Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 174

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 174

"Dia tak akan menahan seratus jurus seranganku." Makhluk tua sembilan cacat itu telah sadar bahwa mustahil baginya untuk meloloskan diri. Ia segera mengeluarkan sisa tulang kelabang langit, kemudian berseru sambil tertawa seram, "Heeeh, heeeh, heeeh, budak busuk, kau anggap aku benar-benar takut kepadamu?"

"Mengapa tidak kita selesaikan dengan pertarungan saja?" tantang Huan Liji.

"Baik!" Tiba-tiba makhluk tua sembilan cacat itu membalikkan badan sambil meloloskan sepasang alat penyumpit dari kelabang langit, kemudian menerjang Huan Liji secara ganas.

Gerakan yang dilakukan oleh siluman tua itu amat cepat. Di antara hembusan angin berbau amis dan pancaran darah berbau anyir, ia menyerang lawannya dengan garang. Menghadapi bau busuk tersebut, Huan Liji tetap berdiri tak bergerak di tempat semula, sebaliknya dua manusia jelek dari Szuchuan segera mengundurkan diri sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Huan Liji sama sekali tidak takut menghadapi alat penyumpit dari kelabang langit. Diiringi bentakan nyaring, pedangnya diayunkan ke depan melancarkan tusukan kilat. Pergelangan tangan kanannya kembali digetarkan, dengan jurus 'menyingkap awan melihat matahari', ia lepaskan lagi tusukan kilat ke dada lawan.

Makhluk tua sembilan cacat itu segera berteriak penuh amarah, "Budak setan, cepat serangan pedangmu!" Di tengah teriakan keras, tubuhnya bergerak mundur sambil berputar kencang untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut, menyusul kemudian ia merendahkan badan sambil memutar senjatanya untuk melancarkan serangan balasan.

Huan Liji tertawa dingin. Dengan jurus 'membendung sungai mencegat rembulan', ia menyerang senjata lawan sambil mendesak lebih ke muka.

"Hendak kabur ke mana kau?" bentak Huan Liji dengan suara keras. Ia menerjang pula ke depan secara kalap, sehingga dalam waktu singkat kedua orang itu terlibat dalam pertarungan yang amat seru.

Di pihak lain, pertarungan antara Sik Tiong Giok melawan Sastrawan Bisu Tuli pun sudah berlangsung sengit. Sik Tiong Giok dengan pedangnya berulang kali melancarkan serangkaian serangan dahsyat yang ditujukan ke bagian-bagian mematikan di tubuh lawan. Sebaliknya, ilmu silat yang dimiliki Sastrawan Bisu Tuli pun amat dahsyat; ruyung lemasnya diputar sedemikian rupa untuk membungkus diri dalam pertahanan yang ketat. Beberapa kali ia sempat terdesak, namun setiap kali berhasil diimbangi kembali dengan jurus yang hebat di luar dugaan.

Pertarungan sengit yang berlangsung saat ini boleh dibilang merupakan yang terseru selama puluhan tahun terakhir. Para pendekar yang menonton jalannya pertarungan menjadi lupa diri. Lambat laun mereka bergerak lebih ke depan sehingga akhirnya mengurung kedua petarung di tengah arena. Sastrawan Bisu Tuli yang menyaksikan kejadian ini menjadi amat terkejut. Ia sadar apabila gagal mengungguli Sik Tiong Giok hari ini, maka sulit baginya untuk meloloskan diri.

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba ia menghimpun kembali semangatnya dan memutar ruyung lemas itu menyerupai hujan badai yang menyerang tiada henti. Bersamaan dengan itu, ia menggerakkan telapak tangan kiri yang dikombinasikan dengan deruan angin serangan dari ayunan ruyung untuk menyerang Sik Tiong Giok secara gencar.

Sik Tiong Giok yang menjumpai serangan gencar dari lawannya dengan cepat dapat menduga kalau lawan berusaha meraih kemenangan secepatnya. Satu ingatan melintas dan ia pun mengembangkan permainan jurus pedangnya dengan lebih hebat. Ia mengubah taktik pertempuran menjadi gaya gerilya; tujuannya untuk menguras tenaga lawan sampai habis. Di samping itu, ia pun memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melancarkan serangan balasan.

Bagi orang jago yang ahli, sekilas saja sudah tahu bahwa Sik Tiong Giok memegang posisi yang lebih menguntungkan. Sekarang ia mengikuti lawannya dengan sikap tenang. Jika hal ini berlangsung lama, pada akhirnya Sastrawan Bisu Tuli lah yang akan menderita kekalahan. Sastrawan Bisu Tuli sebagai seorang yang berpengalaman luas tentu menyadari keadaan tersebut. Ia tahu jika keadaan ini dibiarkan berlangsung lebih lama, tenaga dalam yang hilang pasti akan bertambah banyak.

Akan tetapi, keadaannya sekarang ibarat menunggang punggung harimau; apabila ia mengendorkan serangan, niscaya keadaan akan bertambah runyam. Dalam keadaan begini, terpaksa ia harus menyerang dengan sepenuh tenaga dan berusaha mencari kemenangan dengan menyerempet bahaya.

Sekilas pandangan, tubuh Sik Tiong Giok seakan-akan sudah terkurung di bawah bayangan ruyung serta angin pukulannya, padahal pemuda itu masih dapat menghadapi lawannya dengan santai. Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertarung ratusan jurus. Lambat laun, si Sastrawan Bisu Tuli mulai tak sanggup menahan diri lagi.

Mendadak timbul niat jahatnya. Memanfaatkan kesempatan saat memutar badan, diam-diam ia merogoh segenggam pasir baja. Saat melancarkan serangan, ia lepaskan sebuah bacokan maut. Dengan mengerahkan tenaga dalam, ia telah menghisap pasir besi itu sehingga menempel pada telapak tangannya.

Sik Tiong Giok tertegun ketika menyaksikan telapak tangan lawan yang dipakai untuk menyerang berubah jadi hitam pekat. Diam-diam ia berpikir, "Jangan-jangan Sastrawan Bisu Tuli melatih semacam ilmu pukulan beracun..." Berpikir begitu, pedangnya segera diayunkan ke atas. Ia menghindarkan diri dari serangan ruyung musuh, kemudian sambil membalikkan badan, ia tusuk telapak tangan lawan menggunakan ujung pedangnya.

"Aaaah...!" Tiba-tiba Sastrawan Bisu Tuli menjerit aneh. Telapak tangannya segera diayunkan ke depan dan segulung pasir besi memancar ke tubuh lawan dengan hebatnya. Cepat-cepat Sik Tiong Giok memutar pedangnya untuk melindungi seluruh badan. Semua pasir besi yang datang menyerang kontan jatuh berhamburan.

Namun, Sastrawan Bisu Tuli telah menduga bahwa serangan pasir besinya tak akan mampu melukai Sik Tiong Giok, dan ia pun sudah menduga Sik Tiong Giok tentu akan memutar pedang untuk menahan serangan tersebut. Maka, setelah menghamburkan pasir besi, ruyung lemasnya langsung diayunkan ke depan. Sebelum jurus serangan itu berakhir, ia mengubah lagi jurus serangannya dengan menggetarkan ekor ruyung ke atas serta melilit pedang anak muda tersebut.

Sambil mengerahkan seluruh tenaga, ia berteriak aneh, "Aaah...!" Sik Tiong Giok tidak menduga sampai di situ; tahu-tahu ia merasa ada tenaga besar yang membetot tangannya. Padahal, pada saat bersamaan dia harus menghindarkan diri dari sergapan pasir besi. Ini berarti tenaga dalamnya tidak mungkin bisa dihimpun seutuhnya. Tak kuasa lagi, kelima jari tangannya segera mengendur. Sekilas cahaya tajam berkelebat, tahu-tahu pedangnya sudah terlepas dari genggaman.

Tak terlukiskan rasa terkejut Sik Tiong Giok menghadapi kejadian tersebut. Cepat-cepat ia mundur selangkah ke belakang, kemudian telapak tangan kanannya didorong ke depan melancarkan pukulan dahsyat. Sastrawan Bisu Tuli sangat gembira karena keberhasilannya merampas pedang lawan. Sambil berpekik aneh, ia bersiap menghajar tubuh Sik Tiong Giok dengan ruyung serta pedang hasil rampasan.

Namun, ia tak menyangka kalau Sik Tiong Giok dapat melancarkan serangan secepat itu. Tahu-tahu segulung tenaga pukulan yang kuat telah menyergap dan mengancam lima jalan darah penting di depan dadanya. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja ia harus mengutamakan keselamatan jiwa sendiri. Tiba-tiba lengannya digerakkan ke atas. Belum juga pedang itu terlepas kembali, segulung desingan angin tajam menyerang jalan darah kaku di bawah sikutnya.

Dalam keadaan gugup dan terdesak, ia segera membuang senjata ruyungnya serta melompat mundur. Belum lagi kakinya mencapai permukaan tanah, angin pukulan Sik Tiong Giok yang menghajar tubuhnya telah menggulung kedua senjata tersebut serta membuangnya ke tengah angkasa. Pada saat ini, mereka berdua mempunyai pikiran yang sama: tidak ada yang mau membiarkan lawannya merebut kembali senjata andalan tersebut. Akibatnya, untuk beberapa saat mereka saling berpandangan tanpa bergerak barang sedikit pun.

Mendadak Sik Tiong Giok membentak keras, "Beranikah kau beradu pukulan denganku?"

Sastrawan Bisu Tuli mengangguk berulang kali, lalu sambil menjejakkan kaki ke tanah, ia melejit setinggi lima depa dan sepasang telapak tangannya diayunkan kembali untuk melepaskan serangkaian serangan gencar dan dahsyat.

Dalam pada itu, Huan Liji dengan permainan pedangnya telah berhasil mengurung makhluk tua sembilan cacat serta mendesaknya sampai berkaok-kaok keras. Sayang sekali tenaga dalam yang dimiliki gadis cilik ini telah memperoleh kemajuan sepuluh kali lipat daripada kemampuannya dua hari berselang. Sekalipun siluman tua itu berkaok-kaok keras, ia tak pernah berhasil menembus kabut pedang lawan.

Mendadak terdengar suara jeritan kaget yang tinggi melengking, bergema memecahkan keheningan. Para jago yang menonton jalannya pertarungan tertegun dan segera berpaling. Tampak Sik Tiong Giok sedang mengejar sesosok bayangan hitam yang sedang melarikan diri, diiringi suara pekikan penuh amarah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment