Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 159

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 159

Kenyataan tersebut membuat mereka makin kaget dan ngeri.

Dengan suara dingin, To Ji-koh berkata kembali, "Luka yang kalian berempat derita jauh lebih ringan dan mungkin masih bisa bertahan selama tiga jam lebih. Namun, jika ingin selamat dari ancaman maut, kalian berempat harus mengabulkan satu permintaanku lebih dulu."

"Harap Lo-hujin segera utarakan," sahut si bocah sakti Iblis Langit dengan cepat. "Asalkan jiwa kami dapat diselamatkan, syarat apa pun tentu akan kami kabulkan."

"Kuminta kalian pergi mencari Su-kuncu hingga ketemu. Tuan putri keempat adalah Gi-liong-kuncu yang hilang itu, mengerti?" Begitu mendengar bahwa ada kesempatan untuk lolos dari kematian, keempat orang iblis itu segera tampak berseri.

Ban-hong-sian-nio cepat-cepat berkata, "Tapi luka yang kami derita sekarang sudah begitu parah. Dalam tiga jam ke depan jiwa kami pun terancam bahaya. Untuk mencapai telaga Gi-liong-oh saja kami tak sanggup, bagaimana mungkin bisa menemukan kembali tuan putri?"

"Tentu saja akan kuberikan obat penawar racun untuk kalian. Nah, ambillah!" Sambil berkata, ia segera mengayunkan tangannya ke depan. Sebuah benda melayang ke tangan Ban-biau-sian-koh.

Terdengar ia berkata lebih jauh, "Obat penawarku ini hanya bisa memperpanjang usia kalian selama satu bulan. Bila kalian tak berhasil menemukan kembali tuan putri, lebih baik nantikan saja saat ajal kalian!"

"Seandainya dapat ditemukan kembali?"

"Tentu saja aku bisa menghapuskan sisa racun yang berada dalam tubuh kalian. Ayo, cepat berangkat!" Begitu selesai berkata, ujung bajunya dikibaskan ke depan dan kobaran lidah api pun padam secara tiba-tiba. Menyusul kemudian, tampak sesosok bayangan hitam melintas di tengah udara dan lenyap tak berbekas.

Sebaliknya, keempat orang iblis itu dengan wajah lesu dan sedih segera berjalan menuju luar lembah.

Menunggu sampai beberapa orang itu lenyap dari pandangan mata, Liong Siau-huan baru mengembuskan napas panjang seraya bergumam pelan, "Benar-benar berbahaya!"

"Aku tebak keempat orang iblis tersebut pasti akan mampus," ucap Li Peng sambil tertawa.

"Ya, saat ini Gi-liong-kuncu berada di samping kita, ke mana mereka akan mencari?" Liong Siau-huan segera menghela napas panjang. "Aai, akan tetapi kita pun tak akan sampai di pesanggrahan Lei-hun-piat-sut."

"Mengapa?" tanya Sik Tiong-giok keheranan.

"Apabila kita lanjutkan perjalanan lagi ke muka, boleh dibilang langkah demi langkah akan semakin berbahaya."

"Berapa banyak kesulitan sih yang akan kita lalui?"

"Asal kita dapat menembusi Barisan Guntur Langit dan Barisan Kayu Hijau, maka pesanggrahan Lei-hun-piat-sut segera akan tercapai. Tapi yang paling susah dilalui adalah pos penjagaan yang dijaga oleh guruku. Untung saja Ngo-koh selalu sayang kepadaku, mungkin juga ia bersedia membantu kita secara diam-diam."

Baru saja perkataan selesai diutarakan, mendadak terdengar seseorang membentak keras, "Turun!" Bentakan tersebut amat mengejutkan beberapa orang yang berada di situ.

Dengan suara dingin Li Peng segera berkata, "Kita tidak usah turun ke bawah, lihat saja apa yang bisa ia lakukan terhadap kita."

"Kedengarannya dia adalah Ngo-koh. Kalau dia yang datang, masih rada mendingan," kata Liong Siau-huan pula.

Sambil tertawa, Sik Tiong-giok segera berseru, "Peduli siapa pun dia, toh kita tak akan lolos darinya. Ayo kita turun saja, apa yang mesti ditakuti?" Sambil berkata, dia segera menjejakkan kakinya dan melayang turun ke bawah, disusul kemudian oleh Li Peng dari belakang.

Liong Siau-huan segera memperhatikan sekejap lawannya, kemudian sambil memberi hormat berkata, "Anak Huan menjumpai Ngo-koh!"

Sik Tiong-giok mencoba memperhatikan Ngo-koh atau bibi kelima ini. Meski ia seorang nenek berambut putih, namun wajahnya justru tampak amat bengis. Alis matanya tebal, matanya besar, dan mulutnya lebar, membuat siapa pun yang memandang jadi ngeri sendiri. Padahal, jangan dilihat tampangnya yang bengis dan buas, hatinya baik dan ramah sekali. Itulah sebabnya orang menyebutnya sebagai Hud-sim-ngo-koh (bibi kelima berhati Budha).

Hud-sim-ngo-koh memandang sekejap wajah keempat orang itu. Akhirnya sorot mata itu berhenti di atas wajah Liong Siau-huan. Ujarnya dengan suara dingin, "Nak, besar amat nyalimu. Nyata sekali kau sudah pagar makan tanaman, sengaja bersekongkol dengan orang asing untuk memusuhi gurumu sendiri."

Dengan suara pedih Liong Siau-huan berkata, "Betapapun besarnya nyali tecu, tak akan berani mengkhianati suhu. Andaikata aku tidak bersua dengan ketiga orang ini, mungkin tubuhku ini entah sudah jadi apa."

"Aku sudah mengetahui semua tentang peristiwa yang terjadi di Bukit Ong-sim-san. Gurumu juga mengetahui dengan jelas, kalau bukan begitu masa dia akan meledakkan bukit itu?"

"Kalau toh suhu sudah tahu, maka sudah sepatutnya kalau memaafkan anak Huan."

Hud-sim-ngo-koh segera menghela napas panjang. "Aai, kalau... apabila dia kelewat membelai dirimu, bagaimana caranya untuk memberi pertanggungjawaban terhadap ketiga orang suci itu? Aai, anakku, tunjukkan keberanianmu. Asal kau bisa melewati Barisan Guntur Langit dan Balok Hijau, aku rasa Lo-hujin pun tak akan menyusahkan dirimu."

"Mana mungkin anak Huan memiliki kemampuan sebesar itu?"

"Bukankah kau mempunyai tiga orang teman? Asalkan mereka punya kepandaian, teman-temanmu itu toh bisa membantumu untuk menembusi pos-pos barisan tersebut."

"Apakah suhuku akan menyetujui?"

"Tatkala gurumu menetapkan peraturan itu, ia sama sekali tidak menyebutkan kalau dilarang membawa pembantu. Moga-moga saja kau bisa baik-baik menjaga diri." Selesai berkata, ia memandang sekejap ke arah Liong Siau-huan dengan pandangan kasihan, setelah itu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Liong Siau-huan memandangi sampai bayangan tubuh Hud-sim-ngo-koh hilang dari pandangan mata. Kemudian, ia bangkit berdiri dan menjura kepada ketiga orang itu sambil berkata, "Mati hidup Liong Siau-huan sekarang tergantung pada bantuan dari kalian bertiga."

Dengan mata mendelik besar, si tolol A-poo segera berteriak, "Asal kau bersedia menjadi istriku, tempat macam apa pun tentu akan kutembusi."

"Sejak tadi tubuhku sudah menjadi milikmu, apalagi yang harus diucapkan?" jawab nona itu lirih.

Si Tolol A-poo segera tertawa bodoh, "Baik, akan kuterjang tempat-tempat tersebut bagimu. Barang siapa berani menganiaya biniku, biar kutendang dia sampai mampus." Sembari berteriak, dia segera berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan langkah lebar dan sama sekali tak berpaling. Sikapnya kelihatan gagah sekali.

Sik Tiong-giok yang menyaksikan kejadian tersebut jadi geli sendiri. Pikirnya, "Tak heran kalau orang mengatakan bahwa lelaki semuanya tukang bajingan di depan perempuan. Lelaki pengecut pun bisa berubah jadi pemberani, nampaknya hal ini tidak terkecuali pula pada diri si tolol ini."

Baru berjalan sejauh dua tiga li, fajar telah menyingsing dan tibalah mereka di tepi sebuah tebing. Dari kejauhan tampak seseorang berdiri menghadang di tengah jalan.

Dengan langkah cepat, Liong Siau-huan berlari mendahului si tendangan geledek A-poo, lalu sambil berlutut di hadapan orang itu serunya, "Anak Huan akan kembali ke gua untuk menjumpai suhu, harap Sam-koh suka memberi jalan lewat."

Ternyata nenek tersebut tak lain adalah bibinya yang ketiga, Im-yok-hoa.

Mendengar ucapan itu, Im-yok-hoa segera tertawa dingin tiada hentinya dan berseru, "Budak ingusan, kau telah melenyapkan Istana Gi-liong-oh, tahukah akan dosamu?"

"Anak Huan tahu salah," jawab Liong Siau-huan sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah, "dan sekarang anak Huan memang sengaja datang untuk mengaku salah di depan suhu."

"Kalau memang itu maksud kedatanganmu, mengapa harus bersekongkol dengan orang asing?"

"Mereka adalah tuan penolong tecu. Karena takut tecu menjumpai musuh lagi, maka mereka melindungi tecu sampai di sini."

Im-sah-koh tertawa dingin, "Baik sekali, tidak nyana kalau mereka mempunyai hati sebaik ini. Cuma aku pun tak bisa mengabaikan peraturan perguruan dengan begitu saja."

"Mohon keringanan dari Sam-koh."

"Sudah, tak usah dibicarakan lagi!" bentak Im-sah-koh tiba-tiba. "Biarpun aku tak bisa melupakan hubungan kita selama ini, namun peraturan perguruan pun tak bisa diabaikan. Asal kalian dapat menembusi pertahananku ini, aku si nenek pun akan melepaskan kalian pergi."

Agaknya Liong Siau-huan cukup memahami watak dari Im-sam-koh dan sadar bahwa banyak berbicara pun tak ada gunanya. Sambil tetap berlutut di atas tanah, mendadak teriaknya, "Kalau begitu anak Huan akan bertindak kasar."

Baru selesai perkataan itu diutarakan, mendadak terdengar Li Peng berteriak pula, "Enci Huan, siau-moay akan mendampingimu!" Di tengah teriakan keras, tampak dua sosok bayangan manusia menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Selat sempit itu luasnya cuma dua depa, ditambah lagi Im-sah-koh berdiri persis di tengah jalan, boleh dibilang tiada tempat tersisa di sisi kiri maupun kanannya. Dalam anggapan kedua nona itu, dengan mengandalkan kelincahan tubuh rasanya tak sulit buat mereka untuk meloloskan diri, apalagi sepasang tangan Im-sam-koh masih terjulur ke bawah dan sama sekali tidak bersikap seperti mau bertarung. Dalam posisi demikian, tentu saja tak nanti ada persiapan padanya.

Liong Siau-huan segera menerjang ke tepi tebing, kemudian dengan gerakan capung menutul di atas air, tubuhnya melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Akan tetapi, baru saja tubuhnya sampai di tengah jalan, mendadak Im-sam-koh melepaskan sebuah pukulan mengancam iganya. Li Peng yang berada di belakangnya mengerti bahwa serangan yang dilontarkan ke arah Liong Siau-huan itu berbahaya sekali. Sebab, biarpun masih sempat untuk membendung datangnya ancaman, pasti dia akan digetarkan juga badannya hingga mencelat ke dalam jurang yang dalam sekali itu.

Tanpa terasa bentaknya dengan gusar, "Huh!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment