Chapter 173
"Apakah kau tidak melihat tulang belulang Kelabang Langit telah hilang lenyap tak berbekas?"
"Kalau sudah hilang, ya sudah. Toh, tak menjadi soal."
"Siapa bilang tak menjadi soal? Kau tahu setiap sisik dan cakar dari tubuh Kelabang Langit itu, meski sama sekali tak berguna di tangan kita berdua, akan menjadi bencana besar apabila jatuh ke tangan makhluk tua itu."
"Aku tidak percaya kalau benda yang amis dan berlumuran darah itu mempunyai kegunaan."
"Dia dapat mempergunakan sisa tulang belulang itu untuk dibuat menjadi senjata rahasia yang amat beracun. Andaikata sampai terjadi begitu, bukankah hal ini akan mendatangkan bencana besar bagi dunia persilatan?"
Huan Li Ji baru merasa tertegun sesudah mendengar penjelasan tersebut. Segera serunya, "Seandainya benar-benar demikian, kita tak boleh membiarkannya mendapatkan benda-benda tersebut."
"Tapi sekarang dia telah berhasil melarikan tulang belulang itu..."
"Ayo berangkat sekarang juga, kita lakukan pengejaran!"
Sik Tiong Giok menghela napas panjang. "Aai, orangnya saja sudah pergi jauh hingga tak tampak lagi bayangan tubuhnya, ke mana kita harus mengejarnya?"
Setelah saling berpandangan sekejap, kedua orang itu mengundurkan diri dari balik gua dengan cepat. Lalu, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh masing-masing, mereka menuruni tebing tersebut.
Baru sampai di tengah jalan, tiba-tiba dari bawah tebing terlihat bayangan manusia saling menyambar, suara bentakan, dan jeritan kesakitan bergema tiada hentinya.
Mendadak Huan Li Ji berseru, "Engkoh Giok, cepat lihat! Makhluk tua itu belum sempat melarikan diri dari sini."
Sik Tiong Giok segera mengalihkan sorot matanya ke depan. Betul juga, Makhluk Tua Sembilan Cacad tampak sudah dikepung para pendekar secara ketat. Pertempuran sengit agaknya segera akan berkobar dengan amat ramainya.
"Coba lihat, siluman tua itu sudah terkepung," seru Sik Tiong Giok kemudian, "tapi heran, kenapa orang-orang itu hanya mengepungnya tanpa melakukan penyerangan?"
"Bukankah dia membawa tulang belulang dari Kelabang Langit? Bau busuk yang menusuk hidung membuat siapakah yang berani mendekat?"
"Benar kalau begitu, ayo kita cepat ke sana! Jangan biarkan siluman tua itu berhasil kabur lagi."
Sambil berkata, mereka berdua segera menghimpun segenap tenaga dalam untuk meluncur ke bawah tebing dengan kecepatan luar biasa.
Dalam pada itu, Makhluk Tua Sembilan Cacad sudah dibuat naik darah karena terkepung sekian waktu. Apa mau dikata, para pengepungnya adalah kawanan jago persilatan yang rata-rata berilmu tinggi. Dengan mengandalkan kemampuannya, tak mungkin ia dapat menembus kepungan tersebut secara mudah.
Untung saja dia mengandalkan bau busuk yang tersiar keluar dari tulang belulang Kelabang Langit sehingga kawanan pendekar tersebut tak berani mendekatinya kelewat dekat. Dengan begitu, ia dapat menghadapinya secara susah payah.
Mendadak ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia meluncur turun dari atas tebing. Setelah mengetahui siapakah kedua orang tersebut, ia menjadi makin terperanjat.
Dalam keadaan begini, cepat-cepat dia mengeluarkan sepasang sumpit dari Kelabang Langit itu untuk dipakai melakukan serangan. Dengan susah payah, ia berhasil membuka sebuah jalan berdarah untuk meloloskan diri dari situ.
Sementara kawanan jago itu masih tertegun, tampak dua sosok bayangan manusia meluncur datang dengan cepatnya.
Cepat-cepat Sik Tiong Giok berseru keras, "Sisa tulang belulang dari Kelabang Langit telah dilarikan siluman tua itu, ayo kita kejar dengan cepat!"
Para pendekar itu menjadi amat gelisah setelah mendengar bahwa sisa tulang belulang Kelabang Langit telah dilarikan siluman tua tersebut. Sebab mereka tahu, apabila sisa tulang belulang itu sampai jatuh ke tangan siluman tersebut dan membiarkan dia mengolahnya selama seratus hari, sudah pasti badai pembunuhan yang bakal melanda dunia persilatan tak akan teratasi oleh siapa saja.
Karena itu, diiringi suara bentakan nyaring, kawanan jago itu serentak melakukan pengejaran. Dalam waktu singkat, tampak bayangan manusia berkelebat lewat. Pengejaran secara besar-besaran segera berlangsung.
Berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki siluman tua tersebut, terpautnya dengan para jago tidak seberapa. Karena itu, begitu terjadi pengejaran, selisih jarak di antara mereka pun tidak berbeda jauh.
Matahari telah tenggelam di langit barat. Keadaan siluman tua itu bagaikan seekor ikan yang terlepas dari jaring; pelarian yang dilakukan sekian lama membuat napasnya tersengal-sengal dan seluruh badannya basah oleh air peluh.
Tapi kawanan jago yang melakukan pengejaran dari belakang, meski rata-rata sudah lelah, nyatanya tak seorang pun di antara mereka yang mengendorkan larinya. Mereka semua tetap melakukan pengejaran secara ketat.
Pada saat inilah, tiba-tiba dari balik bukit di depan muncul seseorang yang berdandan sebagai sastrawan namun keadaannya amat mengenaskan; pakaiannya tinggal separuh bagian dan mukanya penuh dengan noda luka.
Begitu bersua dengan orang itu, Makhluk Tua Sembilan Cacad segera merasakan semangatnya berkobar kembali. Dia seakan-akan telah bertemu dengan bintang penolong. Sepasang tangannya segera digoyangkan berulang kali, sebentar ia menuding sisa tulang belulang Kelabang Langit, lalu menuding pula ke arah para pengejarnya di belakang.
Orang itu segera memandang sekejap ke depan dengan wajah termangu, akhirnya dia manggut-manggut dan maju ke depan menghalangi jalan pergi para pengejar tersebut.
Tiba-tiba terdengar si Kakek Naga Langit menjerit kaget, "Hey, kenapa gembong iblis ini belum mati kena ledakan..."
Sik Tiong Giok mencoba memperhatikan ke depan. Dalam sekilas pandangan saja, dia telah mengenali orang itu sebagai Sastrawan Bisu Tuli. Kontan saja hatinya terkesiap.
Cepat-cepat ia berbisik kepada Huan Li Ji yang berada di sisi tubuhnya, "Gembong iblis tersebut merupakan musuh tangguh. Menyingkirlah dahulu, biar aku yang bertarung dulu melawannya."
Sembari berkata, dia telah meloloskan pedangnya dan bersiap sedia maju ke depan untuk bertarung melawan Sastrawan Bisu Tuli. Tapi si Sastrawan Bisu Tuli hanya membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar tanpa memperhatikan ke arahnya. Ternyata pandangan matanya sedang tertuju ke arah Li Peng yang berada di sampingnya si Rase Sakti Li Keng Kiu.
Si Rase Sakti Li Keng Kiu menjadi teramat gusar. Dengan suara keras segera bentaknya, "Hey binatang, apa yang hendak kau perbuat?"
Li Peng telah meloloskan pula pedangnya sambil mengawasi pihak lawan dengan pandangan penuh amarah. Tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi ujung bibir Sastrawan Bisu Tuli yang penuh dengan luka itu. Ia bukan tertawa, melainkan mengejek sambil membuat muka seram.
Sik Tiong Giok semakin sukar melihat tingkah lakunya itu. Sambil menggetarkan pedangnya menciptakan serentetan cahaya tajam, tiba-tiba ia melancarkan sebuah sergapan kilat.
Jangan dilihat Sastrawan Bisu Tuli itu sudah bisu lagi tuli, ternyata daya tangkapnya amat tajam. Baru saja serangan itu menyergap, dengan suatu gerakan cepat ia telah mundur selangkah, kemudian dipandangnya wajah pemuda tersebut dengan penuh amarah.
Diiringi suara pekikan rendah seperti erangan binatang buas, sepasang tangannya meraba ke pinggang dan... 'cring', ia telah meloloskan pula sebuah senjata berbentuk aneh.
Para pendekar menjadi amat terkejut setelah menyaksikan kejadian tersebut. Serunya tanpa terasa, "Aaaaah...!"
Setiap umat persilatan tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki Sastrawan Bisu Tuli sangat lihai, namun sekian lama belum pernah ada yang melihat orang ini menggunakan senjata. Tapi hari ini dia meloloskan sebuah ruyung yang berbentuk sangat aneh. Bukankah hal ini merupakan suatu kejadian aneh?
Sik Tiong Giok sama sekali tak ambil peduli atas hal tersebut. Semenjak melihat tingkah laku Sastrawan Bisu Tuli yang cabul terhadap Gi Liong Kuncu ketika berada di bukit Gi Liong San, ditambah lagi melihat sikap tengiknya terhadap Li Peng hari ini, tiba-tiba timbul saja suatu perasaan yang tak sedap di dalam hatinya yang membuat ia menjadi amat gusar.
Maka sambil membentak keras, pedangnya segera menyambar ke depan seperti seekor naga sakti yang bermain di udara. Diiringi kilauan cahaya tajam, sebuah tusukan kilat telah dilancarkan.
Sastrawan Bisu Tuli segera menggetarkan ruyung lemas berbentuk anehnya, menciptakan selapis bianglala panjang yang sangat menyilaukan mata. Disambutnya ancaman yang tiba dengan kekerasan.
"Criiingg... criingg... criiiing....!"
Beberapa kali bentrokan nyaring bergema memecahkan keheningan. Akibatnya, kedua orang itu sama-sama terdorong mundur sejauh satu langkah lebih.
Rasa kaget dan tercengang segera menyelimuti wajah Sastrawan Bisu Tuli. Sekali lagi ia berpekik rendah, tiba-tiba tubuhnya mendesak ke muka, ruyung lemasnya digetarkan hingga mengeras bagaikan sepasang tombak yang langsung ditusukkan ke dada lawan.
Dengan cekatan Sik Tiong Giok memiringkan tubuhnya sambil berkelit, pedangnya segera diayunkan melepaskan serangan balasan. Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.
Mendadak dari kejauhan sana terdengar seseorang membentak dengan suara merdu, "Hey siluman tua, mau mencoba kabur dari sini? Hmmm, tak akan segampang itu! Tinggalkan dulu nyawamu sebelum beranjak dari tempat ini!"
Ketika semua orang berpaling, tampak Huan Li Ji telah menghadang jalan pergi Makhluk Tua Sembilan Cacad.
Dua manusia jelek dari Szuchuan merasa tak lega hati melihat kejadian tersebut. Dengan cepat mereka melompat ke depan serta berjaga-jaga di kedua belah sisi nona kecil itu.
Menantu bermuka jelek, Huan Sim, segera berseru, "Anak Li, cepat mundur dulu, biar aku yang membereskan siluman tua ini."
Huan Li Ji segera tertawa, "Kau tak usah khawatir. Ayah dan Paman Jie-ok cukup berdiri di samping arena saja sambil melindungiku, jangan biarkan siluman tua ini kabur dari sini."