Chapter 20
"Siapakah kau?"
"Sik Tiong giok!" pemuda itu tertawa. "Nona, kau berniat menerobos keluar dari kepungan atau berniat menyelesaikan orang-orang itu?"
Sebenarnya Pui Khi im berniat menghabisi semua penghadang keretanya, tetapi ia pun meragukan kemampuannya yang sangat minim. Maka sahutnya kemudian, "Lebih baik kita menerobos keluar dari kepungan saja!"
"Baik, mari kita terobos keluar!" kata Sik Tiong giok sambil tertawa.
Seraya berkata, ia merampas cambuk nona Pui, kemudian siap menyerbu ke depan.
Namun pada saat itulah, tiba-tiba terasa deruan angin tajam menyambar. Dua sosok bayangan manusia telah menerjang ke arahnya.
Sik Tiong giok memang bermata jeli. Dalam sekilas pandang saja, ia sudah melihat bahwa orang yang datang dari sebelah kiri tak lain adalah Han Seng, yang dua kali kena dibanting jatuh dari atas kereta. Tiba-tiba ia tertawa dingin.
"Sreeet...!" Cambuknya segera diputar sambil menyambar ke depan. Untuk kesekian kalinya, Han Seng menjerit kesakitan. Tubuhnya terpelanting kembali ke atas tanah.
"Nona Pui," kata Sik Tiong giok kemudian sambil berpaling ke arah Pui Khi im, "coba kau saksikan bagaimanakah permainan cambukku ini."
"Hati-hati belakangmu!" mendadak Pui Khi im menjerit kaget.
Ternyata si harimau belang perempuan cantik, Lim Tiong yan, dengan bersenjatakan sebilah senjata aneh sepanjang tiga depa yang berbentuk seperti ular, sedang mengancam jalan darah di belakang punggung anak muda tersebut.
Mendengar peringatan tersebut, Sik Tiong giok sama sekali tidak gugup ataupun panik. Tangan kirinya digetarkan sambil membalik. Tidak terlihat berapa besar kekuatan yang disertakan dalam gerakan itu, tetapi akibatnya luar biasa bagi Lim Tiong yan. Ia seperti merasa kekuatannya tersumbat.
Buruburu ia berganti gerakan dan melejit ke udara sambil berpekik nyaring.
Pada saat tubuhnya berputar di tengah udara inilah, senjata aneh di tangannya telah menciptakan segulung cahaya tajam yang secepat kilat menyerang dada Sik Tiong giok. Bahkan bersamaan dengan datangnya sergapan itu, segulung bintang perak meletus di udara dan mengurung seluruh badan si anak muda tersebut.
Serangan senjata tajam yang diimbangi senjata rahasia ini boleh dibilang amat keji dan menggidikkan hati. Pada hakikatnya, ia berniat hendak menghabisi nyawa lawannya.
Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Pui Khi im setelah menyaksikan peristiwa tersebut. Walaupun ia tak sampai menjerit kaget, namun air matanya bercucuran deras. Sebab, Sik Tiong giok yang berada di hadapannya telah menjadi pelindung jiwanya. Tak heran kalau ia merasa amat gelisah.
Sementara ia amat gelisah sehingga pikirannya agak kacau, suatu kejadian aneh telah berlangsung di depan mata. Tampak sesosok bayangan hitam melejit ke tengah udara. Sepasang ujung bajunya diputar berulang kali, menciptakan angin pukulan yang menderu-deru. Suara dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, disusul jeritan ngeri bergema di udara.
Tampak sesosok bayangan manusia berwarna jingga terlempar di tengah udara seperti layang-layang putus benang. Tubuhnya terlempar sangat jauh dan terbanting keras-keras di atas tanah. Setelah meronta beberapa kali, ia memuntahkan darah segar. Biarpun belum mampus, kematian pun sudah tak jauh lagi.
Dalam sekali gebrakan saja Sik Tiong giok berhasil melukai dua orang musuhnya. Dengan segera nona Pui dibuat tertegun. Tanpa terasa, ia berpikir dalam hati, "Kepandaian silat apakah itu...?"
Sebaliknya, Sik Tiong giok masih tetap tenang dan santai, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apa pun. Katanya sambil tertawa, "Nona Pui, kau yang memegang kendali kereta, aku yang memukul mundur musuh! Mari kita bersama-sama menerobos keluar dari kepungan..."
"Tidak bisa!" Khi im segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Coba kau lihat, keempat orang suhengku masih dikepung orang dan berada dalam bahaya!"
Sik Tiong giok menyapu sekejap ke seluruh arena. Ia saksikan ketujuh macan kumbang dari Pa san serta keempat walet dari telaga Tong ting telah bekerja sama mengepung keempat orang murid dari Pui Cu yu. Sudah jelas perbuatan mereka ini merupakan suatu siasat busuk untuk menangkap keempat orang itu agar bisa mencegah niat kereta itu untuk meloloskan diri dari kepungan.
Sik Tiong giok segera tersenyum. "Asal nona sanggup mengendalikan kereta, lihatlah kehebatanku ini...!"
Baru selesai ia berkata, tiba-tiba pekikan panjang kembali bergema memecahkan keheningan. Cambuknya segera digetarkan ke tengah udara. Dalam waktu singkat, seluruh angkasa telah diliputi bayangan cambuk seperti beberapa ekor naga sakti yang sedang bermain. Seluruh bayangan cambuk itu ditujukan ke tengah arena pertarungan.
Biarpun sama-sama cambuk yang tak berbeda, namun berada di tangan Sik Tiong giok, cambuk tersebut telah berubah seperti seekor naga sakti yang hidup. Kemantapan dalam pengerahan tenaga dalam, ketepatan dalam serangan, serta keindahan dalam gerakan, semuanya membuat nona Pui jadi tertegun.
Tatkala ujung cambuk itu mencapai tengah arena, diiringi suatu getaran keras, tiba-tiba berubah menjadi tujuh delapan titik bayangan cambuk yang secara terpisah menyerang tujuh orang lawan.
"Aduuh... aduuuh..." Seketika itu juga, seluruh arena dipenuhi oleh jeritan-jeritan kaget serta jeritan kesakitan. Beberapa orang yang berada di arena serentak mundur dengan sempoyongan, lalu melarikan diri kalang kabut berusaha untuk menyelamatkan diri.
Di dalam kekalutan itulah, keempat murid dari Pui Cu yu segera beruntun menerjang keluar dari kepungan. Beberapa orang di antara lawan agaknya tidak puas dengan kejadian ini. Sambil membentak gusar, mereka siap melakukan terjangan lagi.
"Ada apa?" Sik Tiong giok segera menegur sambil tertawa terbahak-bahak. "Apakah kalian merasa tidak puas?"
Di tengah gelak tertawa, kembali cambuknya berputar satu lingkaran di tengah udara, lalu...
"Plaak, plaak..." Beberapa kali desingan nyaring, cambuk itu sudah berputar beberapa kali di angkasa dan menyambar ke arah arena. Beberapa kali jeritan kaget kembali bergema memecahkan keheningan. Tujuh macan kumbang dan lima walet serentak melompat mundur untuk menyelamatkan diri sehingga terbukalah sebuah jalan lewat.
Tiba-tiba Sik Tiong giok berpaling sambil membentak, "Nona, mari kita berangkat!"
Cepat-cepat Pui Khi im menggetarkan tangannya. Kuda penghela kereta itu pun meringkik panjang sambil menerjang maju ke muka.
Tujuh macan kumbang dari Pa san kontan saja berteriak-teriak marah. Serentak mereka melompat naik ke atas kuda masing-masing untuk melakukan pengejaran.
Iblis wanita berbaju putih, Liang Siang yan, berteriak pula keras-keras, "Toaci, mengapa kita tidak melakukan pengejaran?"
Manusia buas wanita cantik, Ciu Thian yan, menghela napas panjang. "Aaai, dikejar pun tak ada gunanya. Biar cukong kita yang turun tangan sendiri pun belum tentu bisa mengungguli binatang kecil tersebut!"
Liang Siang yan jadi tertegun. Buruburu ia bertanya, "Berasal dari perguruan mana sih dia? Mengapa kepandaian silatnya begitu hebat?"
"Entahlah dia dari perguruan mana, tapi kalau dilihat dari caranya melancarkan serangan, agaknya mirip dengan ahli waris si Kakek Serigala Langit!"
"Aaah... dia adalah ahli waris Kakek Serigala Langit...?" Liang Siang yan mengerdipkan matanya berulang kali. "Toaci, kau pernah menyaksikan dia turun tangan?"
"Pertemuan enghiong yang diselenggarakan tempo hari menjadi bubar gara-gara ulahnya. Kalau tidak, mungkin cukong kita sekarang sudah menjadi Toa Bengcu dari seluruh dunia persilatan!"
Pek Tong Kui Li (setan perempuan berbaju hijau), Bwee Soat yan, yang mendengar pembicaraan itu segera menimbrung. "Kalau memang begitu, mengapa cukong kita tidak berusaha untuk menghabisi nyawa bajingan itu? Kalau dia sudah mampus, urusanmu bakal beres dengan sendirinya?"
"Aaah, perkataanmu kelewat gampang. Seandainya cukong kita mampu menghabisinya, dia sudah turun tangan semenjak dulu. Buat apa mesti menunggu sampai hari ini?"
Mendadak dari arah depan sana berkumandang beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan hati....
Paras muka Ciu Thian yan segera berubah hebat. Buruburu ia berseru, "Mari kita cepat pergi! Paling tidak, kita harus menolong ketujuh anjing dari Pa san untuk meloloskan diri."
Rupanya tujuh macan kumbang dari bukit Pa san yang berhasil mengejar kereta Sik Tiong giok kena sambar oleh ayunan cambuk musuh sehingga satu per satu terjerembab ke atas dan akibatnya wajah mereka jadi membengkak dan sembab hijau. Kalau tadi mereka mengejar dengan semangat tinggi, maka sekarang kabur kembali dengan wajah loyo dan muka sembab biru dan bengkak.
Lima walet dari Tong ting yan bersiap-siap akan naik ke kuda dan kini melihat tujuh macan kumbang balik dengan wajah loyo segera menyambut kedatangan mereka dengan gelak tertawa yang sangat ramai.