Koh, secepat itu dia sudah duduk di sana."
"Dia bukan Sie Toa Koh, melainkan si wajah dingin, To Ji Koh."
"Kalau dilihat dari segala persiapan yang dilakukan olehnya, sudah pasti ada suatu kejadian aneh yang bakal berlangsung..."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak dari luar tebing telah muncul beberapa sosok bayangan manusia yang bergerak makin lama semakin mendekat. Tak lama kemudian dapat terlihat bahwa mereka adalah kelima iblis tersebut.
Begitu tiba di muka tumpukan api tersebut, serentak mereka menghentikan langkahnya, memberi hormat, dan berseru, "Tecu sekalian datang dari kota Ci Sia, menjumpai Lo Hujin."
"Kedatangan kalian memang tepat sekali, hanya sayang kejujuran hatinya masih meragukan," ucap To Ji Koh dingin.
Beberapa patah kata yang amat dingin dan kaku ini seketika membuat perasaan kelima orang iblis itu menjadi bergidik.
Mendadak Ang Lou Hujin menghentakkan tongkat ke atas tanah, lalu serunya dingin, "Kami datang kemari hanya ingin mengabarkan bahaya yang mengancam, sama sekali tidak berniat meminta apa-apa, jadi mau percaya atau tidak terserah kepada kalian sendiri. Urusan tersebut sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kami. Berulang kali kami tunjukkan sikap bersungguh-sungguh, tapi kalian sengaja menyusahkan kami. Tampaknya maksud baik kami dibalas dengan sikap macam begitu. Hmm, apa gunanya kami menjual nyawa lebih jauh...?"
Berbicara sampai di situ, tiba-tiba dia membalikkan badan lalu menggapai ke arah keempat orang iblis lainnya sambil berkata, "Hayo berangkat, kita segera kembali ke kota Ci Sia, urusan ini tak usah dicampuri lagi."
Seusai berkata, dia pun beranjak pergi dari situ, sementara keempat orang iblis lainnya segera menyusul pula dengan wajah penuh amarah.
Dengan suara dingin, To Ji Koh segera berseru, "Sesungguhnya kalian memang pantas mencampuri urusan ini, tapi apakah kalian akan pergi dengan begitu saja? Apakah kalian benar-benar akan melepaskan si kelabang langit yang tak lama lagi akan memunculkan diri di dalam dunia ini?"
Satu ingatan segera melintas di dalam benak Sik Tiong Giok setelah mendengar perkataan itu. Pikirnya, "Tak heran kalau tujuh iblis itu bersikap begitu hormat dan tunduk terhadap mereka, rupanya maksud tujuan mereka tak lain adalah kelabang langit berusia seribu tahun. Jangan-jangan Heng Thian Popo memiliki cara untuk menaklukkan kelabang langit itu?"
Baru saja ingatan tersebut lewat, mendadak kelima orang iblis itu menghentikan langkahnya dengan segera dan saling berpandangan sekejap.
Menyusul kemudian terdengar si bocah sakti Iblis Langit berkata dengan suara lantang, "Kami tak lebih hanya ingin meminjam mutiara racun Kim Ki Kun Toh Cu saja, karena itu kami bersedia pula berbakti kepada kalian. Tapi bila sikap kalian tetap dingin semacam ini, kami pun jadi segan dibuatnya."
"Dengan memiliki mutiara penolak racun tersebut, tidak sulit bagi Hujin kami untuk mendapatkan kelabang langit tersebut. Apakah sampai waktunya kalian tak akan menuruti perintahnya? Hanya saja, mengingat Hujin kami memerlukan bantuan kalian dalam usahanya menghadapi seorang musuh besar, ia bersedia untuk bertukar syarat dengan kalian. Kini apabila kalian bersedia melepaskan syarat tersebut, kami pun tak akan memaksa lebih jauh. Hanya... aku merasa kasihan buat kalian..."
"Apa yang patut dikasihani dengan kami?" tanya Ang Lou Hujin dengan wajah berubah.
"Aku kasihan kepada kalian gara-gara pikiran rakusnya sehingga memasuki lembah So Long Kok ini. Aku kuatir gampang untuk memasukinya tapi sukar untuk keluar lagi dari sini."
Dengan penuh amarah, Ang Lou Hujin segera berseru, "Jadi kau bermaksud menghalangi kami dengan mengandalkan kekerasan? Dengan ilmu silatmu, belum tentu kau mampu menahan kami semua."
"Selama hidup, aku paling takut bertarung dengan orang, lebih takut lagi melihat darah berceceran."
Telapak Tangan Darah Penyungging Langit segera mendengus, "Hmm, sekalipun kau hendak turun tangan, belum tentu mampu untuk menahan kami."
"Sudah kalian saksikan tujuh buah jilatan api itu? Tak usah aku mesti turun tangan sendiri, kalian toh tak akan mampu hidup selama tiga jam lagi."
Baru selesai perkataan tersebut diutarakan, paras kelima orang iblis itu sudah berubah hebat.
Dengan suara gemetar, si iblis wanita Thi Cu berseru, "Tujuh buah... jilatan api... berwarna biru... tanpa kayu, tanpa minyak... aaa uh... apakah kau telah menyimpan Panah Iblis Api Dingin...?"
"Tepat sekali," kata To Ji Koh dingin, "tanpa kalian sadari, kalian semua telah terkena panah iblis yang telah menembusi hati kalian. Nantikan saja penderitaan akibat digerogoti oleh panah api dingin itu..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, kelima orang iblis tersebut sudah dibuat amat terkejut dan ketakutan setengah mati, sehingga dua baris gigi saling beradu satu sama lainnya.
Sik Tiong Giok menjadi sangat keheranan setelah melihat kelima orang iblis tersebut ketakutan sedemikian rupa. Segera pikirnya, "Benda apakah Panah Iblis Api Dingin itu? Tanpa sedikit bayangan pun, bagaimana mungkin bisa melukai orang?"
Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba terasa Li Peng telah menggenggam tangannya. Telapak tangan nona itu sudah basah oleh peluh dingin. Ketika Sik Tiong Giok berpaling, segera tampak olehnya paras muka nona itu pucat pias bagaikan mayat. Rasa kaget dan ngeri mencekam seluruh perasaannya.
Tanpa terasa dia pun berpikir dengan rasa kuatir, "Adik Peng, kenapa kau?"
Dengan suara gemetar, Li Peng berkata, "Aku pernah mendengar dari cerita guruku, katanya Panah Iblis Api Dingin adalah panah pembunuh yang paling keji dari aliran sesat. Senjata itu dapat melukai orang tanpa sadar. Aku benar-benar merasa kuatir apabila kita pun dilukai oleh senjata tersebut."
Liong Siau Huan segera tertawa ringan, katanya cepat, "Adikku, kau tak usah terkejut atau panik, biarpun benda itu amat keji, namun asal kita tidak berada dalam radius lima puluh langkah, senjata tersebut tak bakal bisa melukai orang."
Sementara mereka masih berbincang-bincang, tampak kelima orang iblis itu sudah berdiri kaku di tempat semula persis seperti patung batu, sama sekali tak bergerak atau bergeser dari posisinya semula.
Mendadak terdengar Ang Lou Hujin menjerit keras sambil menyemburkan darah segar dari mulutnya. Kemudian, badannya terjungkal ke atas tanah, bergulingan beberapa kali, dan tidak bergerak lagi.
Menyaksikan hal tersebut, To Ji Koh segera berkata sambil menghela napas, "Aai, dia kelewat terburu nafsu sehingga mendekati api dingin sampai jarak sepuluh langkah. Luka yang dideritanya paling parah, akibatnya satu jam pun dia tak bakal tahan."
Dalam terkejutnya setelah menyaksikan peristiwa tersebut, keempat orang iblis lainnya serentak mengerubungi Ang Lou Hujin serta memeriksa keadaannya. Ternyata, seluruh badan Ang Lou Hujin telah berubah menjadi hitam pekat. Dari mata tunggalnya nampak darah meleleh keluar. Dalam sekejap mata, selembar jiwanya telah melayang meninggalkan raganya.