Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 165

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 165

Si Rase Sakti Li Keng Kiu tertawa dingin. Mendadak ia menarik kembali pergelangan kanannya ke belakang, lalu melontarkan senjata kipasnya dengan jurus "mengebaskan baju mengebut debu" yang mengancam jalan darah *kwan goan hiat* di tubuh Gi Liong Hujin.

Tiba-tiba, Gi Liong Hujin merasakan dadanya bergetar keras seolah tertindih benda seberat ribuan kati, membuat napasnya sesak dan amat menderita. Kejadian ini kontan membuatnya memekik penuh amarah; ia segera menyiapkan toya untuk beradu jiwa dengan lawan. Pada saat itulah, terdengar pekikan bangau dari udara. Seekor burung bangau putih yang amat besar membawa seseorang di punggungnya, melayang turun, dan hinggap di antara kedua orang tersebut.

Dari punggung bangau itu, melompat turun seorang kakek yang kecil dan ceking. Ia menertawakan Si Rase Sakti Li Keng Kiu, "Hei, siluman rase hitam, sudah lama kita tidak bersua." Melihat pendatang itu adalah Kakek Bangau Sakti An Ling, Li Keng Kiu tertawa dingin, "Saudara An, kedatanganmu memang tepat pada saatnya. Sekalipun kalian tiga kakek dari Im Thian datang semua, aku tak akan melepaskan budak tua itu begitu saja."

Gi Liong Hujin terkejut melihat kemunculan An Ling, apalagi setelah mendengar perkataan Li Keng Kiu. Sambil mendengus, ia berseru, "Li Keng Kiu, kau tak usah mengibul. Jika pertarungan ini dilanjutkan, belum diketahui siapa yang lebih unggul di antara kita berdua."

Kakek Bangau Sakti tidak mengubris ocehan tersebut. Ia berkata kepada Li Keng Kiu sambil tertawa, "Orang bilang serigala paling licik dan banyak curiga. Apakah kau pun mulai mencurigai orang seperti serigala? Sudahlah, kau tak perlu gelisah, peristiwa ini tentu akan diselesaikan secara tuntas."

Li Keng Kiu mendengus, "Hmm, aku cukup mengetahui watak dan cara kerja kalian tiga sesepuh dari Im Thian. Ingin kulihat bagaimana cara kalian menyelesaikan persoalan ini." Baru selesai ia berkata, terdengar seseorang berteriak dari kerumunan jago, "Hei, siluman rase, jangan menuduh orang baik dengan hal yang bukan-bukan. Aku, Sin Bun, tak pernah selangkah pun meninggalkanmu!"

"Hmm, siapa tahu hal ini pun merupakan bagian dari siasat bagus yang sedang kalian laksanakan?" balas Li Keng Kiu.

Melihat Li Keng Kiu belum mau mengerti, Kakek Bangau Sakti tidak menggubrisnya lebih jauh. Ia bertanya kepada Kakek Naga Langit Sin Bun, "Toako, setelah bertemu kau, pokoknya kau tak boleh mengangguk saja dalam persoalan ini."

"Apalagi yang kau kehendaki dari diriku?" tanya Kakek Naga Langit sambil tertawa.

Kakek Bangau Sakti menuding ke arah Gi Liong Hujin sambil berkata, "Kita harus membereskan peristiwa yang menyangkut dirinya sampai tuntas."

Dari pembicaraan itu, sadarlah Gi Liong Hujin bahwa ancaman maut telah berada di depan mata. Ia tahu, biarpun ilmu silatnya hebat, sulit baginya meloloskan diri dari kepungan jago-jago lihai tersebut. Ia berpikir, "Selama gunung masih hijau, mengapa harus takut kehabisan kayu bakar? Lebih baik aku mengambil langkah seribu."

Baru saja ia bersiap angkat kaki, mendadak terasa desingan angin tajam menderu. Ketika ia berpaling, hatinya terkesiap. Di belakangnya telah berdiri berjejer tiga orang: Siong Hee Lojin, Pek Im Lojin, dan Ku Tiok Lojin, yang dikenal sebagai Leng San Sam Yu.

Melihat kehadiran tokoh-tokoh tangguh itu, Gi Liong Hujin merasa keder. Ia berkata dengan suara dingin, "Sungguh tak disangka, gara-gara urusanku, si nenek ini harus mengusik ketenangan Leng San Sam Yu."

Siong Hee Lojin tersenyum, "Siapa suruh pengacauan yang kau lakukan sudah kelewat batas? Sejak kemunculan Cu Bu Ki di dunia persilatan, kuduga di belakang layar tentu ada dalangnya. Sungguh tak kusangka dalangnya ternyata adalah kau!"

"Siapa yang semula kau duga?" tanya Gi Liong Hujin.

"Pada mulanya aku mengira si serigala tua sedang membuat ulah, tapi setelah bertemu dengan Saudara Li dan anak Peng, aku memahami seluk-beluk persoalan dan menduga kaulah penyebab kesemuanya ini," jawab Siong Hee Lojin sambil menghela napas. "Darah sudah berceceran di dunia persilatan, mayat bergelimpangan di pegunungan yang sepi, mengapa ulahmu makin menggila?"

"Aku berbuat begini karena aku benci kepada seluruh manusia di dunia ini," jawab Gi Liong Hujin.

Siong Hee Lojin tertawa, "Tapi kini justru semua orang di dunia ini membenci mu, apa gunanya?"

"Aku memahami persoalan ini. Karenanya, pesanggrahan Lei Hun Piat Sut kutitipkan sementara waktu kepada mu. Sampai jumpa lagi!" Di tengah pembicaraan, tubuhnya melejit ke udara dengan gerakan "burung walet terbang melintas", sejauh empat puluh lima kaki dari tempat semula.

Li Keng Kiu tentu saja tidak membiarkan lawannya kabur. Ia membentak keras, "Bajingan perempuan tua, mau kabur ke mana kau?" Sambil membentangkan senjata kipasnya, ia bersiap melakukan pengejaran.

Buru-buru Siong Hee Lojin menghalanginya, "Li Lote, kau tak usah terburu nafsu, dia tak bakal lolos." Belum habis perkataan itu, Gi Liong Hujin sudah berada sepuluh kaki lebih dari posisi semula. Leng San Sam Yu maupun Kakek Bangau Sakti masih tetap berdiri tak bergerak. Orang-orang pun bertanya-tanya, apakah para jago ini berdiri netral ataukah memiliki rencana lain.

Sementara mereka berpikir, mendadak dari belakang batu cadas muncul dua sosok bayangan hitam yang menghadang jalan Gi Liong Hujin. "Hujin, harap berhenti dulu!"

Saat berpaling, Gi Liong Hujin mengenali mereka sebagai dua manusia jelek dari Szuchuan. Ia mendengus dingin, "Apakah kalian berdua pun bermaksud menghalangi jalanku?" Toyanya dengan jurus "angin kencang menyapu daun" langsung disambarkan ke pinggang kedua orang itu.

Huan Sim, sang menantu berwajah jelek, menghindar ke samping sambil membentak, "Hujin, aku Huan Lotoa sedang melaksanakan perintah. Bila kau bermain kasar terus, jangan salahkan jika aku bertindak tanpa sungkan lagi."

Gi Liong Hujin tahu ilmu silat keluarga Huan sangat luar biasa. Meski tak perlu khawatir kalah total, melarikan diri adalah prioritasnya saat ini. Ia memutar toya, berpura-pura melancarkan serangan dahsyat ke arah Huan Sim, namun kakinya berputar kencang bagaikan gasing. Menggunakan jurus "lebah emas memainkan putik", ia kabur menuju selatan.

"Hendak kabur ke mana kau?" bentak kedua manusia jelek itu sambil mengejar dengan ketat.

Pada saat itulah, dari balik pohon besar, sesosok bayangan manusia menyelinap keluar. Ternyata ia adalah si kakek cebol yang bisa berjalan di bawah tanah, Kongsun Swan. Ia berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Enso, sejak tadi kunantikan kedatanganmu, masa baru sekarang kau datang?"

Tangan Kongsun Swan tidak menganggur. Sepasang telapak tangannya didorong ke depan, melepas tenaga pukulan dahsyat bagaikan amukan ombak samudera. Menghadapi sergapan itu, Gi Liong Hujin membuang tubuh ke belakang hingga punggungnya hampir menyentuh tanah, lalu berdiri tegak kembali.

Mengetahui siapa lawannya, ia tertawa terbahak-bahak, "Sungguh tak nyana, jago silat yang sudah bertahun-tahun tak muncul kini berdatangan semua gara-gara aku si nenek. Hmmm, kalau begitu, biarpun harus mati, aku akan mati dengan perasaan bangga."

Kakek cebol tertawa tergelak, "Hahaha, gampang sekali kalau kau ingin mati. Kemarikan batok kepalamu itu, asal kuhadiahkan sebuah pukulan gencar, tanggung nyawamu akan melayang."

Gi Liong Hujin mendengus dingin. Ia melejit ke udara dengan kecepatan tinggi, lalu dengan jurus "naga terbang berebut mutiara", ia memutar toya dan membacok batok kepala lawan dengan segenap tenaga. Kakek cebol segera merendahkan tubuhnya sambil melompat sejauh beberapa kaki dengan jurus "comberet emas melepaskan kepompong". Begitu serangan Gi Liong Hujin gagal, ujung toyanya menyambar di atas pohon besar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment