Chapter 177
Berbicara sampai di situ, tiba-tiba ia melotot ke arah sastrawan bisu tuli sambil berseru, "Bukankah kau mengatakan bahwa dia telah mengejar dari belakang? Mengapa hingga sekarang belum nampak juga?"
"Bisa jadi mereka telah dihadang oleh kawanan beruang kuda, sebentar lagi toh akan menyusul kemari."
"Tapi bisa juga tak akan kemari," sambung Li Keng Kiu dengan cepat.
"Mengapa begitu?" tanya sastrawan bisu tuli tertegun.
"Siapa tahu kalau dia telah dihadang oleh tetangga kita? Sewaktu kemari tadi, aku sempat mendengar suara pekikan panjang. Oleh sebab persoalan itu tak ada sangkut pautnya dengan diriku, maka aku pun tidak mencampuri lebih jauh. Tapi bila kubayangkan kembali sekarang, bisa jadi mereka sudah terjerumus ke dalam Lembah Seratus Binatang..."
"Apakah yang kau maksudkan Pek Siu Sin Kun Leng Siang?" tanya Gho Hui Lonie.
"Kecuali dia, siapa lagi yang memiliki kemampuan sehebat itu..."
"Kalau memang demikian, lebih baik kita segera menyusul ke sana. Aku khawatir bocah itu bukan tandingannya," seru sastrawan bisu tuli kemudian.
"Ya, kalau memang mau berangkat, kita segera berangkat. Aku memang amat mengkhawatirkan keselamatan putriku yang satu itu." Kedua orang itu segera membalikkan badan dan berlarian keluar dari ruangan.
Mendadak Gho Hui Lonie berseru pula, "Walaupun sudah banyak tahun aku tidak mencampuri urusan keduniawian, tapi demi keturunan keluarga Tio, hari ini aku akan pergi bersama kalian." Tentu saja kedua orang jagoan itu merasa gembira sekali setelah mendengar perkataan itu, bahkan Li Peng pun turut merasa amat kegirangan.
Maka berangkatlah keempat orang itu menuju ke Lembah Seratus Binatang.
Sementara itu, Sik Tiong Giok serta Huan Li Ji memang sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit melawan Pek Siu Sin Kun. Rupanya ketika mereka berdua menggelinding ke dalam jurang sambil memeluk bangkai beruang kuda tadi, pada hakikatnya mereka tak sadar kalau dasar jurang itu sebetulnya merupakan daerah terlarang dari Lembah Seratus Binatang.
Semenjak Pek Siu Sin Kun Leng Siang suami istri berdiam dalam lembah tersebut, mereka telah mengumumkan peraturan yang ketat sekali, yaitu barang siapa yang berani memasuki daerah Lembah Seratus Binatang, peduli siapa saja orangnya, akan kubunuh sampai mati. Sebagai jago-jago muda, tentu saja Sik Tiong Giok dan Huan Li Ji tidak mengetahui tentang peraturan tersebut. Sekalipun tahu, mereka pun tidak mengenali di manakah letak Lembah Seratus Binatang tersebut. Dan kini, tanpa disadari mereka justru memasuki Lembah Seratus Binatang yang terlarang itu.
Baru saja mereka berdua mencapai di atas tanah, mendadak terdengar seseorang membentak keras, "Siapa di situ? Berani amat memasuki Lembah Seratus Binatang!"
Sik Tiong Giok cepat-cepat menjawab, "Maaf bila kami telah mengusik ketenangan Anda. Sesungguhnya tanpa sengaja kami telah sampai di sini, harap Anda sudi memberi petunjuk agar kami bisa meninggalkan tempat ini."
"Hmm, setelah sampai di sini, apakah kau masih berharap dapat keluar dengan selamat?" jengek orang itu dingin.
"Ada apa? Jadi kau bermaksud menahan kami berdua di tempat ini?"
Mendadak terdengar suara tinggi melengking nyaring bergema di situ, "Semenjak kami suami istri berdua berdiam di Lembah Seratus Binatang, telah kami umumkan kepada seluruh dunia persilatan bahwa barang siapa berani memasuki lembah kami barang selangkah saja, maka jiwanya akan kami cabut."
"Siapa sih yang menetapkan peraturan semacam itu?" tanya Sik Tiong Giok sambil tertawa.
"Kami suami istri yang menetapkan," sahut suara yang dingin kaku itu cepat.
"Siapakah kalian?"
"Pek Siu Sin Kun!"
Mendadak Sik Tiong Giok berkata, "Pek Siu Sin Kun hanya pantas mengurusi berbagai jenis binatang, masa manusia pun turut kau urusi? Mulai hari ini, peraturan tersebut harus kalian hapus untuk selamanya."
Pek Siu Sin Kun tertawa melengking, "Bocah keparat, besar amat bacotmu. Semenjak peraturan tersebut berlaku di dalam lembah ini, sudah ada seratus tujuh orang yang menemui ajalnya di tempat ini. Bila ditambah dengan kedua butir batok kepala kalian hari ini, maka jumlahnya akan berubah menjadi seratus sembilan biji. Ha... ha... ha... ha... sungguh menyenangkan, sungguh menggembirakan hati..."
"Hmm, manusia biadab macam kalian hanya pantas berkawan dengan binatang-binatang buas, lebih baik jangan menyebut diri sebagai manusia lagi," umpat Huan Li Ji dengan suara keras.
"Budak sialan, siapa yang sedang kau maki?" bentak Pek Siu Hujin gusar.
"Selain kalian berdua, siapa pula yang berada di sini? Tentu saja kalian yang kumaksudkan."
Mendadak Pek Siu Sin Kun tertawa terbahak-bahak, "Haa... haa... haa, Hujin, apakah dia sedang mengumpatmu?"
"Mengumpat diriku sama artinya dengan mengumpat dirimu sendiri," sambung Pek Siu Hujin segera.
"Dalam tiga puluh tahun terakhir ini, belum pernah kami dengar umpatan yang dialamatkan kepada kita berdua."
"Ya, hari ini merupakan suatu pengecualian, baru pertama kalinya tradisi itu dipecahkan."
Mendadak Pek Siu Sin Kun bertepuk sebelah tangan keras sambil berseru, "Sungguh merupakan suatu kejadian yang luar biasa, bukan hanya berani memaki kita, malah berani pula datang kemari sambil menuding ke arah kita, haaahhh... haaahhh... haahhh..." Selesai mengucapkan perkataan tersebut, dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Pek Siu Hujin benar-benar merupakan pasangan yang cocok. Begitu Pek Siu Sin Kun tertawa tergelak, dia pun turut tertawa terbahak-bahak. Gelak tertawa kedua orang ini, yang satu tinggi melengking sementara yang lain rendah berat, satu nyaring yang lain melengking tajam seperti beribu-ribu ekor kuda yang lari bersama, keadaannya sungguh mengerikan. Dalam sekali pendengaran saja, dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu amat sempurna. Agaknya mereka berniat menaklukkan Sik Tiong Giok serta Huan Li Ji dengan suara tertawanya yang sangat besar itu.
Beberapa saat kemudian, dari atas sebatang pohon besar melayang turun dua sosok tubuh manusia yang berdiri berjajar di bawah pohon. Gelak tertawa mereka sama sekali tidak berhenti, suaranya tetap nyaring dan membetot sukma. Sik Tiong Giok tak berani berayal, suara pekikannya semakin lepas dan keras, dibantu pula oleh Huan Li Ji dari samping. Suara pekikan yang tajam seakan-akan menembusi awan. Biarpun kedua belah pihak terpisah pada jarak satu kaki dan berdiri tak bergerak di posisi semula, namun di satu pihak tertawa, di lain pihak berpekik, mereka justru telah melangsungkan pertarungan sengit antara mati dan hidup dengan mengandalkan tenaga dalam yang sempurna.
Kejadian ini berlangsung hampir setengah jam lamanya, namun menang-kalah masih belum dapat ditentukan. Namun akibat dari pertarungan itu, seluruh Lembah Seratus Binatang menjadi gempar dan bergetar keras. Pekikan dan teriakan binatang liar sampai membuat suasana jadi gegap gempita, keadaannya tak berbeda seperti terjadinya gempa bumi dahsyat.
Mendadak Pek Siu Hujin menarik kembali gelak tertawanya seraya berkata, "Hey, tidak kusangka tenaga dalam yang dimiliki bocah ini benar-benar sangat hebat!"
"Ya, baru pertama kali ini kujumpai musuh yang tangguh selama tiga puluh tahun terakhir ini," sambung Pek Siu Sin Kun sambil menghentikan pula gelak tertawanya, "manusia hebat semacam ini lebih-lebih tak boleh dibiarkan hidup terus."
"Bila kita berhasil menggantung batok kepala sepasang muda-mudi itu di muka lembah, maka selanjutnya tak akan ada orang yang berani mengganggu kita berdua lagi."
Pek Siu Sin Kun tertawa terbahak-bahak, "Haaaahhh... haaaahhh... haaaahhh... Hujin, sudah lama aku tak makan hati manusia, coba kau terka, hati mereka berdua empuk atau tidak?"
Tanya jawab di antara kedua orang itu berlangsung secara santai, seakan-akan di sekitar sana tiada orang kedua. Sik Tiong Giok yang mencoba memperhatikan sepasang suami istri yang aneh itu dengan seksama, diam-diam merasakan hatinya bergidik, bulu kuduknya tanpa terasa bangkit berdiri. Tampak olehnya Pek Siu Sin Kun memiliki selembar wajah yang hijau pucat, rambutnya panjang sebahu, mengenakan kulit binatang beruang kuda yang menyeramkan itu, hanya bedanya di atas kepalanya tidak bertanduk.
Bentuk muka Pek Siu Hujin lebih aneh lagi. Ia bertelanjang dada, telanjang kaki, dan cuma mengenakan selembar kulit binatang untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling rahasia. Mukanya bersemu kuning emas tapi dipoles dengan panca warna sehingga tampaknya tak berbeda jauh seperti kuntilanak.
Sementara dia masih mengawasi kedua orang itu dengan seksama, Pek Siu Hujin telah meloloskan buah ruyung ular yang segera digetarkan ke muka, langsung menyambar kaki Huan Li Ji. Ketika merasakan datangnya desingan angin tajam yang menyergap dirinya, Huan Li Ji segera melejit ke tengah udara sambil meloloskan pedangnya dan langsung disayatkan ke atas ruyung lawan.
Ruyung lemas milik Pek Siu Hujin itu mempunyai panjang mencapai satu kaki, bentuknya tak berbeda seperti seekor ular. Apalagi setelah digetarkan, gerakannya nampak amat lincah dan cekatan. Akan tetapi Huan Li Ji bukan bocah sembarangan, dia telah memperoleh warisan dari empat orang tokoh sakti dunia persilatan, kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar amat dahsyat. Begitu pedangnya digetarkan ke depan, sekuntum bunga pedang langsung melilit ke ruyung tersebut, menempel terus secara ketat bagaikan seekor tikus yang menggigit ekor saja. Merasakan ruyungnya terjepit oleh serangan lawan, dengan sekuat tenaga Pek Siu Hujin menggetarkan senjatanya ke belakang.