Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 17

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 17

Terdengar ringkikan panjang bergema memecahkan keheningan, disusul jeritan kaget seseorang, sebab kuda itu tiba-tiba melompat ke depan dan segera menggilas bocah itu.

Nona berbaju putih itu menjerit melengking, tubuhnya melejit ke udara dan langsung menerjang ke arah pemuda cilik tadi.

Dalam pada itu, pemuda kecil tadi sudah tersambar cambuk panjang pemuda itu dan terlempar ke belakang kereta. Pemuda cilik itu segera tergeletak di tanah dan tak berkutik lagi.

Melihat hal ini, pemuda tersebut buru-buru berseru, "Sumoay, kita harus menempuh perjalanan secepatnya, mengapa sih harus mengurusi dia?" "Suheng, kau memang kebangetan, mengapa kau harus menggunakan cara yang begini keji untuk menghadapi seseorang yang sama sekali tak pandai berilmu silat?" Sembari berkata, dia lantas membungkukkan badan untuk membangunkan pemuda tadi.

Pada saat itulah, dari kejauhan sana tiba-tiba bergema lolongan serigala yang amat mengerikan.

Begitu mendengar lolongan serigala tadi, tanpa diteliti lagi nona berbaju putih itu segera membopong pemuda cilik tadi sambil melompat naik ke atas kereta.

Kemudian, dengan satu tangan memapah tubuh pemuda cilik tadi, tangan yang lain memegang tali kekang kuda, dia larikan lagi kudanya ke depan kencang-kencang.

Dari arah belakang, nampak debu beterbangan ke angkasa, beberapa ekor kuda mengejar datang dengan cepat.

Melihat ada orang yang mengejar kereta mereka, nona berbaju putih itu segera melarikan kudanya semakin cepat lagi.

Sesudah mengalami goncangan yang keras, pelan-pelan pemuda cilik tadi membuka matanya kembali sambil melirik sekejap ke arah nona tersebut. Sekelumit senyuman misterius tiba-tiba saja tersungging di ujung bibirnya.

Hanya saja, nona berbaju putih itu sedang memusatkan semua perhatiannya untuk melarikan diri, dia sama sekali tidak melihat gejala aneh tersebut.

Dalam pada itu, lolongan serigala bergema silih berganti, bahkan derap kaki kuda yang bergema dari arah belakang pun kian lama kian bertambah dekat.

Sekali lagi terdengar pemuda yang berada dalam ruang kereta itu mengomel panjang lebar, "Sumoy, kesemuanya ini gara-gara kau gemar mencampuri urusan orang. Coba kalau perjalanan kereta kita tidak terhadang oleh bocah keparat tadi, bisa jadi kita sudah sampai di kota Liu Sui Tian.

Coba kau lihat sekarang, gara-gara belas kasihanmu, kitalah yang menderita. Bayangkan saja andai kata kita sampai terkepung kembali." "Suheng," nona berbaju putih itu segera berseru, "sudah banyak tahun kau menjadi murid ayahku, masa kau masih belum mengetahui tabiat dari orang tua itu?"

"Justru karena tabiatnya itulah, akhirnya dia sendiri yang menderita. Orang-orang menyebutnya sebagai Hoa Tho Bertangan Racun, tapi akhirnya dia sendiri yang kena racunnya dulu! Sekalipun orang tua itu sudah dicelakai orang, ia sampai sekarang masih hidup. Bila di kemudian hari dia tahu kejadian ini, bisa jadi kau akan dibencinya sepanjang hidup!" Semua pembicaraan tersebut dapat didengar oleh pemuda cilik itu dengan jelas. Pikirnya kemudian, "Bagus sekali kau begitu, ternyata tanpa disengaja aku telah menemukan sasaran yang benar. Kalau begitu, di samping menghemat beberapa hari perjalanan, aku pun tak usah mencari kuda lagi." Belum habis ingatan tersebut melintas, mendadak dari arah belakang sudah kedengaran seseorang berseru sambil tertawa seram.

"Haaahh... haahh... dengarkan baik-baik, wahai putrinya Si Tabib Racun dan muridnya, kalian tak usah meneruskan perjalanan lagi! Bagaimana kalau kita berunding dulu dengan sebaik-baiknya?" Suara tertawa seram itu baru lewat, seekor kuda telah berhasil melewati kereta itu.

Pemuda cilik itu segera menengok ke samping. Ternyata penunggang kuda itu adalah seorang kakek kurus kering yang berwajah hitam dan memelihara beberapa lembar jenggot model tikus. Tampangnya memuakkan, terutama sekali sepasang mata anehnya yang memancarkan sinar menggidikkan.

Jika ditinjau dari hal tersebut, bisa diduga kalau tenaga dalam yang dimiliki orang itu sudah mencapai tingkat yang sempurna.

Begitu berhasil melampaui kereta, kakek itu berusaha menghadang kereta tersebut.

Dengan mata melotot gusar, nona berbaju putih itu membentak nyaring, "Serbuu!"

Keempat lelaki kekar yang menunggang kuda di depan kereta sementara itu sudah mempersiapkan senjata masing-masing. Mendengar teriakan itu, serentak mereka berteriak dan menyerbu ke arah kakek tersebut.

Sekali lagi kakek itu tertawa seram.

"Anak-anak, apa kalian anggap dengan mengandalkan sedikit kemampuan yang kalian miliki itu, maka semua kepungan kami bisa diterjang dengan begitu saja?" Belum habis perkataan itu, "Sreeet!" sebatang panah bersuara telah meluncur dari balik batu cadas.

Menyusul kemudian berkumandang pula beberapa pekikan aneh yang memekakkan telinga.

Terkesiap kakek penunggang kuda itu setelah melihat kejadian yang ada, sedang nona berbaju putih itu pun turut terperanjat sehingga paras mukanya berubah. Pekikan aneh sekali lagi bergema memecahkan keheningan....

Kini air muka nona berbaju putih itu sudah berubah menjadi pucat pasi seperti mayat, kakek tadi pun ikut nampak gugup bercampur tegang.

Hanya pemuda cilik itu yang mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Segera pikirnya, "Bagus sekali! Lagi-lagi aku berhasil menjumpai peristiwa seperti ini, kelihatannya bakal ada keramaian yang bisa kuhadiri." Belum habis ingatan tersebut melintas, dari arah depan telah meluncur sesosok bayangan putih yang menerjang tiba bagaikan seekor rajawali raksasa.

Bersamaan itu pula terdengar lolongan serigala yang amat mengerikan bergema keluar dari mulutnya. Suara itu mendatangkan suasana yang mengerikan hati, membuat bulu kuduk orang pada berdiri tanpa terasa.

Bersamaan itu, seorang manusia aneh berkepala serigala telah muncul di depan mata. Bila ditinjau dari dandanannya, jelas dia adalah seorang wanita.

Baju putihnya berkibar-kibar ketika terhembus angin. Tangannya memakai sarung tangan, sedangkan kepalanya ditutupi topeng kulit serigala hingga dandanannya persis seperti siluman rase.

Dengan cepat dia menghadang jalan kereta itu. Kemudian setelah tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya, "Nona Pui, aku lihat lebih baik kalian turut kami saja. Dengan begitu aku pun bisa ikut menjaga dirimu sepanjang jalan. Apalagi ayahmu masih terhitung tamu agung pemimpin kami. Tak usah khawatir, pokoknya aku tak bakal sampai menyia-nyiakan kalian."

"Hmmm! Enak amat kalau berbicara," dengus nona berbaju putih itu. "Siapa yang tidak tahu maksud dan tujuan apa yang terkandung dalam benak kalian?"

Perempuan berkepala serigala itu sekali tertawa terkekeh-kekeh, "Nona, kau jangan salah sangka, kami bermaksud dan bertujuan baik dalam mengundang kalian ayah dan anak berdua..."

"Bermaksud baik?" nona itu segera mencibir, "Huuh, mengapa kalian menotok jalan darah Sin Teng Hiat ayahku sehingga dia tak sadar?"

"Apa kau bilang?" seru perempuan aneh itu cepat-cepat, "Siapa yang telah menotok jalan darah Sin Teng Hiat dari bapakmu?"

Belum selesai ia berkata, tiba-tiba dari belakang tubuhnya telah muncul segulung benda berbentuk jaring yang memancarkan cahaya berkilauan. Benda itu dengan cepat meluncur ke bawah dan segera mengurung perempuan aneh tadi.

Menyaksikan benda itu, gadis berbaju putih itu segera menjerit kaget, "Aaaah! Jaring Sakti Kiu Leng Sin Wang....!"

Baru saja dia berteriak, dari belakang sebuah batu gunung telah melompat keluar pula seorang kakek berjubah kuning yang meronta-ronta tiada hentinya.

Dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau kakek itu pun sudah terkena jaring Kiu Leng Wang, bahkan sikapnya kelihatan sangat tegang.

Sementara itu dari kejauhan sana telah berkumandang lagi derap kaki kuda.

Dengan perasaan terkejut, gadis berbaju putih itu berpaling memandang ke belakang. Ternyata ada lima ekor kuda sedang menyusul mendekat dengan cepat. Seketika itu juga wajahnya diliputi perasaan sedih dan gusar.

Hanya sastrawan muda itu yang merasakan semacam perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, sebab tubuhnya yang demikian gede ternyata dipeluk dalam rangkulan seorang gadis muda. Bau harum semerbak yang menerpa hidung membuat hatinya kacau, mukanya menjadi panas, dan jantungnya berdebar sangat keras.

Sebetulnya dia ingin meronta dari pelukannya, tapi tempat duduk kusir kelewat sempit. Di samping merasa canggung, dia pun agak berat hati untuk bangun dari rangkulan orang.

Padahal dalam suasana yang begitu tegang, pada hakikatnya gadis berbaju putih itu sudah melupakan kehadirannya.

Maka pemuda itu membungkam diri sambil menikmati rezeki tiban tersebut.

Dalam waktu singkat, kelima ekor kuda yang muncul dari belakang telah tiba di sana, berikut dua orang yang datang duluan. Jumlah mereka jadi tujuh orang.

Selain itu, di belakang mereka mengikuti pula belasan orang lelaki muda yang semuanya gagah, kekar, dan berwajah buas. Jelas merupakan tampang-tampang jagoan.

Begitu sampai di tempat kejadian, serentak orang-orang itu melompat turun dari kudanya dan berdiri tenang di sisi arena. Dengan sorot tajam mereka sedang mengawasi kakek berjubah kuning itu menarik jaring Kiu Leng Wang-nya.

Mendadak bergema serentetan bunyi yang sangat aneh...

Sedemikian anehnya suara tersebut bergema sehingga tanpa terasa semua orang bersama-sama mengalihkan sorot matanya ke arah mana suara itu berasal.

Kalau tidak dilihat masih mendingan. Begitu dipandang, serentak semua orang menjerit kaget.

"Aaah.....!" Menyusul kemudian terdengar lagi gelak tawa yang tajam dan tinggi melengking.

Ternyata perempuan aneh yang berada dalam jaring telah melepaskan topeng kulit dari wajahnya sehingga terlihat wajah aslinya sebagai seorang wanita cantik berusia setengah baya. Ketika dia menggerakkan sepasang ujung bajunya, tahu-tahu saja tubuhnya sudah melompat keluar dari jaring Kiu Leng Sin Wang tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment