Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 179

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 179

"Kau... kau..." Gho Hui Lonie mengangguk, lalu berucap, "Nak, mengapa kau bertindak begitu gegabah?"

Sik Tiong Giok segera melotot, serunya, "Suthay, orang ini sudah terlalu banyak melakukan kejahatan dalam dunia persilatan. Dia menjadi kutukan bagi setiap manusia di dunia ini. Apakah manusia durjana semacam ini harus kita biarkan hidup terus?"

"Thian adalah Maha Pengasih. Mengapa kita tidak berbuat kebajikan dengan memaafkan mereka yang telah bertobat?"

"Tidak! Berbuat cabul adalah kejahatan nomor wahid di dunia ini. Dia adalah bajingan cabul. Manusia terkutuk seperti ini tak boleh diberi kesempatan hidup."

"Aku tak percaya kalau dia telah berbuat cabul."

"Tapi aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

"Sekalipun kau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, rasanya sulit bagimu untuk membersihkan noda tersebut sampai tuntas."

"Aku tidak mengerti!"

Gho Hui Lonie menghela napas panjang, "Aaaai, tahukah kau siapakah orang ini? Dia adalah sosok yang sangat tersohor karena kebusukan namanya. Dia adalah kakakmu, Wi Ong Pia, yaitu kaisar terakhir dari Dinasti Song!"

"Aku dengar Wi Ong Pia sudah tewas tiga puluh tahun silam ketika didorong oleh Liok Siu Hu terjun ke dalam lautan. Aku tak percaya kalau dia adalah kakakku."

"Tapi akulah yang telah menyelamatkan jiwanya dari dalam lautan, seperti juga ketika kau diselamatkan oleh Kakek Serigala Langit. Bukankah hingga sekarang pun kau masih tetap hidup di dunia ini?"

Sik Tiong Giok tetap merasa tidak puas, serunya dengan suara dingin, "Kalau memang dia adalah seorang raja dari suatu dinasti, terlepas dari gagal atau berhasil memegang tampuk pemerintahan, tidak sepantasnya dia berbuat cabul dengan melakukan berbagai perbuatan mesum sehingga menyedihkan perasaan berjuta-juta rakyatnya."

Sekali lagi Gho Hui Lonie menghela napas panjang, "Aaai, manusia sedih manakah yang tak menjadi kalap? Justru karena hal itulah dia menyebut diri sebagai Sastrawan Bisu Tuli yang tak mau mendengar, tak mau berbicara, dan melakukan semua perbuatan menurut suara hati sendiri. Padahal, dia hanyalah seorang manusia kalap yang pantas dikasihani. Perbuatannya tidak sejahat apa yang kau bayangkan semula."

Sik Tiong Giok termenung beberapa saat, kemudian perlahan bangkit berdiri dan berkata dengan suara dingin, "Baik, selanjutnya aku tak akan mencarinya lagi." Selesai berkata, dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi.

Mendadak Gho Hui Lonie membentak dengan suara keras, "Berhenti!" Sik Tiong Giok segera berhenti, lalu membalikkan badan dan menatap dengan wajah sedingin salju.

Dengan suara perlahan Gho Hui Lonie berkata, "Nah, sekalipun kau tak bersedia mengakuinya sebagai seorang kaisar, apakah kau pun juga tak bersedia menganggapnya sebagai saudara kandungmu sendiri?"

Sik Tiong Giok mendengus dingin, "Dia adalah anak keturunan dari keluarga Tio, sedangkan aku cuma seorang murid Perguruan Serigala Langit. Air sungai tidak mengganggu air sumur, hubungan apa pula yang terjadi di antara kami berdua?"

"Apakah kau sudah lupa bahwa dirimu pun dari marga Tio?"

"Tidak, aku dari marga Sik."

Belum habis perkataan itu diutarakan, Gho Hui Lonie sudah dibuat naik pitam. Dengan suara keras, ia membentak, "Binatang, kau berani!" Menyusul bentakan tersebut, senjata kebutannya sudah diayunkan ke depan. Bulu-bulu kudanya yang kuat seperti kawan langsung mengancam dada Sik Tiong Giok.

Pada saat itulah mendadak terdengar dua kali jeritan kaget, disusul kemudian tampak bayangan manusia berkelebat. Dua orang telah muncul di hadapan Sik Tiong Giok, mereka adalah Huan Li Ji serta Li Peng.

"Suthay, ampunilah selembar jiwanya," teriak mereka berdua bersama-sama.

Gho Hui Suthay segera memejamkan matanya rapat-rapat sementara dua butir air matanya jatuh berlinang membasahi wajahnya. Pelan-pelan ia berkata, "Baiklah, kalian boleh pergi dari sini! Tapi ingat, ia boleh saja tidak mengaku dari marga Tio, tapi jangan lupa Tio Leng Kong yang mati secara mengenaskan adalah ayah kandungnya."

Mendadak Sik Tiong Giok berseru, "Siapakah ibuku?"

"Dia adalah Hui Keng Sithay dari Ko Hoa San. Beliau sudah lama berpulang ke alam baka. Semoga kau bisa berbuat amal dan kebajikan bagi seluruh umat persilatan."

Belum habis ia berkata, mendadak terdengar si Rase Sakti membentak keras, "Hey, mau apa kau?" Menyusul kemudian terasa segulung desingan angin tajam menyambar-nyambar. Ketika semua orang berpaling, tampaklah si Rase Sakti Li Keng Kiu telah bertarung dengan si Sastrawan Bisu Tuli.

Paras muka Li Keng Kiu penuh diliputi rasa kaget dan gugup, sebaliknya Sastrawan Bisu Tuli tertawa seram tiada hentinya. Gerak-gerik maupun tingkah lakunya tak berbeda seperti orang yang tidak waras.

Hanya dalam dua kali gebrakan saja, Li Keng Kiu telah berhasil mencengkeram pergelangan tangan Sastrawan Bisu Tuli, tapi ia masih saja tertawa seram tiada hentinya sedangkan tubuhnya sempoyongan sambil gemetar keras. Baru sekarang semua orang mengerti, ternyata kedua orang itu bukan sedang bertarung, melainkan Li Keng Kiu sedang berusaha mencegah Sastrawan Bisu Tuli melakukan bunuh diri.

Ternyata Sastrawan Bisu Tuli merasa amat sedih setelah melihat Sik Tiong Giok tidak bersedia mengakui dirinya sebagai kakak kandung. Apalagi bila teringat akan perbuatan yang dilakukan selama ini serta kehancuran dinasti yang dipimpinnya, kesemuanya ini mendatangkan pukulan batin yang amat berat. Maka, setelah berpikir sejenak, ia pun mengambil keputusan untuk memutus nadi sendiri. Andaikata perbuatannya tidak segera diketahui Li Keng Kiu, mungkin ia sudah tewas tadi.

Dengan suatu gerakan cepat, Gho Hui Lonie menyelinap ke sisi tubuhnya dan menempelkan telapak tangannya di atas jalan darah *Leng Tay Hiat* pada punggungnya. Sambil menghela napas ia berkata, "Walaupun dinasti kita telah hancur, namun rakyat kita tetap utuh, tanah air kita pun masih terbentang megah di dunia ini. Mengapa sih kau harus mengambil keputusan pendek?"

Sastrawan Bisu Tuli tertawa getir, "Anak Pia sadar bahwa diriku memang tak becus sehingga menyia-nyiakan pengharapan Sri Baginda almarhum. Aku pun merasa tak punya muka lagi untuk bertemu dengan rakyatku. Kalau tidak mati, apa yang harus kuperbuat?"

"Jalan pemikiranmu kelewat sempit! Mengapa kau tidak memanfaatkan kekuatan dan kemampuan yang kau miliki serta rasa dendam yang membara di dalam dadamu untuk mempersatukan segenap ksatria dan pendekar di dunia ini guna bersama-sama mengusir kaum penjajah dari muka bumi? Tidakkah kau merasa bahwa perbuatan tersebut jauh lebih bermanfaat daripada mencari mati?"

Sastrawan Bisu Tuli tertawa getir, "Sayang sekali perkataanmu itu kau ucapkan kelewat terlambat. Aku... mungkin aku sudah tak tahan lagi." Ketika mengucapkan perkataan tersebut, sepasang matanya telah dialihkan ke wajah Sik Tiong Giok.

Sementara Sik Tiong Giok sendiri pun sedang dicekam oleh perasaan yang amat sedih. Walaupun dia merasa amat tak puas terhadap perbuatan Sastrawan Bisu Tuli selama ini, namun timbul juga rasa sedih dan pedih di dalam hatinya setelah menyaksikan keadaannya waktu itu. Diam-diam ia berpikir, "Bagaimanapun juga, dia tetap merupakan kakak kandungku. Hanya karena salah berpikir sehingga terjerumus ke jalan yang sesat. Bagaimana pun juga, kesalahan yang diperbuatnya masih pantas dimaafkan, buat apa sih aku mesti memojokkan posisinya."

Berpikir sampai di situ, dia segera berjalan menghampiri sisi tubuh Sastrawan Bisu Tuli, kemudian sambil berjongkok, ia memanggil dengan suara lirih, "Koko..." Belum habis dia memanggil, air matanya telah bercucuran membasahi wajahnya.

Sambil tertawa getir, Sastrawan Bisu Tuli berkata, "Adik Hui, kesemuanya ini merupakan kesalahanku. Aku telah menodai nama baik keluarga Tio. Apakah kau masih membenciku?"

Dengan mata berkaca-kaca, Sik Tiong Giok menjawab, "Aku hanya terdorong oleh emosi saja sehingga bersikap kasar kepadamu. Aku tak akan membencimu."

Sekulum senyum segera tersungging di ujung bibir Sastrawan Bisu Tuli. Ia berkata lagi, "Aku pun merasa tenang setelah mendengar perkataan itu. Aku akan mati dengan mata terpejam. Semoga kau bisa berjuang lebih baik lagi sehingga mengangkat kembali nama baik keluarga Tio kita..."

Ketika berbicara sampai di situ, suaranya sudah menjadi lemah dan parau. Mendadak tubuhnya berkelejotan, kemudian membungkam dan tak pernah bersuara lagi. Dengan gugup, Li Keng Kiu berusaha memayang tubuh itu.

Sedangkan Gho Hui Lonie segera berbisik dengan suara lirih, "Dia telah berpulang ke alam baka..." Belum habis perkataan tersebut diucapkan, Sik Tiong Giok sudah menangis tersedu-sedu.

Fajar sudah mulai menyingsing, sinar matahari memancarkan warna keemasannya ke seluruh angkasa, tapi suasana di tempat itu sangat hening. Semua orang terbungkam dalam seribu bahasa.

Sampai lama kemudian, mereka menggali liang tanah untuk menguburkan kaisar dari Dinasti Song yang terakhir itu. Kemudian, setelah memanjatkan doa bagi keberangkatannya ke alam baka, semua orang berlalu dari situ dengan membawa perasaan hati yang pedih.

Pek Siu Sinkun suami-istri tetap tinggal di Lembah Seratus Binatang meneruskan tradisinya, karena mereka sudah terbiasa hidup memencilkan diri dari keramaian dunia. Hanya kini, di atas sebidang tanah yang mereka huni, telah bertambah dengan kuburan seorang kaisar yang malang.

Sebaliknya, Pangeran Serigala Langit meneruskan perjuangannya berusaha mengusir kaum penjajah dari tanah airnya. Sekalipun usahanya itu tidak mencapai hasil yang diharapkan, namun tujuannya berhasil juga terwujud beberapa ratus tahun kemudian, di saat bangsa Han berhasil mengusir kaum penjajah dari tanah airnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment