Chapter 19
"Bocah itu adalah putra kesayangan tetua kami. Sekarang dia telah berhasil menguasai keadaan. Lebih baik kalian tahu diri dan segera mengundurkan diri saja!"
"Betul, aku rasa memang semestinya segera mengundurkan diri saja," seru si Harimau Belang perempuan cantik, Lim Tiang Yan, sambil tertawa. "Hanya saja, ucapan ini semestinya tertuju untuk kalian, tujuh orang tua bangka, mengerti?"
Macan Kumbang Angin Api, Go Peng, tertegun setelah memandang sekejap ke arah Lim Tiong Yan. Serunya tercengang, "Mungkin kau sudah edan. Mengapa kami harus pergi?"
Lim Tiong Yan tertawa genit. Setelah mengerling sekejap ke arah Han Seng, ia berkata lembut, "Siau Han, kau toh sudah menyanggupi permintaanku. Apalagi kau pun tentu tak akan melupakan rencana Serigala Langit dan Rasul Serigala Langit. Lebih baik urusanmu kau ucapkan sendiri saja."
Berubah hebat paras muka Han Seng setelah mendengar ucapan ini. Ia memandang sekejap ke arah tujuh Macan Kumbang dari Pa San, lalu katanya tergagap, "Ayah... bukankah kau bersama keenam paman hanya menghendaki Jian Nian Si Toan tersebut? Setiap orang menghendaki obat mestika tersebut. Semua orang mengincar dan berusaha merampasnya. Aku lihat, biarpun kita berhasil memperolehnya, belum tentu dapat mempertahankannya lebih jauh, sebab..."
Belum selesai dia berkata, Macan Kumbang Penembus Bukit, Han Kang, sudah gemetar keras tubuhnya karena berang. Ia menghentakkan kakinya berulang kali ke atas tanah, lalu berteriak keras-keras, "Berontak, berontak! Anak sendiri pun memberontak terhadap bapaknya!"
Macan Kumbang Pembalik Langit, Ho Wan, yang menempati urutan ketiga dalam Pa San Jit Pa juga dapat menangkap ketidakberesan di balik perkataan tersebut. Buru-buru dia berseru, "Anak Seng, kau... kau sudah tidak menghendaki orang tuamu lagi?"
Sebaliknya, Macan Kumbang Angin Api, Go Peng, sudah mengerang penuh amarah. "Sungguh tak kusangka kau bocah kunyuk sudah terpikat oleh perempuan. Benar-benar menjengkelkan hatiku!"
Sementara di seputar sana menjadi ramai oleh umpatan dan teriakan, Nona Pui yang urat nadinya dicengkeram orang di atas kereta telah mengucurkan air matanya karena sedih. Sedang keempat lelaki kekar yang menunggang kuda sudah tak mampu mengendalikan amarahnya lagi. Mereka berteriak bersama-sama, "Mari kita beradu jiwa dengan mereka!"
Empat bilah senjata bagaikan angin puyuh segera menyerbu ke arah Pa San Jit Pa dan Tong Ting Ngo Yan yang berdiri di depan kereta dan menyerang mereka habis-habisan. Tujuh Macan Kumbang dari Pa San sama sekali tak sudi melayani mereka. Sebaliknya, mereka serentak membalikkan badan dan menyerang Lima Walet dari Telaga Tong Ting. Pertempuran massal pun segera berkobar.
Sementara tujuh Macan Kumbang dari Pa San menyerang Lima Walet dari Telaga Tong Ting, keempat murid dari keluarga Pui ikut meramaikan pertempuran itu dengan melakukan pengacauan di sana-sini. Akibatnya, tatkala ketujuh macan kumbang itu marah dan berbalik bertarung melawan keempat murid keluarga Pui, Lima Walet segera memanfaatkan kesempatan untuk menyerang ketujuh macan kumbang. Begitu tujuh macan kumbang melayani Lima Walet, keempat anggota keluarga Pui berbalik menyerang Lima Walet, dan begitulah seterusnya.
Nona Pui yang menyaksikan keadaan tersebut segera berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya. Lalu dengan suara lembut dia berkata, "Si Suheng, kau benar-benar manusia yang jahat. Rupanya kau sudah terpikat oleh perempuan-perempuan siluman dari Telaga Tong Ting itu!"
Han Seng mendengus, "Hmm, Khi Im, kau harus ingat, mulai sekarang panggil aku Han Seng!"
"Baik, anggap saja kau memang Han Seng. Sudah lima tahun kau berdiam dalam keluarga kami. Kami, ayah dan anak pun, selain bersikap baik kepadamu, apakah kau tega berbuat jahat terhadap kami?"
Tampaknya Han Seng sama sekali tidak terpengaruh oleh perkataan itu. Dia malah berkata dengan ketus, "Sekalipun kalian ayah dan anak baik terhadapku, namun tak dapat membantu aku merajai dunia persilatan, lantas apa gunanya?"
"Dengan berbuat demikian apakah bisa menguasai seluruh dunia persilatan?" Pui Khi Im balik bertanya.
Han Seng segera tertawa seram. "Asal Rasul Serigala Langit bisa menguasai seluruh kolong langit, berarti aku, Han Seng, akan menjadi pentolan suatu wilayah dalam dunia persilatan ini. Adikku, bila kau cinta kepadaku, kau sudah seharusnya membantu aku hingga sukses."
"Kau anggap Lima Walet dari Tong Ting serta ayahmu sekalian bakal tunduk di bawah perintahmu?"
"Itulah sebabnya aku mengadu domba mereka semua agar orang-orang itu saling hantam sendiri. Bila mereka sudah lelah bertarung dan banyak korban telah berjatuhan, maka kau bisa membantuku untuk membereskan sisanya. Dengan begitu, bukankah urusan bakal beres?"
"Suheng, bagaimana dengan ayahku?" Pui Khi Im bertanya dengan sedih.
"Tentang ayahmu..." Han Seng segera tertawa seram, "Heh... heh... heh... itu sudah dibereskan. Asal kau bersedia kawin dengan aku, kujamin ayahmu tak bakal terancam bahaya."
Tiba-tiba Pui Khi Im mengangkat kepala lalu berkata dengan suara dingin, "Apa yang hendak kau lakukan terhadap orang tua itu?"
Han Seng kembali tertawa. "Selama bertahun-tahun orang tua itu sudah cukup lelah berkelana dalam dunia persilatan. Sekarang, sudah sepantasnya dia mengundurkan diri! Maka asal dia bersedia menuruti perkataanku dan melaksanakan semua perintahku, paling banter dia cuma akan cacat seumur hidup. Aku tidak akan merenggut nyawanya!"
"Kau... kau sungguh amat kejam!" pekik Pui Khi Im dengan sedih.
"Hmm, padahal orang tua itu sudah pantas mampus, mengapa kau salahkan kekejamanku?"
Dari pembicaraan kedua orang itu, bisa diketahui sampai di manakah kebusukan hati manusia yang bernama Han Seng tersebut. Di samping ingin membantu ketujuh Macan Kumbang dari Bukit Pa San, dia pun hendak membantu Lima Walet dari Telaga Tong Ting. Pokoknya dia bermaksud memperalat kedua belah pihak, sekaligus ingin menghancurkan mereka semua.
Terutama sekali terhadap pihak ketujuh Macan Kumbang dari Bukit Pa San. Boleh dibilang mereka adalah saudara-saudara ayahnya, termasuk ayahnya sendiri. Namun kenyataannya sekarang, terhadap ayah kandung sendiri pun ia tak ambil peduli. Bisa dibayangkan manusia macam apakah itu.
Sastrawan muda yang duduk di kursi kusir kereta menjadi terperanjat setelah mendengar pembicaraan itu. Diam-diam pikirnya, "Manusia ini betul-betul berhati buas dan kejam, jauh lebih rendah daripada binatang."
Belum habis pikiran tersebut melintas, mendadak terdengar Nona Pui yang berada di kereta berteriak keras-keras, "Kalian jangan bertarung lagi! Kalian semua telah terjebak oleh rencana busuk orang bermarga Han ini!"
Tapi sebelum perkataan itu selesai diutarakan, mulutnya seperti ditutup orang dengan tangan, sehingga kata-kata selanjutnya tidak lagi terdengar jelas. Menyusul kemudian terdengar Han Seng mengancam sambil mendengus dingin, "Budak busuk, tutup mulutmu! Bila kau berani berteriak lagi, aku akan segera membunuh bapakmu di atas kereta ini juga!"
Ancaman ini dengan cepat membungkam mulut Pui Khi Im. Dia menjadi ketakutan setengah mati. Selain isak tangisnya, tak terdengar suaranya lagi. Namun pada saat itu pula, tiba-tiba terdengar Han Seng memekik rendah diikuti jeritan kagetnya. Kemudian terdengar seseorang membentak nyaring, "Enyah kau dari sini!"
Cepat-cepat Nona Pui membuka matanya. Ia saksikan sesosok bayangan manusia terlempar dari atas kereta, lalu ia merasa pergelangan tangannya yang dicengkeram orang terlepas. Sastrawan muda yang pernah ditolongnya kini sudah berdiri di depan mata sambil tersenyum ramah. Sastrawan ini tak lain adalah orang yang ditolongnya tadi. Tapi, dengan cara apakah dia memukul mundur Han Seng, si manusia berhati binatang ini?
Sementara Nona Pui masih terkejut bercampur heran, sesosok bayangan manusia disertai deruan angin tajam kembali menyerang. Sekarang ia dapat melihat dengan jelas, orang itu adalah Han Seng. Menjumpai manusia tersebut, amarahnya tidak bisa ditahan lagi. Perasaan gusar bercampur benci dan dendam membuat nona itu segera membentak keras. Ruyung panjangnya digerakkan keras-keras membentuk segulung cahaya tajam, kemudian menyapu ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Dalam pada itu, Han Seng telah meloloskan pula senjatanya, sepasang Gelang Naga dan Harimau. Dengan sebuah gelang ia menangkis cambuk panjang dari Pui Khi Im, sementara gelang yang lain digunakan untuk menyerang sastrawan muda tersebut.
Sastrawan muda itu berlagak seakan-akan tidak menyadarinya. Malah ia berujar kepada Pui Khi Im sambil tertawa, "Nona, permainan jurus cambukmu cukup bagus, hanya sayang tenaganya kurang baik. Ujung cambuk tak bisa dipakai untuk menyapu musuh. Kalau dipakai untuk menolong diri masih mendingan, namun kalau digunakan untuk melawan musuh masih kurang bagus!"
Waktu itu, ruyung panjang Pui Khi Im sedang beradu dengan gelang naga lawan. Baru saja tertegun oleh perkataan itu, tiba-tiba tangannya terasa kaku. Cambuknya seperti terlepas dari tangan. Saking kagetnya, ia segera menjerit.
Sambil tertawa terbahak-bahak, sastrawan muda itu segera berseru lantang, "Orang bermarga Han, aku toh sudah menyuruhmu segera menggelinding pergi dari sini! Buat apa kau naik ke atas kereta lagi? Ayo, cepat enyah dari sini!"
Berbarengan dengan bentakan itu, tiba-tiba tangannya diayunkan ke depan. Dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan. Untuk kedua kalinya, Han Seng terpental jatuh dari atas kereta. Rasa terkejut dan heran segera menyelimuti perasaan Pui Khi Im setelah menyaksikan kelihaian ilmu silat yang dimiliki pemuda itu. Buru-buru ia menegur.