Chapter 162
Begitu ditumbuk oleh hawa pedang itu, Lui Su Koh segera menjerit kesakitan. Seketika itu juga badannya terlempar sejauh dua kaki lebih oleh tenaga dahsyat yang tak berwujud tersebut dan roboh terjungkal ke atas tanah.
Menanti Sik Tiong Giok menarik kembali tenaganya sambil memandang ke muka, tampak perempuan itu sudah tergeletak di atas tanah dengan darah bercucuran dari ujung bibirnya.
Dalam sekilas pandangan saja, ia telah mengetahui kalau tubuh Lui Su Koh tertumpuk oleh hawa pedangnya karena hawa murninya tiba-tiba buyar di tengah jalan; akibatnya, isi perutnya jadi remuk dan tewaslah dia seketika. Kesemuanya ini segera menimbulkan rasa sedih di dalam hati kecilnya.
Dalam pada itu, Li Peng sekalian yang berada di bawah tebing telah melihat bahwa pertarungan di puncak tebing telah berakhir. Ketika berbondong-bondong mereka menyusul ke situ, dilihatnya Sik Tiong Giok telah berdiri termangu-mangu di sisi Lui Su Koh.
Dengan cepat Li Peng mendorong tubuhnya sambil menegur, "Engkoh Giok, kenapa kau?"
Sik Tiong Giok menghela napas panjang, "Aai, Lui Su Koh telah meninggal dunia."
"Kalau sudah mati, ya sudah lah. Kenapa kau yang berhasil unggul justru nampak bersedih hati?"
"Hingga sekarang aku baru sadar, rupanya kami sedang gontok-gontokan sendiri, dengan orang sendiri."
"Aku tidak mengerti," Li Peng menggelengkan kepalanya dengan kebingungan.
"Bila dugaanku tidak meleset, Gi Liong Hujin sebetulnya adalah ibu angkatku sendiri."
"Apa kau bilang?" sela Liong Siau Huan cepat, "Suhuku adalah ibu angkatmu?"
"Benar, kelima orang bibi ini tak lain adalah kelima dayang dari Bukit Serigala di masa lalu. Aku baru teringat akan hal ini setelah menjumpai pedang sakti Im Lui Sin Kiam itu."
"Kalau begitu malah bagus sekali," seru Li Peng segera sambil tertawa girang, "setelah tiba di pesanggrahan Lei Hun Piat Sat nanti, kita kan tak perlu bertarung lagi."
Mendengar hal ini, Sik Tiong Giok segera tertawa dingin, "Heeeh... aku justru khawatir setelah berada dalam pesanggrahan Lei Hun Piat Sat nanti, kita masih harus melangsungkan suatu pertarungan sengit."
Tampaknya Li Peng masih belum memahami maksud dari perkataan tersebut. Sepasang matanya yang jeli terbelalak lebar-lebar, diawasinya Sik Tiong Giok dengan wajah termangu.
Liong Siau Huan menghela napas panjang, katanya pula, "Hubungan guruku dengan kelima bibi akrab melebihi saudara kandung sendiri. Setelah Pangeran Cilik melukai Su Koh, tentu saja guruku tak akan menyudahi persoalan tersebut sampai di sini saja."
"Kecuali..." ucapan Sik Tiong Giok terputus, namun sebelum dilanjutkan, ia telah membungkam kembali.
"Hey, kecuali bagaimana? Mengapa tidak kau utarakan secara terus terang?" seru Li Peng cepat.
"Kecuali ayah angkatku bersedia menampilkan diri di sini. Dengan begitu, semua pertikaian tentu akan terselesaikan dengan sendirinya."
Li Peng segera tertawa, "Kukira masih ada masalah pelik apalagi. Asal kau yang mengundangnya keluar, bukankah dia, orang tua itu, akan segera memunculkan diri?"
Tiba-tiba Sik Tiong Giok tertawa getir, "Tapi siapa yang tahu dia, orang tua itu, telah mengasingkan diri ke mana?"
"Aku punya usul bagus. Bagaimana kalau kita mundur dulu dari Lembah Soh Long Kok ini untuk sementara waktu? Bila Sik Locianpwee berhasil dijumpai, kita baru datang kemari lagi."
"Sekarang kita sudah tak mungkin lolos dari sini lagi," ucap Liong Siau Huan segera, "Lembah Soh Long Kok telah ditutup. Jangan lagi manusia seperti kita ini, biar seekor burung pun sulit rasanya untuk melewati tempat ini."
Sik Tiong Giok termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata, "Kalau ini rezeki tentu bukan bencana, kalau ini bencana kita toh tak akan lolos. Daripada mundur setengah jalan, mari kita terjang terus ke dalam!"
Agaknya Li Peng merasa pemikiran tersebut ada benarnya juga, segera sahutnya, "Ya, rasanya ini memang merupakan satu-satunya jalan keluar. Mari kita terjang ke dalam!"
Mereka berempat pun segera menelusuri tebing dan menembus maju lebih ke dalam. Di atas sebuah puncak bukit yang berdiri sendiri, berdirilah sebuah bangunan gedung yang besar. Walaupun bangunan tersebut tidak dibangun secara artistik, bentuknya tampak angker dan gagah. Di sekeliling lapangan tampak banyak orang sedang berkumpul. Dengan cepat mereka telah melihat kemunculan keempat orang tersebut.
Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan keras, "Kalau hendak menagih harus mencari yang berhutang. Coba lihat, bukankah Pangeran Serigala Langit sedang berjalan kemari?"
Dengan langkah lebar Sik Tiong Giok memasuki tanah lapangan. Selain berjumlah kecil, hampir sebagian besar yang hadir di sana dikenali olehnya; kebanyakan adalah orang-orang dari Selat Pa Si Sia-nya dulu.
Baru saja Sik Tiong Giok hendak menyapa orang-orang itu, mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara dingin, "Apakah kau adalah si bocah kecil yang berhasil ditolong oleh setan tua itu dari kekalutan peperangan?"
Dengan cepat Sik Tiong Giok berpaling. Di atas undakan batu muka pintu gerbang utama, duduklah seorang nenek di sebuah kursi kebesaran. Tangannya memegang sebuah tongkat dan tubuhnya tampak kerempeng. Di belakang nenek itu berdiri seorang nona cantik berbaju merah keperak-perakan dengan sepasang matanya yang terbelalak besar; ia sedang mengawasi Sik Tiong Giok tanpa berkedip.
Biarpun Sik Tiong Giok belum pernah bersua dengan nenek itu, namun dalam sekilas pandangan saja ia sudah mengenali siapa gerangan orang itu. Cepat-cepat ia maju berlutut sambil berseru, "Anak Giok memberi hormat untuk Ibu Angkat."
Nenek itu memang tak lain adalah istri dari kakek Serigala Langit yang kini menyebut diri sebagai Gi Liong Hujin. Sambil mendengus dingin, Gi Liong Hujin menegur, "Bocah muda, tak nyana kau masih mengerti soal sopan santun. Selama beberapa tahun mengikuti si setan tua itu, mungkin banyak sudah kepandaian yang berhasil kau pelajari?"
"Bakat Anak Giok jelek lagi bebal, tak banyak yang berhasil kupelajari."
"Anak pintar, kau tak usah merendahkan diri lagi. Ditinjau dari kemampuanmu dalam membunuh Lui Su Koh, dapat kuketahui bahwa kepandaian silatmu memang hebat. Ingin juga kuminta petunjuk darimu."
"Anak Giok tak berani," buru-buru Sik Tiong Giok menampik.
Sementara itu Gi Liong Kuncu Liong Siau Huan telah berlutut dan berbisik lirih, "Anak Huan menjumpai Suhu."
Mendadak Gi Liong Hujin mendelik besar, hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya. Dengan suara dingin ia berseru, "Budak setan, tak nyana kau masih punya pendukung! Hmm, kebetulan aku tak akan takut dengan *backing*-mu itu."
"Tecu tidak berani."
Kembali Gi Liong Hujin tertawa dingin, "Heee... memang itu sudah kuduga, kau tak akan berani. Hmmm, setelah terperangkap di Telaga Gi Liong Oh, tahukah kau akan peraturan perguruan kita?"
"Tecu mengerti, mohon Suhu bersedia menjatuhkan hukumannya."
"Kalau sudah tahu salah, mengapa tidak segera bunuh diri? Apakah kau hendak menunggu sampai aku yang turun tangan sendiri?" seru Gi Liong Hujin dingin.
Berubah hebat paras muka Gi Liong Kuncu Liong Siau Huan setelah mendengar perkataan ini. Ia menyembah satu kali kepada gurunya lalu bangkit berdiri seraya berkata, "Terima kasih banyak atas kemurahan hati Suhu, anak Huan akan segera berangkat!"
Sementara berbicara, sorot matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap ke arah si Tendangan Geledek, lalu pedangnya segera diayunkan untuk menggorok leher sendiri. Apabila lehernya sampai tergorok oleh pedang tersebut, niscaya habislah riwayat nona itu dan mati dalam keadaan mengenaskan.
Di saat yang amat kritis inilah mendadak terdengar suara bentakan nyaring bergema di dalam ruangan gedung, "Anak Cu, jangan bertindak bodoh."
Menyusul teriakan itu, tampak sesosok bayangan manusia menerjang keluar dari ruang tengah dan langsung melayang terus di hadapan Liong Siau Huan. Pedang Liong Siau Huan yang siap menggorok leher sendiri pelan-pelan diturunkan kembali, dengan air mata bercucuran serunya pedih, "Oooh... Bibi Ngo Koh."
Ternyata orang yang barusan memunculkan diri adalah Tau Ngo Koh. Ia memandang sekejap ke arah Liong Siau Huan, mengangguk, lalu katanya kepada Gi Liong Hujin, "Hujin, sebuas-buasnya harimau tak pernah ia menerkam anaknya sendiri, apalagi hancurnya Istana Telaga Gi Liong Oh bukan tanggung jawab anak Huan seorang."
Sejak kemunculan Tau Ngo Koh, paras muka Gi Liong Hujin telah berubah hebat. Kini dengan wajah dingin ia berkata, "Ngo Moay, apakah kau berniat menghalangi keputusanku ini? Tahukah kau akan peraturan yang berlaku dalam perguruan Gi Liong Bun kita ini?"
"Berbicara menurut peraturan yang berlaku dalam perguruan kita, kesalahan anak Cu belum sampai diancam dengan hukuman mati, lagi pula..."
"Apa lagi yang hendak kau katakan?" tukas Gi Liong Hujin.
"Lagi pula Hujin turut bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini."
"Bagus sekali, kau berani menuduh aku juga?"
"Budak tak berani menuduh Hujin dengan hal yang bukan-bukan, tapi benarkah Hujin mengatakan tak tahu kalau si Sastrawan Bisu Tuli telah memasuki Istana Gi Liong Kiong?"
"Seandainya aku tahu, lantas kenapa?"
"Andaikata Hujin mengetahui akan kedatangannya, maka kau wajib untuk menghalanginya. Mengapa kau tidak segera menampilkan diri? Dengan kemampuan yang dimiliki anak Huan, bagaimana mungkin ia mampu membendung kemampuannya?"
"Sebenarnya aku mempunyai persiapan yang lain, tapi sayang budak itu sudah merusak semua rencana besarku."
Kontan saja Tau Ngo Koh tertawa dingin, "Rencana besar apa sih yang dapat mengelabui diriku?"
"Apa pula yang telah kau ketahui?"
Tau Ngo Koh mendengus, "Hmmm, apalagi rencanamu kalau tidak bermaksud hendak menggunakan kesucian tubuh anak Huan untuk merangkul binatang tersebut ke pihakmu? Hujin, mengapa kau tidak berpikir kembali dengan seksama? Terutama dalam peristiwa Chin Soat Hong tempo hari, bukankah dia pun tewas disebabkan rencana besarmu?"
Begitu perkataan itu diutarakan, Li Peng tak sanggup menahan diri lagi. Tiba-tiba ia meloloskan pedangnya dari sarung dan menerjang maju ke muka.