Chapter 176
Dengan perasaan tertegun, Sastrawan Bisu Tuli segera berpikir, "Sungguh aneh, baru beberapa hari aku tidak pulang ke rumah, mengapa kediamanku berubah menjadi ruang sembahyang? Pendeta liar dari mana yang telah mangkal di sini?" Sementara dia masih termenung, suara pukulan *bok hi* kembali bergema, memecahkan keheningan di tengah kegelapan. Suara tersebut menyebar di angkasa dan menambah suasana sunyi di sekeliling tempat itu.
Dalam kaget bercampur keheranan, Sastrawan Bisu Tuli segera meneruskan langkahnya mendekati rumah batu itu. Mendadak suara *bok hi* berhenti, kemudian terdengar seseorang menegur, "Apakah anak Pia telah pulang?" Pertanyaan tersebut semakin mencengkam hati Sastrawan Bisu Tuli sehingga untuk sesaat ia berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar.
Dengan cepat, dia mendekati pintu serta menerobos masuk. Ternyata, rumah batu yang semula merupakan tempat tinggalnya kini benar-benar telah berubah menjadi sebuah ruang sembahyang. Di dinding, persis di hadapan pintu depan, bertengger sebuah patung Buddha. Di bawahnya terletak sebuah *hiolo* tembaga yang mengeluarkan asap hijau tipis. Di bawah patung tersebut, duduk bersila seorang *nikou* tua, namun karena ia duduk membelakangi pintu, bentuk wajahnya tidak terlihat jelas.
Tiba-tiba, *nikou* tua itu menegur dingin, "Siapa yang berada dalam boponganmu itu? Mengapa tidak kau turunkan segera?" Walaupun hanya dua patah kata, ucapan tersebut mengandung nada yang amat berwibawa, membuat Sastrawan Bisu Tuli pelan-pelan menurunkan tubuh Li Peng ke lantai.
"Siapakah kau?" tanya Sastrawan Bisu Tuli.
Dengan suara dingin, *nikou* tua itu berkata, "Tak disangka Sastrawan Bisu Tuli pun pandai berbicara. Hal ini menandakan sifat muliamu belum lenyap sama sekali. Apakah kau sudah tidak mengenali diriku lagi?" Sambil berkata, *nikou* tua itu membalikkan badannya menghadap ke arah Sastrawan Bisu Tuli; wajahnya tampak diliputi hawa amarah.
Sastrawan Bisu Tuli baru bisa melihat wajah lawannya dengan jelas. Mendadak ia menjatuhkan diri berlutut dengan ketakutan sambil menyembah berulang kali, "Anak Pia patut dihukum mati. Ternyata aku tak tahu akan kedatangan *Ong koh*!"
"Kenangan indah bagaikan impian," kata *nikou* tua itu dengan suara dingin. "Tian An Sencu di masa lalu telah tewas dalam suasana kacau. Aku yang berada di hadapanmu sekarang adalah Gho Hui Lonie. Wi Ong Pia yang berjaya di masa lampau telah tewas pula di tengah samudra bersama Lio Tay Hu. Aku yang masih hidup sekarang tak lebih dari sekadar Sastrawan Bisu Tuli. Sekarang pun kau sudah tak punya pikiran untuk mengembalikan kekuasaan kerajaan lama, paling tidak kau harus punya ingatan untuk melepaskan budi di dunia ini. Hmmm, perbuatanmu selama bertahun-tahun terakhir ini benar-benar kelewat batas."
"Bangsa Mongol sedang melakukan pencarian secara besar-besaran. Apabila aku tidak berperan demikian, bagaimana mungkin bisa melepaskan diri dari intaian mereka?"
"Banyak cara untuk menyembunyikan diri. Bersikap terbuka pun ada batasnya. Mengapa kau bertindak cabul dan tidak tahu malu?"
"Anak Pia tidak berani bertindak ceroboh. Percayalah, selama ini aku tidak bertindak cabul."
"Hmmm, aku dengar kau gemar bermain perempuan dan di mana pun kau berada, kau melakukan keonaran sehingga perempuan takut menjumpaimu. Benarkah ada kejadian seperti ini?"
"Apa yang dikatakan dalam dunia persilatan memang benar, tapi hingga kini anak Pia masih tetap seorang perjaka."
Tiba-tiba Gho Hui Lonie melotot besar, bentaknya dengan penuh kegusaran, "Siapakah yang barusan kau culik itu? Kalau toh kau masih perjaka, apa gunanya kau culik nona kecil itu?"
Sastrawan Bisu Tuli segera menoleh ke arah Li Peng yang berbaring di lantai, lalu sahutnya sambil tertawa, "Harap *Ong koh* jangan gusar. Anak Pia sama sekali tidak mempunyai pikiran jahat. Aku hanya ingin bergurau dengan si Rase Sakti Li Keng Kiu. Sebab budak ini adalah putrinya yang bernama Li Peng. Aku ingin membuatnya gelisah dan panik sehingga dapat melampiaskan rasa mendongkolku terhadapnya sewaktu berada di Bukit Gi Liong San."
"Apakah Li Keng Kiu telah menyusul kemari?"
"Memang ada yang menyusul, tapi orang itu bukan Li Keng Kiu, melainkan seorang pemuda tampan bernama Pangeran Serigala Langit..."
Tiba-tiba Gho Hui Lonie berkata sambil tersenyum, "Tahukah kau siapakah Pangeran Serigala itu?"
"Aku dengar dia adalah putra Kakek Serigala Langit yang bernama Sik Tiong Giok."
"Ucapanmu memang tepat, tapi sesungguhnya dia masih punya darah keturunan keluarga Tio."
"Apa?" Sastrawan Bisu Tuli tertegun setelah mendengar perkataan tersebut. "Jadi dia pun merupakan keturunan dari keluarga Tio kami?"
"Benar, dia adalah putra Raja Selatan Tio Si yang bernama Tio Hui. Saat Thio Tay Hu tenggelam ke sungai bersama perahunya, ia telah ditolong oleh Kakek Serigala Langit."
Sastrawan Bisu Tuli tertawa gelisah setelah mendengar ucapan tersebut, segera serunya, "Kami sudah bertarung hampir setengah hari, tak menyangka sama sekali kalau kami berdua masih bersaudara."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru sambil tertawa terbahak-bahak, "Hahaha! Sudah tiga puluh tahun lamanya aku mengenali dirimu, tak disangka Sastrawan Bisu Tuli ternyata dapat berbicara serta mendengar."
Sastrawan Bisu Tuli sangat terkejut. Baru saja hendak menerjang keluar, Gho Hui Lonie telah berseru sambil memuji keagungan Sang Buddha, "Omitohud, kalau toh Li Sicu telah datang, mengapa tidak duduk dulu di dalam ruangan?"
Orang yang berbicara di luar pintu itu tidak lain adalah si Rase Sakti Li Keng Kiu. Ia tertawa tergelak setelah mendengar perkataan tersebut, "Lo Suthay, mengapa kau pun muncul di tempat yang terpencil seperti ini?" Sambil berkata, ia melangkah masuk ke dalam rumah batu itu.
Baru saja ia melangkah masuk dan belum selesai berbicara, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat, lalu terdengar seseorang berseru, "Iblis hidung belang, nona akan beradu jiwa denganmu!" Sambil berseru, sebuah serangan dilontarkan dengan hebatnya.
Li Keng Kiu sama sekali tidak menduga hal itu. Menanti ia sadar akan adanya ancaman, keadaan sudah terlambat. *Blaaam!* Serangan tersebut bersarang telak di tubuhnya. Untung saja ia memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna sehingga ancaman itu tidak sampai merenggut jiwanya, namun isi perutnya menderita luka. Dengan sempoyongan, tubuhnya tergetar mundur sejauh tiga empat langkah ke belakang.
Setelah melihat dengan jelas bahwa si penyerang tidak lain adalah Li Peng, putrinya sendiri, ia membentak keras, "Anak Peng, apakah kau sudah gila?"
Setelah melancarkan serangan, Li Peng baru sadar kalau ia salah sasaran dan menghajar ayah kandungnya sendiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dan menerjang ke arah Sastrawan Bisu Tuli. Kali ini Sastrawan Bisu Tuli telah mempersiapkan diri baik-baik. Sambil mengelak ke samping, ia tertawa, "Nona, jangan mengumbar amarahmu lebih dulu. Bila hendak menyampaikan sesuatu, katakan saja perlahan-lahan."
Mendadak Li Peng tertegun dan berdiri melongo, ia tak menduga seseorang yang dikiranya bisu tuli ternyata dapat berbicara. Sementara itu, Li Keng Kiu berjalan masuk ke ruangan setelah mendehem, katanya, "Anak Peng, berat amat pukulan yang kau lancarkan terhadap diriku."
Sambil mengerdipkan matanya yang jeli, Li Peng cepat-cepat berseru, "Aku kan tak sempat melihat dengan jelas wajahmu, Ayah. Kenapa kau tidak membantu untuk meringkus manusia keparat itu?"
Li Keng Kiu segera tertawa, "Kau maksudkan si Sastrawan Bisu Tuli? Padahal dia adalah orang sendiri!"
"Orang sendiri? Kenapa dia begitu jahat?"
Li Keng Kiu kembali tertawa, "Dia hanya ingin bergurau dengan kita sambil melampiaskan rasa mendongkolnya, tidak ada maksud apa-apa." Kemudian, sambil menoleh ke arah Sastrawan Bisu Tuli, ia berkata, "Sekarang, tentunya kau sudah tak keki lagi, bukan? Hmmm, mencari penyakit buat diri sendiri, sekarang malah mangkel denganku, betul-betul tidak adil."
Sastrawan Bisu Tuli tertawa, "Seandainya kau tidak memancingku memasuki Telaga Gi Liong Oh, tak mungkin aku menjadi begini mengenaskan, bahkan hampir saja kehilangan nyawaku."
"Seandainya kau tidak terpikat oleh perempuan, mana mungkin akan mengalami musibah semacam itu?" balas Li Keng Kiu sambil tertawa pula.
Tiba-tiba Gho Hui Sinni menukas sambil menghela napas panjang, "Aai... ulah Pia Ji selama beberapa tahun belakangan ini memang kebangetan. Semoga kau bisa mawas diri di kemudian hari sehingga jangan sampai orang lain mengutuk dan membencimu."
Sastrawan Bisu Tuli segera mendengus, "Ong koh, masa kau tidak dapat melihat, kekuasaan siapakah yang memerintah dunia saat ini?"
"Ya, walaupun bangsa Mongol bukan termasuk suku bangsa kita, namun berjuta-juta rakyat yang hidup di bawah kekuasaannya merupakan anak keturunan dari Kaisar Huang Tee. Kendatipun kita tak mampu mengembalikan dinasti kita ke tampuk pimpinan, namun kita tak boleh mengabaikan kehidupan rakyat kita yang sengsara. Sayang, Leng Kong tak tahu beritanya hingga tidak diketahui firman Sri Baginda almarhum telah jatuh ke mana."
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Li Peng. Dengan cepat ia berseru, "Tio Leng Kong telah tewas di tepi Sungai Bok Lo Kang, sedangkan firman Sri Baginda almarhum diserahkan kepada Pangeran Serigala Langit, Sik Tiong Giok."
"Stg... jadi mereka ayah dan anak bertemu muka..." seru Gho Hui Lonie dengan perasaan terkejut.