Halo!

Pangeran Perkasa - Chapter 18

Memuat...
Pangeran Perkasa

Chapter 18

Perlu diketahui, jaring ini merupakan benda milik Tok-jiu Hoa-tuo (Hoa Tuo Bertangan Racun) Pui Cu Yu. Benda itu terbuat bukan dari emas, baja, ataupun goni, melainkan dari urat dan otot ular beracun tujuh bintang, makhluk purbakala yang hidup jauh di luar perbatasan.

Jaring tersebut tidak hanya kuat dan ulet, tetapi juga tidak bisa putus oleh bacokan golok atau pedang, bahkan dibakar pun tidak mempan. Namun kenyataannya, perempuan tersebut berhasil merusaknya tanpa diketahui cara apa yang ia gunakan. Keberhasilan perempuan itu untuk lolos segera mengejutkan semua orang yang hadir.

Begitu bebas dari kurungan jaring sakti, nyonya cantik berbaju putih itu tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata, "Jaring tipis semacam ini hanya cocok untuk menangkap ikan atau udang. Masakan ingin mencoba mengurungku?"

Belum selesai ia bicara, sesosok bayangan kuning meluncur dari samping arena dan langsung menyerang nyonya berbaju putih tersebut. Dengan sigap, nyonya itu menghindar ke samping, lalu kembali mengejek sambil tertawa cekikikan.

"Aduh, aduh Mak! Apa kalian Tujuh Anjing dari Pa-san menganggap aku sendirian sehingga bisa dipermainkan sesuka hati? Sebenarnya kalian tidak perlu main sergap. Ketahuilah, aku Pek-ih Losat (Iblis Wanita Berbaju Putih) tidak pernah takut menghadapi keroyokan orang banyak!"

Kakek berbaju kuning itu tertawa seram. "Sedari tadi aku sudah tahu kalau kau adalah salah satu dari Tong-ting Ngo-yan (Lima Walet dari Tong-ting). Untuk menghadapi manusia semacam kau, kami Tujuh Macan Tutul dari Pa-san tidak perlu turun tangan bersama-sama."

Ternyata, ketujuh orang berbaju kuning itu adalah Pa-san Jit-pa (Tujuh Macan Kumbang dari Pa-san) yang masyhur karena kebuasan dan kebengisannya. Mereka merasa sangat mendongkol karena disebut sebagai Tujuh Anjing dari Pa-san oleh nyonya cantik tersebut. Namun, mereka juga menyadari bahwa Tong-ting Ngo-yan (Lima Walet dari Telaga Tong-ting) memiliki pamor dan kedudukan yang tidak kalah dibandingkan mereka; kekejian dan kebuasannya pun tidak berbeda jauh.

Selain itu, Lima Walet tidak pernah terbang sendiri. Walaupun saat ini hanya Pek-ih Losat Liang Siang Yan seorang yang menampakkan diri, dapat dipastikan keempat walet lainnya pasti berada di sekitar sana. Itulah sebabnya mereka tidak berani meremehkannya.

Tatkala kakek berjubah kuning itu, Hong-hwee Pa-cu (Macan Kumbang Angin Api) Go Peng Hong, selesai berbicara, rekannya yang bernama Cuan-san Pa-cu (Macan Kumbang Penembus Bukit) Han Kong segera menimpali.

"Nona Liang, selama ini kami tujuh bersaudara dari Pa-san tidak pernah memiliki perselisihan atau persengketaan dengan kalian lima bersaudara. Janganlah karena urusan ini, pihak kita justru saling gempur sendiri!"

Iblis Wanita Berbaju Putih, Liang Siang Yan, mengerling sekejap ke arah lawannya, lalu tertawa. "Tampaknya Han Lo-toa memang lebih pandai bicara. Padahal kami sendiri pun tidak bermaksud mencari perselisihan. Pui Cu Yu adalah tamu yang akan diundang oleh majikan kami, karena itu kuharap kalian menyingkir saja!"

Macan Kumbang Angin Api, Go Peng Hong, yang merupakan anggota paling berangasan dari ketujuh macan kumbang itu, tiba-tiba membentak keras setelah mendengar ucapan tersebut, "Apa? Kau menyuruh kami menyingkir?"

"Boleh saja kalau kalian enggan menyingkir," Liang Siang Yan tertawa terkekeh-kekeh. "Lagi pula mengubur orang di mana pun sama saja. Pasti akan kusediakan jalan bagi kalian untuk berangkat ke neraka!"

Go Peng Hong semakin naik pitam. Sepasang matanya merah berapi-api. Dengan suara keras bagaikan guntur, ia menghardik, "Perempuan siluman, jangan kalian anggap Lima Walet dari Telaga Tong-ting adalah jagoan paling hebat!"

Begitu umpatan itu terlontar, tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan yang sangat ramai di tengah embusan angin. Menyusul suara tawa itu, dari balik semak belukar, batu besar, dan pepohonan di sekitar sana muncul empat orang perempuan lagi. Masing-masing mengenakan baju berwarna merah, hijau, putih, dan jingga. Paras mereka rata-rata cantik, namun memancarkan kejanggalan.

Pemimpin mereka adalah seorang perempuan berbaju merah. Dengan senyum genit dan gaya yang dibuat-buat, ia berseru, "Aduh, persoalan apa sih yang membuat kami Lima Burung Walet dipandang begitu tinggi?"

"Toaci rupanya sudah datang, hal ini malah lebih bagus," kata Liang Siang Yan sambil tertawa. "Tujuh Macan Kumbang dari Pa-san ini hendak ikut campur dalam persoalan kita. Apa perlu kita beri sedikit pelajaran agar mereka tahu rasa?"

Mendengar ucapan tersebut, perempuan cantik berbaju merah itu melakukan gerakan erotis seperti ular. Setelah tertawa genit, ia menjawab, "Ngo-moay (Adik Kelima), hatimu terlalu lemah. Untuk menghadapi beberapa orang telur busuk itu, mengapa kita harus mengalah?"

"Dengan cara yang amat licik, mereka telah menutup jalan darah Sin-teng-hiat dari Lo-pui, namun mencatat hutang tersebut atas nama kita semua," Liang Siang Yan menjelaskan.

Mendengar laporan ini, perempuan cantik berbaju merah itu kembali mengedipkan matanya berulang kali. "Ah, masa ada kejadian seperti ini?" serunya. "Wah, kalau sampai ketahuan cukong, bisa gawat kita."

Perempuan cantik berbaju jingga segera mendengus dingin dan menyela, "Satu-satunya jalan bagi kita sekarang adalah membawa mereka serta atau menghabisinya di tempat ini. Dengan begitu, kita baru dapat memberikan pertanggungjawaban kepada cukong."

Macan Kumbang Penembus Bukit, Han Kong, seketika tertawa terbahak-bahak. "Haha! Konon kami dengar Lima Walet dari Telaga Tong-ting berkemampuan hebat, ternyata masih bisa juga naik darah. Benar, Pui Cu Yu memang berhasil kami totok jalan darahnya. Mau apa kalian sekarang?"

Iblis Wanita Berbaju Putih, Liang Siang Yan, segera berpaling ke arah gadis berbaju putih yang duduk di tempat kusir kereta, lalu berseru sambil tertawa, "Nona Pui, sudah kau dengar perkataan si telur busuk itu? Bukankah dia sudah mengakuinya sendiri?"

Namun, gadis berbaju putih itu masih belum percaya. Ia bertanya dengan nada tercengang, "Tetapi dengan cara apa mereka turun tangan? Kepandaian silat ayahku terhitung cukup tangguh."

"Kau benar-benar budak bodoh," Liang Siang Yan tertawa. "Tujuh Macan Kumbang dari Pa-san sudah masyhur karena kebuasan dan kekejamannya. Sejak lama mereka telah menyelundupkan putra Lo-toa mereka ke dalam keluarga Pui kalian!"

Gadis berbaju putih itu sangat terperanjat. Ia buru-buru berseru, "Tetapi dalam keluarga kami sama sekali tidak ada orang bermarga Han!"

"Biarpun tidak ada yang bermarga Han, toh ada yang bermarga Si. Namanya yang asli adalah Han Seng, tetapi sekarang sudah berganti nama menjadi Si Ki Im. Dialah yang telah melakukan tindakan keji itu. Mengerti, budak dungu?"

Rasa kaget nona berbaju putih itu tidak terlukiskan. Tanpa terasa, ia mengendurkan rangkulannya. Tanpa sempat memedulikan keadaan sastrawan muda di dekatnya, ia membalikkan badan untuk membuka pintu kereta.

Siapa sangka, saat tangannya hampir menyentuh pintu kereta, mendadak sebuah tangan menyambar keluar dari dalam ruangan kereta. Dalam keadaan pikiran yang kalut dan perasaan kacau, nona berbaju putih itu tidak pernah menyangka peristiwa semacam ini akan terjadi. Urat nadinya segera tercengkeram dan separuh badannya menjadi lumpuh.

Teriakan kagetnya baru terdengar setengah jalan ketika tubuhnya terseret masuk ke dalam ruang kereta. Menyusul kemudian, dari balik ruangan itu bergema jeritan kesakitan serta suara tawa dingin yang menyeramkan, diikuti oleh suara gaduh. Dari suara-suara tersebut, agaknya nona berbaju putih itu sedang berusaha meronta.

Empat lelaki kekar yang berada di luar kereta menjadi marah dan serentak membentak keras. Beberapa ekor kuda yang kaget akibat bentakan itu meringkik panjang.

"Blaam! Braakk!"

Suara kayu yang hancur bergetar memenuhi ruangan kereta tersebut. Papan-papan ruang kereta berserakan dan hancur berantakan. Dalam waktu singkat, keadaan di dalam kereta menjadi terbuka dan tampak jelas pemuda kekar yang dipanggil Si Suheng tadi telah berhasil menguasai keadaan. Dengan satu tangan ia mencengkeram urat nadi gadis berbaju putih, sementara tangan lainnya memegang sebilah pedang pendek yang ditempelkan di atas tubuh seorang kakek yang sedang tidak sadarkan diri.

Macan Kumbang Angin Api, Go Peng Hong, yang menyaksikan kejadian tersebut segera bersorak kegirangan. "Hore! Anak Seng, perbuatanmu memang sangat hebat!"

Sebaliknya, wajah Lima Walet dari Telaga Tong-ting berubah saat menyaksikan kejadian itu. Perempuan cantik berbaju merah, pemimpin dari lima bersaudara itu, adalah Ang-hun Cay-jin (Manusia Buas Perempuan Cantik) Ciu Thian Yan.

Dengan senyuman yang masih tersungging, ia berkata, "Su-moay, coba kau lihat. Bukankah sepantasnya kita melenyapkan bajingan cilik ini duluan? Kau justru jatuh hati kepadanya dan mengatakan dia tidak bakal berkhianat. Sekarang kau seharusnya sudah percaya pada perkataan Cici, bukan?"

Perempuan cantik berbaju jingga yang disebut Yan-cu Poan-hou (Harimau Belang Perempuan Cantik) Lim Tiong Yan, berubah wajahnya menjadi merah padam saat mendengar perkataan itu. Ia menyahut, "Sampai sekarang aku masih tetap percaya kepadanya!"

Sementara itu, Macan Kumbang Angin Api, Go Peng Hong, berteriak keras, "Hei, Lima Walet! Apakah kalian sudah melihat dengan jelas?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment