Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 171

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 171

Dengan begitu, posisi mereka pun segera berubah. Jika semula Sik Tiong Giok masih menempatkan diri di atas angin, kini ia terdesak mundur oleh tenaga pukulan lawan sehingga posisinya amat berbahaya.

Belum sempat ia berdiri tegak, empat serangan berantai dari Makhluk Tua Sembilan Cacat telah tiba. Pada hakikatnya, tiada kesempatan lagi bagi Sik Tiong Giok untuk melancarkan serangan balasan; terpaksa ia harus menahan ancaman musuh dengan sekuat tenaga dan mundur selangkah demi selangkah.

Di satu pihak ia terdesak mundur, sementara di pihak lain Makhluk Tua Sembilan Cacat mendesak maju. Dalam area yang tak begitu luas di puncak bukit itu, tak lama kemudian Sik Tiong Giok telah terdesak hingga ke tepi jurang. Tampaknya, bila ia mundur selangkah lagi, niscaya tubuhnya akan terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam itu dan tewas dengan badan hancur lebur.

Untuk menyelamatkan diri dari ancaman maut, Sik Tiong Giok segera menjejakkan sepasang kakinya ke tanah. Dengan menggerakkan kakinya serta menggunakan ilmu meringankan tubuh, ia melambung ke tengah udara dengan posisi tegak lurus seperti pena. Baru saja badannya melayang, angin serangan dari Makhluk Tua Sembilan Cacat menyambar. Tenaga pukulan yang maha dahsyat itu menghantam sebuah batu cadas hingga terguling ke dalam jurang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

Gagal dengan serangan pertama, Makhluk Tua Sembilan Cacat kembali mengayunkan tangan, melepaskan dua pukulan sekaligus, lalu mengejek sambil tertawa seram, "Biarpun kau bersayap, jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat!" Walaupun untuk sementara waktu Sik Tiong Giok dapat bertahan di udara dengan mengandalkan ilmu sakti dari perguruannya, ia tak mampu mempertahankan diri lebih jauh setelah terdesak oleh angin pukulan makhluk tua itu.

Namun, ia sadar bahwa jika ia melayang turun ke tanah secara langsung, niscaya ia akan terluka oleh tenaga pukulan lawan. Dalam keadaan terpaksa, ia segera menghimpun tenaga dalamnya, lalu ujung kaki kirinya menjejak kaki kanan. Dengan meminjam tenaga pantulan tersebut, tubuhnya meluncur kembali ke udara. Mendadak ia berjumpalitan beberapa kali dengan kepala di bawah dan kaki di atas, lalu meluncur ke depan dengan jurus "Burung Manyar Terbang Merendah" dan menyusup ke dalam gua.

Ia mencoba mencari jejak Huan Li Ji namun tak berhasil, hal ini membuat hatinya gelisah. Dengan beberapa kali lompatan, ia menyusup ke dalam gua dan mendadak terendus bau amis yang menusuk hidung. Dengan sorot mata yang tajam, ia memeriksa keadaan sekeliling dan menjumpai seorang manusia aneh sedang duduk bersila di tepi batu cadas. Seluruh badan orang itu berlumuran darah, tetapi wajahnya memancarkan sinar merah yang cemerlang; ternyata orang itu adalah Huan Li Ji.

Di samping tubuhnya tergeletak bangkai kelabang yang sangat besar dengan kepala serta perut yang pecah. Sementara ia mengawasi dengan saksama, mendadak dari sisi bangkai kelabang itu tampak kilatan cahaya aneh yang gemilang. Satu ingatan melintas di benaknya, "Jangan-jangan benda itu adalah mutiara kelabang yang menjadi idaman setiap umat persilatan?" Berpikir demikian, ia segera menghampiri dan mengamatinya. Benda itu memang sebutir mutiara yang bersinar tajam, tetapi bukan mutiara kelabang, melainkan mutiara penolak racun miliknya sendiri.

Ia segera mengambil benda tersebut dan memasukkannya ke dalam saku. Saat hendak melanjutkan pencariannya atas mutiara kelabang, tiba-tiba terdengar Makhluk Tua Sembilan Cacat mengumpat dari luar gua.

"Hei bocah keparat bermarga Sik, kalau punya keberanian ayo cepat keluar! Kalau tidak, aku akan menyerbu ke dalam." Rupanya, makhluk itu telah berhasil menyusul, namun ia berdiri di muka gua dengan ragu. Bagaimana pun, musuh berada di tempat yang gelap sementara ia di posisi terang; jika ia menyerbu dengan gegabah, niscaya akan dipecundangi. Akan tetapi, ia tak rela melepaskan mutiara kelabang berusia seribu tahun itu begitu saja. Karena gemas, ia menggertak lagi dan bersiap menyerbu ke dalam gua dengan menerjang bahaya.

Baru saja ia hendak melangkah, tiba-tiba terasa desingan angin tajam menyambar keluar dari gua. Ia segera mundur selangkah untuk menghindar; ternyata ada dua butir batu menyambar ke arahnya. Ia mendengus gusar, sepasang tangannya menyambar seperti kaitan. "Plak! Plak!" Dua butir batu itu berhasil ditangkapnya, lalu diremas hingga hancur menjadi kepingan kerikil.

Menyusul kemudian, sebuah batu besar yang disertai desingan angin tajam kembali menyerang. Dari suara desingannya, dapat diketahui beratnya batuan tersebut. Makhluk Tua Sembilan Cacat tak berani gegabah, ia mundur ke belakang sambil menyambar batu besar itu dan mendorongnya kembali ke arah gua. Namun, ia salah perhitungan; mungkin karena tenaga yang terlalu besar, lemparan batunya meleset dan menghantam dinding gua sebelah kiri.

"Blaaamm!" Akibat benturan keras itu, seluruh dinding gua bergetar hebat. Batuan di langit-langit gua berhamburan jatuh hingga membuat mulut gua tersumbat. Dengan peristiwa yang tak terduga ini, baik yang di luar maupun di dalam gua sama-sama terkejut.

Makhluk Tua Sembilan Cacat ingin segera masuk agar mutiara kelabang yang diincarnya tidak jatuh ke tangan orang lain. Sementara itu, Sik Tiong Giok yang terkurung ingin segera meloloskan diri karena khawatir terkubur hidup-hidup. Dalam gemasnya, si Makhluk Tua Sembilan Cacat mengerahkan segenap kekuatannya dan melepaskan pukulan ke arah tumpukan batu penyumbat gua. "Blam! Blam! Blam!" Secara beruntun ia melancarkan belasan pukulan dahsyat. Walaupun batuan itu bergetar, nyatanya tak satu pun bergeser.

Sementara siluman tua itu menggempur dari luar, Sik Tiong Giok yang berada di dalam gua pun menggempur batuan itu dengan tenaga yang tak kalah hebat. Akibatnya, tenaga mereka berdua saling mendesak batuan itu dari depan maupun belakang; mustahil batuan cadas itu dapat bergeser. Setelah berusaha sekian lama tanpa hasil, kemampuan kedua orang itu perlahan habis hingga suasana menjadi hening.

Begitulah selama tiga hari lamanya kedua orang itu sama-sama bertahan. Akhirnya, kesabaran Makhluk Tua Sembilan Cacat habis. Dengan ilmu menyampaikan suara, ia berseru, "Hei bocah keparat bermarga Sik, apakah kau sudah mati kelaparan? Kenapa tidak keluar dari situ?" Belum habis perkataannya, dari dalam gua sudah berkumandang jawaban yang amat nyaring. Gelombang suara yang menembus dinding gua itu begitu keras sehingga diketahui bahwa tenaga dalam orang itu jauh lebih sempurna daripada tenaga dalamnya sendiri.

"Hei siluman tua, terima kasih banyak atas perhatianmu. Aku cukup makan dan nyenyak tidur, bagaimana dengan kau sendiri?" Makhluk Tua Sembilan Cacat tertawa tergelak, "Hei bocah keparat, kau tak usah membohongi aku. Kau bisa makan apa di dalam gua? Aku sendiri baru saja makan dan tidur nyenyak!"

"Kau tak usah khawatir," seru Sik Tiong Giok dari dalam gua sambil tertawa, "masakan yang ada di sini banyak sekali."

"Aku tidak percaya!"

"Jadi kau ingin tahu?"

"Tentu saja, cepat katakan!"

Sambil tertawa, Sik Tiong Giok berseru, "Tapi janji dulu, setelah mengetahui nanti, jangan kalap karena terlalu sewot."

"Huuh, aku tak perlu sewot kepadamu, hayo cepat katakan!"

"Entah cucu dari mana yang begitu tahu diri, sehingga dia telah menyimpan daging asap, kentang, dan hidangan lezat dalam jumlah banyak. Semuanya benar-benar lezat dan nikmat rasanya."

Perkataan itu menyadarkan siluman tua tersebut atas apa yang terjadi. Ternyata, untuk menunggu munculnya Kelabang Langit dari sarangnya, ia telah menimbun ransum dalam jumlah banyak yang cukup untuk setengah tahun. Namun, sebelum ia sempat menikmatinya, orang lain telah mendahuluinya, bahkan memuji orang itu sebagai cucu yang baik dan berbakti.

Bisa dibayangkan betapa gusar dan mendongkolnya siluman tua itu. Namun, ia hanya bisa melotot sambil menahan gejolak emosi. Sik Tiong Giok bertanya beberapa kali tanpa memperoleh jawaban, dan ia pun mengerti bahwa siluman tua itu sudah dibuatnya mendongkol.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment