Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 170

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 170

Mendadak lengan kanannya mengayun ke muka; gulungan air yang terhisap itu membawa kekuatan yang mahadahsyat dan langsung menghimpit tubuh Sik Tiong Giok.

Ujung gumpalan air yang menyembur ke tengah udara itu memercikkan beribu-ribu butiran air yang saling bertumbukan. Di tengah benturan nyaring, air itu menyambar dari atas ke bawah bagaikan seekor naga aneh.

Dalam keterperanjatannya, Sik Tiong Giok tahu bila serangan tersebut disambut dengan kekerasan, pancaran yang menyembur ke empat penjuru itu pasti akan menimbulkan kekuatan mahadahsyat yang tak mungkin dihadapinya begitu saja.

Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba ia memiringkan tubuhnya ke belakang. Ujung kakinya menginjak permukaan tanah kuat-kuat, lalu dengan gerakan sangat cepat, dia mundur ke belakang.

Agaknya si Makhluk Tua Sembilan Cacat telah menduga tindakan yang bakal dilakukan Sik Tiong Giok. Telapak tangan kirinya segera digerakkan ke atas, dan dengan kedua tangan yang menghimpun jadi satu, ia melepaskan sebuah tolakan dahsyat ke depan.

"Blaammm!" Di tengah benturan dahsyat yang menimbulkan suara ledakan memekakkan telinga, semburan air telaga itu berubah menjadi beribu-ribu butiran air yang mengurung dan menyergap batok kepala Sik Tiong Giok.

Butiran air itu berkilauan memancarkan sinar tajam, diiringi suara desingan yang memekakkan telinga, membuat suasana di sekitar tempat itu menjadi sangat mengerikan.

Keadaan Sik Tiong Giok waktu itu sudah kalang kabut. Terpaksa ia harus memutar sepasang telapak tangannya untuk membuyarkan semburan butiran air yang menyergap dirinya.

Tertahan oleh gulungan tenaga yang dahsyat, butiran air terhimpit oleh dua kekuatan hingga mencelat ke samping dan menghantam batu cadas, mengakibatkan timbulnya selapis kabut tipis.

Menanti kabut air buyar, tampaklah permukaan batu cadas itu telah berubah menjadi bopeng dan penuh dengan lekukan lubang yang dalam.

Sesungguhnya luas puncak bukit itu tidak terlalu besar. Di bawah percikan air yang menyelimuti angkasa, hampir seluruh wilayah puncak tebing itu tertutup rapat.

Pada saat Sik Tiong Giok sedang sibuk membuyarkan butiran air yang mengelilingi tubuhnya, mendadak Makhluk Tua Sembilan Cacat mendesak maju. Telapak tangannya yang merah membara langsung diayunkan ke depan, melepaskan sebuah pukulan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Namun, kekuatan yang terkandung di balik serangan tersebut benar-benar mengerikan.

Dengan cekatan, Sik Tiong Giok menghindar ke samping lalu memutar badannya. Dengan cepat ia segera mengembangkan dua belas ilmu cacatnya untuk bertarung sengit melawan makhluk tua tersebut.

Agaknya si Makhluk Tua Sembilan Cacat pun telah mengetahui kelihayan dua belas ilmu cacat tersebut. Apalagi dari balik gua ia mendengar suara gemuruh yang keras, padahal tengah hari merupakan saat munculnya kelabang langit yang sedang dinantikan. Ia jadi gelisah karena tak berhasil merobohkan Sik Tiong Giok setelah bertarung sekian waktu.

Maka, ia segera mengubah ilmu pukulannya; dari gerakan semula yang cepat bagaikan kilat, ia mengembangkan pertarungan yang lamban. Secara beruntun ia mundur sejauh tiga langkah ke belakang, lalu jurus serangannya diubah ke arah bawah dengan membuka pertahanan tubuh bagian atasnya.

Sebab, ia cukup memahami taraf ilmu silat lawannya yang jauh di atas kemampuannya, namun apa sebabnya ia menggunakan jurus serangan demikian untuk menghadapinya? Dengan cepat ia menduga tindakan ini sebagai tipu muslihat musuh untuk menjebaknya. Ia berpikir, "Hmm, aku tak sudi masuk perangkapmu."

Melihat Sik Tiong Giok sama sekali tidak masuk perangkap, kembali si Makhluk Tua Sembilan Cacat mengubah taktik pertarungannya. Serangan yang dilancarkan amat lamban, bukan saja tak berkekuatan, bahkan sulit diraih arah tujuannya.

Namun, Sik Tiong Giok mengambil ketetapan untuk memperkuat pertahanan sendiri tanpa berusaha mencari keuntungan dari pancingan lawannya. Akibat tindakan tersebut, si makhluk tua itu jadi kelabakan dan tak bisa berkutik banyak.

Perlu diketahui, ilmu pukulan yang dipergunakan olehnya sekarang tak lain adalah ilmu *Bu Siang Sin Ciang* yang menjadi andalannya selama ini. Banyak di antara jago persilatan yang tidak mengetahui latar belakang ilmu pukulannya ini menderita luka parah atau bahkan tewas di tangannya.

Sekilas pandang, ilmu pukulannya tampak amat lemah dan sama sekali terbuka pertahanannya. Padahal, begitu serangan musuh menyergap masuk, gerakan yang semula lemah bisa berubah menjadi amat dahsyat, bahkan akan timbul reaksi kuat yang membuat lawannya terkecoh.

Sebaliknya, jika lawan tidak melancarkan serangan, maka ilmu pukulannya akan mendekat terus dan tiba-tiba menyergap, hal ini membuat orang sulit untuk menghadapinya.

Bila lawan berniat melancarkan serangan balasan, maka ia akan melancarkan serangan demi serangan secara berantai tanpa henti. Kecuali lawan memiliki tenaga dalam yang beberapa kali lipat melampauinya, kerugian besar sudah pasti akan diderita.

Tapi setelah bertemu dengan Pangeran Serigala Sik Tiong Giok yang sama sekali tidak memberi kesempatan, tidak mau menyerempet bahaya, bahkan menghadapi setiap perubahan dengan perubahan yang tepat, ilmu pukulannya sama sekali tidak berfungsi.

Walaupun demikian, si Makhluk Tua Sembilan Cacat tidak menghentikan serangannya; ia malah menyerang semakin gencar dan tiada hentinya. Tampak makhluk tua itu menari tiada henti dan sama sekali tak memakai aturan. Ada kalanya ia menyerang sangat lambat, tapi ada kalanya cepat sekali, bahkan kadang-kadang seperti orang kalap.

Sik Tiong Giok sudah mencoba memperhatikan sekian waktu, namun dengan pengetahuan yang dimilikinya, ternyata ia tak berhasil menemukan sesuatu apa pun.

Dengan gerakan melompat dan menari macam orang gila, dalam waktu singkat Makhluk Tua Sembilan Cacat telah melancarkan delapan puluh jurus serangan lebih tanpa diketahui ujung pangkalnya, sementara tubuhnya pelan-pelan bergerak mundur ke belakang.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Sik Tiong Giok. Segera ia berpikir, "Jangan-jangan makhluk tua ini sedang bermain gila guna mengacaukan pikiran serta perhatianku sementara ia sedang mencari kesempatan untuk melarikan diri."

Berpikir sampai di situ, tak tertahankan lagi ia membentak keras, "Hei makhluk tua, apakah kau bermaksud melarikan diri begitu saja? Hmmm, tak akan semudah yang kau bayangkan! Hari ini merupakan ajalmu, bagaimana mungkin kau bisa kabur begitu saja?"

Begitu mendengar perkataan Sik Tiong Giok, si Makhluk Tua Sembilan Cacat menjadi kegirangan setengah mati. Ia berpikir, "Ayo cepat lancarkan seranganmu, bocah keparat! Akan kusuruh kau rasakan kelihayanku!"

Tentu saja perkataan itu tidak diutarakan keluar. Dengan wajah diliputi perasaan kaget dan gugup, sepasang matanya mengawasi sekeliling tempat itu dengan liar.

Sik Tiong Giok yang menyaksikan kejadian ini segera menyangka makhluk tua itu berniat melarikan diri, tentu saja ia tak akan membiarkan musuhnya lari begitu saja. Tiba-tiba ia maju tiga langkah ke depan kemudian melancarkan sebuah pukulan tipuan.

Betapa girangnya si Makhluk Tua Sembilan Cacat ketika menyaksikan musuhnya masuk perangkap. Cepat-cepat ia menarik kembali tangannya dan menarik segulung tenaganya yang mahadahsyat hingga mundur sejauh dua depa.

Begitu melepaskan pukulannya tadi, Sik Tiong Giok segera menariknya kembali. Cepat dirasakan olehnya bahwa di depan mata memang tidak terdapat sedikit pun tenaga rintangan, apalagi ketika melihat si makhluk tua menarik kembali telapak tangannya, ia semakin menyangka kalau musuhnya sudah ketakutan.

Maka sambil mendesak maju, ia lepaskan sebuah pukulan lagi. Di balik serangan ini mengandung tipuan di balik kenyataan, tapi di balik kenyataan pun mengandung tipuan. Bila menjumpai hadangan, ia dapat segera menarik kembali serangannya untuk melindungi diri sendiri.

Tatkala tenaga serangan itu sudah hampir mencapai sisi tubuh si Makhluk Tua Sembilan Cacat, ternyata siluman tua itu kembali menyingkir ke samping. Hal ini memberi kesan kepadanya bahwa lawan sudah kehabisan tenaga.

Maka dengan keberanian yang memuncak, ia berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Hei siluman tua, rupanya kau sudah kehabisan tenaga! Serahkan sekarang selembar jiwamu..."

Di tengah bentakan keras, hawa murninya segera dihimpun ke dalam telapak tangan, lalu dengan jurus 'tombak panjang membidik langit', dengan kekuatan bagaikan gelombang samudra yang diamuk topan, ia melakukan tekanan ke depan.

Dalam waktu singkat, seluruh tubuh siluman tua itu sudah terkurung oleh tenaga pukulannya.

Mendadak siluman tua itu tertawa seram. "Haaa... haaa... haaa..."

Di tengah gelak tawa yang sangat keras itulah, segulung tenaga yang mahadahsyat memancar ke empat penjuru dan melahap segenap kekuatan pukulan yang dipancarkan Sik Tiong Giok hingga hilang lenyap tak berbekas.

Begitu berhasil dengan serangannya, Makhluk Tua Sembilan Cacat tidak berdiam diri. Sepasang telapak tangannya segera diayunkan dan secara beruntun ia lancarkan dua buah serangan berantai.

Dalam gugup dan terdesaknya, cepat-cepat Sik Tiong Giok melancarkan dua buah serangan balasan. Akibat dari kejadian tersebut, segenap kekuatan lawan yang mahadahsyat itu terpancing keluar semua di tengah gulungan angin tajam. Tubuhnya tergetar mundur sejauh beberapa kaki dan nyaris tercebur ke dalam telaga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment