Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 178

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 178

Namun, Huan Li Ji sudah mempunyai perhitungan sendiri. Ketika pihak lawan menggetarkan senjatanya, ia sama sekali tidak mengeluarkan tenaga, melainkan membiarkan senjatanya tergetar ke udara oleh gerakan ruyung lemas itu.

Di udara, dengan cepat ia meminjam tenaga lawan untuk melejit kembali. Telapak tangan kirinya mendayung ke bawah membentuk lingkaran busur, lalu secara tiba-tiba diayunkan ke bawah dengan sepenuh tenaga. Angin pukulan yang menderu dahsyat dengan cepat mengurung seluruh badan Pek Siu Hujin.

Sementara itu, Pek Siu Hujin sedang merasa gembira karena berhasil melemparkan tubuh Huan Li Ji ke udara. Ia baru terperanjat setelah merasakan datangnya segulung kekuatan mahadahsyat bagaikan langit runtuh yang menindih kepalanya, membuatnya hampir tidak mampu bernapas. Dalam kegugupan, ia segera mengambil tindakan drastis; ruyung lemasnya dilemparkan ke angkasa sementara tubuhnya mundur ke belakang.

Pek Siu Sinkun merasa sangat gusar melihat istrinya dikalahkan oleh seorang nona cilik dalam satu gebrakan. Sambil meraung keras, ia mengayunkan telapak tangannya untuk melancarkan terkaman. Melihat kejadian tersebut, Sik Tiong Giok segera berseru keras, "Hati-hati, Adik Li!" Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terasa desingan angin tajam menyergap dari belakang. Dengan cepat, ia merendahkan badan sambil mengayunkan pedangnya ke belakang.

Siapa sangka, sasaran yang dituju oleh Pek Siu Sinkun bukanlah Sik Tiong Giok, melainkan ruyung panjang milik Pek Siu Hujin yang terjatuh di tanah. Melihat Pek Siu Sinkun berusaha menyambar ruyung tersebut, Sik Tiong Giok segera merendahkan pergelangan tangannya, menerkam ke depan, dan turut menyambar senjata tadi. Akibatnya, kedua pihak turun tangan bersamaan; seorang berhasil menyambar gagang sementara yang lain menyambar ujung ruyung. Keduanya membetot dengan sepenuh tenaga.

Dalam waktu singkat, ruyung lemas yang panjangnya satu kaki itu sudah terbetot lurus dan kencang bagaikan tombak. Ketika mereka menariknya sekuat tenaga, mendadak terdengar bunyi, "Krak!" Ruyung lemas itu patah menjadi dua bagian. Berhubung kedua belah pihak mengerahkan sepuluh bagian tenaga dalam, patahnya ruyung tersebut membuat mereka kehilangan keseimbangan. Di bawah terjangan tenaga besar yang memantul balik, Sik Tiong Giok tergetar dan mundur selangkah, sementara Pek Siu Sinkun harus mundur dua hingga tiga langkah sebelum berhasil berdiri tegak.

Dengan peristiwa ini, jelas terlihat perbedaan tenaga dalam kedua orang itu. Pek Siu Sinkun terperanjat dan berteriak keras, "Bocah keparat, tampaknya kau memang sangat hebat!" Ia mengebas ujung bajunya, dan tiba-tiba di tangannya telah bertambah sepasang senjata penggaris baja. Dengan jurus 'kuda liar membelah suri', ia menerjang ke depan, mengancam jalan darah *cian kang hiat* dan *hoa kay hiat* di tubuh Sik Tiong Giok. Pada saat bersamaan, Pek Siu Hujin membentak dan melancarkan terjangan dengan sepasang telapak tangannya.

"Huuuh, tak tahu malu, kalian hendak main keroyok?" bentak Huan Li Ji lantang. Ia bersiap melancarkan serangan, namun Sik Tiong Giok segera berseru sambil tertawa, "Adik Li, lebih baik kau lindungi aku dari sisi arena. Lihat saja, aku taklukkan kedua orang siluman ini seorang diri, jangan kau biarkan mereka lolos dengan selamat."

"Tak usah khawatir," sahut Huan Li Ji sambil tertawa, "mereka tak akan lolos dalam keadaan selamat."

Sudah tiga puluh tahun lamanya pasangan Pek Siu Sinkun berdiam di lembah tersebut. Kepandaian silat mereka amat hebat, terutama dalam serangan kerja sama yang luar biasa. Sebaliknya, Sik Tiong Giok dengan mengandalkan tenaga murni warisan sang kakek—yang merupakan hasil latihan puluhan tahun—ditambah kecerdasan otak yang luar biasa, membuat perubahan jurus serangannya sering kali berada di luar dugaan.

Baru saja Pek Siu Sinkun menyerang dengan jurus 'kuda liar membelah suri', Sik Tiong Giok menyusul dengan jurus 'burung nuri menubruk comberet'. Jika Sik Tiong Giok menangkis penggaris besi Pek Siu Sinkun, tubuhnya akan berputar dan ia tidak mungkin lolos dari telapak tangan Pek Siu Hujin. Dalam sekilas, Sik Tiong Giok mengambil keputusan; ia memekik nyaring dan melejit tinggi ke udara, lalu melepaskan bacokan kilat ke bawah dengan tenaga dahsyat.

Menyaksikan itu, Pek Siu Hujin menjerit kaget, "Aaa...! Kenapa bocah itu bisa menggunakan jurus tersebut?" Ia segera menyingkir ke samping karena ketakutan setelah sebelumnya kehilangan ruyung akibat jurus serupa. Sik Tiong Giok segera menyusul, melancarkan tusukan 'burung manyar menyambar pasir' untuk menghadang jalan perempuan itu, sementara pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam yang mengarah ke dada lawan.

Dalam kaget dan ngeri, Pek Siu Hujin menarik dada sambil mundur, lalu melancarkan serangan balasan; tangan kirinya mencengkeram bahu Sik Tiong Giok, sementara tangan kanannya memukul punggung pedang pemuda itu. Sik Tiong Giok tersenyum, tiba-tiba merendahkan tubuhnya dengan jurus 'angin kencang menggugurkan daun' untuk membabat kaki Pek Siu Hujin. Lawannya terperanjat, menjejakkan kaki ke tanah, dan melejit mundur dengan perasaan gelisah. "Anjing budukan, kenapa kau tidak ikut maju?" teriaknya kepada suaminya.

"Jangan tergesa-gesa, hari ini kita tak akan melepaskan bocah keparat itu," jawab Pek Siu Sinkun.

"Hey, jangan berbicara sesumbar," ejek Sik Tiong Giok. "Kalau memang hebat, ayo majulah!" Ketiga orang itu pun terlibat dalam pertarungan yang amat sengit.

Kegelapan malam mulai hilang dan fajar menyingsing di ufuk timur. Dari mulut lembah, muncul serombongan manusia yang dipimpin oleh Gho Hui Lonie. Keempat orang itu menonton pertarungan sejenak, kemudian Gho Hui Lonie berseru memuji keagungan Sang Buddha, "Omitohud, Anak Giok, cepat hentikan seranganmu."

Suara itu amat nyaring hingga ketiga orang yang bertarung menghentikan gerakannya. Sik Tiong Giok memandang sekeliling, namun begitu bertemu pandang dengan si Sastrawan Bisu Tuli, hawa amarahnya meluap. "Iblis cabul, mau kabur ke mana kau?" teriaknya sambil menerjang dengan pedang.

Serangan itu dilakukan dalam keadaan gusar dengan kekuatan dahsyat. Dalam kondisi tidak siap, sulit bagi Sastrawan Bisu Tuli untuk menghindar. Saat pedang hampir mengenai tubuhnya, si Rase Sakti Li Keng Kiu dan Li Peng menjerit kaget. Namun, di saat kritis itu, Gho Hui Sinni mengayunkan senjata kebutannya, menyebarkan ribuan bulu ekor kuda untuk melindungi Sastrawan Bisu Tuli, sekaligus mengeluarkan tenaga mahadahsyat yang mementalkan tubuh Pangeran Serigala Langit ke belakang.

Sik Tiong Giok terkejut, namun saat melihat asal serangan tersebut, ia berubah gembira dan buru-buru berseru, "Su-thay..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment