Chapter 16
Jikalau kau memang sudah curiga, mengapa masih bersedia membantu musuh?
Yaa, siapa sih yang mau membantu orang jahat melakukan kejahatan?
Tapi apa boleh buat, bila kami sudah masuk perangkap semua.
Kami telah dicekoki racun jahat, disamping itu segenap keluarga kami disandera, apa lagi yang bisa kami lakukan?
Racun apa sih yang telah kalian telan?
Masa demikian hebatnya sampai kesadaran sendiri pun hilang?
Racun itu adalah sejenis racun jahat dari wilayah Biau yang disebut rumput serigala beracun, barang siapa yang sudah menelan racun itu, disamping kesadaran-nya akan terkendali, bahkan dia sendiri pun akan mengalami perubahan baik dalam sikap maupun dalam watak, dia akan berubah menjadi keji, ganas dan suka membunuh, bila tidak menelan obat penawar maka dia bisa mati karena edan!
Bukankah kau berada dalam keadaan sangat sehat, sama sekali tidak menjadi kalap?
Hal ini disebabkan jalan darahku tertotok sehingga peredaran darahnya tidak lancar, atas kejadian ini saat kambuhnya menjadi mundur lebih lambat, dua jam kemudian aku mati karena edan dan urat nadiku akan putus semua!
Oooh, rupanya begitu!
Sik Tiong giok membelalakkan matanya lebar-lebar, apakah locianpwee tak sanggup membendung racun di dalam tubuhmu dengan mengandalkan ilmu silat cianpwee yang tinggi?
Sekali lagi Siau Kun menghela napas panjang.
Rasul serigala telah menduga sampai kesitu, maka disaat kami tak sadarkan diri, dia menotok jalan darah sin kwan hoat dalam tubuh kami, bila kita menggunakan tenaga untuk melawan, maka kalapnya akan semakin menghebat, jadinya siapa pun tak berani mencoba secara sembarangan!
Sik Tiong giok termenung sebentar, setelah itu katanya:
Cara yang digunakan anggota perguruan serigala langit belum tentu bisa menyusahkan aku, apakah locianpwee bersedia untuk mencobanya?
Siau Kun menggelengkan kepalanya berulang kali.
Percuma, racun itu sudah terlanjur merasuk ke dalam tulang, sekalipun kau dapat membebaskan jalan darahku, usiaku juga hanya bisa diperpanjang berapa bulan saja!
Aaah, masa dikolong langit benar-benar tiada obat penawar racun tersebut?
Kecuali obat penawar racun bikinan dari Tok jiu hoa tho (Hoa Tho bertangan racun) Pui Cu yu, rasanya sulit untuk mendapatkan obat penawar racun serigala itu!
Dimanakah keluarga Pui itu bertempat tinggal?
Aku pasti akan mencarikan obat penawar racun itu bagimu.
Ia berdiam di Yau nia kwan di wilayah Chin juan, rasanya sulit untuk menjumpainya!
Mengapa?
Tanya Sik Tiong giok keheranan, apakah dia enggan menolong orang?
Bukan-nya begitu, Sian Kun menggeleng, sebab si rasul serigala sudah turun tangan pula terhadapnya, cuma bila kau bisa segera berangkat kesana, bisa jadi masih ada harapan.
Mungkin aku masih sempat untuk menyusulnya, Sik Tiong giok tersenyum, cuma bagaimana dengan kau sekarang?
Aku masih perlu kembali ke bukit Kiu niong sun dengan secepat mungkin, jawabnya.
Aku lihat sudah tak perlu, lebih baik kau mengawal dua bersaudara Ki pulang ke Say leng sia saja!
Tutur Sik Tiong giok.
Kalau aku sampai berbuat begini, bukankah aku bakal mati karena gila?
Tidak mungkin, aku telah menotok lima buah jalan darahmu sehingga kau dapat tidur selama beberapa hari dengan tenang, begitu kudapatkan obat penawar racun-nya, segera akan kutolong dirimu!
Sementara berbicara, sepasang tangan-nya segera bergerak cepat menepuk bebas keempat jalan darah Sian Kun, tapi dengan cepat pula dia menotok lima buah jalan darah penting lain-nya.
Si pertapa nelayan bertangan baja segera tampak gontai, wajahnya kelihatan sangat letih, dalam sekejap mata ia sudah terlelap tidur dengan nyenyaknya.
Mendadak Sik Tiong giok mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring.
Menyusul pekikkan tersebut, dari kejauhan sana muncul sebuah perahu kecil yang meluncur mendekat dengan kecepatan luar biasa.
Memandang perahu kecil itu, Sik Tiong giok kembali berpesan kepada Ki Beng bersaudara.
Untuk sementara waktu kalian berdua boleh berdiam dulu di Say leng sia, soal menghadapi si rasul serigala bukan masalah biasa, segala sesuatunya harus diatur dengan persiapan yang matang dan seksama, kalian tak usah terlalu memusingkan-nya lebih dulu.
Sementara pembicaraan dilangsungkan, perahu kecil itu sudah bersandar ditepi karang, dari atas perahu pun melompat keluar seseorang.
Begitu melihat orang itu, Ki Beng jadi termangu saking kagetnya.
Ternyata orang itu adalah si tukang perahu, bukankah dia sudah terbawa oleh arus sungai yang deras?
Mengapa dia bisa muncul kembali dengan membawa sampan lain?
Agaknya Sik Tiong giok bisa merasakan keheranan orang, sambil tertawa terbahak-bahak segera katanya:
Apakah kalian berdua merasa keheranan?
Mari kuperkenalkan kepada kalian, si tukang perahu ini juga termasuk seorang manusia ternama dari dunia persilatan, dia adalah ketua Ngo oh pang yang bernama Bun Su khi, tentu kalian pernah mendengar namanya bukan?
Bun lo pangcu dari Ngo oh pang...?
Ki Beng bersaudara berdiri dengan mata terbelalak.
Bun Su khi tertawa terbakak-bahak.
Haaah, haaaah, haaah, saat ini aku sudah bukan ketua suatu perkumpulan lagi, kini aku adalah toa congkoan di bawah pimpinan serigala langit!
Apakah locianpwee telah membubarkan Ngo oh peng?
Tanya Ki Beng keheranan.
Bu Su khi menghela napas panjang.
Aai, sejak pertemuan para enghiong berakhir, putriku ditawan oleh rasul serigala, dalam pergejaran itulah aku telah berjumpa dengan sang pangeran ini, saat itulah baru kuketahui bahwa kekuatan si rasul serigala pada saat ini sudah mencapai tingkatan yang berbahaya, bila tanpa persiapan mustahil kita dapat menandingi mereka!
Toh tidak usah membubarkan kekuatan yang telah terhimpun dalam perkumpulan Ngo oh pang?
Perkataanmu memang benar, Bun Su khi tertawa, dan aku sendiripun tidak sebodoh ini, padahal perkumpulan Ngo oh pang memang belum bubar, cuma namanya saja yang berubah dan markasnya pindah keselat Say leng sia, sedang pemimpin kami sekarang tak lain adalah si Pangeran Serigala langit!
Sudahlah locianpwee, cepat-cepat Sik Tiong giok menyela, kau tak usah mengumpak diriku, aku mah tak sudi menjadi Pangeran Serigala langit atau sebangsanya!
TIDAK BISA JADI, Bun Su khi tertawa, Anak keturunan dari raja serigala langit adalah pengeran serigala langit, kami semua menghormati kalian, sehingga sekali pun kau enggan pun tak bisa jadi.
Sudah, sudahlah...
Sik Tiong giok tertawa, lebih baik kita segera pulang, apa lagi aku mesti meneruskan perjalanan ke Yau nia kwan.....
Dalam pembicaraan mana, mereka menggotong si pertapa nelayan bertangan baja Siau Kun keatas perahu, kemudian dengan Bun Su khi memegang kemudi, Sik Tiong giok memegang bambu panjang, secepat petir perahu itu meluncur kemuka.
Tidak sampai satu jam kemudian, perahu tersebut sudah memasuki selat Say leng sia.
Sik Tiong giok ingin cepat-cepat mengetahui nasib Si Hoa tho bertangan racun Pui Cu yu, maka dengan menunggang seekor kuda dia segera meneruskan perjalanan-nya menuju ke Yau nia kwan.
Perjalanan yang ditempuh siang malam tanpa berhenti, membuat Sik Tiong giok maupun sang kuda menjadi kehabisan tenaga setibanya dikota Han ong sia.
Sebenarnya pemuda itu berniat meneruskan perjalanan-nya, sayang kudanya sudah roboh ketanah sehingga dia betul-betul kehabisan akal...
Sementara Sik Tiong giok dibikin gelagapan, tiba-tiba dari kejauhan sana terdengar suara keleningan yang ramai, menyusul kemudian muncul beberapa ekor kuda yang dipacu kencang-kencang.
Menyusul suara derap kaki kuda, kedengaran pula suara roda kereta yang bergelinding menimbulkan suara gemuruh.
Empat ekor kuda jempolan dipacu sekencang-kencangnya seperti lagi terbang saja, dibelakang rombongan kuda itu menyusul sebuah kereta kuda.
Ternyata sikusir kereta bukan kusir kuda biasa, dia adalah seorang gadis berbaju putih yang berwajah cantik molek.
Kalau dilihat dari kuda yang dipacu sekencang-kencangnya, jelas seperti ada urusan penting yang hendak diselesaikan secepatnya.
Mendadak, sinona berbaju putih itu seperti tertegun, ia melihat seorang bocah berusia lima enam belas tahun sedang berdiri termangu-mangu sambil mengawasi seekor kuda yang tergeletak ditanah.
Begitu kereta itu mendekat, pemuda tadi segera melompat ketengah jalanan dan berteriak:
Hei, kusir kereta, berhenti sebentar!
Terpaksa nona berbaju putih itu menghentikan keretanya setelah jalan perginya dihadang, dengan suara dingin tegurnya:
Hei, mau apa kau?
Coba kau lihat, kata pemuda cilik itu sambil menunjuk kearah kudanya yang tergeletak ditanah, kudaku sudah mampus, apakah kau bersedia membawaku sampai dikota Ci yang?
Sebelum nona berbaju putih itu sempat menjawab, tiba-tiba seorang pemuda melongok dari balik tirai kereta dan berkata setelah mendengus dingin:
Darimana kau bisa tahu kalau kereta kami ini akan pergi kekota Ci yang?
Kalau kereta yang melalui jalanan ini tentunya tidak akan pergi ke Heng an ciu bukan?
Pemuda cilik itu tertawa.
Dugaanmu tepat sekali, kami memang sedang pergi ke Heng an ciu.
Kalau hendak pergi ke Heng an ciu, mengapa tidak lewat Han im, sebaliknya berputar ke Han ong sia?
Mendengar perkataan tersebut, sang pemuda menjadi gusar, ia segera menerobos keluar dari keretanya sambil membentak:
Mau lewat manakah kami apa urusan-nya dengan dirimu, apakah kami dilarang pergi ke Han ong sia bila hendak menuju ke Heng an ciu?
Kembali sastrawan kecil itu tertawa.
Aku tak ambil perduli kalian hendak kemana, pokoknya aku akan menumpang keretamu ini.
Lebih baik kau menggelinding pergi dari sini secepatnya!
Hardik pemuda itu sekali lagi.
Tidak, bila kalian melarang aku menumpang kereta ini, aku tak akan menyingkir dari sini.
Bocah keparat, pingin mampus rupanya kau...
Teriak pemuda itu semakin gusar.
Ditengah bentakan mendadak sebuah cambuk panjang diayunkan ke depan dan langsung menyapu ke arah pemuda cilik tersebut.