Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 161

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 161

Mendadak Sik Tiong Giok berpekik nyaring. Tubuh dan pedangnya bersatu padu menembus angkasa dengan pancaran hawa murni yang mahadahsyat. Tubuh itu melejit setinggi satu kaki lebih serta meloloskan diri dari kepungan.

Namun, dalam waktu singkat, bentakan nyaring kembali bergema dari puncak tebing. Lagi-lagi terlihat belasan titik cahaya hijau meluncur ke bawah secepat sambaran petir.

Di antara cahaya hijau yang memenuhi angkasa bagaikan sambaran petir, terdapat lagi enam titik cahaya hijau yang lebih lembut bentuknya, khusus melewati arah yang tak beraturan mengancam ke bawah. Ancaman semacam inilah yang paling susah dihadapi.

Li Peng dan kawan-kawan yang menonton jalannya pertarungan itu dari mulut lembah menjadi amat gelisah. Namun, mereka tak berani menjerit kaget karena khawatir mengacaukan pikiran Sik Tiong Giok hingga semakin susah untuk menghadapi serangan lawan.

Di antara sekian orang, Liong Siau Huan-lah yang paling khawatir. Ia cukup tahu betapa hebatnya senjata rahasia milik Lui Su-koh-nya ini. Meski cahaya hijau yang menyembur ke bawah itu memiliki daya kemampuan dahsyat, sesungguhnya masih mudah untuk dihadapi, tetapi jarum belalang terbang yang khusus menyambar secara tak beraturan itulah ancaman yang serius. Sebab jalur yang ditempuh senjata ini tidak beraturan, ini berarti arah datangnya serangan pun tak terduga, ditambah lagi harus melindungi diri terhadap ancaman sinar hijau yang mengakibatkan situasi kian sulit diatasi.

Si tendangan geledek A Poo tidak melihat ancaman maut yang sedang dihadapi Sik Tiong Giok. Ketika melihat adegan tersebut, ia segera bertepuk tangan dan bersorak sambil tertawa tergelak, "Hahaha... indah amat letupan api yang menari-nari di angkasa itu!"

Mendadak terdengar Sik Tiong Giok berpekik nyaring sekali lagi. Tubuh dan pedangnya membentuk satu jalur bianglala panjang, lalu menembusi lingkaran cahaya hijau dan langsung meluncur ke puncak tebing. Termakan oleh terjangan hawa pedangnya yang mahadahsyat, puluhan cahaya hijau dan bayangan bianglala yang menyelimuti sekeliling arena itu meletus dan hancur berkeping-keping.

Tahu-tahu Sik Tiong Giok telah berdiri tegap di puncak tebing tanpa kekurangan suatu apa pun. Dengan sorot matanya yang tajam, ia mengawasi wajah Lui Su-koh lekat-lekat. Lui Su-koh dengan pandangan kusut sedang mengawasi pula wajah Sik Tiong Giok dengan pandangan mendelong. Lama sekali mereka berdua saling berpandangan muka. Akhirnya, Lui Su-koh melengos ke arah lain sambil menegur dingin, "Siapa kau? Berani amat mencampuri urusan pribadi perguruan kami?"

Sik Tiong Giok segera tersenyum, "Putra Langit, Sik Tiong Giok, khusus melindungi Gi Liong Kuncu untuk memohon maaf kepada gurunya."

Lui Su-koh jadi tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, segera ujarnya, "Kau anggap setelah mampu menghancurkan senjata Pek Yaa S-lui (api hijau guntur sakti)-ku, lantas kau dapat memasuki pesanggrahan Lei Hun Piat Sut semau hati sendiri?"

"Ilmu silat mahasakti apalagi yang hendak kaugunakan untuk menghadang perjalananku?" tanya Sik Tiong Giok dingin.

Dengan suatu gerakan cepat, Lui Su-koh mencabut keluar sebilah pedang, lalu katanya dingin, "Kau kenal dengan pedangku ini?"

Sementara Sik Tiong Giok masih tertegun, Liong Siau Huan telah berseru dari kejauhan, "Pangeran kecil, kau jangan bertindak gegabah, pedang tersebut adalah pedang Im Lui Sin Kiam."

Kontan saja Lui Su-koh mendelik besar setelah mendengar teriakan ini, bentaknya penuh amarah, "Budak sialan, kau berani pagar makan tanaman, bukan membantu orang sendiri malah berpihak kepada orang lain! Hmm, kau jangan mencoba untuk cerewet lagi!"

Satu ingatan segera melintas dalam benak Sik Tiong Giok. Sambil tertawa tergelak, ia berkata kemudian, "Dari mulut ayah angkatku dulu, pernah kudengar tentang salah seorang dayang dari Lima Dayang Bukit Long Sen yang memakai pedang Im Lui Sin Kiam. Mungkin kaulah yang dimaksudkan?"

"Hmm, jadi kau sudah mengetahui tentang kehebatan pedang ini?" dengus Lui Su-koh.

Sik Tiong Giok segera tertawa, "Aku dengar bila pedang tersebut sedang melancarkan serangan, maka kecepatannya seperti sambaran petir dan kekuatannya seperti gempa yang meretakkan permukaan tanah. Entah benar atau tidak?"

"Ucapanmu tepat sekali," jawab Lui Su-koh sambil tertawa angkuh. "Apakah kau berhasrat untuk mencoba kehebatan pedang ini?"

"Bila dilihat dari munculnya pedang tersebut di tanganmu, dapat kuduga bahwa dahulunya kau pun berasal dari Perguruan Serigala. Sik Tiong Giok tak ingin terjadi gontok-gontokan di antara orang sendiri, karenanya lebih baik pertarungan tersebut diurungkan saja."

Lui Su-koh tertawa dingin, "Kalau memang sudah kauketahui asal-usulku, kenapa mesti berlagak pilon lagi? Jangan lagi kau, biar setan tua itu memunculkan diri lagi pun harus merasakan tiga jurus pedangku sebelum melewati tempat ini."

Tiba-tiba Sik Tiong Giok tertawa terbahak-bahak, "Hahaha... bagus sekali, ternyata Lima Dayang dari Bukit Serigala kini pun senang menganiaya orang dengan mengandalkan ilmu silat."

"Kau jangan bicara sembarangan anak muda, lihat serangan!" bentak Lui Su-koh dengan marah.

Di tengah bentakan gusar, pedang Im Lui Sin Kiam-nya dituding ke udara hingga memperdengarkan suara ledakan yang amat keras. Di antara ledakan tadi, tampak asap hijau menyambar ke mana-mana diiringi pelbagai ledakan di sana-sini; keadaannya benar-benar mengerikan.

Sik Tiong Giok tersenyum. Pedangnya digerakkan dalam jurus 'angin badai dari delapan penjuru'. Serentetan cahaya bianglala segera mengitari tubuhnya, lalu memancar keluar.

"Cring... cring... cring..." Serangkaian bunyi dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan. Asap hijau yang memancar ke mana-mana itu rontok secara tiba-tiba ke bawah; ternyata berupa belasan bilah pedang kecil.

Sambil tertawa tergelak, kembali Sik Tiong Giok berseru, "Hahaha... pedang sakti Im Lui Sin Kiam macam apa itu? Rupanya tak lebih hanya permainan busuk yang sama sekali tak ada artinya."

Lui Su-koh mendengus dingin, "Hmm, bocah muda, kau jangan keburu takabur!"

Tiba-tiba pedangnya digetarkan ke udara berulang kali sehingga dari sebilah pedang berubah menjadi lima pedang. Satu di antaranya segera dicabut lalu ditimpukkan ke muka. Baru saja Sik Tiong Giok hendak menangkis dengan pedangnya, mendadak saja... "Sreet!" Lui Su-koh telah menimpuk dengan pedang yang kedua, menyusul kemudian pedang sebilah demi sebilah disambitkan ke muka.

Pedang Im Lui Sin Kiam memang benar-benar hebat dan bukan sekadar nama kosong. Dalam waktu singkat, seluruh angkasa telah diliputi cahaya yang gemerlapan, bunyi gemuruh pun serasa menusuk pendengaran. Sik Tiong Giok sama sekali tidak memandangnya, bahkan melirik sekejap pun tidak. Tahu-tahu telapak tangan kirinya disapu ke muka, menyusul tubuhnya turut berputar dengan cepatnya.

Walaupun kelima bilah pedang itu berputar sendiri-sendiri di udara, sesungguhnya semua senjata tersebut masih berada dalam kendali Lui Su-koh. Di antara putaran sepasang tangannya, gerakan serangan dari kelima pedang itu pun makin dahsyat. Tiba-tiba Lui Su-koh menghentikan gerakan tubuhnya, lalu satu tangannya didorong ke muka. Seketika itu juga tampak sebilah pedang yang disertai kilauan cahaya meluncur ke muka dengan disertai kekuatan yang berlipat ganda. Serangan tersebut langsung mengancam ke dada si anak muda tersebut.

Sik Tiong Giok melotot besar. Sambil membentak keras, pedangnya—disertai tenaga dalam sebesar sepuluh bagian—langsung disontek ke atas.

"Blaammm!" Pedang yang sedang menyambar ke bawah itu segera tersontek oleh gerakan pedang Sik Tiong Giok hingga terangkat setinggi dua depa dari posisi semula. Dengan demikian, pedang itupun menyambar lewat di atas kepala pemuda itu. Tindakan yang diambil Sik Tiong Giok barusan betul-betul amat berbahaya dan menyerempet maut. Andaikata seinci saja lebih rendah, niscaya batok kepala anak muda itu sudah tertembus pedang.

"Aaaah!" Belum habis seruan kaget dari Liong Siau Huan, Sik Tiong Giok telah berhasil menyontek pergi serangan pedang yang kedua. Akibat dari peristiwa ini, Lui Su-koh menjadi amat gusar. Dengan suara dingin, segera bentaknya, "Bocah keparat, kau berani merusak pedang saktiku?"

Di tengah bentakan, tiba-tiba tubuh bersama pedangnya bersatu padu dan berubah menjadi serentetan cahaya bianglala yang meluncur ke muka dengan kecepatan tinggi. Menghadapi ancaman demikian, Sik Tiong Giok tak berani berayal lagi. Sambil berpekik nyaring, ia mendongkel kembali serangan pedang yang ketiga, menyusul kemudian tubuhnya berpadu dengan pedang dan maju ke muka menyongsong datangnya ancaman itu.

Kedua belah pihak sama-sama meluncur ke depan dengan kecepatan bagai sambaran petir. Kedua bilah pedang pun seperti dua ekor naga yang sedang menari-nari di angkasa. Dalam waktu singkat, suara guntur yang menggelegar serasa mengguncangkan empat penjuru. Li Peng dan kawan-kawan yang berada di bawah tebing sama-sama menengadah ke atas dengan perasaan terkesiap, namun tak ada sesuatu pun yang bisa terlihat.

"Criiing!" Serentetan bunyi gemerincingan nyaring bergema memecahkan keheningan. Tampak serentetan cahaya hijau melesat ke atas menembusi angkasa, di bawahnya terpancar beribu-ribu titik sinar hijau yang menyebar ke mana-mana. Pemandangan waktu itu nampak sangat indah.

Betapa terkejutnya Lui Su-koh ketika hawa murninya mendadak buyar dan tak mampu dihimpun kembali setelah melepaskan serangan pedang itu. Cepat-cepat ia merendahkan tubuhnya sambil meluncur turun ke bawah. Sik Tiong Giok dengan ilmu pedang terbangnya sedang mengincar ke bawah ketika melihat Lui Su-koh meluncur turun secara tiba-tiba. Ia menyangka lawannya sedang menyusun rencana busuk; tentu saja ia tak memberi kesempatan kepada lawannya untuk mewujudkan niat itu. Cepat-cepat ia menerjang pula ke bawah. Sebelum cahaya pedangnya mencapai sasaran, segulung hawa pedang tak berwujud yang amat kuat telah meluncur turun lebih dulu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment