Chapter 167
"Ketahuilah, dia sendiri pun dipaksa orang untuk berbuat demikian. Mengapa kalian tidak pergi mencarinya untuk membuat perhitungan, tapi justru memojokkan posisinya? Hmmm, nampaknya kalian manusia-manusia yang menganggap diri sebagai pendekar sejati tak lebih cuma bernama kosong belaka. Tergolong manusia macam apakah kalian itu?" Perkataan yang diutarakan dengan suara keras dan lantang ini kontan saja membuat para pendekar tua itu saling berpandangan dengan wajah tertegun.
Kakek Serigala menghela napas panjang. "Kemarilah, Anak Ling!" Nona berbaju merah itu tetap berdiri tegak di tempat semula dengan pandangan mengawasi para jago tanpa berkedip. Ia seolah-olah tidak mendengar suara panggilan tersebut.
Setelah menghela napas panjang, Kakek Serigala Langit kembali berkata, "Nak, apakah kau hanya tahu mempunyai ibu tapi tidak tahu mempunyai ayah?" Nona berbaju merah itu ragu-ragu sejenak, kemudian ia berjalan menuju ke hadapan Kakek Serigala Langit dan mendekam di dalam pelukannya sambil menangis tersedu-sedu.
Cucuran air mata membasahi wajah Kakek Serigala Langit. Ia membelai rambut si nona dengan penuh kasih sayang, lalu berkata, "Nak, aku tahu hatimu amat sedih. Karenanya, bila ingin menangis, menangislah dengan sepuas hati." Dalam pada itu, kawanan jago lainnya, termasuk juga Siong Hee Lojin yang menjadi pimpinan rombongan, sama-sama menundukkan kepala sambil termenung. Agaknya mereka sedang menduga siapa gerangan orang yang telah memaksa Gi Liong Hujin untuk berbuat semua ini.
Namun, dari sekian banyak jago yang berada dalam dunia persilatan saat ini, baik dari golongan lurus maupun sesat, mereka tak berhasil membayangkan manusia macam apakah yang berhasil menundukkan Gi Liong Hujin itu.
"Sebenarnya siapakah orang itu?" Mendadak nona kecil itu berhenti menangis. Sambil mengangkat kepala, ia berkata, "Kalian tak dapat menduga, bukan? Dia tak lain adalah Siang Yu Wan." Begitu ucapan tersebut diutarakan, para jago sama-sama menjerit kaget.
"Aah, kau maksudkan Kiu Coat Lo Koay?" Terdengar nona itu berkata lebih jauh, "Gara-gara bertindak kurang hati-hati, Ibu telah salah makan racun Jit Coat Ku Cong. Di mana bila beliau tidak mau menuruti perkataannya, maka asal dia bunyikan gembrengan, niscaya usus Ibu akan putus semua yang mengakibatkan kematian yang mengerikan." Baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan, secara lamat-lamat semua orang mendengar suara gembrengan yang dibunyikan keras-keras.
'Traaaangg...' Ketika semua orang memperhatikan kembali tubuh Gi Liong Hujin, ternyata jenazahnya telah bergetar dengan sendirinya.
Kontan saja semua orang berubah wajah setelah melihat kejadian itu. Terlebih Kakek Serigala Langit, rambutnya berdiri semua seperti landak. Sorot mata yang tajam berkilauan menimbulkan rasa ngeri bagi siapa pun yang melihatnya; dari sini dapat diketahui betapa gusarnya dia.
Cepat-cepat Sik Tiong Giok maju ke depan dan berlutut seraya berkata, "Anak Giok bersedia pergi membunuh manusia jahanam itu. Entah dia berada di mana sekarang?" Nona berbaju merah itu cepat-cepat menerangkan, "Di belakang bukit ini, di atas tebing Ci Im Gay, terdapat sebuah gua batu. Ia sedang menantikan kemunculan Kelabang Langit." Sekali lagi semua orang dibuat tertegun dan kaget setelah mendengar perkataan itu. Dalam waktu singkat, mereka berbisik membicarakan masalah tersebut.
Lama sekali Kakek Serigala Langit termenung. Pelan-pelan ia baru berkata, "Anak Giok, asal kau mempunyai rasa bakti tersebut, itu sudah lebih dari cukup. Aku khawatir kau masih bukan tandingan dari siluman tua tersebut."
"Asalkan memiliki tekad untuk melenyapkan siluman tersebut, biarpun bukan tandingan, dengan dukungan sekian banyak cianpwee di belakangku, apa yang mesti kukawatirkan lagi?" Kakek Serigala Langit segera menghela napas panjang, katanya kemudian dengan penuh kekhawatiran, "Baiklah, bila kau benar-benar tak mampu, gunakan saja ilmu Thian Long Eng tersebut. Entah sampai di manakah kemajuan yang kau capai dalam ilmu pedang?"
"Aku telah berhasil menguasai ilmu Tay Cou Cap Pwee Ta, karenanya aku yakin mampu untuk menghadapinya."
"Baiklah, kalau begitu berangkatlah sekarang juga. Aku dan Anak Ling akan menantikan kedatanganmu di Selat Pia Siu Sia." Tiba-tiba Kakek Naga Langit bertanya, "Losam, mengapa kau tidak pergi ke Tebing Ci Im Gay?"
Kakek Serigala Langit tertawa getir, "Sepasang kakiku sudah cacat, gerak-gerikku tak menjadi leluasa, apa gunanya pergi ke situ? Akan kusiapkan perjamuan di Selat Pia Siu Sia untuk menjamu kalian sekembalinya dari sana." Habis berkata, ia segera menyambar tangan nona berbaju merah itu, kemudian meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa. Ketika hinggap di atas pohon, di tangannya telah bertambah dua tongkat panjang.
Ketika ia muncul kembali ke permukaan tanah, tubuhnya segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa. Menanti Kakek Serigala Langit pergi, para jago baru sibuk mengubur jenazah Gi Liong Hujin.
Tebing Ci Im Gay terletak di puncak Bukit Pay Lau San yang berbentuk hampir tegak lurus lagi pula licin sekali. Biarpun seseorang memiliki ilmu silat yang sangat lihai, belum tentu dapat mendakinya dengan gampang. Tapi di saat itulah tampak sesosok bayangan manusia sedang merambat naik dengan langkah yang tetap dan berhati-hati.
Waktu itu senja telah menjelang, sinar matahari memancarkan cahayanya menerangi atas dinding tebing dan membiaskan aneka warna yang amat menusuk pandangan. Namun, bayangan manusia yang sedang mendaki di atas tebing itu masih saja bergerak naik dengan tiada hentinya. Lambat laun hari pun menjadi gelap. Tampaknya orang itu sudah kehabisan tenaga, maka ia pun bergantung di sebuah dinding tebing sambil melepaskan lelah. Selang beberapa saat kemudian rembulan telah muncul di angkasa, sementara bayangan manusia itu telah meneruskan kembali perjalanannya mendaki ke atas tebing.
Di bawah tebing tadi berkerumun banyak orang. Mereka semua mengawasi ke atas tebing dengan perasaan kebat-kebit karena mereka sedang mengkhawatirkan keselamatan orang yang sedang mendaki tebing itu. Malam telah lewat, fajar pun hampir menyingsing. Angin pagi yang berhembus membuat jari-jari tangan si pendaki itu jadi kaku dan hampir mati rasa, padahal jaraknya dengan puncak tebing itu masih ada belasan kaki lebih.
Mendadak dari atas puncak tebing itu terdengar suara seseorang yang amat dikenal berteriak keras, "Aduhai, ternyata ada orang sedang mendaki ke atas tebing ini."
"Aku tidak percaya," sahut suara lain dingin. "Tak mungkin ada orang bisa mendaki tebing yang ribuan kaki tingginya ini."
Namun suara yang dikenal itu kembali berseru dengan merdu, "Kalau tidak percaya, ya sudah, siapa sih yang menyuruh kau menaruh kepercayaan atas perkataanku?"
"Budak sialan, bila kau berani cerewet lagi, hati-hati kalau kubunyikan gembreng emas ini biar ususmu pada putus dan mati konyol..." ancam suara ketus tadi penuh kegusaran.
"Aku tidak takut mati. Kalau ingin dipukul, silakan saja dipukul. Tapi kau mesti berhati-hati, bila aku sampai mati, Engkoh Giok pasti akan membalaskan dendam bagi kematianku ini."
Orang yang sedang mendaki tebing itu menjadi amat girang setelah mendengar ucapan tersebut. Buru-buru teriaknya, "Apakah Adik Li Ji yang berada di atas? Aku adalah Sik Tiong Giok!"
Dari balik mulut gua di atas tebing segera muncul selembar wajah yang cantik. Ternyata orang itu tak lain adalah Huan Li Ji. Setelah menoleh sekejap ke bawah, ia menjadi kegirangan setengah mati. Teriaknya dengan gembira, "Oh, betul-betul Engkoh Giok! Cepat naik!"
Sambil tertawa getir, Sik Tiong Giok berseru, "Aku sudah tak mempunyai kekuatan lagi. Cepatlah berusaha carikan akal untuk membantuku."
Huan Li Ji yang berada di atas kembali berteriak, "Engkoh Giok, sudah lama sekali kunantikan kedatanganmu. Sudah kuduga kau pasti akan datang." Sementara pembicaraan masih berlangsung, tampak seutas rotan telah dilemparkan ke bawah. Sambil mengembuskan napas panjang, Sik Tiong Giok segera menyambar tali rotan itu serta menggenggamnya erat-erat.
Mendadak terdengar seorang berseru dengan penuh amarah, "Budak ingusan, kau betul-betul sudah bosan hidup? Jika kau berani menariknya ke atas, aku akan membuatmu mati secara mengenaskan."
Huan Li Ji segera mendengus, "Hmmm, kalau aku tak takut mati, mau apa kau? Sebelum Engkoh Giok datang saja aku sudah tak takut, apalagi sekarang ia sudah datang, apa lagi yang mesti kutakuti?"
Sementara pembicaraan berlangsung, Sik Tiong Giok sudah ditariknya sehingga naik tujuh-delapan depa. Agaknya orang itu benar-benar naik darah. Mendadak bentaknya dengan suara lantang, "Bila kau berani menariknya, sekarang juga akan kubunyikan suara gembrengan emas itu."
"Hmm, kalau mau membunyikan gembrengan emas itu silakan saja, aku tidak bakal takut," dengus Huan Li Ji. Dengan perasaan mendongkol, gadis itu menarik tali rotan tersebut makin bertenaga sehingga Sik Tiong Giok berhasil ditarik naik setinggi empat-lima depa lagi. Dengan suatu gerakan cepat, si anak muda itu segera melompat ke puncak tebing itu.
'Traaanggg...' Pada saat itulah terdengar suara gembrengan dibunyikan orang dengan suara yang amat nyaring. Huan Li Ji segera menjerit kesakitan, tangannya menjadi kendor dan tali rotan tersebut terlepas dari genggamannya. Sik Tiong Giok menyaksikan Huan Li Ji sedang menggertak gigi kencang-kencang sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Peluh sebesar kacang kedelai bercucuran keluar dengan derasnya. Sambil memegangi perut sendiri ia berjongkok, jelas kalau nona itu sedang kesakitan hebat. Sik Tiong Giok pun mengerti, gadis itu sengaja menggertak gigi sambil menahan sakit karena takut dia terkejut dan terjatuh ke dalam jurang. Hal ini membuat perasaan hatinya menjadi sangat terharu.